My Kenzo

My Kenzo
Ayah Untuk Anakku



"Aku sudah tidak sedih. Tolong turun..." pintanya. Mendorong Amel turun dari atas tubuhnya? Kenzo tidak akan tega. Membiarkan tetap seperti ini? Entah sampai kapan dirinya dapat menahan diri.


Perasaan ini benar-benar membuatnya gila, menginginkan lebih dan lebih, tubuh dan hatinya bagaikan sedang berperang dengan logikanya. Bagaikan seekor singa yang digoda kelinci putih, melompat-lompat di sekitarnya, bahkan memegangi mulut sang singa untuk terbuka melahapnya.


Kelinci putih yang menyebalkan, namun ini sungguh perasaan yang tidak tertahankan.


"Amel? Tolong turun ya?" pintanya lagi.


Amel tersenyum, pada akhirnya turun dari atas tubuh Kenzo. Merasa pemuda itu sudah lebih baik, melupakan segalanya.


Namun tanpa diduga, Kenzo menyerangnya balik, mengecup setiap jengkal wajahnya. Hingga bermuara pada bibir yang tidak pernah membuatnya puas. Jemari tangannya, membuka kancing piama Amel.


"A...aku akan mandi air dingin!!" Kenzo gelagapan, hampir tidak dapat menahan dirinya. Segera turun dari tubuh Amel, berlari dengan cepat ke kamar mandi.


"Bentuk tubuhnya..." jantung Amel berdebar tidak karuan. Jemari tangannya masih gemetaran hingga kini, meraba dada padat serta otot perut kekasihnya. Keberanian yang benar-benar gila.


"Aku seperti wanita j*lang, tapi... aaaghh..." Amel berteriak, mengingat dirinya yang pada awalnya memberanikan diri menghibur kekasihnya. Namun, perlahan tenggelam menjadi wanita agresif yang menginginkan lebih banyak.


Sementara itu Kenzo tengah membenamkan wajahnya dalam bathtub, kemudian keluar dengan cepat. Tubuh putih, atletis itu terlihat separuh bagian, rambutnya basah, wajah rupawannya yang membuat wanita mendamba untuk naik ke pangkuannya.


"Aku sudah gila...aku hampir merusaknya..." tangannya gemetaran mengingat tubuh Amel yang benar-benar ingin dijamahnya.


Setidaknya mereka mungkin harus menahan untuk tidak menanam kecebong selama seminggu...


***


Pagi menjelang...


Amel menghela napas kasar, setelah menghubungi Marina, guna mempertemukannya dengan Sany sekaligus mengatakan akan pernikahannya.


Bagaimanapun, Marina adalah ibu kandung Sany. Walaupun dalam perjanjian, Marina atau Amel tidak akan mengatakan tentang kebenarannya pada sang anak.


Gadis itu telah bersiap, membawa perlengkapan Sany. Sementara Kenzo telah pergi sejak pagi buta, berniat mencari tempat untuk lokasi butik yang akan dibuka. Serta tempat dimana pesta resepsi pernikahan mereka akan diadakan dengan tema garden party.


Pemuda yang benar-benar antusias, bahkan menelfon seseorang yang dikatakannya sebagai adik, entah siapa. Guna meminta pendapatnya, tentang tempat resepsi nanti.


***


Amel tersenyum, mobil baru yang luas, didesain untuk keluarga, terparkir di area parkir bawah tanah apartemen.


Kenzo yang tidak pernah memiliki mobil, karena tidak pernah tinggal menetap, akhirnya membelinya, bahkan menyediakan seorang supir. Mengingat W&G Company tidak memiliki kantor cabang di negara ini, hingga sang pemuda tidak dapat menggunakan mobil serta supir perusahaan miliknya.


Perlahan mobil mulai melaju, meninggalkan apartemen. Berjanji temu dengan Marina di sebuah cafe bertemakan keluarga.


Alunan suara gitar akustik, mengiringi nyanyian lagu anak-anak terdengar, menyambut kedatangan Amel. Serta seorang anak perempuan cantik dalam gendongannya. Perlahan mendekati seorang wanita yang seolah acuh dengan kedatangannya.


"Marina..." Amel tersenyum, duduk di hadapannya.


Marina mengenyitkan keningnya, merasa pernah mendengar suara gadis di hadapannya,"Dugong!?" ucapnya meninggikan intonasi suaranya sulit mengenali.


"Apa aku cantik?" kenarsisan ratu jahat itu kembali terlihat, tersenyum tanpa dosa.


"Tentu saja, kamu operasi sedot lemak, kemudian perawatan kulit!?" tanyanya dengan mata menelisik dari atas sampai bawah.


"Tidak, aku bekerja pada seseorang, tinggal berpindah-pindah di tempat yang jauh. Entah bagaimana bisa jadi seperti ini..."ucap Amel cengengesan.


Marina tersenyum menghela napas kasar, perlahan perhatiannya teralih,"Apa ini Sany?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh Amel.


"Aku ingin menggedongnya..." Marina meraihnya perlahan memeluknya, mengusap-usap punggungnya. Tanpa disadarinya air matanya mengalir, janin yang hendak digugurkannya sudah sebesar ini.


"A...aku tante Marina..." ucapnya ragu, ingin mengatakan dirinya sang mama. Namun, hak itu telah diberikannya pada Amel yang merawat putrinya.


Marina memejamkan matanya sejenak, dua tahun lalu dirinya memang begitu egois. Andai Amel tidak datang, Sany tidak akan lahir ke dunia ini, mati bersamanya. Tidak akan ada wajah polos dengan tangan mungilnya lagi.


"Sayang..." ucapnya terisak."Maaf..."


Maafkan mama... hampir membunuhmu, maafkan mama egois meninggalkanmu. Mama tidak tau... maaf...


Anak itu menangis terisak, menatap tangisan Marina. Menjerit sulit untuk ditenangkan.


"Amel dia kenapa...?" tanyanya.


"Jangan menangis, tersenyum, ajak dia bercanda. Dia cukup sensitif, melihat orang lain menagis, Sany akan ikut menangis..." jelas Amel.


Marina menghapus air matanya, berusaha untuk tersenyum,"Sany...ba...!!" ucapnya bercanda, pada sang anak. Perlahan anak itu berhenti menangis, meraba pipi Marina.


Aku memang yang melahirkanmu, tapi tidak satupun hal tentangmu yang aku ketahui...aku ibu macam apa? Ibu yang menyerahkan anaknya pada orang lain, demi menghindari aib... tapi ketahuilah, ibu baru menyadari ibu mencintaimu. Walaupun mungkin tidak sebesar cinta yang kamu dapatkan dari ibu asuhmu...


Jemari tangannya mengepal, menatap anaknya penuh kasih. "Aku mencintaimu..." ucapnya, kembali meneteskan air mata. Diikuti tangisan sang anak.


***


Tiga minuman terhidang, sementara anak berusia 2 tahun itu tengah bermain di area bermain anak. Dalam cafe yang memang berkonsep keluarga itu. Marina menghela napas kasar, menatap senyuman di wajah putri kandungnya. Tubuhnya yang sehat, keluarga Amel merawatnya dengan baik.


"Marina, ada yang ingin aku bicarakan..." ucap Amel meminum lemon tea.


"Ada apa? Kelihatannya serius sekali," tanyanya tersenyum.


"Beberapa hari lagi, aku akan menikah..." Amel tertunduk, kemudian membalas senyumannya.


"Dengan siapa? Apa Gilang? Kalian sudah bertemu?" tanya Marina antusias, mengetahui perasaan sepasang sahabat yang berakhir berselisih jalan.


Amel menggeleng,"Dia orang yang keji, sering berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tapi hatinya hangat, dan yang terpenting. Aku mencintainya,"


"Tapi dia akan menjadi ayah dari Sany kan? Aku ..." kata-kata Marina disela.


"Kenzo, akan menjadi ayah yang baik. Karena dia akan menjadi ayah dari putrimu, aku akan jujur padamu. Calon suamiku pengidap bipolar disorder..." ucap Amel.


Seketika wajah Marina pucat pasi mendengar kata bipolar. Orang yang terkadang tempramental yang ada dalam bayangannya, takut? Dirinya saat ini takut akan nasib Sany.


Memiliki seorang ayah pengidap bipolar disorder? Orang yang kesulitan mengontrol emosinya? Tidak, Gilang akan menjadi ayah yang lebih baik. Dapat merawat, membesarkan dan memanjakan putrinya. Memberikan kebahagiaan pada Amel dan Sany sebagai ayah dan suami yang baik.


"Gilang menyukaimu, apa kamu tahu? Dia sudah mengetahui semuanya, perlakuan Keyla padamu. Memutuskan hubungannya dengan Keyla, bahkan mencarimu... kalian seharusnya..." kata-kata Marina kembali disela.


Amel tersenyum padanya,"Dia tidak mempercayaiku, itu sudah cukup membuktikan. Walaupun jika suatu hari nanti hubungan kami berjalan dengan baik, akan berpisah jika ada yang mengadu domba..."


"Tenang saja Kenzo akan menyayangi Sany bagaikan putrinya sendiri," lanjut Amel, menatap Sany yang tengah bermain.


Namun, tangan Marina masih gemetar, menatap iba ke arah putrinya. Gilang? Hanya itu harapannya saat ini, mencegah Amel memberikan ayah yang buruk untuk Sany.


Jika mencemaskan putrinya, kenapa tidak membawanya saja? Tidak, Marina tidak bisa membawa Sany sebagai putrinya. Mengingat keluarga besarnya yang akan menghujatnya. Serta calon mertuanya yang perfeksionis.


Selain itu, baru saja meniti karier harus merawat seorang balita? Marina tidak bisa merawatnya, satu-satunya cara membiarkan dalam asuhan Amel. Namun, tidak rela jika calon ayah putrinya adalah pengidap bipolar.


Masih juga egois bukan? Menginginkan yang terbaik untuk putrinya, tapi mendorongnya pada wanita lain yang akan dipanggilnya ibu. Mengatur jalan hidup dan hati dari orang yang berbaik hati membesarkan putrinya bahkan membiayai hidupnya ketika mengandung.


Marina menghela napas kasar,"Amel, bisa kamu bertemu dengan Gilang. Sekali saja..." pintanya. Tetap teguh tidak ingin putrinya dibesarkan oleh ayah yang mengidap masalah kepribadian.


Bersambung