My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Traktiran



Hari ini sedikit berbeda, pasangan yang berjalan bergandengan tangan. Ferrell menggenggamnya seakan enggan melepaskannya. Jemarinya bergerak mengusap pelan punggung tangan Glory. Sedangkan Glory? Remaja itu meliriknya, menatapnya penuh rasa canggung dan malu.


Tapi tidak dipungkirinya, jemari tangan sang pujaan hati benar-benar terasa hangat.


Sedangkan empat orang yang telah duduk di kursi mereka menghela napas kasar.


"Aku ingin punya pacar." Ira menghela napasnya, melirik ke arah Budi.


Sedangkan Budi menatap mereka penuh rasa optimis."Ken bisa mendapatkan Glory, berarti seorang Budi juga mungkin bisa mendapatkan Grisella,"


"Dalam mimpimu! Standar Grisella sangat tinggi." Lily mengenyitkan keningnya, menatap ke arah mereka. Ada yang aneh dari Ken menurutnya, entah apa itu.


Caca mengambil beberapa permen, menyodorkan pada teman-temannya."Awalnya aku menyukai Ken sebagai sahabat yang baik, sekarang tidak lagi..." Jiwa fans fanatiknya benar-benar tidak menyukainya. Nyaris, hampir saja dirinya memiliki sahabat istri seorang selebriti. Namun berani-beraninya pemuda itu menggagalkannya.


Hingga pasangan itu duduk di bangkunya masing-masing. Glory menghela napas menatap teman-temannya."Kami pacaran..." ucapnya tertunduk malu.


"Kami tau..." kata-kata dari mulut keempat orang itu bersamaan.


"Mau aku traktir?" tanya Ferrell tersenyum.


Budi dan Ira seketika mengangguk."Boleh!" jawaban Budi.


Sedangkan dua orang lainnya mengalihkan pandangannya. Lily yang menatap ke luar jendela, kesal? Tentu saja imajinasi tentang romance komedi percintaan antara seorang tuan muda rupawan yang berbahaya dengan gadis polos lenyap begitu saja. Hanya film lawas yang saat ini terlihat. Mungkin dua orang yang malu-malu pada semut merah, yang merayap di dinding.


Caca, menatap phoncellnya, memasang headset mendengarkan lagu penyanyi idola yang tidak dapat ditemuinya secara langsung lagi, akibat gagalnya pendekatan antara Glory dengan Ferrell.


Glory lagi-lagi menghela napasnya, di rumah hubungannya tidak disetujui oleh ibunya. Dan kini di sekolah kedua orang dari empat temannya ikut-ikutan tidak setuju.


Hingga Ken menyodorkan secarik kertas padanya. Perlahan dibuka ada banyak tanda hati disana. Serta beberapa kalimat yang tertulis,'Hanya tiga kalimat pagi ini tentang dirimu, aku mencintaimu, aku merindukanmu, betapa cantiknya pacarku hari ini,'


Seketika Glory tersipu, mengintip ke belakangnya, tempat Ferrell duduk. Ferrell mengedipkan sebelah matanya. Ferrell sebagai Ken benar-benar bagaikan pribadi yang berbeda, namun sejatinya sosok yang sama.


Mungkin karena itu juga, Glory tidak menyadarinya sama sekali. Dirinya tertunduk malu-malu."Aku mencintaimu juga..." ucapnya dengan suara kecil, menoleh sekilas ke belakang.


Bolehkah aku menciumnya, aku gemas. Bibirnya benar-benar manis... batin Ferrell mengigit bagian bawah bibirnya sendiri.


***


Hari sudah mulai siang, seperti biasa jemputan Glory sudah datang. Pemuda rupawan mengendarai motor bebek, dengan ransel di punggungnya. Membawa dua buah helm, satu untuk dirinya dan satu untuk Glory.


Hingga gadis itu terlihat juga, bergandengan tangan dengan seorang pria. Pria yang sama, sepatu murah, kulit sawo matang, tahi lalat besar di bawah bibir, serta kacamata tebalnya, dilengkapi dengan rambut ala superman.


Gin menghela napas kasar, mungkin karena sudah mengenal dalam jangka waktu cukup lama Glory menyukai pemuda itu. Dirinya tidak mengharapkan lebih banyak dari seorang wanita, hanya baik dan setia.


Dan semuanya terlihat kala gadis itu tetap menemani sang Superman berwajah kusam. Tidak luluh padanya begitu saja. Dengan menerima perjodohan, gadis ini akan menjadi miliknya. Setelah menikah lambat laun akan menyukai dirinya, menggatikan posisi Superman berwajah kusam di hatinya. Pada akhirnya istri baik dan setia akan dimilikinya.


Tiba-tiba Glory berjalan menghampiri menatap tajam padanya."Kamu berkata akan membatalkan perjodohan kan? Tapi kenapa jadi antusias ingin melanjutkannya!?" bentaknya.


"Itu hakku, terserah keinginanku, dan tugasku berikutnya mengantarmu pulang," ucap Gin menyodorkan helm.


Jantung Glory berdegup cepat, adrenalinnya terpacu. Sebaiknya jangan menghalangi jalan kami? Benar-benar kata posesif dari seorang pria lembut. Pria lembut mandiri yang dicintainya.


Jangan menghalangi jalan kami, jika tidak aku akan mengadu pada ayah, ibu dan kakak-kakakku... batin Ferrell, ingin mengerahkan semua anggota keluarganya.


"Glory, naik!! Ini perintah ibumu, apa kamu mau dinikahkan denganku besok? Surat-surat bisa diurus nanti oleh ibumu dan bibiku jika kamu memang ingin cepat-cepat menghabiskan malam pertama kita ..." godanya.


"Ken..." Gadis itu memegang tangan kekasihnya.


"Hanya diantar pulang, setelah kamu cukup umur akan aku pastikan orang tua dan saudara-saudaraku datang lebih cepat dari keluarga besarnya. Aku mempercayaimu, jangan nakal," ucapnya mengecup kening Glory, di hadapan Gin dengan sengaja. Bagaikan benar-benar ingin menantang permusuhan.


"Ken..." ucapnya meraih helm, menatap Ferrell tidak rela.


"Sayang, simpan hatimu hanya untukku," kata dari mulut Ferrell mengenakan helm pada Glory. Dua orang yang bagaikan tidak rela berpisah.


"Kamu juga..." ucap Glory, menatap wajah Ken tidak rela.


"Astaga..." Gin mengenyitkan keningnya, menatap pasangan tidak serasi di hadapannya. Berlaku bagaikan Romeo dan Juliet.


Namun, bukankah dirinya akan berada di posisi Ken saat menikah dengan Glory nanti? Ini hanya seperti cinta monyet seorang remaja karena terlalu lama bersama. Setidaknya itulah dalam anggapannya.


Hingga Glory menaiki motor milik Gin, melambaikan tangannya terus menatap ke belakang. Wajah pemuda yang dicintainya, melambaikan tangan tidak rela.


"Gadis genit, nanti malam kita akan bertemu lagi..." gumamnya dengan suara kecil mengigit bibirnya sendiri, sudah tidak tahan lagi rasanya ingin bersentuhan dengan bibir itu. Jatuh cinta? Itulah mungkin yang dirasakan Ferrell untuk pertama kalinya.


Hingga keempat temannya berjalan beriringan."Mau aku traktir makan siang?" tanyanya.


"Tidak!! Aku ingin memberimu saran, jika ingin melihat Glory bahagia, sebaiknya jauhi dia. Biarkan dia bersama pria yang lebih sempurna," ucap Caca menepuk pundak Ken berjalan meninggalkannya.


Sedangkan Lily,"Aku juga tidak ikut, saranku sama dengan Caca. Tolong biarkan Glory bahagia..."


"Kami ikut, iya kan Ira?" Budi menggenggam jemari tangan sahabatnya. Dengan cepat Ira mengangguk. Dua orang yang hanya ditraktir bakso atau mie ayam plus es teh manis pun sejatinya sudah senang.


***


Namun tanpa diduga, Ferrell tidak berjalan menuju warung bakso depan sekolah. Melainkan persimpangan jalan yang sepi, menuju lapangan kosong dekat sekolah, dua orang yang mulai curiga."Kita mau kemana?" tanya Budi mulai menyadari ada yang tidak beres.


"Ikut saja, kita akan makan enak, sebagai merayakan hubunganku dengan Glory..." Ferrell kembali berjalan hingga salah satu bagian sudut lapangan terdapat sebuah mobil tepatnya di bawah sebuah pohon yang cukup rindang.


Seorang pria turun dari mobil, mengenakan stelan jas lengkap dengan sarung tangan putih."Tuan muda," ucapnya tertunduk memberi hormat, membukakan pintu untuk Ferrell.


"Ayo masuk!" Ferrell menatap Budi dan Ira yang hanya terdiam, tidak mengerti.


"Kita mau makan dimana?" tanya Ira masuk dengan ragu.


"Rumahku..." Ferrell tersenyum, menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang bagian depan.


Bersambung