
Amel membersihkan kolam diam-diam saat menyadari ketidak beradaan Kenzo di area kolam renang. Porsi makannya dikurangi, kegiatannya bertambah banyak. Benar-benar penyiksaan baginya.
Hingga malam menjelang, suara jangkrik memecah kesunyian. Walau bagaimanapun harus tetap bertemu dengan Kenzo bukan?
Pemuda itu mengiris daging steak di hadapannya menjadi beberapa bagian tanpa memakannya.
Sedang Amel menengguk liurnya. Berusaha mengiris tapi cukup sulit untuknya, baru hanya bisa makan dua suap saja.
"Ini..." Kenzo menukar piringnya, memberikan pada Amel daging yang sudah teriris rapi.
Dengan tenang memakan steak di piring bekas Amel,"Makan yang cepat, aku sudah ngantuk," ucapnya, tidak menyadari sedikit saus berada di ujung bibirnya.
Amel menatap bibir itu tiada henti, menggigit bibirnya sendiri. Teringat sensasi aneh yang didapatkannya tadi siang. Bibir dari seorang pemuda rupawan yang kini tengah makan dengan elegan.
Tidak, dia psikopat gila, yang hanya menganggapku sebagai bantal guling... gumamnya dalam hati, menampik semua fikirannya yang mulai sedikit oleng.
Akhirnya Kenzo mengelap sendiri ujung bibirnya menggunakan tissue, kembali melanjutkan makannya. Mengalihkan pandangannya pada, Amel.
Pipi itu dikecupnya tanpa ragu, entah kenapa, mungkin hanya gemas sesaat.
"Jangan sembarangan menciumku!!" bentak Amel, mengusap pipinya. Jemari tangannya ditahan Kenzo, pemuda itu kembali mengecupnya.
"Ini hukuman karena menggodaku di kolam renang..." alasan yang dilayangkannya dalam senyuman.
"A...aku tidak menggodamu..." ucap Amel gelagapan.
***
Malam semakin gelap hari sudah larut, Amel belum juga dapat memejamkan matanya. Dirinya was-was tidak ingin Kenzo berbuat macam-macam padanya.
Namun sedari tadi pemuda itu memang belum tertidur menelfon seseorang menggunakan bahasa asing yang tidak dimengerti Amel di balkon kamar.
Dengan penuh rasa penasaran Amel mengendap-endap, ingin mengetahui yang menelfon pemuda aneh itu perempuan atau laki-laki. Perempuan atau laki-laki? Amel hanya ingin menyakinkan dirinya Kenzo seorang Casanova yang memilki puluhan wanita di luar sana.
Namun...
"Don't call me, again!!" bentaknya terdengar benar-benar marah, jemari tangannya mengepal hendak membanting handphone dengan lambang apel yang telah tergigit.
Tidak dapat mengontrol emosinya? Begitulah seorang bipolar. Namun, dengan mudah wanita gemuk itu berkata "Jangan!!"
Jemari tangan Kenzo lantas terhenti, berubah menjadi raut wajah lebih tenang. Semudah itukah emosinya dikendalikan Amel? Bahkan jika mengamuk, hanya obat penenang dari psikiater yang membantunya.
Namun, hanya dengan satu kata dapat mengontrol bipolar-nya? Entah apa yang akan terjadi jika gadis ini meninggalkannya, sesuatu yang tidak dapat dibayangkan olehnya. Obat sekaligus racun bagi dirinya, itulah Amel.
"Kenapa ingin dibanting!? Ini handphone mahal!! Bahkan aku hanya punya android second, dengan merek abal-abal!!" ucapnya mengelus handphone Kenzo.
"Jika kamu menyukainya, ini boleh untukmu..." kata-kata yang keluar dari mulut Kenzo.
"Tidak, aku bisa beli sendiri dari gaji yang aku dapatkan darimu. Aku hanya mencemaskanmu, yang menghamburkan uang..." Amel tersenyum padanya, senyuman yang manis dengan pipi chubby-nya.
"Terimakasih, sudah peduli padaku," entah apa yang difikirkannya, Kenzo tiba-tiba memeluknya erat, penuh perasaan hangat.
Sedang, Amel tertegun tidak mengerti...
Pemandangan malam balkon villa yang indah. Angin dingin terasa, wanita gemuk itu seakan dapat menghangatkan hati seorang pemuda yang membeku, memeluk gadis yang sudah mengakar terlalu dalam di hatinya. Mencintai? Mungkin menggambarkan semua perasaannya.
Penyebabnya? Apa karena mengenal Amel sekitar dua bulan? Fisik? Tentu saja bukan. Namun, perasaan nyaman yang dirasakannya ketika kecil. Seorang anak polos yang mengelus perut pengasuhnya yang membuncit.
Perlahan menemukannya kembali ketulusan rasa kasih dalam wanita gemuk cerewet. Rasa kasihnya, yang bagaikan menginginkan kebahagiaan semua orang. Wanita yang paling dihindari semua pria, kini dicintai oleh Kenzo.
Pangeran keji yang kejam, terjatuh ke dasar laut, untuk mencintai sang Dugong...
Aku menyadarinya, apakah kamu bagiku? Sebuah tujuan, rumah, keluarga, tempatku bersandar... segalanya... Amel Anggraini, tolong cintai aku perlahan... Aku mohon... Kenzo mengeratkan pelukannya, tanpa mendapatkan balasan, seakan takut akan kehilangan.
***
"Amel... Amel...Amel..." pemuda itu membangunkannya penuh senyuman, bagaikan suami yang baik, setelah menghabiskan malam dengan bantal gulingnya.
"Emmgghhh..." Amel membuka matanya.
Ada malaikat... gumamnya dalam hati, menatap wajah rupawan yang membangunkan nya, sejenak kemudian otaknya mulai mencerna... Bukan!! Dia raja neraka...
"Sudah bangun? Perlu aku suapi ketika makan?" tanyanya memakai seragam aneh. Bahkan dengan name tag, Kenzo identitasnya, jabatan, Office Boy. Sebuah kantor perusahaan terkemuka di negara itu.
"Office Boy?" Amel mengenyitkan keningnya.
Kenzo mengangguk, "Ini adalah profesiku, kurang lebih hingga tiga bulan kedepan, dan juga profesimu..." ucapnya menyerahkan paperbag berisikan seragam serupa.
Amel mengeluarkan isi paperbag, sebuah seragam berukuran besar, dengan nametag namanya. "Aku pelayan pribadimu, sekaligus orang yang menemanimu, kenapa jadi office girl!?" tanyanya tidak mengerti.
"Mengikutiku kemanapun aku pergi, ketika aku menjadi office boy, berarti kamu?" tanyanya.
"Office girl..." Amel tertunduk dengan wajah pucat.
Kenzo mengangguk penuh senyuman, seakan memulai babak penyiksaan yang baru.
***
Kantor FIG Group tempat sepasang makhluk ini bekerja. Bekerja? Tidak sepenuhnya, mereka masuk bekerja secara bersamaan.
Kenzo mendorong troli alat-alat kebersihan, diikuti Amel yang terus-menerus mengomel tiada henti. Berpapasan dengan seorang pria berkacamata dengan tatanan rambut dirubah. Memakai name tag manager keuangan, sedikit melirik ke arah mereka, sembari mengobrol dengan rekan kerjanya, seakan tidak saling mengenal.
Senyuman menyungging di bibir Kenzo, seolah tidak mendengarkan omelan, wanita gemuk yang berjalan di sampingnya.
Pria berkacamata? Benar, Frans yang menyusup sebagai manager keuangan. Beberapa penyusup telah dimasukkan dalam perusahaan tersebut, satu tahun terakhir, bagaikan memasang bom waktu yang dapat meledak kapanpun. Tinggal mencari celah, menurunkan harga sahamnya dengan menggagalkan satu atau dua proyek besar.
Lumayan keji bukan? Namun, itulah cara seorang Kenzo memperluas jaringan perusahaannya. Menghancurkan sebuah perusahaan dari dalam, setelah pailit, membeli seluruh saham dengan harga murah. Memasukannya di bawah anak cabang W&G Company.
Pemilik utama yang bergerak sendiri? Lalu siapa yang menempati posisi CEO W&G Company? Diserahkannya pada orang kompeten yang hanya setia mengabdi padanya. Tentunya juga diawasi ketat oleh orang-orangnya. Tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun.
Headset mulai dipasang di telinga Kenzo. Suara erangan erotis terdengar, alat penyadap yang diletakkannya pada kantor komisaris perusahaan benar-benar berfungsi.
Seorang pria berkebangsaan barat, kini tengah berdiri tidak mengenakan bawahan sama sekali, hanya kemeja dengan kancing yang sepenuhnya terbuka serta dasi yang berantakan.
Melakukan perbuatan tidak senonoh dengan sekertarisnya yang tengah berbaring di atas meja yang berantakan dengan kancing kemeja bagian atasnya terbuka sepenuhnya, memperlihatkan dua benda berguncang disana. Tubuhnya kini benar-benar di manjakan, atasannya yang notabene adalah pria asing. Mengguncang tubuhnya mencari kepuasan.
Satu erangan panjang terdengar dari mulut keduanya, dengan deru napas tidak teratur,"Honey, give me again (Sayang, beri aku lagi)..." ucapnya mulai mengatur napas belum puas.
"George (nama sang komisaris), bagaimana jika Istrimu tau? Ini sudah hampir waktunya makan siang dia akan datang..." sang sekretaris terlihat cemas. Namun, tidak dipungkiri dirinya menikmati kala tubuhnya kembali dicicipi, George menggerakkan mulut dan lidahnya dengan bringas di beberapa area yang membuat sang sekretaris hampir melayang kehilangan kesadaran, untuk terus meminta lebih.
"Dia tidak akan tau, dia hanya ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang nakal. Dia terlalu sibuk dengan putra kembar kami. Aku bersedia menikahi wanita jelek sepertinya, karena sebagian besar saham perusahaan ini miliknya..."
"Emmgghhh...huh..." ucapnya kembali menggerakkan tubuhnya, mengguncang tubuh menggoda sang sekretaris.
"She's ugly... I can't love that's monster. But, you're my princess, please give me, again...and again...oh...(Dia jelek...Aku tidak dapat mencintai monster itu. Tapi kamu tuan putriku, tolong berikan aku lagi dan lagi)..." lirihnya, mengerang merasakan tidak pernah puas menjelajahi, mengguncang tubuh di hadapannya.
Kenzo yang mendengarkan semuanya dari alat penyadap melepaskan headsetnya, sedikit melirik pada Amel yang terus-menerus mengomel.
"Amel, kamu bilang adikmu memasukkan pakaian petani ke dalam koper kan? Kenapa kamu tidak memakainya saja malam ini?" tanyanya terpengaruh dengan suara sensasional yang didengarkannya dari headset.
"Pa... pakaian petani?" ucap Amel gelagapan memastikan pendengarannya.
Bersambung