
Jemari tangannya mengepal, masih berpura-pura tersenyum. Melepaskan telinga Steven dan Febria.
"Febria, ayo kita pergi, papa marah..." bisik Steven pada Febria.
"Steven, jangan pergi ke Singapura!?" pintanya, tetap menggenggam jemari tangan sang remaja.
"Kita pergi dulu, menenangkan diri, melanjutkan acara perpisahan," jawabnya, menggandeng tangan Febria melarikan diri sejenak, entah kemana.
Sedangkan Kenzo menghela napas kasar,"Kalian sedang apa?" tanyanya.
"Dava maaf, aku berkunjung jarang-jarang aku bisa bertemu denganmu. Apa kabar?" ucapnya tersenyum, berjalan mendekat.
"Cukup baik..." Kenzo berjalan berlalu, mendekati Amel, merangkul pinggangnya. Menyingkap rambut sedikit bergelombang yang terurai, mengecup leher putih dengan beberapa bekas keunguan sesuatu yang diciptakan bibirnya, hampir setiap malam.
"Jangan berakting didepannya, aku cemburu. Hari ini semua akan berakhir..." bisiknya di telinga Amel.
Menurut? Dirinya hanya dapat menuruti keinginan Kenzo. Benar-benar posesif, namun entah kapan ingatan Kenzo akan kembali.
Praba mulai melangkah mendekat, duduk di sofa, menghela napas kasar."Dava, bagaimana kabar Kiki? Apa kamu masih mencintainya?" tanyanya.
"Tentu saja tidak, aku sudah mendapatkan yang lebih baik darinya," Kenzo mulai duduk, menarik Amel ke dalam pangkuannya.
"Mau jeruk?" tanya Amel tersenyum, mengupas jeruk yang ada diatas meja, kemudian menyuapi Kenzo.
Praba mengenyitkan keningnya kesal, iri? Tentu saja. Dari kecil selalu Dava mendapatkan yang terbaik. Dirinya dipaksa tertunduk oleh Virgo dan Diah, ikut memujinya. Harus belajar lebih tekun untuk melampauinya yang sebenarnya tidak begitu memiliki kemampuan akademik.
Kini setelah 7 tahun berhasil menginjaknya, dirinya harus kembali melihat keberuntungan Dava. Kenapa Tuhan begitu baik pada k*parat di hadapannya ini?
Wajah rupawan Amel ditatapnya, bukan dari kalangan biasa, namun melayani Dava begitu baik.
Hingga Praba menghela napas kasar,"Amel, aku dengar kabar dari media almarhum suamimu sudah lama meninggal. Aku turut berduka..." ucapnya tertunduk, berharap Amel turun dari pangkuan Dava. Mengingat tentang almarhum suami yang dicintainya.
"Terimakasih, Kenzo sudah bahagia sekarang," jawabnya ambigu, masih saja menempel pada seseorang yang dianggap Dava oleh Praba.
"Amel, aku ingin bicara berdua dengannya. Kembalilah ke lantai dua..." ucap Kenzo.
Amel tersenyum, mengecup bibir suaminya sekilas, kemudian kembali berjalan menuju lantai dua. Wanita rupawan dengan kaki jenjangnya yang indah, menapaki tangga satu persatu. Tidak lepas dari pengamatan Praba.
"Jangan melihatnya terlalu lama, bermimpi juga ada batasnya..." cibirnya tersenyum.
"Apa maksudmu!? Aku sudah memiliki tunangan dan..." kata-kata Praba terpotong, Kenzo menatap tajam tajam padanya.
"Dan apa!? Jika bisa aku ingin memasukkan narkotika ke dalam minumanmu. Merusak tubuhmu perlahan, hingga kamu lebih menginginkan untuk mati dari pada hidup," ucap Kenzo, mengambil sisa minuman Amel yang hanya setengah.
Prang...
Gelas dilemparkannya hingga pecah berkeping-keping."Iblis? Statusmu bahkan lebih rendah dari iblis, iblis hanya menggoda manusia. Untuk berbuat dosa, selepas manusia akan melakukan perbuatan dosa atau tidak. Tapi kamu? Membuat seseorang mengkonsumsi narkotika tanpa sepengetahuannya. Menghancurkan tangan yang dapat membuat lukisan indah diatas tembikar,"
Praba mulai tersenyum, tertawa di hadapan Kenzo."Kamu sudah mengetahuinya? Lagipula dari awal kamu adalah sampah yang sudah rusak. Keberuntunganmu hanya memiliki keluarga kaya, tapi aku!? Aku dan keluargaku harus berjuang, memuja, memuji kalian!! Baru dapat naik ke status sosial, seperti sekarang!" bentaknya, emosional.
"Kamulah yang akan hancur. Amel Anggraini? Aku akan menidurinya, kemudian mengirimkan videonya padamu..." gumamnya, mengambil kunci mobilnya. Berjalan pergi meninggalkan villa menuju pintu utama.
"Meniduri istriku?" Kenzo hanya tersenyum dingin seolah mencemooh, berjalan menuju lantai dua.
Bagaikan memainkan boneka tali, mengawasi semuanya. Sesuatu yang akan segera berakhir, menurutnya...
***
Kiki tersenyum, menatap Virgo yang seakan tertekan. Usai wanita itu memperlihatkan bill penyewaan kamar hotel atas nama Diah. Bahkan juga terdapat beberapa foto CCTV, bagaimana Diah berciuman di dalam lift dengan pria muda.
Semuanya harus diterima Praba, dirinya masih juga diancam untuk kembali melukai Dava. Yang sejatinya telah meninggal 7 tahun lalu. Dirinya dan Dava tidak dapat hidup bahagia, pada akhirnya!? Maka Praba juga tidak boleh menjalani hidup yang sempurna.
Isi minuman yang sama dengan dikonsumsi Dava 7 tahun lalu. Namun, hanya jumlah kadarnya yang ditambah.
"Ini untuk Paman, awalnya aku tidak menyangka, tapi seorang temanku yang menjadi pegawai hotel memberikannya..." ucapnya dengan mulut manis bagaikan dilumuri gula, mulut yang sama digunakan dahulu untuk merayu almarhum Dava. Pemuda yang memberinya cinta tulus.
"Aku tidak menyangka. Kami menikah puluhan tahun hanya untuk ini ..." geramnya ingin rasanya segera berpisah dari Diah, meminum seperempat gelas wine yang telah dicampur sekali tegukan.
"Paman, jangan sampai bercerai dari bibi, mungkin bibi tidak sengaja atau hanya salah paham," ucapnya tersenyum, kemudian melihat ke arah jam tangannya,"Paman, maaf aku harus pergi, Baron menungguku..."
Virgo hanya mengangguk, air matanya mengalir, menyesalkan pengkhianatan istri yang sudah lama dinikahinya. Percuma dirinya setia jika hanya akan berakhir seperti ini.
Seketika tubuhnya terasa ringan, matanya berkunang, mengalami efek samping dari benda terkutuk yang menghancurkan masa depan dan impian almarhum Dava.
"Ini kesempatan untukmu, bawa tuanmu ke kamar dan jadilah simpanannya," bisik Kiki, yang sejatinya kembali masuk ke dalam rumah. Memberi kesempatan pada ART muda yang menginginkan Virgo. Dengan syarat yang sama dengan yang diajukan Praba dahulu untuk menghancurkan Dava. "Berikan ini secara berkala pada minumannya,"
Tangan sang ART gemetar, menerimanya, mulai mendekati Virgo. Berjalan memapahnya menuju kamar utama, hal yang terjadi selanjutnya? Sebuah peluang yang tidak disia-siakan.
Hukum karma selalu berlaku, jika orang mati tidak dapat membalasnya. Maka tangan orang hidup yang akan membalas segalanya.
Kiki berjalan, menatap halaman rumah yang cukup besar. Mengingat bagaimana dirinya berpura-pura tersenyum di hadapan Dava, senyuman yang berubah menjadi nyata, tanpa disadarinya.
Jika berandai-andai, Praba tidak datang dan mengancamnya. Memberikan sebuah pilihan dan penawaran. Mungkin Dava masih hidup, menikahinya, perlahan dirinya akan menyadari segalanya. Menyadari kasih sayangnya, hingga tidak akan mengkhianatinya.
Menjadi seniman tembikar? Mungkin akan menemani Dava hidup di villa daerah pedesaan. Merasakan hangatnya api tungku, menunggu dengan sabar lukisan dari jemari tangannya yang bergerak perlahan bagaikan menari di atas tembikar.
Gaya hidup Kiki yang mewah? Andai Dava masih hidup, seperti anggapannya saat melihat Kenzo dahulu. Dirinya akan sabar menunggu ingatannya kembali, menunggu Dava yang dahulu benar-benar mencintainya.
Namun, Dava yang dulu tidak pernah ada dalam diri pemuda itu. Kenzo, itulah namanya, pemuda yang memiliki mata tajam dapat membuat hati wanita manapun berdebar cepat.
Berbeda dengan Dava yang dirindukannya, hanya pria konyol yang bermain dengan trik sulapnya...
Pria yang dirindukannya...
Bersambung