
🍀🍀🍀🍀 Sudah mendekati ending...😉🍀🍀🍀🍀
Hari sudah mulai larut, banyak hal yang diceritakan Frans pada majikannya. Hingga tiba waktu mereka kembali ke villa. Sebuah mobil terparkir di sana, Hugo yang sejatinya tidak memiliki jaringan perusahaan di negara ini. Memang khusus berlibur, untuk mengambil perhatian janda muda yang sudah lama diimpikannya. Memiliki Amel yang berparas cantik, kepandaian, serta anak-anak dengan kecerdasan diatas rata-rata.
Kenzo turun dari mobil, membanting pintunya dengan kasar. Frans yang duduk di kursi pengemudi hanya dapat komat-kamit terkejut dengan betapa emosionalnya majikannya saat ini."Perang akan segera di mulai..." gumamnya ikut keluar dari mobil.
Pandangan mata Kenzo beralih, tidak ada yang terjadi, hanya dua orang duduk di sofa dalam jarak yang terlalu dekat. Benar, Hugo sengaja mengatakan laptopnya bermasalah agar setidaknya dapat memiliki kesempatan bersama dengan Amel.
"Amel sebaiknya kamu kembali ke kamar sekarang, sudah larut..." ucap Kenzo tersenyum.
"Pengasuh Ferrell dan Febria, tidak seharusnya mengatur hidup ibu mereka," Hugo menatap sinis.
"Mayat Kenzo belum ditemukan hingga sekarang, bagaimana jika dia kembali untuk mencabik-cabikmu?" tanya Kenzo tersenyum, mengeluarkan aura dingin yang menusuk.
Mayatnya memang belum ketemu, tapi iblis itu sudah berdiri disini dalam keadaan hidup... batin Frans.
"Jika pun kembali, Amel lebih mencintaiku, tinggal bercerai saja kan..." ucap Hugo menatap tajam.
"Kami sudah sering berhubungan layaknya pasangan suami-istri..." Kenzo menatap sinis.
"Aku tidak percaya, Amel tidak membelamu dari tadi, artinya dia tidak menyukaimu kan?" Hugo tidak kalah sengit.
Amel menutup laptop milik Hugo, berjalan pergi menapaki tangga menuju lantai dua,"Malam ini akan aku perbaiki, besok ambil laptopnya kembali. Aku ingin istirahat..."
"Bagaimana denganku?" Kenzo mengenyitkan keningnya, memasang raut muka manis, memelas.
"Ingin ikut ke lantai dua, atau tidur dengan Kiki!? Terserah padamu..." kesalnya, menunggu Kenzo dari sore yang tidak kunjung datang. Melangkah cepat meninggalkan mereka.
Kenzo tersenyum,"Maaf, aku harus melayaninya di tempat tidur," ucapnya mengedipkan sebelah matanya. Berlari pergi dengan cepat mengejar Amel.
"Aku membenci senyumannya..." geram Hugo, kesal.
Frans menghela napas kasar, merogoh saku bagian dalam jasnya. Mengambil cek, kemudian menuliskan nominal yang fantastis,"Ini untukmu... maaf..." ucapnya tertunduk.
"Maaf?" Hugo mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Iya, ini cukup untuk ganti rugi oleh-oleh, hadiah ulang tahun ketika di Singapura untuk Amel, tiket pulang-pergi dan waktumu yang tersita kan?" tanya Frans.
"Apa maksudnya?" tanyanya kembali.
"Kenzo sudah kembali, tapi tidak sepenuhnya. Jika dia kembali sepenuhnya, aku pastikan kamu hidup pun enggan matipun tidak bisa...' jawab Frans ambigu.
"Jadi suaminya belum meninggal? Tidak apa-apa, suami yang meninggalkan istrinya selama 7 tahun punya hak apa!? Aku akan membujuk Amel untuk bercerai, kemudian..." kata-kata Hugo disela.
"Kemudian kamu akan dipenggal, menjadi hantu tanpa kepala..." Frans tersenyum.
"Kamu tau aku bersungguh-sungguh pada Amel? Dia hanya belum membuka hatinya...cek ini aku kembalikan...!!" ucap Hugo penuh kesungguhan.
Frans berusaha tersenyum, "Hugo, aku menganggapmu sebagai temanku. Karena itu kali ini aku berkata dengan serius..."
"Terima cek ini, atau aku sendiri yang akan bertindak..." lanjutnya.
"Ke... kenapa kamu tiba-tiba..." kata-kata Hugo terhenti.
Frans menatap tajam, sembari tersenyum padanya."Setelah 7 tahun, majikan yang sudah seperti adikku sendiri pulang dari neraka. Tentu aku harus mempersiapkan kebahagiaannya dengan baik,"
"Aku tidak menyukai ini, kamu tau!?" kerah kemeja Frans ditarik oleh Hugo. Terlihat emosional, mengepalkan tangannya, ingin rasanya memukul wajah pria di hadapannya.
Frans masih setia tersenyum,"Menyebalkan!!" ucapnya menepis jemari tangan Hugo.
Hugo mengenyitkan keningnya, melangkah pergi dengan kesal. Rasanya ingin berteriak dan mengumpat. Namun, Amel dan anak-anak itu akan mendengarnya. Tidak ingin memperlihatkan sisi kasarnya, dihadapan istri dan anak-anak yang ingin dimilikinya.
Frans masih setia tersenyum, terlihat kejengkelan dalam raut wajahnya. Kasar dan perfeksionis? Frans awalnya tidak mempercayai, kata-kata mantan istri Hugo. Tapi kini dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Untunglah orang gila itu bangkit dari kematian..." gumamnya mensyukuri Kenzo yang kenyataannya masih hidup.
***
Tanpa disadarinya seorang pemuda tersenyum, membuka pintu kamar mandi, menatap ruangan kaca berembun dengan seseorang berdiri, membiarkan tubuhnya basah.
Satu-persatu pakaian ditanggalkannya, ruangan kaca dimasukinya.
Tubuh polos wanita itu dipeluknya dari belakang."Bagaimana aku harus menghukummu?" tanyanya berbisik, di tengah tubuh mereka yang sama-sama basah, tanpa sehelai benangpun yang menutupi.
Amel mengenyitkan keningnya, rasa kesalnya lenyap tiba-tiba. Berusaha keras agar tidak tersenyum, Kenzo menyusulnya? Ingin rasanya, Amel berbalik kemudian mencium seluruh wajah suaminya.
"Kamu tidak menemui Kiki?" tanyanya, memendam perasaan bahagianya.
"Tidak, istriku secantik ini, untuk apa menginginkan wanita lain?" jawabnya tersenyum.
"Kenzo, kamu ingat?" Amel tiba-tiba berbalik, memeluk tubuh suaminya erat, mendengar kata 'Istriku'.
Kenzo mengangguk,"Hanya sedikit, yang aku ingat, aku mencintaimu..."
"Aku juga..." Amel tiba-tiba menangis,"Makhluk penindas s*alan!! Kamu masih hidup, aku kira aku hanya dapat bertemu denganmu saat aku mati nanti..." jeritnya, terisak.
"Apa sebegitunya merindukanku?" tanyanya tidak peduli air shower yang masih menyala, menerpa tubuh mereka.
"Iya... tapi aku mungkin tidak bisa punya anak lagi," Amel masih juga terisak, merutuki kekurangannya. Tempat terhangat untuknya bersandar telah kembali.
"Maaf...ini kesalahanku. Aku akan bertanggung jawab, menemanimu hingga kita tua nanti. Jika bisa di akhirat, bahkan jika terlahir kembali, kita akan bersama..." ucapnya mendekap tubuh Amel yang basah.
"Dasar pembohong, kata-katamu seperti gula..." tangisan Amel semakin kencang.
Kenzo tersenyum, bibir Amel dikecupnya, menghentikan tangisannya,"Kita sudah memiliki 8 orang anak itu sudah cukup. Jangan menangis..."
Amel mengangguk, menyelami wajah rupawan suaminya. Pemuda yang perlahan tertunduk dengan rambutnya yang basah. Menetes di tubuh Amel yang merapat dalam dekapannya. Kedua mata itu terpejam entah siapa yang memulai bibir mereka mulai bungkam, berdecap hangat saling memberi kehangatan.
Bukan milik orang lain, Amel hanyalah miliknya. Wanita yang memberikan debaran berbeda di hatinya. Tubuh yang perlahan terpojok di dinding. Kala mereka menautkan bibir, saling memandang, deru napas tidak teratur berlomba.
"Aku mencintaimu, sangat..." ucapnya kala mencumbui tubuh istrinya.
"Kenzo..." suara Amel lirih.
Kaca yang berembun, bayangan itu terlihat samar. Kala dua suara beradu mencari kepuasan mereka, kepuasan yang sejatinya tidak pernah menemukan ujungnya.
Jemari tangan yang bayangan terlihat sekilas dalam kaca transparan.
Hanya dua kata yang seakan tidak pernah bosan diucapkan mereka. Menyelami artinya dalam senyuman, kala kedua tubuh itu telah kelelahan. "Aku mencintaimu..."
***
Hari sudah mulai larut, Kenzo duduk menyender di sandaran tempat tidur. Amel telah terlelap memeluk tubuhnya yang berbalut piama.
Banyak masalah yang terjadi, 7 tahun terakhir. Dirinya adalah Kenzo? Memiliki istri yang mencintainya, anak-anak yang mengasihi nya.
Namun, dirinya masih mencintai Damian dan Vanya. Orang tua yang mungkin tengah mencemaskannya.
Masih teringat jelas, saat rumah Damian dibeli oleh kerabat jauhnya. Orang yang sejatinya dahulu pengkhianat di perusahaan Damian.
Virgo? Itulah namanya, seseorang yang sempat menyuruh Damian merangkak, hanya agar dapat mengambil barang-barang miliknya. Pernah menawarkan Vanya pekerjaan sebagai ART. Namun selama satu bulan gajinya tidak dibayar, menjadi bahan cemooh sosialita yang dengan sengaja didatangkan istri Virgo.
Virgo adalah kerabat jauh Vanya yang dahulu memiliki jabatan sebagai manager di perusahaan milik Damian. Tidak puas dengan jabatannya? Membuatnya melakukan tindakan penggelapan dana, bahkan menjual data-data penting perusahaan. Ketika perusahaan pailit, dirinyalah yang berjaya.
Memiliki jabatan penting di perusahaan pesaing, menginjak Damian sesuka hatinya.
Kenzo? Seperti apa dirinya yang dulu sebenarnya? Jika bisa, dirinya ingin mengingat segalanya. Agar dapat, mengembalikan milik pasangan suami-istri yang telah memberinya kesempatan melihat anak-anak dan istrinya.
Menginjak seorang pria bernama Virgo, di bawah kaki ayah dan ibu angkatnya. Jika saja, dirinya dapat mengingat segalanya kembali...
Bersambung