
Noda darah? Ferrell memijit pelipisnya sendiri, ingin rasanya menghujam gadis genitnya hingga memekik antara kesakitan dan kenikmatan, sama-sama menonggakkan kepalanya mencari titik kepuasan. Namun, sekali lagi, ayahnya akan marah besar jika dirinya ketahuan meniduri gadis dibawah umur.
Satu lagi, mereka meminta maaf untuk Glory yang menolaknya? Apa mereka belum menyadari dirinya adalah Ken?
"Noda darah?" Ira mengenyitkan keningnya.
"Iya, untuk pertama kalinya Ferrell membawa seorang wanita ke kamarnya. Dan mengancam pada kakeknya akan menidurinya, nenek sampai harus memeriksa semua sudut sprei dan selimut, mencari noda darah gadis perawan..." tawa Vanya terdengar lebih nyaring lagi. Sementara cucunya bertambah kesal saja, berusaha tersenyum dipaksakan, menusuk potongan daging sapi kemudian memakannya.
Budi dan Ira saling melirik tidak dapat berkata-kata. Menatap ke arah sang selebriti idola, mengancam akan meniduri Glory?
Hingga Budi memberanikan dirinya bertanya,"Nek, Ken dimana ya? Kenapa belum turun juga?"
Vanya menipiskan bibirnya namun apa daya tawanya malah terdengar lebih kencang."Kalian mencari Ken? Di rumah ini yang bernama Ken hanya dua orang Kenzo ayah Ferrell dan..."
"Apa Ken adalah adik kandung Ferrell?" Ira menyela pembicaraannya.
"Adik kandung Ferrell bernama Febria. Sedangkan inilah Ken kalian..." Vanya menepuk-nepuk pundak cucunya, masih tertawa tiada henti.
"Aku adalah Ken!! Memangnya kenapa!? Aku adalah pangeran pesugihan! Ada yang aneh!!" ucapnya menancapkan garpu pada daging di hadapannya kembali makan.
"Ti... tidak salah kan?" tanya Budi, menemukan fakta yang lebih aneh lagi.
"Ferrell tidak pernah menikmati masa remajanya. Dia mengikuti program percepatan dari kecil di luar negeri. Beberapa minggu yang lalu, Ferrell roboh karena terlalu banyak bekerja. Untuk kebaikan fisik dan psikologisnya, dia dihukum untuk sementara waktu mengulangi masa SMU dengan identitas Ken..." jawaban dari mulut Vanya terlihat lebih tenang, mulai memakan makanan di hadapannya.
"Ayo makan!! Ini untuk merayakan hubunganku dengan Glory..." ucap Ferrell menghela napas kasar mulai kembali berusaha tersenyum.
Hal yang mereka lakukan seharian? bersenang-senang layaknya menjalani kehidupan orang kaya. Berenang di kolam renang yang cukup luas, menonton lengkap dengan cemilan di home teather, bahkan mencoba bermain biliar yang sejatinya peraturannya pun tidak mereka ketahui.
Sedangkan Ferrell, pemuda itu hanya duduk di ruang kerjanya, membaca laporan yang dikirimkan tentang rumah sakit miliknya. Dirinya hanya pemilik, pengelolaan diserahkan pada manajemen yang disusunnya.
Apa hanya itu aset seorang Ferrell? Sejatinya tidak, ada saham di beberapa perusahaan lain, serta usaha waralaba yang juga tidak diawasi langsung olehnya. Dari sejak dini mengikuti ibunya yang harus mengurus perusahaan ayahnya, membuatnya sudah terbiasa mencari peluang usaha yang tidak menghabiskan banyak waktunya.
Hingga dirinya tidur siang sejenak, inilah liburannya tanpa pisau operasi atau kamera. Tapi perlahan setelah satu jam tertidur dirinya bangkit, inilah saatnya menemui gadis genitnya kala malam telah tiba.
Mulai membersihkan dirinya, menggunakan makeup efek khusus, menata rambutnya. Berjalan menatap pantulan wajahnya di cermin."Jika ingin menciumnya, tahan diri dulu. Lakukan perlahan agar tidak ketahuan..." gumamnya, memiliki niatan busuk.
Berjalan cepat menuruni anak tangga menatap Budi dan Ira masih bercanda dengan kakek dan neneknya.
"Kalian mau tetap disini, atau aku antar pulang sekarang. Aku ada janji dengan Glory..." ucapnya tersenyum.
Budi tiba-tiba datang mendekatinya, matanya menelisik mengamati dengan seksama."Benar-benar dua orang yang sama," gumamnya.
"Tentu saja..." jawab Ferrell menghela napas kasar.
"Kalian disini, temani kami dulu. Nanti supir yang akan mengantar kalian pulang," ucap Damian yang baru saja pulang kerja, menyenangkan rasanya rumahnya kini cukup ramai. Mengingatkan dirinya pada almarhum putranya yang daluhu sering membawa teman-temannya berkunjung. Anak ceria baik hati, seniman tembikar yang telah lama tiada.
Budi dan Ira mengangguk, cukup nyaman berada di rumah Ferrell, mendapatkan banyak spot foto bagaikan anak sultan.
"Ya sudah, aku berangkat dulu..." Ferrell berjalan melewati ruang tamu sesekali melempar tangkap kunci mobilnya.
"Jangan hamili pacarmu!!" teriak Damian.
"Tidak janji!! Siapa tau aku khilaf membawanya bulan madu di hotel..." jawaban dari Ferrell, berjalan keluar melalui pintu utama.
"Anak itu..." Damian menghela napas kasar namun tetap tersenyum. Setidaknya Ferrell terlihat lebih santai saat ini, tidak seperti sebelumnya, dimana setiap detik dalam hidupnya selalu terburu-buru.
Punya pacar? Tidaklah mengapa, asalkan jangan melewati batas. Tapi apa Ferrell akan melewati batas sebelum menikah? Entahlah, mungkin saja, mengingat daftar riwayat pencariannya di Google.
Bagaimana cara menggoda wanita? Variasi sensasi rasa nikmat dalam berciuman? Bahkan pemuda itu mulai nakal menonton video 21 tahun keatas. Mungkin membayangkan fantasi dirinya dapat meniduri, menghujam dan mengguncang tubuh kekasih kecilnya.
Otak yang benar-benar tercemar semenjak jatuh cinta pada gadis genitnya. Bisakah pemuda itu menahan diri hingga menikah? Atau berakhir, menghamili gadis di bawah umur?
***
Ferrell tersenyum sendiri, hanya tinggal beberapa bulan lagi, maka usia Glory sudah genap 19 tahun. Ujian akhir juga sudah dekat, sedikit lagi menahan diri. Hanya tinggal sedikit lagi, mungkin sifat yang diturunkan dari ayahnya Kenzo. Jika sudah menemukan sasaran, seorang Ferrell tidak akan pernah melepaskannya.
Sulit mendapatkan wanita yang sesuai kepribadian, wajah, karakter, dan hatinya. Karena itulah, dirinya akan dengan cepat membawanya, melempar dan mengurungnya di kamarnya. Bahasa yang kasar bukan? Namun itulah kenyataannya, Mencumbui seluruh tubuhnya, dirinya benar-benar sudah gila hanya karena seorang bocah SMU.
Hingga mobil pickup pedagang tahu itu terlihat. Dirinya mulai mencari tempat parkir yang cukup jauh, sebuah rumah kosong yang terlihat angker menjadi tempatnya memarkirkan mobilnya. Matanya menelisik, berjalan mengelilingi rumah, hingga pada akhirnya menemukan tanaman cempaka (kantil) yang cukup tinggi. Berusaha meraih bunganya, kemudian mencium aromanya.
"Paman, bibi, kakek, nenek, kakak, atau dik. Aku minta bunganya ya, untuk pacarku, doakan dari alam sana supaya hubunganku langgeng..." permisinya, ketika mengambil bunga di bekas rumah pembantaian masal satu keluarga.
Berjalan melangkah dengan penuh senyuman, tidak takut? Dirinya bahkan sering seorang diri di kamar mayat saat melakukan tugas pelatihan praktek kedokterannya dulu. Ini belum ada apa-apanya, hanya ingat untuk berkata permisi saat mengambilnya.
Kriet...
Pintu rumah yang seharusnya terkunci tiba-tiba terbuka sendiri. Menampakan sebuah rumah kosong berdebu yang gelap, entah apa saja yang ada di dalam sana, selain noda darah di dinding yang tidak dapat dibersihkan, foto tua satu keluarga. Serta sebuah boneka kecil berdebu tua berbentuk manusia. Mata boneka yang benar-benar terlihat bagaikan dapat hidup.
***
Kembali pada sang pujangga, yang ingin menemui pujaan hatinya. Kini tengah membeli martabak dan juice buah untuk sang calon mertua yang berjualan tahu bulat.
Perlahan melangkah mendekati mobil pickup, membawa bunga cempaka (kantil) lengkap dengan batang dan daunnya. Serta martabak untuk sang mertua.
"Paman," ucapnya tertunduk sembari tersenyum.
"Ken..." Glory yang tengah membatu ayahnya berjualan terlihat salah tingkah. Menatap sang Superman dekil yang membawa bunga sesajen untuknya.
Bersambung