
Sudah diduga olehnya, Kristin menghela napas kasar. "Kedatanganku kesini, hanya ingin mengatakan, sertifikat sudah ibuku serahkan saat perceraian. Sebagai tanda pemutusan hubungan antara ayah dengan ibuku. Satu tambahan lagi, warisan tanah dari almarhum nenekku juga sudah diberikan pada ayah. Tentang dimana dia menyimpan sertifikatnya, seharusnya kalian sebagai istrinya lebih mengetahui dari pada aku yang tidak pernah tinggal dengannya lagi," ucapnya.
Elvira mulai meraih cangkir teh dihadapannya, sedikit melirik ke arah Kristin,"Sebagai keluarga, kita harus saling menjaga. Apalagi dengan ketidak hadiran..." kata-katanya tiba-tiba disela.
"Saling menjaga? Apa bibi pernah membantu biaya berobat almarhum ibuku?" tanya Kristin, berusaha setenang mungkin.
"Itu hanya masa lalu, Mika tidak akan senang jika kamu memendam dendam," jawabnya.
"Ibuku lebih tidak akan senang, jika aku menyusahkan menantunya hanya untuk memperkaya madunya," ucapnya, masih setia tersenyum.
"Airin memiliki hubungan darah denganmu, perusahaan itu juga milik almarhum Antoni. Kamu tidak ingin memajukan perusahaan yang dirintis ayahmu!?" tanya Elvira dengan raut wajah tidak suka.
"Karena itulah, aku tidak ingin perusahaan yang dipimpin suamiku rugi. Hanya karena menyokong perusahaan milik almarhum ayah yang kini dipimpin seorang lulusan SMU, yang tidak memiliki kemampuan..." cibirnya.
Prang...
Elvira membanting cangkir tehnya hingga pecah berkeping-keping."Apa maksudmu Airin tidak mempunyai kemampuan!? Kamu sendiri hanya lulusan SMU yang hanya pandai mengolah tepung!?"
"Setidaknya aku sadar diri, bisa mengolah tepung hingga suamiku membukakan toko roti untukku. Tapi apa yang Airin bisa lakukan untuk memimpin sebuah perusahaan besar..." ucapnya menatap sinis."Percuma kuliah di luar negeri, jika akhirnya pulang karena di keluarkan dari kampus,"
"Ingat!! Kamu menikah dengan anak konglomerat karena almarhum Antoni yang mengenalkanmu!! Jika tidak kamu masih menjadi buruh di toko roti! Jika almarhum Antoni tau anak tidak beradab sepertimu, seharusnya diperkenalkan pada Airin saja!!" bentak Elvira.
Diperkenalkan almarhum Antoni? Sebenarnya itu hanya sangkaan buruknya saja. Kristin yang tidak pernah berkenalan dengan kalangan atas, tiba-tiba menikah dengan anak konglomerat? Ada campur tangan Antoni yang tidak adil pada Airin. Itulah dugaan Elvira.
"Bibi sepertinya salah paham, bahkan ayah tidak begitu mengenal keluarga suamiku. Sudahlah, menjelaskan juga percuma..." Kristin mulai bangkit, sudah jenuh menjelaskan pada orang yang otaknya memang sudah terkontaminasi.
Elvira ikut bangkit, memegang lengan Kristin,"Tunggu!! Kita ini keluarga!! Harus saling berbagi!!"
"Keluarga?" Kristin tertawa kecil,"Sejak kapan aku memiliki ibu dan adik benalu!?"
Tangan Elvira terangkat, hendak menamparnya, namun dengan cepat Kristin mencegahnya, menepis tangan sang ibu sambung."Kalian berbicara masalah keluarga dan saling berbagi kan? Jadi warisan ayah dibagi tiga, aku ingin hakku. Jika kalian bersedia, mari kita duduk dan bicarakan masalah keluarga,"
Keyla masih berusaha tersenyum, mengepalkan tangannya kesal. Warisan Antoni dibagi dua saja dirinya sudah tidak rela. Apalagi dibagi tiga,"Kristin, kamu sudah masuk ke dalam keluarga konglomerat. Kami memiliki anak yang harus ditanggung. Jadi wajar saja jika hanya dibagi dua..."
"Jika begitu mudah, jangan bicara masalah keluarga lagi," cibirnya, menepis tangan Elvira yang memegangnya.
Berjalan beberapa langkah hendak pergi, sejenak langkahnya terhenti, berbicara tanpa berbalik,"Keyla, masalah anak sebagai pancingan. Kamu pasti lebih tau berapa orang anak balita yang ada di rumah utama milik suamiku. Masih ada anak-anak dari sepupunya yang dapat aku bantu untuk merawatnya,"
"Jika tujuanmu memintaku tinggal di rumahmu hanya untuk meniduri dan membuat keturunan untuk Gilang. Jangan bermimpi, karena penyebab utama rasa sakit yang diterima ibuku tidak pernah aku lupakan..." lanjutnya melangkah pergi, melewati pintu utama.
"Wanita sialan..." cibir Keyla ikut pergi diikuti baby sitter yang menggedong anaknya.
***
Tin...tin...
Mobil Gilang berada di sana, menjemputnya sepulang kerja. Kristin tersenyum, membatalkan pesanan taksi onlinenya. Kue brownies pemberian Gilang dibukanya, dimakan dalam perjalanan pulang. Hidup yang menyenangkan baginya.
Masih dapat membuat roti di toko yang dibelikan suaminya. Menuntut keturunan? Leon, ayah mertuanya tidak mempermasalahkannya. Menunggu dengan sabar, asalkan putra tunggalnya bahagia.
Hingga pada akhirnya Gilang memulai pembicaraan,"Aku berencana mengakuisisi perusahaan almarhum ayahmu, dari pada cepat atau lambat gulung tikar. Nilai investasinya lumayan stabil, tapi sayangnya beberapa minggu ini CEO yang baru banyak membuat keputusan salah. Aku dengar-dengar CEO yang baru adik tirimu. Kenapa bisa begitu bodoh!?"
"Airin terlalu dimanjakan ayah, tidak pernah dibiarkan bekerja atau bergabung dengan perusahaan. Les yang dulu diikutinya ballet, piano, merangkai bunga, modeling. Semua tidak ada yang berguna. Elvira, ibu tiriku seperti menginginkannya menjadi istri pejabat, atau setidaknya istri pengusaha jika sudah dewasa,"
"Tapi Airin terlalu pendek untuk menjadi model, ballet dan piano? Jarinya pendek dan malas berlatih ballet. Jadi ayah ingin Airin yang memimpin perusahaannya nanti dengan menyekolahkannya di luar negeri,"
"Siapa sangka, disana Airin terlalu terbuai dengan gaya hidup bebas. Dikeluarkan dari universitas," lanjutnya, berucap dengan mulut penuh.
"Jika kamu tidak memiliki ibu sambung dan ayahmu lebih menyayangimu apa yang kamu lakukan?" tanya Gilang penasaran.
"Sekolah untuk menjadi seorang chef. Orang-orang mengejar uang dan status tapi tidak pernah puas dengan posisi mereka saat ini. Jika aku mendapatkan fasilitas seperti Airin dari kecil, mungkin aku sudah menjadi chef terkenal. Tidak akan terjebak menikah denganmu," jawaban dari mulut Kristin yang tengah makan dengan mulut penuh.
"Kamu fikir menikah denganku adalah sebuah jebakan?" Gilang mengenyitkan keningnya, dengan raut wajah kusut.
"Iya, coba fikir, wanita mana yang tidak akan bersedia menikah dengan penyelamat nyawanya. Bahkan sahabatmu sendiri menikah dengan almarhum kakakmu karena menyelamatkannya bukan!?" kata-kata menusuk dari mulut Kristin penuh senyuman.
Gilang menghela napas kasar, bagaikan sebuah pukulan telak baginya. Namun, wajah itu tiba-tiba tersenyum,"Kamu cemburu pada Amel?"
Kristin membulatkan matanya, menghentikan kunyahannya,"Tidak, aku tidak mungkin cemburu pada janda dua anak yang mengerikan..."
"Mengerikan?" Gilang mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Aku mendengar sendiri dari Frea (istri Tomy). Dia baru beberapa bulan melahirkan anak kembar, sudah menginjak beberapa perusahaan. Rumor dari Frea semenjak kematian suaminya, dia seperti siluman, datang dan pergi ke negara lain. Menjalin kerjasama atau menghancurkan... Amel menyeramkan, tapi keren..." jelasnya kembali makan dengan tenang.
"Kenzo benar-benar sudah merubah Amel. Sekarang aku mengerti, mereka benar-benar pasangan yang cocok..." gumamnya masih konsentrasi pada jalanan."Andai Kenzo masih hidup seperti keyakinan Amel. Aku ingin meminta maaf padanya,"
"Semoga kakakmu memang masih hidup dimana pun dia berada..."
***
Satu tahun kemudian...
Bercak darah terlihat, kulit yang membiru pertanda kekurangan oksigen...
Bersambung