My Kenzo

My Kenzo
Cross Dressing



Hanya satu hari, mereka kembali meninggalkan Afrika. Anak-anak yang sudah dua tahun tidak ditemui ayah angkat mereka, nampak akrab. Alasannya? Tidak ada orang yang mereka percayai lagi selain Kenzo. Tempat mereka bergantung selama ini.


Tersenyum dalam pesawat yang menuju langsung ke Singapura. Rumah yang cukup besar telah disediakan disana, lengkap dengan pelayan yang mengurus keperluan mereka.


Amel, menghela napas kasar menginap selama tiga hari disana. Sebelum akhirnya kembali pulang bersama Kenzo dan Nindy setelahnya.


Disneyland, itulah tujuan mereka, memainkan berbagai permainan. Menghabiskan waktu bersama keluarga. Tertawa bersama dalam kebersamaan yang singkat. Meninggalkan Nindy berkeliling seorang diri...


***


Sebuah butik yang lumayan besar dimasukinya, menghela napas kasar sembari tersenyum. Berjalan melihat design, pakaian yang menawan. Sangat menginspirasi, hanya tangan indah dari orang yang memiliki kemampuan artistik tinggi yang dapat mengerjakannya.


Nindy mengeluarkan pensil dan bukunya, mulai menggambar sketsa tidak mengenal waktu dan tempat. Hingga tiba-tiba, kerah baju bagian belakangnya ditarik, membuatnya mundur sembari berjinjit. Bagaikan tikus yang tertangkap tangan berbuat kejahatan.


"Mau mencuri desainku?" suara bariton seorang pria terdengar. Menangkap basah, gadis yang tidak berbelanja, namun melukis desain di butik miliknya.


Nindy menonggakkan kepalanya, seorang pria rupawan berada di belakangnya. Dengan rambut panjang terurai, mengenakan pakaian wanita tertutup, seperti sejenis gaun resmi selutut. Terlihat elegan dan tegas.


"Aku jatuh cinta..." gumamnya, menemukan pria idamannya. Dengan otak masih meloading.


"Security!!" teriakannya menggema ke seluruh penjuru ruangan."Lempar dia keluar!!" geramnya.


"Ki...ki...kita berkenalan dulu ya? Dress yang kamu kenakan sangat bagus. Pasti sulit membuatnya, bagaimana jika kamu mengajariku...kita akan cocok, aku..." dua orang security berusaha memegangi Nindy. Namun gadis itu meronta, menendang tulang kering dan kejantanan mereka. Kemudian gadis itu kembali mendekati sang pemuda berpakaian wanita.


"Ka... kakak iparku adalah..." kata-kata Nindy terhenti, sang pemuda mengangkat tubuhnya ala bridal style.


Nindy tertegun, dengan jantung berdegup cepat. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Pasangan yang ditakdirkan? Kulitnya bahkan lebih putih dan halus dari kulit Nindy, hidung yang mancung. Keajaiban pahatan dari Tuhan.


Pemuda yang benar-benar bersinar baginya.


Hingga...


Bug...


Tubuhnya dijatuhkan di depan area butik,"Aku dapat melaporkanmu karena berniat mencuri desainku!! Pergi!!" bentakan yang benar-benar keras dengan suara yang menggelegar.


"Aku tidak mencuri desainmu..." Nindy berucap dengan wajah polosnya.


"Lalu apa yang kamu lakukan disini!?" sang pemuda menatap sinis.


"Mencuri hatimu..." rayuan gombal entah dari mana, mungkin dari hatinya naik ke otak, turun ke mulut.


"Dasar!! Pergi..." ucapnya.


Hingga tiba-tiba seorang langganannya masuk. Wanita cantik, yang hendak membeli pakaian,"Brenda..." ucapnya memanggil sang pemuda.


Seperti biasanya, Rambo akan berubah menjadi Rara. Berjalan dan berbicara layaknya wanita berlenggak-lenggok, "Baru datang? Ih... makin cantik saja," ucapnya cium pipi kanan, pipi kiri tanpa ragu.


"Iya, ada rancangan dress yang baru?" tanya sang pelanggan melangkah masuk saling merangkul.


"Ada, nanti kalau tidak cocok, aku buatkan yang baru..." pemuda yang dipanggil Brenda itu tersenyum pada pelanggannya. Namun menatap dengan pandangan kesal menusuk pada Nindy. Seakan menyuruh gadis itu untuk segera pergi.


Kecewa? Tidak Nindy tersenyum, bentuk tubuh yang tidak diubah, masih pria tulen. Kadangkala maskulin, kadangkala feminim. Cross dressing hanya itu kesimpulan yang diambil Nindy. Seseorang yang memiliki kelainan lebih suka memakai pakaian lawan jenis, dan bersikap bagaikan lawan jenis. Namun, belum tentu memiliki penyimpangan sekssual.


Mulutnya komat-kamit mengucapkan sumpah serapah,"Jika aku tidak bisa menjadi desainer yang lebih hebat darimu!! Aku akan bertekuk lutut!! Menjadikanmu suamiku, sehingga kamu boleh menindasku di tempat tidur sesuka hatimu!!" bentaknya berteriak di depan area butik. Kemudian pergi, penuh semangat, merasa memiliki saingan dari kemampuannya yang bisa dibilang jenius untuk tingkat pemula.


Nindy mulai berjalan pergi, tujuannya? Tentu saja Disneyland, mengadu pada kakak ipar. Salah maksudnya calon kakak iparnya.


***


Berfoto, berkeliling, menikmati banyak permainan dan atraksi. Tidak satupun yang terlewatkan. Untuk pertama kalinya Kenzo melakukan ini bersama keluarganya.


Pertama kali? Dahulu dirinya hanya sekedar menginap, membelikan tiket liburan untuk anak-anak angkatnya. Pengasuh atau pelayan yang akan membawa mereka pergi.


Namun sekarang, di dunia yang lambat ini, dirinya juga ingin tersenyum. Menghentikan waktu, selamanya akan seperti ini. Menatap senyuman di wajah anak-anak yang bermain di hadapannya, atau Amel yang sesekali bercanda, mengecup pipinya.


Tidak memerlukan kekuasaan besar, atau uang yang banyak hanya makan bersama usai kegiatan mereka yang melelahkan. Saling menyuapi, berebut yang mana lebih disayangi oleh dirinya dan Amel. Itulah anak-anak, ibu dan ayah. Keluarga yang tidak pernah dimiliki seorang anak dengan luka di keningnya.


Kini dia benar-benar memilikinya, balas dendam? Itu bukanlah kesenangan dalam hidupnya. Tidak membawa kepuasan sama sekali, tapi hari ini dirinya bahagia.


Mungkin tinggal menyematkan cincin di jari manis kekasinya. Menanti kelahiran si bungsu, dari perut wanita yang dicintainya. Konyol bukan? Mereka bahkan tidak pernah melakukan apapun. Tapi sungguh, Kenzo menginginkan untuk menua bersama, memiliki keturunan atau tidak, tidaklah penting.


Saat ini harta berharganya, hanya seorang Amel. Bayi mungil yang diwariskan Kinan untuk menemani hidupnya yang dingin. Bayi mungil yang kini menjadi wanita dewasa, wanita yang akan dipercayakannya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.


"Hati-hati..." Amel tersenyum mengecup kepala Elisha, membantunya untuk kembali masuk ke dalam mobil. Mengingat kakinya yang lumpuh.


Anak perempuan itu mengangguk, dari wajah dan cara bicaranya Elisha walaupun fasih berbahasa Inggris. Kelihatannya hanya dia yang berasal dari Indonesia, anak pertama yang diadopsi Kenzo dahulu.


Ke lima anak itu pulang lebih awal, karena terlalu lelah seusai penebangan mereka. Steven si rambut putih bahkan telah tertidur terlebih dahulu. Supir dan pelayan yang mengantar mereka pulang, kesibukan Kenzo membuat mereka sudah terbiasa mandiri. Tidak egois, karena menjalani hidup dengan baik sudah merupakan rasa syukur bagi mereka. Dibandingkan teman-teman mereka yang tidak beruntung.


Amel dan Kenzo melambaikan tangannya, menyambut kepulangan mereka lebih awal dengan mobil minibus.


"Kita berkencan..." Kenzo tiba-tiba menarik pinggang Amel, tersenyum, mengecup bibirnya sekilas.


Amel mengangguk, menikmati suasana Disneyland di malam hari. Lampu-lampu indah memerangi perjalanan, kedua orang itu duduk di bangku taman setelah, terasa lelah bagi mereka. Menatap indahnya replika istana dongeng dengan lampu biru menghiasinya.


"Bahagia selamanya... itulah tema Disney..." Kenzo tersenyum melirik kekasihnya.


Amel mengangguk, kemudian membalas senyumannya. Hingga Kenzo mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Cincin berlian berbentuk bintang kecil, "Bagaimana ya mengatakannya...? Will you marry me?" tanya Kenzo tertawa kecil, berlutut di hadapan Amel.


Amel ikut tertawa, tidak ada makan malam romantis atau kejutan cincin dalam kue. Namun, rasanya bahagia melihat pria antagonis sepertinya canggung untuk melamar.


Hingga akhirnya Amel merogoh sakunya sendiri. Mengeluarkan cincin permen, tepatnya permen yang berbentuk cincin.


"Will you marry me?" Amel bukannya menjawab, namun mengulangi kata-kata Kenzo.


Cincin permen disematkannya pada jari manis kekasinya. Begitu pula Kenzo yang menyematkan cincin berlian berbentuk bintang di jemari Amel. Mengukuhkan semua perasaan mereka, mata keduanya terpejam. Sepasang mulut yang kini bungkam tidak tersenyum ataupun tertawa.


Air mancur yang dihiasi lampu kolam menyembur indah. Bagaikan menyembunyikan beberapa detik, tautan bibir yang terus bergerak. Mata mereka saling menyelami.


"Aku mencintaimu, aku akan merelakan apapun untuk kebahagiaanmu..." tengkuk Amel kembali di tahan Kenzo masih dengan sepasang mata sayu hendak melanjutkan tautan bibir mereka.


"Kakak ipar!! Tolong aku!!" suara cempreng yang tiba-tiba memekik.


Bersambung