
"Kenapa membohongiku!?" tanyanya memulai pembicaraan dalam mobil yang melaju meninggalkan rumah milik Steven.
Eden hanya tersenyum,"Kamu sudah berjanji menuruti semua kata-kataku, jadi jangan banyak membantah,"
Elina menghela napas kasar,"Katakan terus terang, kenapa menginginkan untuk menikah! Pernikahan bukan sebuah kelucon!!"
"Aku tau pernikahan bukan sebuah lelucon, karena itu cintai aku! Aku tidak mengetahui apa itu mencintai, tapi aku akan berusaha untuk mencintaimu," ucap Eden tanpa ekspresi, menatap ke arah jendela mobil.
Sedangkan Erlina juga hanya terdiam, memiliki suami? Apa akan ada orang yang sebaik ayahnya?
Hingga mobil sampai di kediaman Hudson, tidak ada pembicaraan diantara mereka. Sepasang pengantin baru yang terdiam.
Memasuki kamar Eden, masih terasa suasana canggung diantara mereka. Perlahan Elina hendak berjalan berlalu, memasuki kamar mandi. Namun, tangan Eden menahannya.
"Lepaskan kalungmu sebelum mandi, setelah itu pakai kembali setelah mandi," ucapnya.
"Kenapa? Lagipula kalung ini sudah diberikan padaku..." Elina tersenyum, menjulurkan lidahnya, berjalan memasuki kamar mandi.
Eden terdiam sejenak, menghela napas kasar,"Kalung warisan dari keluarga ibuku. Rangkaian berlian diatasnya bernilai puluhan juta dolar. Sangat cocok dengan istriku,"
Tok...tok...tok...
Pintu kamar mandi diketuknya,"Kamu akan menuruti semua perintahku kan!? Aku ingin mandi bersama!!" teriaknya dari luar.
"Tidak mau!!" ucap Elina dari dalam, dengan pintu yang sudah terkunci.
Eden menggerakkan kursi rodanya, hingga mendekati laci, mengambil kunci cadangan. Hingga pada akhirnya pintu kamar mandi berhasil dibukanya. Nyanyian merdu seorang wanita terdengar dibawah guyuran shower. Gaun pengantin berada di tempat pakaian kotor.
Sedangkan kalung dibiarkan berada dekat wastafel. Eden mengisi air dalam bathtub, membuka pakaiannya, dirinya tidak lumpuh total hanya saja, jika berjalan harus menggunakan dua tongkat, terlalu memalukan baginya. Aneh bukan? Tapi itulah kenyataannya, seseorang yang berjalan dalam kondisi tidak normal. Berbanding dengan seseorang yang duduk di kursi roda. Terlalu malas? Anggaplah begitu.
Tubuhnya telah masuk sempurna ke dalam bathtub. Menghilangkan rasa lelahnya, nyanyian istrinya terdengar begitu merdu. Hingga pada akhirnya Eden memanggilnya,"Elina!!" teriakan dari pemuda menyebalkan itu terdengar begitu dekat.
Elina segera mengambil handuknya, berjalan keluar dari ruangan bersekat, tempat dimana shower berukuran besar ada disana.
Matanya menelisik, benar saja Eden tidak memakai apapun berada dalam bathtub."Siapa yang memindahkanmu kesini!! Keluar!!" teriaknya menutupi bagian tubuhnya yang terlihat. Handuk hanya menutupi dada hingga paha bagian atasnya saja.
"Tidak mau! Ikut masuk ke dalam bathtub! Sesuai perjanjian kita, kamu harus menuruti semua perintahku! Atau kamu mau melanggar janji? Begini saja, dalam dua bulan jika kamu menuruti semua perintahku, aku akan mengikuti apapun keinginanmu, termasuk bercerai," ucap Eden tersenyum.
"Benar-benar boleh bercerai?" tanyanya meyakinkan.
Eden menggangguk... Kalau kamu belum hamil, atau kamu rela bercerai dengan pria yang pertama kali menidurimu... batinnya.
Bercerai adalah tujuannya, tanpa fikir panjang Elina masuk dengan sehelai handuk yang masih menutupi tubuhnya.
Pemuda itu mengenyitkan keningnya kesal, menarik handuk yang dipakai Elina melemparnya asal. Wanita yang hanya dapat menahan malunya, dalam bathtub berbentuk cukup besar itu. Tubuh mereka masih tertutupi buih-buih sabun cair.
"Aku ingin berciuman denganmu," ucapnya dengan nada rendah.
"Ta...tapi..." Elina terlihat ragu.
"Ingin bercerai atau tidak?" tanya Eden lagi.
Elina mulai mendekat memejamkan matanya, mereka sudah menikah, lagipula asalkan tidak berhubungan tidak akan apa-apa. Namun diluar dugaan, Eden menjangkau tubuhnya yang merayap pelan dia atas tubuh pemuda itu.
Tubuh yang sama-sama menempel dalam air. Elina seperti terjerat oleh pemuda yang terlalu pandai mempermainkannya ini. Mereka bertatapan sesaat saling memandang, dengan rambut dan sekujur tubuh yang basah. Hingga pada akhirnya, Eden menunduk menjangkau bibir Elina.
Bibir yang sungguh membuatnya ketagihan, suasana yang dingin, darah yang berdesir. Elina ingin mendorongnya. Tapi sungguh ini sulit untuk ditolak, tubuhnya menempel pada dada bidang dengan otot-otot keras. Tidak begitu besar tapi proposional.
Instingnya ingin menyentuh otot-otot itu ditengah ciuman mereka. Tangan yang bergerak sesuai insting tubuhnya bagaikan bukan miliknya lagi.
Beberapa kali posisi kepala mereka berubah dalam ciuman yang begitu dalam. Ingin menikmati berbagai sensasi.
Wanita ini keterlaluan, bibirnya mengatakan tidak ingin. Tapi tubuhnya mengatakan ingin... batinnya, kesulitan mengendalikan diri.
"Sebaiknya kita hentikan!!" ucap Elina dengan deru napas tidak teratur, bangkit kembali merasakan benda yang tumbuh ada di bawahnya. Ini benar-benar memalukan, namun demi sebuah perceraian. Andai saja, Kenzo tidak menghilang mungkin Elina akan meminta bantuan ayahnya untuk bercerai.
Wanita itu mengambil jubah mandi yang berada di dekat bathtub. Mengenakannya, berjalan kembali menuju ruangan dengan shower besar disana. Membilas dirinya, kemudian keluar, hendak meninggalkan Eden seorang diri.
"Jangan salahkan aku, tanganmu sendiri yang merayap meraba dadaku..." komat-kamit mulut itu berbicara bagaikan tanpa dosa pada Elina.
"Aku tau!! Lupakan yang tadi!!" ucap Elina keluar membanting pintu dengan kencang.
***
Hingga hari telah larut Eden berada di tempat tidurnya menatap langit-langit kamarnya. Ada dirinya, Elina dan sepasang guling sebagai pembatas disana.
Beginikah rasanya menjadi suami yang tidak dicintai? Tapi hanya Elina yang dimilikinya.
"Elina..." panggilnya.
"Kenapa?" tanya Elina.
"Aku ingin kita menjadi pasangan suami-istri sungguhan. Kamu tidak ingin memiliki keluarga sendiri, mempunyai seorang anak yang manis?" tanyanya menoleh pada Elina.
"Aku tidak menyukaimu jadi..." kata-kata Elina disela. Bantal guling dilempar asal oleh Eden, manarik Elina dalam dekapannya.
Rambut panjangnya dibelai perlahan, mulai menyanyikan sebuah lagu. "Tidurlah, aku tidak akan melakukan apapun padamu, tapi jangan bergerak," ucapnya disela nyanyian.
Rambut wanita itu disentuhnya perlahan, suara yang benar-benar indah nyanyian menyejukkan hati. Haruskah, mengungkapkan kerinduan hanya dengan menatap pada bulan? Itulah salah satu lirik nyanyiannya.
Aku tidak akan tidur... Aku tidak boleh tidur... batinnya, perlahan matanya mulai terpejam. Kemudian terbuka kembali... Tidak, boleh!! Aku tidak boleh tidur...
Hingga pada akhirnya mata itu tertutup sempurna. Menyerah kalah...
Eden yang merasakan tidak adanya pergerakannya. mengecup kening Elina."Selamat tidur, istriku...bim salabim... ketika kamu bangun, besok kamu akan mencintaiku..." gumamnya. Jari telunjuknya bergerak menyentuh hidung mancung itu, bibir indah yang membuatnya tidak waras.
Mengecup bibir Elina sekilas, kemudian tertidur nyenyak bersamanya.
***
Dengan membawa sebuah map, Zen menatap gedung pencakar langit di hadapannya. Perusahaan yang baru dibuka, memerlukan lowongan pekerjaan yang cukup banyak. Sulit mengakui, tapi hanya ini tempat yang paling potensial untuk diterima bekerja.
Hingga sebuah mobil berhenti di dekatnya. Steven turun dengan sekretarisnya. Berjalan menghampirinya,"Kamu asistennya Fransisca bukan?" tanyanya.
"Iya, aku ingin mencari pekerjaan baru," ucapnya tertunduk ragu.
"Febria ambil CV-nya! Berikan lowongan pekerjaan sesuai pendidikan dan pengalaman kerjanya..." Steven tersenyum, memberi perintah pada sekretarisnya.
Febria segera meraih, kemudian membacanya. Pendidikan yang tidak cukup tinggi, tapi pernah menjadi CEO perusahaan importir?
Wanita itu tersenyum, mendekati Steven,"Tuan, kita memerlukan kepala bagian pemasaran,"
"Antar dia ke bagian HRD!," ucapnya pada Febria.
"Baik tuan..." Febria sedikit menunduk memberi hormat.
"Zen jika kinerjamu bagus, kamu bisa naik jabatan dengan cepat, berusahalah..." Steven, tersenyum, menepuk pundaknya.
Zen mengepalkan tangannya, setelah entah beberapa tempat yang didatanginya, dirinya belum juga diterima bahkan sebagai staf. Hanya karena pendidikannya yang bergelar bachelor (S1) bukan di universitas ternama. Perusahaan lain akan lebih memilih karyawan yang lebih muda dari fakultas ternama."Terimakasih!!" ucapnya membungkuk, akhirnya dirinya memiliki pegangan untuk menghidupi putrinya.
Steven masih setia tersenyum, koneksi lebih penting bagi perusahaan baru. Zen memiliki pengalaman di bidang distribusi dan pemasaran. Mungkin memiliki beberapa kenalan. Siapa yang peduli pada pendidikan. Pengalaman dan relasi lebih penting.
Bersambung