
"Apa harus hadir?" Kenzo menghela napas kasar, mengehentikan kunyahannya.
"Iya, perjamuan yang lumayan besar tuan Hiasi (salah satu pengusaha ternama) ingin bertemu denganmu," Frans meminum air putih di hadapannya, menghela napas kasar.
"Aku sibuk," Kenzo kembali makan dengan tenang.
"Tolonglah, ini acara ulang tahun putri kembarnya. Dia bahkan menemuiku di Filipina secara khusus, memastikan agar kamu hadir..." pinta Frans
"Dia menyuapmu dengan apa?" tanyanya.
Kesal? Tentu saja, sudah diduga olehnya. Namanya dijual lagi oleh Frans.
"Hanya oleh-oleh Ginseng langka, berusia ratusan tahun..." Frans tertunduk, memejamkan matanya ketakutan.
Brug...
Kenzo menggebrak meja menatapnya tajam,"Kembalikan!! Aku akan ganti dengan yang kwalitasnya lebih baik..." ucapnya, berjalan ke arah dapur.
Mata Frans berbinar-binar, antagonis kejam tidak memarahinya, malah akan memberikan ginseng dengan kwalitas yang lebih baik? Dirinya tidak bermimpi kan? Frans menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Hingga harapannya tandas, bagaikan diterbangkan ke awan kemudian dijatuhkan di dasar Palung Mariana. Tiga buah wortel berada di hadapannya.
"Makanlah!! Ginseng kwalitas terbaik, tidak perlu diolah, dapat dibuat jus, sup, bahkan dimakan langsung. Sangat berkhasiat untuk kesehatan mata..." pemuda itu mengucapkannya tanpa ekspresi, kembali makan dengan tenang.
"Ke ... Kenzo ini wortel..." Frans mengenyitkan keningnya.
"Ginseng adalah sejenis umbi akar tanaman dan wortel juga umbi akar tanaman!? Apa bedanya..." tatapan tajam menusuk itu akhirnya keluar.
"Je... jelas berbeda ginseng lebih berkhasiat untuk stamina," kata-kata Frans yang ketakutan terhenti.
"Stamina? Kalau begitu minum saja obat kuat, aku sendiri yang akan menyewakan wanita bayaran untukmu," Kenzo terlihat semakin kesal lagi.
"Iya, aku kembalikan, tapi tolong hadir ya!? Anak-anaknya lumayan cantik, aku tidak berbohong..." tidak kenal menyerah, itulah yang dilakukannya. Alasan? Frans punya alasan tersendiri. Cinta akan lebih cepat berkembang jika memiliki saingan bukan? Amel yang pasif akan segera bergerak, jika wanita lain mendekati Kenzo.
"Tidak, aku harus mengantar Amel bekerja, memeriksa berkas kinerjamu di Filipina hingga sore, kemudian menjemput Amel, mengajarinya beberapa hal tentang perusahaan lagi, setelah itu tidur bersamanya. Jadwalku selama berlibur di Jepang sudah penuh ...." tegasnya.
Otak Frans berputar, bagaimana membuat dirinya mendapatkan ginseng ratusan tahun. Salah, maksudnya bagaimana membuat Kenzo menghadiri pesta, menunjukkan pada Amel dirinya memiliki banyak saingan.
Jika tidak, budak cinta di hadapannya akan tetap menjadi antagonis tanpa pasangan. Suatu hari nanti akan ada pria lain yang mendekati Amel. Pada akhirnya, depresi terberat dalam hidup Kenzo yang mungkin dialaminya.
Memang begitu bukan? Tidak ada antagonis kejam sepertinya yang berakhir memiliki pasangan. Akan ada pria baik lainnya yang melamar Amel penuh senyuman, entah siapa.
Frans berfikir sejenak, mencari cara,"Acara kencan dengan Amel, kalian tidak pernah berkencan kan? Jadikan pesta ini alasan untuk keluar dengannya..."
Kenzo menghentikan aktivitas makannya, membayangkan Amel memakai gaun menari di tengah alunan musik klasik bersamanya ,"Aku akan hadir..."
Akhirnya kalimat yang dinantikan Frans terdengar juga, pertanda ginseng berusia ratusan tahun menjadi miliknya. Maaf salah, pertanda rencana membuat kecemburuan dalam diri Amel terlaksana.
***
Entah kenapa, hari ini Amel diijinkan mengambil cuti. Belasan tanda cinta, salah maksudnya belasan bekas alergi sake di lehernya ditutupi riasan.
Rambut hitam lurus tertata indah, terlihat elegan dengan hiasan rambut perak bermotif sakura merambat disana. Gaun panjang berwarna hitam kontras dengan warna kulitnya, brokat indah menutupi bagian atas gaun hingga sebatas leher.
Riasan yang tidak begitu tebal terkesan natural? Bagaikan peri atau putri? Tidak, bagaikan antagonis cantik kalangan atas, berpadu berpasangan, pemuda dengan stelan kemeja hitam, berbalut tuxedo berwarna hitam senada.
Bukan pemeran utama, namun Antagonis. Antagonis harus dengan antagonis bukan?
"Cantik..." Amel tertegun melihat dirinya sendiri, penuh kekaguman.
"Jelek," Kenzo yang berada disampingnya berucap dengan kata pedas lagi.
Cantik? Tentu saja, tapi jika karena ini Amel didekati pemuda lain lagi, lebih baik Amel kembali gemuk. Menyesal? Tidak, karena kesehatan Amel terlihat lebih baik beberapa bulan ini. Tidak terengah-engah atau mudah kelelahan, tapi wajah dan penampilannya lah yang membuat Kenzo cemas.
"Dasar keji!! Penindas!! Menyebalkan!! Aku ..." cacian Amel terhenti, kala pemuda itu mengenakan jaket syal bulu berwarna putih pelengkap gaun padanya. Menambah anggun penampilannya.
"Sekarang masih penghujung musim dingin, jangan sampai sakit..." Kenzo tersenyum padanya. Namun, sejenak senyumannya menghilang, mata mereka bertemu saling menatap. Sebentar? Tidak beberapa menit mereka terpaku, bagaikan melalui mata bahasa hati itu bicara. Bibir mereka kelu tidak pernah dapat jujur, anggaplah hanya hati mereka yang berhasil menjalin kasih. Namun tubuh dan fikiran dua idiot dalam hal cinta itu tidak.
"Ka...kamu hanya tidak ingin aku flu dan menularimu kan!?" Amel gelagapan, berteriak di hadapan Kenzo menghindari perasaan berdebar di hatinya.
Kenzo hanya tersenyum mencium keningnya,"Anggaplah begitu..."
Amel menonggakkan kepalanya, wajah rupawan itu terlihat jelas. Seseorang yang berhasil melumpuhkan akal fikirannya. Wajah tegas, dingin, menyimpan banyak kehangatan didalamnya.
Mungkin... mungkin... mungkin.... Kenzo benar-benar... banyak anggapan dalam hatinya.
Hingga...
"Jangan terlalu banyak makan-makanan manis disana. Jika berani makan terlalu banyak, aku akan menghukummu..." senyuman di bibir Kenzo berubah. Menjadi senyuman keji, yang menyebalkan.
"Iya!! Dasar tukang atur!!" bentak Amel bersungut-sungut, moments dan anggapan romantisnya menghilang seketika.
Aku berfikir terlalu banyak, dia hanya playboy menyebalkan!! Tukang atur!! Aku membencimu... gumamnya dalam hati menahan kekesalannya.
"Sudah siap?" Frans membuka tirai di butik tempat mereka membeli pakaian.
"Sudah..." Kenzo menghela napas kasar, merangkul bahu Amel.
"Setelah hitam? Kalian akan menghadiri acara ulang tahun atau pemakaman?" tanya Frans mengenyitkan keningnya.
Antagonis pangeran kegelapan dengan ratu cantik jahat ibu tiri putri salju... benar-benar terlihat seperti pasangan antagonis. Entah dimana, gadis dengan yukata biru kemarin. Yang jelas mereka harus segera menjadi kekasih, Amel tidak boleh lepas begitu saja... fikir Frans, mencemaskan kondisi Kenzo yang membaik beberapa bulan ini.
***
Alunan musik terdengar, sepasang gadis kembar berada disana, Aika dan Aiko itulah nama mereka gadis berusia 28 tahun, putri kembar tuan Hiasi.
Gadis dengan gaun putih dan hitam, terlihat cantik, pemeran utama dalam pesta kali ini.
Aika dan Aiko bukan hanya berparas cantik, namun memiliki tata krama yang baik. Kecerdasan diatas rata-rata.
Ambisi? Aika lebih berambisi dibandingkan dengan Aiko. Aiko cendrung terlihat lugu, baik hati di bagian luarnya.
Gadis itu terlihat naif, hingga sang ayah lebih mengandalkan Aika untuk kepentingan bisnisnya. Mendekati Kenzo salah satunya, mungkin akan lebih baik memiliki menantu seorang Imposter bukan?
Seorang pemuda yang merupakan kenalan keluarga itu sejak lama telah datang. Terdiam seorang diri meminum minumannya menatap ke arah jendela.
"Tatewaki!!" Aiko berjalan sembari menunduk, tersenyum padanya, bagaikan seorang gadis pemalu.
"Selamat ulang tahun..." Tatewaki memberikan sebuah paperbag berisikan dua buah kotak kado untuk Aika dan Aiko.
"Terimakasih, kakak, bagaimana jika kita besok keluar memakan kepiting. Aku ..." kata-kata Aiko terhenti.
Tatewaki menghela napas kasar,"Tidak bisa, aku sedang sibuk..." ucapnya tersenyum.
Hingga pintu besar ballroom hotel itu terbuka terlihat pasangan berpakaian hitam memasuki ruangan. Seorang pemuda rupawan dan wanita cantik, terkesan klasik dan mendominasi.
"Seina..." Tatewaki tertegun, berjalan mendekati mereka.
Tidak menyadari ekspresi wajah cantik Aiko berubah pias. Gadis yang dibunuhnya 10 tahun yang lalu masih hidup? Tidak, dirinya datang sendiri saat upacara pemakaman Seina, memastikan wanita yang merebut Tatewaki dari sisinya sudah mati.
Aiko berusaha tersenyum, mengikuti langkah Tatewaki. Membunuh Seina untuk yang kedua kalinya, tidak masalah bukan?
Bersambung