My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Teman



Sekitar 2 jam berlalu, Kamila tengah membereskan ruang tamu di rumahnya. Menghela napas kasar, kembali mengintip pintu kamar putrinya yang tidak terkunci. Hanya suara tawa terdengar, dari dua orang yang tengah belajar bersama. Tidak ada terlalu banyak kontak fisik hanya tangan mereka saja yang terkadang bersinggungan.


Wanita itu kembali menghela napas, memiliki putri yang masih belia memang harus ekstra waspada. Walaupun anaknya jarang berdandan, tidak pernah pulang terlalu larut, namun siapa yang tau apa yang dapat terjadi jika dirinya lengah, satu jam saja...


Ken menurutnya teman yang baik dan sopan untuk putrinya. Terlihat tidak pernah berbuat aneh-aneh. Karena itulah, Kamila tidak begitu banyak berkomentar tentang persahabatan putrinya.


Namun, kata-kata teman arisannya benar, walau tidak berbuat apapun kehadiran Ken di kamar putrinya akan merusak nama baik putrinya. Menjodohkannya dengan keponakan ibu Samun? Entahlah, sebaiknya perkenalkan dulu. Tidak ingin putrinya salah pergaulan, hingga hamil di luar nikah dengan pria tidak bertanggung jawab nantinya.


Hingga seorang ibu yang tengah mengangkat gelas-gelas kotornya itu meletakkan kembali ke atas meja. Mengepalkan tangannya, berjalan ke arah kamar putrinya.


Tidak ada yang terjadi, seperti dugaannya hanya dua orang bocah yang belajar di atas tempat tidur.


"Ibu?" Glory mengenyitkan keningnya.


"Kenapa kalian tidak belajar di ruang tamu saja!?" tanyanya mengintimidasi.


"Ibu membuat sekitar 30 bolu, menunggunya dingin baru membungkusnya dengan meletakkannya di ruang tamu," jawaban dari mulut Glory menghela napas kasar menatap jenuh.


"Kan bisa belajar di tempat lain, seperti Grisella. Tidak pernah belajar di kamar dengan teman-temannya," ucapnya tidak mau kalah.


"Dia mempunyai banyak tokoh pahlawan nasional di dompetnya. Aku hanya punya 5000, itupun harus ditabung 1000 atau 2000. Bagaimana caranya belajar sambil makan di cafe sepertinya," jawabnya terus terang, sembari berusaha tersenyum.


"Tapi jangan belajar di atas tempat tidur!!" Kamila masih terlihat mencari alasan.


"Ibu, lampu kamarku hanya 5 Watt. Lantainya sempit, terkena bayangan dari tempat tidur. Apa kami harus belajar menggunakan senter?" ucapnya menepuk jidatnya sendiri. Bingung harus bagaimana lagi, dirinya bahkan tidak melakukan apapun tapi sudah mendapatkan antisipasi sejak dini.


"Kamu yakin tidak ada tempat lain untuk belajar?" tanya Kamila kembali.


"Bibi jika bibi cemas dengan kenyamanan kami. Glory bisa belajar di rumahku. Di rumahku banyak ruangan kosong..." usul Ferrell tersenyum.


Rumah Damian? Jangan ditanya lagi, entah ada berapa kamar dan ruangan kosong disana. Setiap tahun baru dan hari besar, anak, menantu, cucu-cucu dan cicitnya akan berkumpul. Jadi dirinya menyiapkan berbagai ruangan dengan banyak fasilitas.


Namun senyuman menyungging di wajah Ferrell, berfikir sejenak, tempat teraman menyimpan Glory adalah kamarnya. Tapi sedetik kemudian menggelengkan kepalanya, ibunya akan marah besar jika mengetahui dirinya meniduri wanita sebelum menikahinya.


Dan ayahnya... Ferrell tidak dapat membayangkan hal yang terjadi jika ayahnya marah. Mungkin dirinya akan dikirim ke negara lain, menjadi relawan medis untuk daerah konflik bersenjata. Pulang tinggal nama, dan jazad yang tetap tampan. Meninggalkan Glory dan anaknya yang baru lahir.


Sedangkan Kamila berfikiran berbeda, jika di rumah anak ingusan ini mungkin akan lebih berbahaya. Bagaimana jika tidak jadi belajar kelompok, mereka malah menyewa kamar murah, dengan harga sewa per-jam?


Tidak boleh, malah lebih berbahaya,"Kalian belajar disini!! Tapi pintu jangan ditutup!!" ucapnya mengancam.


Glory mengangguk menyetujui, memang dirinya dan Ken tidak melakukan apapun selain berpegangan tangan.


Tapi jika Kamila tahu Glory benar-benar melakukan pesugihan, entah apa yang akan terjadi. Sang ibu akan menarik Ferrell dari mobil untuk menikahi putrinya atau Kamila akan marah besar, berakhir menjewer telinga putrinya yang ditaklukkan oleh pemuda rupawan dan gambar tokoh proklamator.


Seperti biasanya Glory, mengantar kepergian Ken kemudian kembali bersiap-siap membantu ayahnya berjualan. Mandi, ganti pakaian, kemudian makan, menggedong tas ransel berisikan buku pelajaran.


Tapi satuhal yang berbeda kali ini, Caca akan hadir untuk membantunya. Sekaligus mencari kesempatan jumpa fans, maaf salah maksudnya berdebat dengan Ferrell, agar mengakhiri perhajian pesugihannya dengan Glory.


Malam semakin larut, cukup banyak tahu bulat yang terjual. Hingga tiba waktunya untuk pulang, dua orang gadis melangkah bersama melewati sebuah mobil.


Adrenalin Caca bagaikan terpacu, kala Glory mengatakan,"Itu mobilnya, pura-pura tidak lihat!" perintahnya berharap Ferrell telah bosan padanya.


Tapi apa benar demikian? Langkah sepasang remaja itu terhenti oleh sepasang sepatu olahraga pria berwarna putih. Perlahan menatap ke arah siapa yang ada di hadapan mereka. Seorang pemuda memakai masker berwarna hitam, kontras dengan kulit putihnya.


"Kenapa membawa temanmu? Kamu mau aku tarik ke mobil, membawamu ke villa terpencil, lalu mengajarimu bagaimana cara manusia bereproduksi!?" tanyanya dengan nada mengancam.


"A...aku..." Glory gelagapan, ketakutan. Sejenak perhatiannya beralih ke arah Caca,"Caca, tolong bantu aku..." pintanya.


Namun, otak Caca bagaikan kelu, masih di restart untuk pertama kalinya bertemu dengan artis idolanya secara langsung."Fe... Ferrell?" gumamnya.


"Sttt..." pemuda itu mengacungkan jari telunjuk di depan mulutnya. Bagaikan memberi kode untuk diam."Mau, bicara di tempat lain?" tanyanya tersenyum di balik maskernya.


Sebuah restauran Cina yang memiliki private room, menjadi tempat mereka berada saat ini. Banyak hidangan yang tersedia di atas meja, namun satupun tidak disentuh oleh mereka.


"Makanlah, tidak ada obat atau sejenisnya di dalam sana. Aku tidak menjerat gadis kecil, kecuali sudah mendapatkan ijin darinya untuk menyentuhnya," ucapnya tersenyum.


"Ka...kamu Ferrell kan!? Kenapa tiba-tiba banyak konsermu yang dibatalkan. Tidak muncul di TV lagi, apa benar gosip kamu akan menikah muda?" tanya Caca penasaran, seakan melupakan masalah Glory yang menatap tajam padanya.


"Satu persatu dulu, aku terkena hukuman dari kakekku, karena terlalu sibuk bekerja, tiba-tiba tidak sadarkan diri di stasiun TV. Jika gosip aku akan menikah muda, itu benar, aku sudah menemukan seseorang yang aku inginkan," jawabnya melirik ke aray Glory, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri.


"A...aku ingin berhenti. Kita tidak saling mengenal dan tidak menggagu lagi!!" tegas Glory tiba-tiba, tidak ingin ada basa-basi lagi.


"Aku ingin bicara berdua dengan Glory," pinta Ferrell tersenyum, melirik ke arah Caca.


Remaja yang baru saja bertemu artis idolanya itu segera melarikan diri dari ruangan, seolah takluk, melupakan tujuannya ada disana."Aku akan menunggu di luar!!" ucap Caca.


"Tunggu Caca!!" pinta Glory tidak ingin kehilangan kewarasannya.


Dan benar saja, bersamaan dengan tertutupnya pintu secara sempurna Ferrell mendekat."Ingin melepaskan diri dariku? Apa kamu lupa, perbuatan mu yang menggeledah barang-barangku. Ingin aku laporkan ke kantor polisi!?" bisiknya di telinga Glory.


"Aku tidak bisa lagi, ada pria yang aku sukai. Aku..." kata-katanya terhenti, Ferrell membungkuk, mengecup sekilas bibirnya yang tengah duduk.


"Buka mulutmu, atau aku aku akan berbuat buruk," bisiknya lagi, menginginkan keintiman yang lebih.


Bersambung