My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Jalan Yang Salah



Kamila terdiam menunduk sesaat, hanya mengikuti langkah wanita yang berjalan di depannya. Hingga langkah mereka terhenti di tanah kosong dekat gang, Amel membukakan pintu penumpang bagian depan mobilnya."Aku ingin bicara denganmu lebih banyak..."


Sudah diduga olehnya, wanita yang tidak bisa dibantah sama sekali. Bahkan mungkin mulut pengacara ternama bisa kalah olehnya. Apalah dayanya sebagai ibu-ibu biasa yang menggunakan daster."A...aku hanya mengantar sampai sini. Aku pulang dulu..." ucapnya berbalik, namun dengan cepat Amel menarik kerah pakaian bagian belakang Kamila, hingga langkahnya terhenti.


"Bicara lebih banyak lagi, atau hubungan putrimu dan putraku akan aku umumkan. Membuat putrimu tidak bisa menikah dengan pria manapun..." ucapnya tersenyum dipaksakan.


"Iya..." Kamila menghela napas menunduk, masih memunggungi Amel.


"Iya apa?" tanya Amel.


"Iya, aku ikut..." jawabnya kesal, sulit untuk menentang wanita ini.


***


Dalam mobil yang melaju, Kamila tidak banyak bicara melirik tubuh dan rupa wanita yang tengah menyetir. Tidak pernah membuka internet, mungkin itulah alasannya. Sangat cantik, bagaikan selebriti atau model berusia muda. Seluruh tubuh yang masih berbentuk sempurna.


Dilengkapi dengan wajah terawat, cantik alami tanpa makeup. Inikah ibu dari Ferrell, tidak heran putra wanita ini dapat menjadi idola remaja. Walaupun tidak begitu aktif lagi di TV belakangan ini.


"Kamu ibu dari Glory, ibu yang terlihat super otoriter. Seharusnya lebih tau kegiatan putrimu. Apa pernah Glory pulang pukul 3 pagi?" tanyanya masih fokus pada jalan raya.


Kamila tertunduk kemudian mengangguk, hari itulah saat desas-desus tentang Ferrell tersebar.


"Ferrell tidak menghamili Grisella, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan menggagu putrimu. Tidak perlu canggung begitu..." Amel menghela napas kasar.


"Tapi Glory..." kalimat Kamila kembali disela.


"Walaupun aku tinggal di negara lain, aku diam-diam mengirim pengawal untuk mengawasi putraku, dia tidak pernah dekat dengan wanita lain, kecuali Glory. Coba kamu fikirkan baik-baik, jika benar-benar ada cucuku di dalam perut Grisella, bagaimanapun aku tidak menyukai ibunya. Aku akan tetap menginginkan cucuku..." ucapnya berusaha berbicara dengan tenang.


"Aku tidak bisa berbesan denganmu. Keluarga kalangan atas akan mengucilkan putriku nanti. Jika ada masalah kami sebagai orang tua tidak akan dapat melindunginya, karena itu... karena itu..." kata-kata Kamila terhenti sesaat.


"Aku lebih buruk dari putrimu. Putrimu sangat cantik, sedangkan aku yang dulu..."Amel menghela napas kasar, tertawa kecil mengingat masa mudanya."Tapi bukan itu intinya, apa kamu yakin pada putrimu?"


"Maksudnya?" Kamila tidak mengerti.


"Tidak ada manusia yang dari lahir sudah sempurna. Hanya tinggal niatnya untuk berusaha. Aku belum bertemu dengan putrimu secara langsung. Tapi dia cukup baik dan pintar, gigih. Jika dia menjadi menantuku, aku akan mendidiknya seperti putriku sendiri,"


"Memberikan pendidikan dan fasilitas yang baik untuknya. Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi jika suatu hari nanti putraku membuat putrimu menangis, aku akan mengirim Ferrell ke wilayah konflik bersenjata sebagai relawan medis. Bagaimana masih meragukan putraku?" tanyanya tersenyum ramah.


Kamila terdiam sesaat, tipikal wanita yang memiliki aura kuat tapi cukup ramah. Bahkan lebih ramah daripada Ratna. Namun, satu hal tidak dimengertinya."Jika kamu mengetahui itu bukan anak Ferrell, kenapa bersikeras ingin melakukan tes DNA?" tanyanya.


Amel menghela napasnya."Karena dia masih remaja. Aku memiliki teman yang hamil di luar nikah dulu, dia berniat bunuh diri dengan janin di perutnya. Aku yang mencegahnya, menyembunyikan kehamilannya, lalu mengadopsi anaknya. Apa menurutmu tindakanku sudah benar?"


Kamila mengangguk, menatap wanita yang sejatinya berusia sedikit lebih tua darinya."Kamu membuat keputusan yang benar..."


Amel menggeleng."Itu bukan keputusan yang benar. Dia kembali pada orang tuanya memiliki tunangan dan menjalani kehidupan yang normal sebagai seorang anak kebanggaan yang selalu dipuji. Hingga dia mengetahui aku akan menikah, mulai mengatur hidupku dengan alasan mencemaskan kehidupan anaknya,"


"Mempengaruhi suamiku untuk berpisah denganku. Karena sudah tidak tahan lagi, aku mengembalikan anaknya, dan mengatakan semuanya pada kedua orang tuanya. Tapi mereka lebih mempercayai anaknya hingga tidak mengakui cucunya sendiri. Pada akhirnya aku mengambil anak itu kembali, walaupun akhirnya almarhum ibuku yang membesarkannya..." jelasnya.


Amel mengangguk."Aku hanya membuatnya ketakutan, sehingga menceritakan sendiri semua kejadian pada orang tuanya. Terkadang kasih sayang orang tua yang terlalu buta, ingin menjaga nama baik keluarga, serta anak yang terlalu pandai berbohong, membuat semua keadaan bertambah buruk,"


"Karena dia masih remaja, baru berusaha membentuk kepribadiannya, memerlukan bimbingan dan dukungan orang tuanya. Aku hanya tidak ingin remaja labil sepertinya memutuskan mengakhiri hidupnya bersama janinnya pada akhirnya, hanya karena malu menanggung beban seorang diri. Aku memberinya kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Melindunginya dari anggota keluargaku nantinya, jika dia dapat menyadari kesalahannya lebih awal ..." lanjutnya tersenyum.


"A...apa yang akan terjadi pada Ratna?" tanya Kamila mencemaskan tetangga sekaligus teman yang selalu bersamanya.


"Tergantung pilihannya, jika memilih memperkeruh keadaan dengan tetap mempertahankan harga dirinya maka aku sendiri yang akan menginjak lehernya. Tapi jika dia meminta maaf, lebih memilih merangkul dan membimbing putrinya, aku akan melindungi mereka dari anggota keluargaku..." jawab Amel, menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang terbilang cukup besar.


Beberapa mobil terlihat terparkir disana. Dengan beberapa orang yang turun dari mobil terpisah.


"Ini dimana?" tanya Kamila membuka sedikit jendela mobilnya.


"Rumah mertuaku..." jawaban dari Amel, membukakan safety belt yang dipakai Kamila.


Terlihat beberapa orang yang tidak memiliki ras sama disana. Ada yang cantik bertubuh indah dengan rambut bergelombang dan mata coklat, serta hidung mancung bagikan keturunan timur tengah, mendorong kursi roda pria yang berperawakan bagaikan orang Eropa, terlihat seperti pasangan suami-istri.


Satu mobil lagi masuk sesudah mereka, seorang pemuda berambut pirang turun dengan seorang wanita cantik berkulit hitam.


Dengan ragu Kamila turun setelah Amel membukakan pintu mobil. Mengikuti langkahnya berjalan mendekati mereka.


"Mama lama tidak bertemu..." Joe memeluk ibu angkatnya, mengingat dirinya yang memang terlalu sibuk dengan tugas di kantor cabang.


Istri Joe yang berprofesi sebagai dokter gigi tersenyum canggung, menyodorkan sebuah paperbag."Ini untuk anda..."


"Masih saja sungkan..." ucap Amel mendorong putra angkatnya yang memeluknya terlalu erat, hingga tersungkur di lantai. Kemudian memeluk menantunya.


"Mama! Aku atau dia anakmu!?" ucap Joe iri.


"Dia ini istrimu! Melahirkan cucu untukku! Anak untukmu! Kamu fikir melahirkan tidak menyakitkan!?" bentak Amel membuat putranya menunduk terdiam.


Elina mendekat, tersenyum pada ibunya."Bagaimana pernikahanmu?" tanya Amel.


Elina berbisik pada ibunya, melirik ke arah suaminya."Aku menyukainya, terutama saat dia tidak mengenakan apapun..."


Amel menipiskan bibir menahan tawanya, putrinya yang menjadi perawan tua malah dapat berfikiran seperti itu.


"Mama ini siapa?" tanya Elina menatap ibunya datang dengan seseorang.


"Calon ibu mertua Ferrell, namanya Kamila..." ucap Amel tersenyum.


Namun, sejenak kemudian Elina menarik ibunya, membawanya menjauhi Kamila. Kemudian berbisik."Ferrell masih juga belum keluar dari kamar, nenek bilang dia menguncinya dari dalam. Kunci yang sering dipakai termasuk cadangannya di pegang oleh Ferrell,"


"Steven sedang bersama tukang kunci sekarang. Katanya ingin menjadi orang pertama yang melihat kelakuan bej*t orang yang paling sok suci..." lanjutnya.


Bersambung