
Brenda tersenyum, duduk di ruangannya, salah satu pegawainya menyuguhkan tiga gelas orange juice dingin untuk mereka.
"Kalian ingin memesan pakaian untuk acara apa?" tanyanya tersenyum, terkesan elegan, memegang pensil dan buku.
"Bukan itu, aku ingin bekerja sama, membuka butik yang cukup besar di negara asalku. Tapi adikku baru lulus, dia belum berpengalaman, jadi aku ingin menawarkan kerjasama denganmu,"
"Modal awal kami akan menanggung 60% untuk pembangunan dan peralatan serta pegawainya. Sisa 40% darimu, tapi kamu ikut mengelola dengan adikku. Keuntungan yang kamu dapatkan walaupun hanya mengeluarkan modal 40%, tapi dihitung pembagian keuntungan 50%, diluar gajimu menjadi desainer nanti. Apa kamu tertarik?" tanya Amel tersenyum, untuk pertama kalinya dirinya melakukan negosiasi.
Brenda mengenyitkan keningnya,"Kenapa kalian menawarkan padaku?"
"Karena aku percaya pada desainmu. Ini menguntungkan, jika tidak tertarik aku akan memberi tawaran pada orang lain..." ancam Amel dengan wajah dinginnya yang terlihat serius.
Kenzo menipiskan bibir menahan tawanya. Tidak menyangka Amel akan belajar secepat ini, melempar umpan, kemudian menariknya. Istri, maaf salah kekasihnya memiliki bakat untuk menjadi pengusaha.
Brenda menghela napas berfikir sejenak, pengelolaan butiknya dapat diserahkan pada karyawan kepercayaannya. Merekrut desainer baru, menyerahkan pengawasan butiknya pada sang ayah.
Tidak akan membuang peluang bisnis, dengan keuntungan di depan mata,"Aku setuju..." jawabnya.
Amel segera membuka tas ranselnya, mengeluarkan surat perjanjian."Baca dulu, setelah itu putuskan dan fikirkan baik-baik, akan tandatangan atau tidak..."
Brenda membaca dengan sesama memang tidak ada yang salah dengan surat perjanjian. Modal yang diinvestasikan Kenzo juga tidak sedikit. Mungkin butik yang dibuat akan lebih dari satu cabang.
Sama-sama menguntungkan, desainnya juga mendapatkan bayaran bonus yang bisa dibilang tinggi. Untuk dirinya yang memang tidak memiliki nama besar sebagai desainer.
Tidak menyadari bahaya yang mengintainya di tengah perjanjian. Yaitu seseorang bernama Nindy, seseorang dengan nama yang lumayan asing baginya.
Brenda menandatanganinya dengan jemarinya yang berhiaskan cat kuku indah."Kita bekerja sama..." ucapnya mengulurkan tangan pada Amel.
"Deal..." Amel ikut tersenyum, menyambut jabatan tangan Brenda,"Adikku akan segera masuk," ucapnya telah mengirimkan pesan pada Nindy yang masih menunggu di dalam taksi.
"Dia disini? Kenapa tidak turun, Nindy? Dari namanya dia pasti cantik. Kami bisa perawatan bersama ke spa..." ucapnya tersenyum.
Tapi apa akan tetap tersenyum? Sejenak senyuman itu pudar. Gadis tidak waras yang ingin mencuri desainnya masuk ke ruangannya yang tidak terkunci.
"Terimakasih kakak ipar..." ucapnya pada Kenzo, yang menipiskan bibir mati-matian menahan tawanya.
"Berterimakasih lah pada Amel, dia yang bersahabat dekat dengan Brenda," Kenzo menghela napas, menetralkan dirinya agar tidak tertawa.
"Terimakasih, aku akan merancang pakaian yang membuat kakak ipar, tidak sabar untuk merobeknya. Aku janji..." ucap Nindy penuh haru.
"Di...dia adikmu?" Brenda mengenyitkan keningnya, masih berbicara dengan suara lemah lembut mendayu-dayu. Dijawab dengan anggukan oleh Amel.
Suara bariton seorang pria tiba-tiba terdengar,"Tekanan darahku akan naik..." ucapnya memijit pelipisnya sendiri.
"Kak Brenda? Di kontrak namamu Brandon, bisa aku panggil Brandon? Kita akan mengembangkan butik kita bersama..." tanya Nindy, duduk di samping Brenda, memegang bersandar di lengannya.
"Aku bisa jadi gila!!" komat-kamit mulut itu kesal, masih dengan suara baritonnya,"Minggir!! Nanti pembuluh darahku bisa meledak!!" bentaknya, menepis tangan Nindy.
"Aku akan melebihi kemampuan desainmu dalam satu tahun. Jika gagal, kamu boleh meledakan pembuluh darah bagian bawahmu dalam diriku..." Nindy tersenyum, serius dengan sumpahnya, akan menjadikan pria cross dressing itu sebagai suaminya jika gagal melampaui kemampuannya.
"A...apa maksudmu!? Wanita sialan!!" kekesalan yang benar-benar diubun-ubun.
Sementara itu Kenzo tersenyum, menghela napas kasar,"Butik yang dikelola Nindy akan maju, dan berkembang dengan cepat," ucapnya.
"Em?" Amel mengalihkan pandangannya, pada Kenzo seakan bertanya tidak mengerti dengan kata-katanya.
"Begini, Nindy mengutamakan desain yang terlalu terbuka. Ahli dalam bidang pakaian..." Kenzo menghela napas kasar enggan melanjutkan pembicaraan tentang adik iparnya,"Sedangkan, Brenda hampir semua desainnya pakaian formal yang tertutup. Jika gaun wanita pun, menonjolkan keanggunan. Tidak ada daya tarik, memberi kesan menggoda,"
"Jika mereka bisa bekerja sama. Desain mereka baik gaun, setelah jas, bikini, atau pakaian apapun, akan menjadi desain tanpa celah..." jelasnya.
"Kamu seperti kritikus..." Amel tersenyum, mulai berdiri hendak meninggalkan butik.
"Aku akan mengerjakannya dengan baik..." Brenda kembali mengeluarkan suara lembut bagaikan bunga Peony-nya.
***
Pasangan itu pulang lebih awal, meninggalkan Nindy yang harus membeli beberapa bahan khusus, dengan Brenda. Sebelum mulai membuka butiknya, cukup banyak persiapan yang harus mereka lakukan.
Pasangan yang melangkah ke area keberangkatan penumpang diantar oleh anak-anak yang diadopsi Kenzo. Melambaikan tangan, menyambut kepergian kedua orang tua mereka.
Seperti biasa, bukan kelas bisnis, tapi tiket kelas ekonomi. Kenzo duduk sembari tersenyum, dengan Amel menyender pada bahunya.
"Dua tahun ini, apa saja yang sudah kamu pelajari?" tanya Kenzo.
"Antagonis, makhluk penindas..." jawab Amel tersenyum, memejamkan matanya.
"Yang aku pelajari dari Cindy, anak adalah hal yang utama, untuk seorang ibu. Perasaan cinta dapat memudar seiring waktu, tapi rasa kasih ibu pada anaknya tidak. Satu lagi, kasih yang tulus tidak memandang rupa fisik tapi hati yang ada di dalamnya,"
"Aiko, hidup penuh rasa iri, menginginkan semua mutlak menjadi miliknya, memiliki rasa tidak aman, menghancurkan dirinya sendiri. Aku ingin meniru sifatnya..." lanjut Amel.
"Menirunya?" Kenzo mengenyitkan keningnya.
"Dia percaya diri, dan cerdas, protektif jika sudah menemukan yang disukainya. Aku ingin meniru sifatnya, menerapkannya padamu. Sehingga jika kamu ingin menikah lagi, aku akan mengubur istri kedua, diam-diam..." Amel tersenyum penuh arti.
"Dimana Amel-ku yang baik hati!?" Kenzo mengenyitkan keningnya, tertawa kecil.
"Masih disini, aku bercanda soal menguburnya. Tapi jika benar-benar ada istri kedua. Aku akan menyayanginya hingga dia iba padaku, menghancurkan hidupnya perlahan-lahan sambil memeluknya, hingga dia memutuskan untuk bunuh diri..." Amel menyeringai, sifat, prilaku pasrah dan mudah ditindasnya telah berubah drastis. Pangeran antagonis telah merubah Dugong menjadi ratu jahat.
Kenzo kembali tertawa,"Tidak ada yang kedua, karena aku hanya ingin memiliki satu rumah untuk tempatku pulang. Jika suatu hari kamu tidak ada, aku tetap tidak akan menikah..."
Mengakhiri hidupku menyusulmu... kata-kata yang tidak diucapkan Kenzo, tersenyum pada Amel.
"Jika kamu berselingkuh atau menyukai wanita lain. Aku akan bertindak keji pada selingkuhanmu..." ucap Amel penuh semangat."Jika aku berselingkuh atau menyukai pria lain, kamu akan melakukan apa?" tanyanya.
"Jika tidak sengaja atau istriku dijebak. Aku akan membuatnya menyesal terlahir di dunia ini..." jawabnya.
Tapi jika kamu mencintai pria lain dan lebih memilihnya. Aku akan pergi, tidak dapat melihat wajahmu lagi... tidak ingin menjalani hari seorang diri, tidak ingin menyakitimu. Karena lebih menyakitkan memiliki raga, tapi hati telah dimiliki orang lain... memakai tuxedo putih, aku akan pergi... kata-kata yang tertahan di balik senyumannya.
"Bagaimana dengan Seina dan Tatewaki? Apa yang kamu pelajari dari mereka?" tanya Kenzo kembali.
"Tidak ada, Seina terlalu bodoh mirip dengan aku yang dulu. Merelakan kebahagiaannya untuk orang lain? Konyol..." cibirnya.
"Dia memang bodoh, tapi keputusannya tidak dapat disalahkan. Dirinya tertunduk memiliki banyak kekurangan, sedangkan Aiko merupakan gadis yang sempurna sama halnya dengan Tatewaki. Aiko, bagaikan saudari yang menemani hidupnya, tidak akan dibiarkannya terluka..." Kenzo menggengam erat jemari tangan Amel.
"Aku tidak memiliki kekurangan, hanya tertunduk karena terlalu miskin. Tapi aku tidak akan menyerahkanmu pada wanita maupun..." gadis itu mengecup sekilas bibir kekasihnya.
"Kekuranganku lebih banyak darimu, tidak takut? Aku adalah pengidap bipolar, bagaimana jika suatu hari aku tidak sengaja melukaimu?" tanyanya.
"Tidak takut, karena akulah obat untukmu," jawab Amel.
"Obat? Siapa yang mengatakannya?" Kenzo mengenyitkan keningnya.
"Aku sendiri yang menyimpulkan..." Amel mengigit bagian bawah bibirnya.
Menyadari dirinya dapat membuat Kenzo sembuh sepenuhnya. Namun, dapat pula membawa pemuda itu ke kondisi mental terendah. Memicu depresi, dan keinginan mengakhiri hidupnya.
"Aku akan menjagamu," ucapnya menatap mata kekasihnya.
"Terimakasih..." Kenzo tersenyum, menarik Amel tidur dalam dekapannya. Menyabut perjalanan panjang mereka untuk kembali.
Bersambung