My Kenzo

My Kenzo
Menyayangi



...Apa aku telah bahagia? Tentu saja, aku bahagia... Memiliki segalanya, keluarga kecil yang akan aku bangun. Dengan anak-anak kami nantinya....


...Terbangun menatap wajahnya, membelai rambutnya ketika gelap kembali menyapa, membiarkannya tidur dalam dekapanku......


...Aku mencintainya, kebahagiaan kecil yang akhirnya aku dapatkan......


Kenzo...


Seorang pemuda telah menunggunya, berjalan bersama sang kakak memasuki sebuah hotel. Duduk di area restauran yang berhadapan langsung dengan kebun hotel. Tempat yang sering disewakan untuk garden party dengan jumlah tamu yang sedikit.


"Lokasinya lumayan," Kenzo menghela napas kasar sembari tersenyum.


"Akhirnya kakak menikah juga, dengan siapa? Tuan putri atau monster?" tanyanya mengingat permainan mereka ketika kecil.


"Monster laut, yang aku cintai..." jawab Kenzo tertawa kecil.


"Kakak, apa Frans sudah menemukannya?" Gilang kembali bertanya dengan ragu, mengingat foto serta informasi tentang Amel yang telah dikirimkannya pada Frans.


"Siapa?" Kenzo mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Aku menyukai seseorang, tapi karena kesalahpahaman, aku membuatnya pergi," Gilang menghela napas kasar, berusaha tersenyum menatap watermelon juice di hadapannya.


"Keyla? Sebaiknya memang tinggalkan wanita sepertinya..." cibir Kenzo, cukup mengetahui sekilas tentang mantan kekasih adiknya.


"Bukan, tapi jika bertemu kembali pun, aku tidak akan memperkenalkannya pada kakak. Bagaimana jika kakak menyukainya!?" komat-kamit mulut pedas Gilang keluar, menatap ke arah Kenzo.


"Protektif..." Kenzo tertawa lepas,"Tapi, itu tidak akan terjadi, aku sangat menyukai mempelaiku," gunamnya, tersenyum sendiri bagaikan remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.


"Kakak kelihatan lebih bahagia, apa dia pengantin kecilmu?" Gilang mengenyitkan keningnya, mengingat Kenzo tidak pernah terlihat dengan wanita manapun.


Kenzo mengangguk,"Dia anak dari pengasuhku, mungkin kamu tidak ingat, karena saat mamaku berhenti bekerja, usiamu sekitar 3 atau 4 tahun. Aku tidak sengaja bertemu dengannya kembali, saat dia mencari pekerjaan," jawabnya.


Untuk pertama kalinya Gilang menatap ekspresi aneh sang kakak, pemuda berkharisma itu tertunduk sembari tersenyum menceritakan tentang wanita yang dicintainya.


Pada akhirnya kakak yang menyayanginya, memiliki banyak luka, dapat tersenyum lepas, menyambut kebahagiaannya yang akan tiba sebentar lagi.


"Kakak tidak akan mencetak undangan?" tanya Gilang antusias.


"Tidak, aku tidak memiliki terlalu banyak kenalan disini. Selain itu calon istriku juga, dia ingin pernikahan yang sederhana," jawab Kenzo penuh senyuman.


***


Pagi yang hangat, pasangan itu terbangun bersama, saling mengecup dengan tubuh masih berbalut piama. Di bawah selimut putih yang tebal.


"Kita menikah..." Kenzo mendekap tubuhnya erat."Kenapa mencintaiku?" tanyanya pada Amel.


"Satu-satunya tangan yang terulur menolongku, satu-satunya pria yang mencintaiku, tidak mungkin aku tidak menyukaimu..." jawab Amel memegang piyama Kenzo, kembali menyerang bibirnya.


Memangut perlahan, mencari kepuasan yang tidak mereka temukan ujungnya.


Hingga suara ketukan pintu terdengar,"Kalian tidak jadi menikah!? Tahu bulat 500an!! Cepat bangun!!" teriak Glen dari luar sana.


Mereka menipiskan bibir, menahan tawanya. Kembali saling mengecup, menggerakkan bibirnya seakan lupa akan waktu.


***


Gaun putih terlihat, dengan brokat putih di bagian leher dan lengannya, menonjolkan bentuk lekuk tubuhnya. Gaun indah yang memberi kesan anggun, kerudung tipis menutupi wajahnya, berjalan perlahan dibimbing Glen.


Samar-samar seorang pemuda rupawan memakai tuxedo putih berdiri di altar, menunggu langkah kaki mempelainya di samping pendeta. Mempelai yang benar-benar terlihat cantik, Kenzo akhirnya memiliki sang Dugong yang kini akan menjadi istrinya.


Sumpah untuk menemani susah maupun senang, sakit maupun sehat, hingga maut memisahkan. Sumpah yang mereka jawab dengan kata 'bersedia' tanpa keraguan.


Menyematkan cincin, indah berpasangan.


Cium...!! Cium...!! Cium...!!


Teriakan paling kencang dari bibir Nindy diikuti teriakan semua orang yang hadir. Beberapa orang yang mereka temui di negara lain. Cindy dan putra kembarnya, serta Roy dengan wajah yang kini lebih baik, memangku Agam.


Hiasi dengan putrinya Aika, yang ingin menyampaikan hadiah dari Aiko, adiknya. Seseorang yang kini masih menjalani masa hukumannya.


Brenda? Nindy masih menempel padanya, membawa serta ke lima anak angkat Kenzo, Scott, Steven, Elina, Elisa dan Joy. Mungkin hanya dua hari disini, mengingat mereka yang harus kembali bersekolah.


Sedangkan Sany berada dalam pangkuan Marina yang duduk di dekat Wina. Menatap pemuda rupawan yang menjadi suami dari sahabatnya, ayah dari putrinya.


Marina mengepalkan tangannya, setelah Amel tidak bersedia menemui Gilang. Tidak ingin membuat keraguan dalam diri calon suaminya. Bahkan melarang Marina memberitahukan tentang keberadaannya.


Menghargai Kenzo? Bukan itu yang utama, Amel ingin melindungi suaminya, yang dingin di bagian luar namun sejatinya rapuh di bagian dalam. Memiliki hati bagaikan kaca cermin yang telah retak. Mungkin jika sedikit saja tergores akan hancur tidak bersisa.


"Aku mencintaimu..." Kenzo tersenyum.


"Aku juga..." Amel kembali menciumnya agresif.


"Aaaa... aku jadi ingin menikah!!" Nindy berteriak, menatap dua kali adegan hot kiss itu, di hadapan umum.


...Jika kamu bertanya apa kamu bagiku? Kamu adalah......


...Orang tuaku, melindungi dan mempercayai tanpa perlu aku menjelaskannya......


...Sahabatku, memberiku semangat dan motivasi......


...Rival sekaligus musuhku, membuat aku ingin melebihimu, membenci tingkah penindasmu, walaupun selalu merindukanmu......


...Saudaraku, menjadi orang paling rapuh yang ingin aku lindungi......


...Guruku, mengajari bagaimana jalannya dunia, mengangkat kepalaku di hadapan orang lain, serta membimbing untuk mendapatkan rasa kasih sesungguhnya darimu......


...Suamiku, seseorang yang akan menjadi ayah dari anak-anakku......


...Itulah dirimu, because you're my Kenzo......


Kenzo melepaskan pangutan nya menatap lekat mata Amel penuh senyuman.


...Jika bertanya apa arti dirimu bagiku? Kamu adalah hidupku......


...Satu-satunya tujuanku, ibu dari anak-anakku kelak, jemari tangan yang akan saling menggenggam hingga tangan keriput dan rambut putih kita terlihat......


...Tanpamu aku adalah tanaman yang layu, perlahan akan mati. Tolong temani aku hingga maut menjemputku......


...Karena kamu adalah hidupku......


Pengantin wanita berbalik, melempar buket bunga yang jatuh tepat pada pangkuan Brenda.


"U... untukmu saja!!" Brenda kembali melempar pada Nindy yang duduk di sebelahnya. Takut akan pernikahan? Tentu saja itulah alasannya. Bukannya terharu, menatap pengantin berciuman sebelumnya, tapi malah membuatnya jijik.


"Terimakasih, ini untukku? Jadi kapan kita menikah? Perlu aku rancang pakaian menggoda untuk bulan madu kita?" tanyanya pada Brenda, bersandar pada lengannya.


"Sudah aku bilang, jangan dekat-dekat!!" kesalnya, mendorong kepala Nindy.


"Mau mengajariku betapa nikmatnya berciuman?" tanya Nindy penuh harap.


"Tidak!! Aku tidak pernah mencium siapa pun!! Dan tidak akan pernah berciuman!!" geramnya, menekankan kata-katanya menggunakan suara bariton.


"Astaga!! Kalau begitu kita belajar bersama. Aku juga tidak pernah berciuman bibir!!" ucap Nindy tanpa malu, mengakui bibirnya masih original.


Gadis gila ini membuatku kehilangan kata-kata... kekesalan yang benar-benar diubun-ubun, dipendamnya.


***


Ditempat lain, Frans berjalan cepat di area kedatangan penumpang. Pernikahan masih berlangsung, Kenzo yang sempat di hubunginya juga terdengar baik-baik saja. Artinya dirinya belum mampus, masih memiliki kesempatan kabur.


Dengan cepat, Frans mengganti kartu handphonenya menghubungi Gilang.


"Halo, maaf ini siapa?" suara Gilang yang berada di seberang sana, terdengar.


"Aku Frans, kamu sudah berangkat ke tempat pernikahan Kenzo?" tanyanya.


"Belum, aku sebentar lagi sampai," jawabnya, masih dalam kondisi menyetir mobil.


"Amel Anggraini, aku sudah menemukan keberadaannya. Kita bicara di restauran Queen, aku tunggu sekarang..." ucap Frans, tidak ingin pernikahan majikannya terganggu sedikitpun.


"Tapi, acara Kenzo..." Gilang menginjak rem, menghentikan laju kendaraannya.


"Yang mana lebih penting bagimu, Amel atau Kenzo!?" tanya Frans menghentikan langkahnya masih berada di area sekitar bandara, menunggu jawaban Gilang.


"Aku ingin bertemu dengannya...aku akan segera ke restauran Queen," jawabnya mematikan panggilan sepihak.


Frans terdiam seketika, matannya memerah, menahan kesal dan tangis."Adik!? Dia bahkan menjawab tanpa ragu, mementingkan dirinya sendiri. Adik sialan!!"


Handphone di genggaman tangannya dibanting hingga hancur oleh Frans. Keluarga? Gilang dianggapnya adik, lalu bagaimana dengan seorang adik yang tidak pernah memikirkan kakaknya.


Kasih seorang kakak yang tidak sebanding dengan adiknya. Iba pada Kenzo yang terlalu menyayangi Gilang.


Bersambung