
"Ka... katakan!! Kamu berbohong bukan!? Kamu adalah Dava..." teriaknya tiba-tiba bangkit, memegang jubah mandi Kenzo.
Dengan cepat Kenzo menepisnya, mendorongnya hingga tersungkur di atas pecahan beling. "Apa Dava akan memeluk wanita lain di hadapanmu? Apa Dava akan tega melihatmu terluka?"
"Aku memintamu untuk melihat mataku lebih dekat tadi. 7 tahun kalian saling mengenal, bahkan tidur bersama, tentunya kamu akan merasakan perbedaannya. Aku Kenzo, pemilik W&G Company, suami dari Amel Anggraini. Bukan Dava, yang begitu bodoh... untuk memilih seorang pembunuh..." ucapnya, masih merangkul pinggang Amel, meninggalkan Kiki yang tersungkur di lantai. Lantai yang dipenuhi pecahan beling.
Darah mengalir dari beberapa luka di tubuhnya yang hanya berbalut pakaian tipis,"Dava..." air matanya mengalir.
Mulai menyandarkan tubuhnya di dinding tidak mempedulikan tubuhnya yang terluka."Agghhh..." teriaknya mer*mas rambutnya menggunakan jemari tangannya.
'Aku punya trik sulap baru...'
'Kamu menyukainya? Aku akan belajar membuatnya,'
'Apa di dekat tungku hangat? Rasa cintaku pada tembikar, sama dengan rasa cintaku padamu,'
'Kiki mari kita bertunangan...'
'Aku mencintaimu...'
Kalimat-kalimat itu terbayang dalam benaknya, kalimat-kalimat manis ketika bersamanya. Namun fikirannya yang picik, menutup segalanya, menepis semua kasih sayang sang pria bodoh. Tidak Dava tidak bodoh, dirinyalah yang bodoh. Andai saja, saat itu dirinya jujur tentang masa lalunya, Dava mungkin akan memaafkannya.
Tidak perlu menyaksikan sendiri pemuda itu menangis putus asa, kala syaraf tangannya telah rusak akibat pengaruh narkotika. Membanting tembikar yang baru dibuatnya, tidak sesuai dengan keinginannya. Benar, dirinyalah yang membunuh Dava perlahan.
Membuatnya menderita, video panas yang tersebar dilihat banyak orang. Sempat membuat Dava terdiam mengurung dirinya didalam kamar. Pemuda yang tidak senang tampil di hadapan umum, tidak suka video atau fotonya diambil. Harus mengetahui kenyataan, seluruh tubuhnya terlihat, berbuat tidak senonoh.
Mencintai Kiki? Setelah semua itu, Dava masih dapat memeluk Kiki. Hidup dengannya, tapi sekarang tidak lagi. Nyawanya telah menghilang 7 tahun lalu, tidak ada lagi yang tersisa untuk memaafkannya.
"Dava..." panggilnya menjerit.
Senyuman hangat pemuda itu terbayang kembali, saat pertama kali bertemu dengannya. Masih teringat jelas, bagaimana dirinya dikejar dengan pisau dapur oleh istri mantan majikannya.
Kala dirinya naik ke atas mobil sang pemuda, berpura-pura menciumnya. Satu-satunya orang yang peduli padanya. Jemari tangannya gemetar mengirim pesan pada Kenzo. 'Kamu berbohong kan? Tidak mungkin Dava sudah mati!! Kamu adalah Dava!! Kamu hanya tidak mengingatnya!!' isi pesan yang dikirimkannya, hatinya bergemuruh.
Awalnya bahagia, karena Dava masih hidup walaupun melupakannya. Berprilaku seperti orang lain tidaklah mengapa, mencoba mengikutinya, pindah rumah dimana pun dia tinggal. Berharap Dava akan mengingatnya, ingin merasakan rasa kasih seperti dahulu, tapi kini? Dava benar-benar sudah mati ditangannya.
Phoncellnya kembali berbunyi, dengan alamat sebuah kompleks pemakaman yang berada di luar kota.
***
Angin menerpa rambutnya, dalam mobil travel yang ditumpanginya. Wanita itu terdiam dengan raut wajah tanpa ekspresi. Menatap sepinya jalan pedesaan.
Hingga, wanita itu turun di dekat sebuah kompleks pemakaman di luar kota. Pohon Kamboja terlihat berjejer dengan guguran bunga putih yang terlihat indah. Menelusuri jalan berumput. Mencari batu nisan yang dimaksud. Berharap yang dikatakan Kenzo adalah kebohongan. Tidak ada batu nisan dengan nama Dava disana.
Hingga langkahnya terhenti, tepat di dekat pohon besar yang teduh. Sebuah cangkir tembikar tua terlihat di atas makam dengan batu nisan sedikit kotor.
Tembikar yang dikenalinya, sesuatu yang pernah dikatakan sebagai maha karya oleh Dava. Perlahan Kiki mulai berjongkok, jemarinya membersihkan nama diatas batu nisan. Berharap bukan nama Dava-lah yang tertulis.
Namun, seperti guratan nasib, umurnya memang telah berakhir 7 tahun lalu, meninggalkan sepucuk surat yang bertuliskan 'Aku membencimu,' kata-kata yang dahulu dianggap dapat diperbaikinya. Karena dalam kenyataannya, setelah terjatuh dari kapal Ferry Dava masih hidup.
Tapi tidak, pemuda itu telah pergi dengan membawa kebencian padanya. Pria baik hati yang menolongnya, perlahan mencintainya, berakhir menutup mata untuk membencinya.
Lukisan di atas cangkir yang dibuat mendetail, seekor kupu-kupu biru dengan sayapnya yang patah. Mengapung mati diatas air, beberapa daun hijau ikut mengapung disekitarnya, itulah karya kesayangannya.
Tidak mengetahui dirinyalah sang kupu-kupu biru dalam lukisan di atas tembikar buatannya. Sayap yang telah rusak, mengapung tenang diatas air laut yang dingin. Menyambut kematiannya.
"Aku yang membunuhmu...aku egois kan?" tanyanya berusaha tersenyum."Apa di lautan benar-benar dingin? Dia (Kenzo) mengirimkan pesan, kamu mengapung selama tiga hari disana?"
Kiki menonggakkan kepalanya, air matanya mengalir. "Aku tidak ingin bertemu denganmu. Jika saja saat itu aku tidak masuk ke mobilmu, dan mati di tangan istri majikanku. Mungkin kamu masih hidup, mengejar cita-citamu menjadi seniman tembikar terkenal..."
"Tinggal di negara lain, menjadi putra tunggal kebanggaan kedua orang tuamu. Ayah dan ibumu? Apa kamu begitu mencintai mereka?" tanyanya, namun sebuah batu nisan tua yang tidak dapat menjawab. Hanya sebuah benda mati dengan mungkin masih ada sisa kerangka di bawah sana.
"Aku memang egois...tapi aku tidak ingin kamu berakhir membenciku. Karena, karena itu... aku akan membuatmu kembali mencintaiku," gumamnya, mengepalkan tangannya dalam tangisannya.
***
Villa milik Kenzo...
Bau coklat hangat tercium memenuhi ruangan. Seorang wanita tengah memakai earphonenya mengerjakan sesuatu.
Satu cangkir coklat diletakkan sang pemuda di samping istrinya."Jangan marah..." ucapnya, memeluk Amel dari belakang.
"Aku tidak marah, tapi kenapa kamu melepaskannya?" tanya Amel posesif, tidak mengerti dengan tindakan suaminya."Kamu menyukainya kan?" tanyanya lagi.
Kenzo menggeleng, kemudian tersenyum,"Aku tidak menyukainya, tapi terkadang rasa kasih membuat seseorang berani mengambil tindakan,"
"Maksudnya?" Amel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Aku tidak mengerti dengan sikapnya 7 tahun ini. Dia seperti penguntit yang mengawasiku. Bersamaan dengan itu mencari perhatian dariku. Menyukaiku? Jika dia menyukaiku, dia tidak akan bersama dengan Baron,"
"Kesimpulan gila yang aku ambil, Kiki menyukai Dava yang asli. Tapi baru menyadari setelah membunuhnya..." ucapnya, meraih sekaleng soda low kalori di atas meja.
"Dia menghancurkan hidup Dava, kemudian membunuhnya. Kenapa jadi menyukai Dava?" Amel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Dia pernah ingin memberikanku uang untuk membayar hutang ayah, 80 juta bukan jumlah yang sedikit baginya. Syaratnya adalah menikah dengannya menjadi suaminya. Tapi tidak boleh menghalangi caranya mencari uang dengan menipu pria kaya," jawab Kenzo.
Tiba-tiba pemuda itu mendapat tatapan sinis dari Amel."Kamu menerima tawarannya? Apa kalian diam-diam menikah di belakangku?"
"Tidak, tapi kamu tau? Setelah aku mengetahui aku bukanlah Dava semuanya mulai jelas. Dia tidak mencintaiku, tapi berusaha mencintaiku yang sekarang, mencari celah agar Dava yang dahulu mencintainya kembali,"
"Berharap setelah ingatanku kembali, semua akan kembali seperti dulu. Melarikan diri bersama Dava kemudian tinggal di daerah pelosok yang sepi..." lanjutnya.
"Lalu kenapa kamu melepaskannya?" Amel kembali bertanya.
"Sebagian besar adalah kesalahan Praba. Kita dan dia akan memiliki musuh yang sama..." jawabnya, menggigit pelan leher Amel.
"Imposter, inilah suamiku..." bisik Amel, melepaskan earphone, mulai berjinjit, mencium bibir suaminya.
Bersambung