My Kenzo

My Kenzo
Gantungan Phonecell



Foto natal yang indah dikecupnya, tersenyum mengenakan pakaian terbaiknya. Entah telah berapa kali Tatewaki berganti pakaian.


Lapisan salju di luar telah mencair sempurna, sinar matahari hangat menembus jendela, seekor kupu-kupu putih kecil masuk. Mengepakkan sayapnya, hinggap dia atas foto pasangan kekasih yang terlihat bahagia. Foto yang terletak di sebelah vas kaca dengan bunga lavender segar mengisinya.


Tatewaki tersenyum, meraih kunci mobilnya meninggalkan kamarnya.


Bunga musim semi bermekaran, banyak pilihan di hadapannya, dalam sebuah toko bunga kecil. Berfikir tentang wajah Seina yang akan tersenyum menerima bunga pemberiannya.


Hingga satu buket bunga cantik terpilih olehnya. Kembali melajukan mobilnya, mungkin Seina marah padanya, atau tidak mengingatnya. Namun, tidak akan pernah ada kata perpisahan lagi.


Satu buket bunga lavender diliriknya. Wewangian yang sering melekat di tubuh kekasihnya, berharap dapat membuat Seina mengingat kebersamaan mereka.


Seina? Rasa kehilangan dan bersalahnya, membuat Tatewaki tidak dapat menerima kenyataan jika sosok yang ditemuinya saat festival bernama Amel.


Jemari tangannya mengepal memegang stir, perasaan berbeda saat bertemu dengan Seina. Namun, hanya Amel harapannya bahwa ada keajaiban Seina masih hidup. Dirinya dapat menarik kata-katanya untuk memutuskan hubungan mereka.


Air matanya mengalir, memburamkan pengelihatannya sejenak. Pertengkaran 10 tahun lalu masih diingat olehnya, pertengkaran yang membuat dirinya meninggalkan Seina di perkemahan seorang diri....


'Apa maksudmu memiliki kekasih lain? Apa aku pernah mengecewakanmu...'


'Bu... bukan begitu, aku ...' kata-kata Seina terhenti gadis itu menangis di hadapan kekasihnya.


'Malam natal, pertama kali kita melakukannya bersama. Setelah itu kamu mulai memiliki kekasih lain, apa dia lebih memuaskanmu...' cibir Tatewaki penuh hina, kecewa dengan Seina yang mengatakan dirinya mencintai pria lain.


Seina tertunduk mengepalkan tangannya, hanya menangis, tidak menjelaskan apapun. Tatewaki adalah pria pertama yang menyentuhnya, itu adalah sebuah kenyataan. Setelah itu, mencintai, bahkan tidur dengan pria lain? Tidak, pemuda di hadapannya adalah satu-satunya orang yang dicintainya.


'Kita akhiri saja, aku membecimu. Jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi padaku...' ucapnya tersulut emosi.


Seina membulatkan matanya, mencegah kepergian Tatewaki. Namun, pemuda itu menepis tangannya, tanpa berbalik sedikitpun, muak melihat wajah cantik kekasih yang menemaninya selama tiga tahun. Air matanya mengalir, Seina tertunduk seorang diri, tidak ingin menjelaskan walaupun merasa sakit karena membiarkan pria yang dicintainya pergi.


Tidak menoleh ke belakang? Tatewaki melewatkan kesempatan melihat wajah kekasihnya untuk terakhir kali. Hanya tumbuh yang kaku di dasar jurang yang akhirnya dilihatnya, wajah yang dipenuhi noda darah.


"Seina..." pemuda itu memukul stir mobilnya.


Menyesal? Tentu saja, andaikan waktu dapat diputar kembali, dirinya tidak akan melontarkan kata-kata perpisahan. Jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi? Dengan kematian, Seina mengabulkan keinginan Tatewaki untuk tidak melihat wajahnya lagi.


Sudah 10 tahun, wajah itu masih diingatnya. Namun tidak pernah dapat dilihatnya lagi, penyesalan yang terlambat bukan? Terkadang satu kalimat menjadi doa yang tercatat oleh malaikat. 'Jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi!' Hanya kematian yang dapat mengabulkan keinginan, tidak ingin melihat wajah wanita bodoh yang mencintainya dengan tulus.


***


Namun, kali ini berbeda, wajah Seina di lihatnya. Wajah yang benar-benar mirip, hanya berbeda usia dan gaya rambut. Dirinya yakin Seina datang kembali untuknya.


Lonceng kecil dibunyikannya, membawa buket bunga lavender. Air mata telah dihapusnya.


Perlahan pintu itu terbuka,"Tamu tidak diundang..." Kenzo langsung kembali menggeser pintu hingga tertutup sempurna.


Tatewaki mengenyitkan keningnya, kembali mengguncang lonceng dengan keras.


Bukan Amel, lagi-lagi pemuda menyebalkan itu yang keluar."Ini ginseng kwalitas tinggi, jangan temui pacarku lagi..." ucapnya memberikan tiga buah wortel. Kemudian kembali menutup pintu penuh senyuman.


"Gi... ginseng? Orang tidak waras!!" bentaknya pada pintu di hadapannya. Melempar tiga buah wortel di genggamannya.


Tatewaki berfikir sejenak, meninggalkan rumah dengan cepat. Pergi ke gudang anggur tempat Amel bekerja.


Hingga sore menjelang dirinya menunggu, gadis itu akhirnya keluar. "Tatewaki?"


"Amel, mau berkeliling denganku?" tanyanya, tersenyum menyodorkan buket bunga lavender.


***


Dua pasang kaki berjalan di jalanan setapak yang ramai. Amel membeli sebuah kue ikan, lalu memakannya setengah, setengahnya lagi disimpan olehnya.


"Amel bagaimana jika saat akhir pekan kita ke taman hiburan?" tanyanya ingin mengembalikan perasaan berdebar dalam dirinya saat menggenggam jemari tangan Seina 10 tahun yang lalu.


"Aku tidak suka ke taman hiburan, lebih menyenangkan tinggal di rumah saat hari libur," jawabnya, tersenyum.


Tidak suka? Seina akan melompat ke pelukannya setiap mengatakan akan ke taman hiburan. Tapi wanita di sampingnya ini berbeda, perasaan yang berbeda, bukan gadis ceroboh lagi.


Amel menonggakkan kepalanya merasakan sinar matahari sore. Kemudian kembali berjalan, tidak ada debaran di hati pemuda itu hanya sama seperti gadis lainnya.


Mata dapat menipunya, namun hatinya berkata bukan, bukanlah Seina.


"Amel, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Boleh kita duduk disana?" tanyanya. Dijawab dengan anggukan oleh Amel.


Dedaunan hijau berada diatas mereka, matahari sudah mulai tenggelam. Duduk berdua di sebuah bangku taman.


"Amel, dimana kamu dilahirkan? Apa sebelumnya pernah mengalami insiden...?" tanyanya ragu.


"Kenapa? Apa seperti Aiko, kamu mengira aku seseorang bernama Seina?" Amel tertawa kecil, menganggap itu lelucon.


"Seina? Jika kamu Seina jangan bercanda!! Ini tidak lucu!! Aku yang mengatakannya, berpisah!! Aku tau aku salah, tapi tidak dengan pura-pura mati!! Apa 10 tahun tidak cukup untuk menghukumku..." teriaknya memeluk Amel, menangis terisak. Namun tidak mendapatkan balasan.


"Kenapa aku selalu menjadi tempat curhat..." gumamnya, melepaskan pelukan Tatewaki."Lihat aku!!"


"Lihat mataku..." ucapnya menatap Tatewaki.


"Apa Seina, dia adalah kekasihmu? Jika iya, bagaimana perasaanmu melihat mataku? Hambar bukan?" tanyanya meyakinkan pemuda di hadapannya. "Rupa dari mata dapat membohongimu, tapi hatimu tidak,"


Hambar? Benar-benar hambar saat menatap wajah di hadapannya. Berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Seina, benar-benar sudah mati, meninggalkannya. Hanya seorang Amel, seseorang yang bagaikan sahabat baik menatapnya.


Tatewaki memejamkan matanya, air matanya mengalir. Tidak sanggup melihat mata Amel lagi, menerima kenyataan setelah mendapatkan harapan, merupakan sesuatu yang sulit."Dia sudah tidak ada ..."


"Aku yang menyebabkan kematiannya, dia sekarang kesepian di tempat yang gelap..." kata-kata penuh air mata dari Tatewaki, disela.


Amel menghela napas kasar,"Kamu tau kenapa aku memilih hadiah gantungan handphone sepasang kupu-kupu putih untuk Kenzo?"


Tatewaki menatap ke arah Amel yang duduk disampingnya, tidak mengerti.


"Kenzo terlihat kejam dari luar. Tapi kesepian dari dalam, kedua orang tuanya meninggal saat pria keji itu lahir,"


"Aku tidak tau begitu banyak. Tapi ada suatu cerita mitologi Jepang yang aku sukai, tentang Hikaru... seorang kakek yang tinggal seorang diri di belakang makam kekasihnya, hingga ajal menjemputnya,"


"Kenzo pernah menceritakan sebagai dongeng, saat kami tidur bersama. Karena itulah aku memberikan gantungan kunci sepasang kupu-kupu putih padanya, meyakinkannya jika kedua orang tuanya selalu menemaninya. Seperti kekasih Hikaru yang menemani hingga ujung usianya yang renta, dengan menjadi kupu-kupu putih,"


"Bertemu dengannya jika sudah tiba saatnya nanti..." lanjutnya tersenyum pada Tatewaki.


"Kupu-kupu putih?" Tatewaki berusaha tersenyum, mengambil kembali buket bunga dari Amel."Karena ini bukan milikmu, aku akan mengembalikan pada Seina,"


"Yah, padahal aku ingin menghancurkannya, menjadi pewangi ruangan..." Amel tertawa kecil, diikuti tawa Tatewaki.


Hanya teman? Mungkin itulah yang ada diantara mereka. Tidak ada perasaan lain, kupu-kupu putih kecil yang indah, hinggap di atas pohon tempat mereka berbincang. Sedikit bersinar di tengah kegelapan. Tanpa ada yang menyadarinya.


Kisah tentang kupu-kupu putih kecil? Sesuatu yang sederhana tentang seorang kakek bernama Hikaru yang tinggal seorang diri di belakang makam kekasihnya. Memutuskan tidak akan pernah menikah.


Di musim dingin, hal yang tidak lazim. Tanpa keberadaan bunga, di suhu yang tidak seharusnya, seekor kupu-kupu putih menemuinya menjelang ajalnya. Terbang kembali menghilang setelah Hikaru menghembuskan napas terakhirnya. Kekasih yang selalu menemaninya, walau ajal telah menjemput gadis itu, sebagai kupu-kupu putih yang tidak pernah pergi.


***


Sementara di tempat lain, Kenzo memaksakan dirinya untuk tersenyum,"Amel sudah pulang? Bersama pria yang membawa bunga lavender?" tanyanya dijawab dengan anggukan oleh rekan kerja Amel.


Kenzo merogoh sakunya, menghubungi seseorang,"Frans, sewakan aku gangster atau semacamnya!!" bentaknya emosi, ingin segera menangkap mereka.


Fikirannya? Bingung bagaimana lagi caranya menghukum gadis yang terus membuatnya resah.


Bersambung