
🍀🍀🍀🍀 Tentang Keyla kita skip dulu, ok? Nanti akan aku bahas, nasibnya bagaimana. Sekalian tentang Antoni...🍀🍀🍀
🍀🍀🍀🍀 Happy reading 🍀🍀🍀🍀
Gilang menghela napas kasar, makhluk astral itu terlihat lagi,"Dia siapa?" tanyanya pada Kristin.
"Ibu tiriku..." jawabnya.
Aku akan membuat sinetron FTV ibu mertuaku adalah mantan pacarku... Astaga, syukurlah aku tidak pernah tidur dengannya... batinnya. Menghela napas kasar, menatap Keyla.
"Di... dia berbohong aku bukan ibu tirinya, a...aku masih setia padamu," Keyla gelagapan, berjalan dengan cepat mencengkram lengan Kristin,"Aku bukan ibu tirimu kan?" tanyanya.
"Sakit!!" Kristin menepis tangan Keyla.
"Sayang, kamu mengenalnya dia ..." kata-kata Antoni disela, Keyla yang tidak mengetahui Gilang kemari untuk menemui calon ayah mertuanya menatap tajam pada Antoni.
Inilah saat kemerdekaannya, dirinya akan terlepas dari si tua genit. Kembali pada pemuda rupawan, anak konglomerat yang masih disegel fresh. Kehidupan saat dulu masih menjadi pacar Gilang masih terbayang hingga sekarang, disediakan rumah mewah, beberapa pelayan pribadi yang profesional, seorang supir, dua unit mobil mewah khusus untuknya.
Berbelanja bagaikan istri sultan, tidak melihat harga barang tinggal ambil saja.
Namun hanya satu saja, yang tidak disukainya, wanita gemuk yang direkrut menjadi asistennya. Wanita yang menyebabkan Gilang memutuskan hubungan dengannya. Si wanita pengadu, yang akhirnya pergi entah kemana.
"Sayang!? Antoni, kita tidak memiliki hubungan!! Gilang, kamu percaya padaku kan? Mana mungkin aku menyukai pria tua yang lebih pantas menjadi ayahku sepertinya..." ucap Keyla, menyela Antoni, mencoba menggengam tangan Gilang.
Gilang melepaskan jemari tangan Keyla,"Kamu cantik," tangannya meraba wajah Keyla yang dingin, nampak segar usai pergulatannya dengan Antoni, tentunya mereka baru saja membersihkan diri.
Wajah Keyla tersenyum bahagia, kartu ATM-nya yang rupawan kembali, hingga tangan Gilang turun meraba lehernya, tepatnya pada tanda keunguan yang disisakan Antoni,"Apa menyenangkan bersenang-senang hari ini? Mantan ku..."
"Mantan?" tanya Kristin memastikan.
"Kami akan segera kembali, aku akan meninggalkan Antoni..." ucap Keyla mencoba merangkul Gilang,"Kamu kemari untuk menjemputku kan?" tanyanya memastikan.
"Kamu ingin meninggalkanku untuk tukang parkir!?" Antoni mencoba menarik istrinya yang melekat pada Gilang.
"Tukang parkir!? Tua bangka jangan bercanda!! Dia cucu dari pemilik Bold Company!! Kami adalah kekasih yang tidak terpisahkan..." ucap Keyla tidak akan melepaskan Gilang kali ini.
"Yang aku kunjungi pesta pertunangannya di Singapura dua tahun yang lalu..." gumam Antoni.
Gilang mendorong kepala Keyla yang melekat menyender pada lengannya,"Maaf itu adalah pertunangan bisnis, untuk menarik investor. Bahkan nama tamu yang diundang dua perusahaan aku tidak dapat menghafalnya,"
"Yang jelas aku akan menikahi putrimu Kristin. Undangannya akan aku kirim nanti," pemuda berpakaian lusuh itu tersenyum, menarik tangan Kristin yang masih mencerna semuanya. Berjalan hendak meninggalkan ruangan.
"Gilang, dia itu hanya lulusan SMU, wajahnya tidak menarik sama sekali! Dia bahkan tidak memiliki hak waris untuk harta ayahnya," teriak Keyla, berharap Gilang akan kembali padanya.
"Itulah intinya..." Gilang menghentikan langkahnya, tersenyum. Menarik Kristin, mengecup lehernya tanpa permisi."Dia lebih indah dari pada anj*ng Chihuahua yang mengawini setiap pria yang mendekatinya," gumamnya kembali menarik Kristin pergi.
***
Antoni terdiam sejenak, mencoba mengingat wajah salah satu pewaris Bold Company yang memang hanya dilihatnya berdiri di panggung. Wajah yang hampir serupa, hanya menang penampilan yang berbeda, perbandingan pemuda lusuh dengan tuan muda yang mengenakan tuxedo.
Namun satu hal lebih menarik perhatiannya, mantan pacar? Keyla ingin mencampakkannya untuk pemuda itu?
Wajah Antoni terlihat murka, menarik lengan Keyla."Kamu bilang kamu akan berpisah denganku untuknya!!" bentaknya.
"De... dengar sayang dia memiliki kekuasaan. Aku kira dia kemari untukku, aku hanya tidak ingin perusahaanmu diganggu oleh..." kata-kata Keyla disela, lehernya dicengkeram kuat.
"Pergi sekarang!! Aku akan menceraikanmu..." ucapnya menatap dingin.
Tidak boleh, hidupnya yang terjamin dengan Antoni terusik. Setelah sempat menggugurkan janinnya dahulu karena tidak ingin memiliki anak dari Antoni, syukurlah sekarang janin kembali berkembang dalam perutnya, walaupun baru berusia beberapa minggu.
"Tidak bisa, a...aku sedang mengandung anakmu..." ucap Keyla, menahan tangan Antoni yang membuatnya hampir kehabisan napas.
"Agghhh..." Antoni melepaskan cengkeramannya berjalan meninggalkan Keyla yang tersungkur di lantai sembari terbatuk-batuk.
***
Kristin hanya terdiam dalam angkot yang melaju, bingung, tidak percaya itulah yang tergambar di raut wajahnya.
"Setelah mengatakan akan memintamu pada Antoni. Sekarang kita pergi ke makam ibumu, dimana letaknya?" tanya Gilang, tersenyum.
Kristin menoleh pada Gilang terlihat ketulusan disana pada dirinya.
"Makam ibuku..." air matanya mengalir, wajah itu berusaha membalas senyumannya.
Beberapa puluh menit perjalanan, angkutan umum itu sampai di sebuah pemakaman umum. Empat buket bunga Lily putih dibeli oleh Gilang...
Empat? Entah kenapa dirinya membeli empat buket.
Berjalan menelusuri tanah pekuburan hingga nisan dengan nama Mika terlihat. Dua buket diletakkan oleh mereka.
"Ibu... perkenalkan dia Gilang, orang yang aku cintai. Maaf, aku akan melupakan dendamku, hidup dengan baik. Ibu tidak akan marah bukan?" tanyanya dengan air mata mengalir, membelai batu nisan dengan nama ibunya yang terukir.
"Minggir!! Aku ingin bicara dengan ibu mertuaku!!" Gilang, anak menantu kurang ajar bermulut pedas itu ikut berlutut.
"Ibu mertua, kita tidak saling mengenal. Ta ... tapi aku ingin meminta pertolongan padamu..." Gilang tertunduk, meletakkan dua buket bunga Lily putih lainnya.
"Aku akan menjaga putrimu, mempertaruhkan hidupku untuk melindunginya. Tapi aku mohon, sampaikan permintaan maafku pada kakakku Kenzo..." Air matanya mengalir tidak terkendali, berusaha tersenyum.
"Ibu mertua akan mengenalinya dengan mudah, dia pemuda keji, wajahnya standar.... maaf aku berbohong, sedikit lebih tampan dariku. Ada luka memanjang di dahinya. Jika bertemu dengannya, 'Aku minta maaf sudah membunuhnya,' " ucapnya mengepalkan tangannya.
"A...aku membunuhnya..." lirihnya.
Perlahan gadis itu memeluk tubuh Gilang, pemuda yang nampak labil, entah kenapa.
Kakak, bencilah aku... tapi aku mohon hiduplah kembali untuk Amel dan kedua orang anak kalian...
Maaf ...
***
Pernikahan yang diadakan tertutup, hanya beberapa orang yang hadir. Janji suci yang tanpa ragu diucapkannya.
Hingga pada malam menjelang, pesta resepsi mewah diadakan. Menyewa gedung yang luas, hampir semua orang hadir termasuk seorang wanita yang ditemani seorang baby sitter membawa sepasang bayi kembar. Serta asisten suaminya, Frans.
"Selamat," Amel mencoba tersenyum, menghela napas kasar, di hadapan kedua mempelai.
"Iya, Amel aku minta maaf untuk..." kata-kata Gilang tidak diindahkan.
"Frans, umumkan pernikahannya secara besar-besaran. Agar Kenzo tidak ragu untuk pulang..." ucapnya memakai kacamata hitamnya, berjalan pergi dengan cepat. Berbaur dengan tamu lainnya. Ambisi dan semangat hidupnya? Hanya membesarkan anak-anaknya, serta Kenzo segera pulang.
Membohongi dirinya sendiri, tidak dapat menerima sang suami meninggal dengan jenazah yang tidak ditemukan.
Gilang menghela napasnya,"Setidaknya dia hadir..."
"Wanita keren itu siapa?" tanya Kristin terlihat kagum.
"Kakak iparku, namanya Amel. Dia dulu wanita yang aku cintai, tapi pada akhirnya dia menikah dengan kakakku. Kenzo, suaminya bunuh diri karena kata-kataku yang menghujatnya...aku menyesal..." setetes air mata Gilang mengalir, segera diseka olehnya. Masih mencintai Amel? Tidak, perasaan itu telah menghilang, merasa bersalah, itulah yang dirasakannya kini.
Seorang wanita yang harus hidup tanpa suaminya. Hanya karena kata-kata dari mulutnya.
Kristin menepuk pundaknya,"Kamu masih mencintainya?" tanyanya.
Gilang menggeleng,"Aku sudah tidak memiliki perasaan padanya. Andai saja, aku menyadarinya lebih awal, Kenzo akan ada disini memberikan hadiah pernikahan yang besar padaku..." jemari tangannya mengepal, air mata itu mengalir terus-menerus, hari bahagia pernikahannya. Entah kenapa bertepatan dengan ulang tahun sang kakak.
Tidak ada kado yang dapat diberikannya selain permintaan maaf... menjadi satu-satunya mempelai pria yang menitikkan air matanya di hari pernikahannya.
***
Kembali ke lima tahun kemudian...
Villa milik Kenzo. Dengan seorang wanita yang tengah mengeringkan hiasan kukunya...
"Bagaimana kabarmu?" Amel menghela napas kasar, menatap riasan kukunya. Hal yang ada difikirkannya? Apa dirinya harus mencakar Kenzo lagi? Agar suaminya mengingatnya.
"Aku dengar suamimu Kenzo sudah kembali, apa benar?" tanya seseorang di seberang sana.
"Iya... jangan kemari dan menggodanya...!!" ucap Amel posesif.
"Me... menggoda? Aku sudah menikah, bahkan sedang hamil. Aku tidak mungkin..." kata-kata Kristin disela.
"Mantan pacar Gilang sebagian besar adalah j*lang..." cibir Amel.
"Aku bukan salah satu diantara mereka," Kristin memijit pelipisnya sendiri.
"Jadi, ada apa menghubungiku?" tanyanya.
"Bisa biarkan Gilang meminta maaf pada Kenzo? Aku mohon..." pinta Kristin.
"Gilang ada disanpingmu kan? Mendengar semuanya..." Amel menghela napas kasar, benar-benar hafal sifat adik iparnya.
"Iya ..." Kristin cengengesan.
"Katakan padanya, jika ingin minta maaf, hadapi Frans dulu..." Amel tersenyum menutup panggilannya sepihak.
Kristin, melirik ke arah suaminya,"Dia menutup telfonnya,"
"Tidak apa-apa..." Gilang mencoba untuk tersenyum, setidaknya Kenzo masih hidup itulah yang terpenting.
***
Sedangkan ditempat lain seorang pemuda terdiam di post ronda yang sepi, bingung harus bagaimana. 80 juta? Apa dengan menjual ginjalnya akan cukup?
Hingga seorang wanita tiba-tiba duduk disampingnya."Apa si miskin perlu uang?" tanyanya mengetahui kedatangan dept collector ke rumah Dava.
Dava menelan harga dirinya kali ini,"Bisa kamu pinjamkan, aku akan mencicil untuk mengembalikannya..."
Kiki tersenyum,"Baik, tapi satu syarat, kita menikah diam-diam. Hargai profesiku yang mengharuskan berhubungan dengan pria lain. Bahkan jika memungkinkan kita bekerja sama, memeras harta orang-orang kaya bodoh itu..."
"Aku menawarkan ini hanya padamu. Karena aku mulai mencintaimu..." lanjutnya.
Dava mengenyitkan keningnya, pindah tempat duduk, menjaga jarak dari Kiki... Kenapa dulu sebelum hilang ingatan, aku bisa jatuh cinta padanya?... Dasar gila...
Tapi 80 juta? Haruskah aku ngepet atau pesugihan... gumamnya dalam hatinya penuh pertimbangan sesat.
Bersambung