
Jemarinya gemetar, kembali memakai pakaian semula. Mengantungi senjatanya, semua akan diurus anak buah Doom termasuk mengancam resepsionis dan menghapus rekaman kamera pengintai sesuai kesepakatan mereka.
"Steven sudah mati," gumamnya menatap tubuh yang berlumuran darah. Hingga pada akhirnya berjalan pergi, dengan penuh kepanikan.
Dalam lift pun jantungnya tidak berhenti berdegup cepat, tapi bukan karena jatuh cinta melainkan karena ketakutan. Untuk pertama kalinya dirinya membunuh seseorang. Jemarinya gemetar, bahkan setiap ada orang yang satu lift dengannya akan dihindari olehnya. Terlalu paranoid jika dirinya ketahuan.
Hingga, seorang pria berjalan menghampirinya."Tuan sudah menunggumu di mobil," ucapnya.
Perlahan dirinya melangkah memasuki sebuah mobil minibus. Pria itu kembali terlihat, duduk di sampingnya,"Kamu sudah membunuh Steven?"
"Sudah, aku menembaknya tiga kali di bagian dada kiri," jawab Fransisca.
"Bagus, kamu memang cocok menjadi pasanganku," ucapnya menarik tangan Fransisca, kemudian meraih tengkuknya. Menikmati bibirnya.
***
Kamar yang terlihat sepi dengan darah mengalir membasahi lantai. Mata pemuda itu tertutup sempurna, dengan tiga luka tembakan di dada kirinya.
Hingga matanya kembali terbuka, melepaskan jasnya. Sisa kantung darah masih ada tersembunyi di balik kemeja. Steven melepaskan jaket anti pelurunya, tiga butir timah panas berada di sana.
Kemejanya yang terkena rembesan darah dilemparkannya asal. Menampakan tubuh proporsional dengan otot-otot yang tercetak di sana.
"Sudah aman kalian boleh keluar..." perintahnya. Bersamaan dengan Febria yang merayap di bawah tempat tidur bersama seorang penembak jitu.
Ada satu orang lagi di lemari pakaian. Bersiap-siap menembak Fransisca jika mengarahkan senjatanya pada kepala Steven.
Semua sudah diketahui mereka, dipersiapkan sedemikian rupa. Melepaskan pion parasit tidak berguna. Tapi kenapa bisa?
Tidak mempercayainya? Tentu saja, obat tidur dibubuhkan dalam air mineral yang diberikan Steven. Segera setelah meminumnya Fransisca tertidur, barulah Febria menggeledah tubuhnya. Senjata api berukuran kecil ada disana, beserta obat tidur.
Kecurigaan yang benar, Fransisca kini berpihak pada Doom. Memilih membuat Doom merasa menang itulah yang dilakukannya. Memalsukan kematiannya sendiri.
Steven tertawa kecil,"Bodoh, padahal setelah ini selesai aku berniat memberikannya rumah dan sebuah toko sebagai rasa terimakasihku atas bantuannya. Tapi pengkhianat tidak pantas mendapatkan hadiah bukan...?" gumamnya tersenyum.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Febria mengenyitkan keningnya berjalan menghampirinya.
"Berikan kekuasaan penuh pada Eden, omong-ngomong dimana Eden saat ini?" tanyanya pada salah satu pengawal.
***
Gazebo rumahnya, tempatnya berada saat ini. Menemui istrinya yang terlihat fokus menatap data-data yang dikirimkan klien W&G Company. Perlahan pelayan menggerakkan kursi roda miliknya, mendekati Elina.
"Kamu mau?" tanyanya membawa dua mangkuk mie instan, yang terlalu mengembang, dengan telur yang sedikit hangus.
Elina menggeleng masih fokus pada pekerjaannya.
"Untuk pertama kalinya aku memasak dan kamu bahkan tidak mau mencicipinya?" gumamnya, tertunduk memelas.
"Iya!! Iya!! Aku makan!!" Elina menyendoknya mencicipi rasanya. Manis, asam, pahit, rasa yang tidak karuan baginya. Menelannya menahan rasa mualnya.
"Ini bukan mie kan?" ucapnya menemukan tekstur lurus.
"Spaghetti, awalnya aku ingin memodifikasi resep memadukan spaghetti bolognese dengan menambahkan krim. Tapi setelah aku cicipi rasanya asin. Aku mencoba bertanya di forum bagaimana jika masakannya terlalu asin. Ada yang menyarankan untuk memberi tambahan air, karena diberi air lebih mirip ramen. Jadi aku menambahkan telur di atasnya..." jelasnya panjang lebar.
Elina mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar... Pria sempurna seperti papa, pandai memasak, seseorang tanpa celah. Imajinasiku tentang suami idaman hancur... batinnya.
"Apa tidak enak? Biar aku coba..." ucapnya meraih sumpit.
"Tidak!! Ini masakan pertamamu aku akan menghabiskannya sendiri," alasannya tidak ingin Eden mengetahui betapa tidak karuannya rasa masakan yang dibuatnya.
Pelayan yang mengantar Eden undur diri, bersamaan dengan Eden yang menggerakkan kursi rodanya mendekati tanaman bunga mawar. Memetiknya dua buah menyelipkannya di telinga Elina.
"Orang gila!! Orang gila!! Orang gila!!" teriak Elina bergoyang berlagak seperti orang gila, dengan kedua bunga yang cukup besar menyelip di kedua telinganya.
Eden tertawa, kemudian terdiam sejenak, menghentikan gurauan Elina."Kamu cantik... Hatimu yang cantik..." ucapnya tersenyum.
Hingga Eden mengambil salah satu mawar merah yang menyelip di telinganya. "Satu saja sudah cukup. Karena tanpa bunga mawar kamu memang sudah sempurna..."
Kata-kata yang membuat wajah itu semakin menggemaskan dan rupawan saja. Bagaimana ini?
"Aku mencintaimu..." ucapnya.
Satu serangan terakhir dari mulut Eden, darahnya berdesir hebat. Terpaku, mulai duduk di kursi kayu.
"Eden aku...aku..." gumamnya, tiba-tiba terlalu menggemaskan untuk tidak menciumnya.
Tangan Elina ditariknya, hingga jatuh ke dalam pangkuannya,"Aku apa?" ucapnya dengan nada suara berat.
"Aku ingin turun," jawaban dari mulut Elina, gelagapan.
Dengan cepat Eden menahan pinggangnya. menjangkau tengkuknya. Bibir mereka bertautan saling membalas, perasaan aneh dirasakan Elina. Tangannya bergerak refleks mengalungkan tangannya di bahu Eden.
Dirinya bagaikan kehausan, sebuah ciuman yang bagaikan dapat menghapus dahaganya. Tautan itu terhenti sejenak, mengatur napas hanya untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Turunlah, jika..." kata-kata Eden terpotong.
"Masa bodoh..." ucap Elina kembali menyatukan bibir mereka, memejamkan mata. Menikmati segalanya.
Masa bodoh? Elina memang tidak pernah jatuh cinta, namun dirinya juga wanita normal. Awam dengan sesuatu yang disebut cinta. Namun, dengan pria ini berbeda, semakin mengenalnya rasa kejam dan takut berkurang menjadi rasa nyaman.
Sungguh aneh? Apa karena sudah mengikat janji setia, hingga maut memisahkan? Entahlah, namun pemuda ini semakin indah saja dimatanya.
Bahkan kali ini lebih gila lagi, dirinya yang menciumnya terlebih dahulu. Ciuman itu kembali terlepas, mata yang saling menatap dalam deru napas tidak teratur.
Menginginkan lagi? Bagaikan sudah menebak isi fikiran masing-masing. Lidah yang saling menjangkau, menyapa menarik mulut untuk kembali menyatu. Tidakkah mereka lelah untuk berciuman? Entahlah...
Apa itu mencintai? Kami baru bertemu beberapa hari. Tapi aku sudah begini, apa aku mencintaimu? Aku tidak tau, tapi yang jelas perasaan berdebar ini nyata...
Eden...
***
Tidak ada yang menyadari seseorang mengamati dari jendela kamarnya."Apa dua orang itu tidak lelah berciuman?" gumamnya.
Victor kembali menyalakan laptopnya, mengamati putranya yang masih berada di gazebo.
Beberapa pesan e-mail ada disana dari Kenzo.
Victor menghela napas kasar cepat atau lambat dirinya harus menjelaskan tentang pernikahan Steven.
'Aku baru saja mendapatkan waktu untuk membalas,' isi e-mail yang dikirimkannya.
'Steven sudah memiliki seorang kekasih, namanya Fransisca, dia mendatangi tempat tinggal Doom kemarin. Membuka pakaian bagaikan wanita penghibur,' pesan balasan yang dikirimkan Kenzo.
Eden mengenyitkan keningnya, mengacak-acak rambutnya sendiri. Steven, sebagai satu-satunya harapannya sebagai penerus memilih seorang pengkhianat yang membuka pakaiannya di hadapan Doom bagaikan wanita penghibur sebagai istri?
"Steven benar-benar sudah gila!!"
Benar-benar tidak menerima jika dirinya memiliki menantu seorang benalu tidak berguna. Dan apa itu? Membuka pakaiannya di hadapan Doom.
E-mail balasan dikirimkannya pada Kenzo,'Tenang dulu tidak mungkin Steven salah memilih wanita. Jika pun dia salah memilih, aku sendiri yang akan memisahkan mereka,'
'Bukan itu, aku mendengar kabar jika Steven sudah berhasil dibunuh,' tidak lama balasan didapatkannya.
'Tidak mungkin, Eden tidak mengatakan apapun,' e-mai terakhir yang dikirimkannya, sebelum menutup laptopnya. Victor berfikir sejenak.
"Pelayan!! Cepat panggil Eden kemari! Katakan aku sudah sadar..." perintahnya.
Bersambung