My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Ekspektasi



Seperti seharusnya, hari ini Glory bekerja seperti biasanya. Menghela napas kasar, jadwal sift middle, membuatnya pulang pukul 6 sore. Setelah itu mengikuti ujian masuk universitas. Mendapatkan jadwal ujian malam, karena itulah dirinya tidak menukar jadwal kerjanya.


Berjalan seorang diri menuju tempat parkir. Pertunangan yang ingin dibatalkannya? Memang benar, itulah yang menjadi alasannya ingin bertemu dengan Gin. Pemuda yang memiliki jadwal sift yang kebetulan sama.


Namun motor bebek itu masih berada di sana, tapi pemiliknya entah berada dimana.


"Mencari Gin?" tanya seorang staf house keeping. Glory mengangguk, menghela napas kasar, sudah sekitar 15 menit dirinya menunggu.


"Gin tadi masuk ke ruangan General Manager," lanjut sang staf house keeping, mulai menyalakan motor metik miliknya.


***


Sudah jenuh menunggu sekitar 20 menit, sedangkan ujian masuknya akan diadakan 30 menit lagi, dirinya harus mempersiapkan diri belum waktu perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju kampus.


Tempat Glory berada saat ini? Di hadapan ruangan General Manager. Perlahan pintu diketuknya, namun tidak menemukan jawaban. Hingga pada akhirnya pintu yang tidak dikunci, dibuka olehnya.


Pasangan yang terlihat duduk berdua di sofa, ditemani dua cangkir teh hangat dengan rambut yang basah. Menghangatkan diri menggunakan selimut tenunan yang cukup tebal. Tertawa bersama entah apa yang dibicarakan pria dan wanita dewasa itu.


"Glory..." Gin mulai bangkit menatap sang remaja. Bingung harus bagaimana, memutuskan pertunangan? Apa itu keputusan yang tepat? Tapi dirinya tidak ingin kehilangan Grace, cincin yang berada di jari manisnya akan tetap berada di sana.


"Kami pacaran! Remaja sepertimu tidak akan paham! Kami saling mencintai jadi jangan mencoba cara busuk untuk merebut Gin!!" geramnya protektif, ikut berdiri, memeluk Gin dari belakang.


Wajah Glory terlihat serius, berjalan mendekati mereka perlahan. Menatap dengan mata tajamnya untuk pertama kalinya. Gadis yang mungkin akan menangis karena patah hati, itulah yang ada di fikiran Grace, memejamkan matanya bersiap akan ditampar sebagai orang ketiga dalam hubungan mereka.


"Maaf..." ucap Glory tertunduk.


Grace yang bersiap akan ditampar, mulai membuka matanya."Ke... kenapa minta maaf?"


"Aku dilamar oleh keluarga yang sulit dibantah. Karena itulah aku ingin memutuskan perjodohan ini. Tolong bantu aku untuk menjelaskan pada orang tuamu dan bibi Samun, katakan kalian saling mencintai dan ingin tetap bersama..." pinta Glory.


"Apa Superman berwajah dekil?" tanya Gin menghela napas kasar berusaha tersenyum. Mungkin inilah perasaan canggung dari Glory dahulu, yang mengikuti perjodohan tapi hati telah dimiliki oleh orang lain.


Glory mengangguk, membenarkan, kemudian tersenyum."Ibunya sudah bicara baik-baik pada ibuku. Jadi aku ingin bersamanya,"


"Selera yang aneh, tapi jika dia menyakitimu, jangan ragu mengadu padaku. Anggap aku saudaramu, karena ini juga salahku..." kata-kata dari Gin menggenggam jemari tangan Grace, saling menatap sesaat.


"Aku akan mengikuti ujian masuk universitas, pacarku bilang akan menjemputku 10 menit lagi di depan hotel. Aku akan berangkat, bu General Manager, dan senior, aku berangkat..." Glory tersenyum penuh semangat, menatap ke arah mereka.


"Tunggu, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Boleh aku ikut ke tempat parkir. Sekalian pulang bersama Grace..." ucap Gin tersenyum.


***


Pasangan yang berjalan di belakang Glory, remaja yang terlihat tersenyum bahagia, tidak berduka sedikitpun.


"Apa pacarnya kaya dan tampan, sampai dia sebahagia itu berhasil memutuskan pertunangannya denganmu?" tanya Grace penasaran, berjalan beriringan dengan Gin.


Gin mengenyitkan keningnya."Apanya yang kaya dan tampan, dia tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Pulang sekolah jalan kaki, wajahnya selalu dekil dengan tahilalat besar di bawah bibirnya. Bahkan model rambutnya seperti Superman!"


"Mungkin selera Glory memang benar-benar unik..." Grace menghela napas kasar.


Tiba-tiba handphone Glory berbunyi."Kamu sudah didepan?" tanyanya mengangkat panggilan segera berjalan lebih cepat. Diikuti langkah Gin dan Grace.


Pasangan itu diam terpaku, Ferrell berdiri di sana, memeluk sang remaja yang menghampirinya. Bahkan membukakan pintu mobil yang dapat dipastikan berharga fantastis.


Segera setelah Glory masuk, Ferrell berjalan mendekati Gin."Calon perawat, bagaimana jika nanti mencoba melamar di rumah sakit milikku? Masih ingin bersaing denganku?" tanyanya, mengedipkan sebelah matanya pada Gin.


Kemudian berjalan menuju mobilnya yang melaju meninggalkan mereka.


"Dia pacar dari gadis perjodohanmu? Pantas saja dia ingin memutuskan perjodohan..." Grace menipiskan bibir menahan tawanya.


"Di...dia sebelumnya tidak seperti itu, tapi..." kata-kata Gin terhenti, menyadari memang ada yang ganjil. Wajah Ken memang memiliki sedikit kesamaan dengan Ferrell bukan? Anak SMU biasa? Dia adalah seorang dokter bedah, sekaligus idola remaja yang dulu selalu diteriaki dan dipuji Grisella.


"Berjalan kaki apanya, mobilnya saja berharga ratusan juta. Jelek? Wanita paruh baya pun ingin memiliki menantu sepertinya, para wanita ingin memiliki pacar sepertinya, dan semua bocah ingin memiliki saudara keren sepertinya..." ucap Grace mulai tertawa.


Gin menatap tajam padanya, berusaha tersenyum, menahan kekesalannya."Kamu juga menyukainya? Dia berusia lebih muda darimu," tanyanya.


Grace spontan mengangguk, kemudian dengan segera menggeleng."Aku tidak menyukainya, hanya kamu yang terbaik..."


Gawat, dia cemburu. Apa aku harus mencabut semua poster Ferrell? Belum lagi mini albumnya lengkap dengan tanda tangan, aku beli di toko online dengan harga mahal... batinnya tersenyum, yang walaupun tinggal di luar negeri, sering menonton konser melalui internet.


"Aku mencintaimu, ayo kita pulang. Aku akan memperkenalkanmu pada ibuku..." ucap Gin, mengecup kening Grace, berjalan mendahuluinya menuju motor bebek miliknya. Ingat ini bukan bebek biasa yang berbaris di tengah sawah. Bebek yang benar-benar tangguh, berkecepatan tinggi, bahkan pos ronda pun bisa roboh saking cepatnya. Bebek yang selalu terdepan.


Grace berjalan mengikutinya, mulai fokus pada handphonenya menghapus foto wallpaper handphone. Foto Ferrell yang dieditnya merangkul bahunya.


Fans garis keras? Mungkin dialah salah satunya, bahkan batal lengkap dengan sprei kamarnya terdapat cetak wajah Ferrell. Benar-benar fanatik, tapi sekali lagi, hanya fans. Sedangkan Gin, mungkin itulah, pria yang dicintainya.


***


Beberapa jam telah berlalu, hari sudah mulai larut. Ferrell menghela napas kasar, siapa yang tahu jatuh cinta bisa seindah ini? Menunggu kedatangan Glory yang memasuki mobilnya.


Mobil perlahan melaju kembali, membawa sepasang muda-mudi terhanyut dalam fikirannya masing-masing.


"Glory, aku..." kata-kata Ferrell terhenti, dirinya ragu untuk membicarakan apa.


"Apa kamu benar-benar Ken?" tanya Glory tiba-tiba.


"Tentu saja, sudah aku buktikan, aku dan Ken adalah orang yang sama," jawaban dari Ferrell.


"Hentikan mobilnya!" perintah Glory.


"Glory?" ucapnya tidak mengerti dengan tujuan dari perintah kekasihnya. Perlahan mulai memarkirkan mobilnya, di sebuah lapangan kosong.


Pasangan yang hanya terdiam beberapa saat. Glory yang tertunduk tanpa ekspresi, sedangkan Ferrell yang menatap ke arahnya.


Hingga 10 menit berlalu keadaan masih sama...


Ferrell mengepalkan tangannya, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Memegang hendel pintu mobil, sembari memberanikan dirinya bicara,"Glory? Apa kamu kesurupan?" tanyanya bersiap-siap melarikan diri dari mobil.


Bersambung