My Kenzo

My Kenzo
Hati Yang Retak



Matahari sudah mulai terbit, ini adalah hari keduanya berada di Paris. Kenzo telah lengkap memakai setelan jasnya, terlihat mengamati sesuatu menggunakan tab-nya. Sesekali menghubungi seseorang menggunakan bahasa asing.


Dirinya memang cukup sibuk, walaupun hanya berada di negara tersebut selama beberapa hari.


Amel menghirup napasnya dalam-dalam. Ini harus diakhiri, dirinya tidak menemukan alasan Kenzo dapat menyukainya. Apa dirinya hanya dipermaikan? Fikiran itu kembali ada.


Hingga satu kalimat diucapkannya,"Maaf, aku mengundurkan diri.... Adikku sudah lulus kuliah,"


Kenzo yang tengah meminum secangkir kopi meletakkannya, kembali di atas souser."Gaji dua kali lipat, tetap ikuti dan temani aku tidur," akhirnya yang ditakutkan pemuda itu terjadi, masa kontrak mereka berakhir. Bersamaan dengan acara wisuda Nindy besok.


"Bukan masalah gaji, aku tidak ingin citraku sebagai gadis baik-baik rusak. Memiliki pacar, menikah adalah tujuan hidup semua wanita. Jika terus-menerus menjadi bantal guling bagimu, bagaimana aku menikah nanti?" ucapnya, menatap pada pemuda di hadapannya.


Sang pemuda tersenyum, kembali meminum kopi hangat di hadapannya,"It's so simple marry with me..."


"Ta...tapi...kamu..." kata-kata Amel disela, Kenzo mengecup sekilas bibirnya.


"Tetaplah disini, aku berangkat..." ucapnya masih menujukan senyumannya, sesekali melirik jam tangannya, berjalan meninggalkan kamar hotel.


Amel terdiam sejenak, senyuman menyungging di wajahnya. Mungkin kata-katanya terdengar akan meninggalkan, namun sejatinya, hanya ingin mendengar keseriusan pemuda yang perlahan dicintainya.


***


Tidak banyak yang dilakukan Amel di negara tersebut. Hanya mengunjungi adiknya, diantar supir perusahaan. Bercengkrama disana, membicarakan hal yang mereka lakukan.


Hingga malam tiba, Amel telah kembali ke hotel setelah menemui sang adik di apartemen.


Kamar hotel masih kosong, pemuda itu belum terlihat juga. Entah kenapa Amel tidak dapat tidur sama sekali, gelisah? Dirinya gelisah, hanya dengan ketidak beradaan Kenzo di dekatnya.


Malam semakin larut, waktu telah menunjukkan pukul 1 dini hari. Hiruk-pikuk keramaian masih terasa juga di luar gedung hotel. Amel terdiam seorang diri, air matanya mengalir, tidak diketahui mengapa. Mungkin sebuah firasat, mulai duduk di balkon hotel yang berhadapan langsung dengan menara Eiffel.


Menyender seorang diri, hingga pintu kamar dibuka seseorang. Membawa kue lengkap dengan lilin yang menyala. Namun kue berbentuk hati dengan hiasan sepasang merpati itu retak menjadi dua entah kenapa.


"Kenzo!?" Amel segera bangkit menyeka air matanya.


"Selamat ulang tahun..." Kenzo tersenyum dalam keadaan kacau, pakaiannya terlihat sedikit robek, menyisakan luka yang mengeluarkan darah segar. Bagian pelipisnya memar, namun pemuda itu tetap berusaha tersenyum.


"Ke... kenapa?" jemari tangan Amel terangkat hendak meraba luka pada pelipis pemuda di hadapannya.


"Maaf, kuenya hancur..." Kenzo tertunduk, bagaikan tidak mempedulikan keadaan tubuhnya.


"Apa yang terjadi?" Amel berjalan lebih dekat.


"Bukan apa-apa hanya ada insiden. Aku baik-baik saja..." pemuda itu, menghela napas kasar.


"Apanya yang baik-baik saja!! Lukamu parah!! Seharusnya pergi ke rumah sakit!!" geram Amel kesal.


Kenzo hanya tersenyum, kemudian menggeleng, melirik ke arah jam dinding."Tiup lilinnya, didetik inilah kamu dilahirkan..." ucapnya.


Amel tertegun, bagaimana Kenzo dapat mengetahui waktunya dengan tepat? Bahkan dirinya sendiri tidak tahu. Almarhum sang ayah hanya menceritakan dirinya lahir pada dini hari.


Dengan ragu Amel meniup lilin di hadapannya, kue indah berbentuk hati yang retak menjadi dua bagian.


"Sekarang ceritakan hal yang terjadi..." Amel menghela napas kasar, berjalan mengambil kotak P3K.


Kue diraihnya dari tangan Kenzo, meletakkannya di atas meja. Perlahan membantunya duduk di tepi tempat tidur. Kancing kemeja pemuda itu dibukanya satu persatu.


Kenzo tersenyum, wajah tertunduk itu berusaha ditatapnya.


"Apa yang terjadi?" ucap Amel kembali bertanya, menuangkan alkohol pada kapas guna membersihkan luka, pada pundaknya.


"Mobilnya menabrak pohon. Maaf terlambat pulang, aku harus mengurus ganti rugi dulu," gadis yang tengah mengobatinya terus-menerus ditatapnya, tanpa berkedip, wajah wanita yang dicintainya.


"Kenapa tidak ke rumah sakit dulu?" darah tidak kunjung berhenti juga dari luka gores dekat siku Kenzo. Luka serius? Tidak, namun terlalu banyak luka, mungkin pemuda itu sempat terjatuh keluar dari mobilnya, kala kecelakaan terjadi.


"Karena akan terlambat, tahun lalu aku terlambat merayakannya..." jawabnya.


Terlambat? Saat itu mereka masih di pesawat dari Malaysia menuju Jepang. Kenzo telah memesan kue, namun tidak terbawa. Merayakannya pun masih terlalu canggung untuknya.


"Ini saat kita pertama kali bertemu 26 tahun yang lalu. Pertama kali kamu menemuiku..." lanjutnya.


Mata Amel masih menatapnya tidak mengerti, apa yang ada di dalam hati pemuda di hadapannya. Mengapa memperhatikan dirinya.


"Aku baru saja dilahirkan, jika 26 tahun yang lalu..." Amel kembali berusaha fokus untuk mengobatinya, menganggap itu adalah sebuah lelucon.


Kenzo mengangguk,"Ibumu adalah orang yang membesarkanku. Amel Anggraini, Amel nama pemberianku, dan Anggraini karena Kinan menyukai Anggrek..."


Nama asal yang diberikan seorang anak polos berusia lima tahun. Anak yang hatinya kembali luluh setiap bersama gadis yang dikasihinya. Bagaikan kembali ke dirinya yang dulu, seorang Kenzo kecil belum mengalami betapa kejamnya dunia padanya.


Amel menghentikan gerakan tangannya menonggakkan kepalanya."Kamu mengenal almarhum ibuku?" tanyanya, masih tidak mengerti."Dan namaku, bagaimana kamu bisa mengetahui Anggraini artinya Anggrek?"


Tubuh yang tidak berbalut atasan, menampakan beberapa luka. Matanya, menatap tajam, namun bibirnya tersenyum."Sudah aku katakan, nama itu pemberianku..." tengkuk Amel dipeganginya menyatukan bibir mereka. Bergerak perlahan, tidak menuntut, membimbing sang gadis. Untuk merasakan hatinya.


Amel membalasnya pelan, memangut dalam deru napas tidak teratur. Pasangan itu mengatur napasnya, kening mereka bersentuhan, masih berlomba mengirup oksigen dengan serakah.


Bukan hanya karena ciuman panjang, namun sebuah keinginan untuk menyatukan tubuh yang tertahan. "Aku..." kata Amel dengan napas tidak teratur terputus, menatap lekat mata Kenzo, bagaikan ragu untuk berucap.


"Aku mencintaimu, kita akan menikah..." air mata Kenzo mengalir, mengucapkannya menggunakan kata-kata yang benar-benar tertanam selama ini di hatinya, hingga kesungguhannya benar-benar terlihat."Tolong jaga aku hingga aku tua nanti, tolong genggam jemari tanganku hingga keriput nanti.... Tolong, jadilah satu-satunya orang yang meneteskan air mata saat pemakamanku kelak..." lanjutnya.


Amel tidak menjawab, kembali memangut bibir itu. Seakan itulah jawabannya, tidak pernah puas, membiarkan hatinya sejenak menguasai tubuhnya. Hingga pangutan kembali terlepas,"Aku juga...aku juga mencintaimu... because you're my Kenzo..." sebuah pengakuan dari mulut Amel.


Air mata pemuda itu tidak berhenti mengalir, memeluk tubuh Amel, masih dalam keadaan bertelanjang dada. Gadis yang dicintainya, juga mencintainya, satu-satunya hal yang menjadi miliknya. Keluarga kecilnya perlahan mungkin akan tumbuh. Tunas-tunas kecil yang memanggilnya ayah...


***


Kekasih? Itulah status mereka saat ini, perlahan Amel mengobati luka dipunggungnya.


"Kenapa menyukaiku? Apa karena aku cantik?" tanya Amel tersenyum, mengoleskan obat pereda nyeri.


"Iya, kamu cantik, hatimu lah yang tercantik. Aku hanya dapat mencintaimu dari awal, tidak akan pernah dapat mencintai wanita lain..." ucapnya sedikit meringis kala lukanya diobati jemari tangan kekasihnya, namun tidak dipungkiri hatinya bahagia, hanya dengan sebuah kata-kata.


"Kenapa hanya dapat mencintaiku?" tanya Amel kembali, tidak mengerti.


"Ayahmu ingin aku bertanggung jawab, karena mengambil ciuman pertama anaknya yang baru lahir. Aku berjanji, tidak akan pernah mencintai wanita lain, selain Amel Anggraini, kepadanya ..." jawab Kenzo.


"Itu hanya bercanda, omong kosong dari ayahku..." Amel tertawa menganggapnya lelucon dari almarhum ayahnya yang memang humoris.


Namun Kenzo membalikkan badannya, berucap dengan serius,"Aku menepati janjiku. Hanya dapat mencintaimu seumur hidupku..."


"Lalu, kenapa kamu menyukaiku? Apa karena aku kaya? Jika iya, aku akan mencarikan uang lebih banyak lagi untukmu," lanjutnya.


"Iya karena kamu kaya," Amel tersenyum, seakan terbiasa menunjukkan kasih sayangnya, memejamkan mata memangut bibir pemuda rupawan dengan banyak luka.


Karena kamu kaya? Sejatinya tidak... karena kamu satu-satunya yang mencintaiku bagaikan payung.


Membiarkan dirinya terkena hujan, membiarkan dirinya terkena panas untuk melindungiku.


Beast tidak akan mencintai Beauty jika dia tidak cantik? Beauty tidak akan mencintai Beast jika tidak kaya...


Aku tidak peduli, itu bukanlah kami, kami hanya pangeran jahat yang berpetualang dengan Dugongnya... Mempelajari arti mencintai yang sesungguhnya...


Hingga... sebuah kebodohan, aku hidup bahagia denganmu saat tinggal di rumah kecil, menjadi buruh pemetik anggur, ditindas, namun diajari banyak hal, diberikan kasih sayang dengan hal kecil...


Kue ikan murah yang enak, aku merindukannya ...


Bukan karena kekayaan perasaan ini tumbuh...


Because you're my Kenzo...


Kue dengan hati yang retak, akibat insiden kecelakaannya seakan tidak dipedulikan, pasangan itu tersenyum, saling memangut bibir mereka berkali-kali. Enggan berbuat lebih, menunggu cincin terpasang sempurna di jari manis mereka.


Sinar-sinar lampu menara Eiffel terlihat, dari jendela yang terbuka. Pasangan itu sesekali tersenyum, hanya untuk menghirup napas, seakan tidak pernah puas menyatukan bibir, menunjukkan perasaan tanpa menyatukan tubuh secara sempurna.


Bersambung