
Febria terdiam menatap ramainya hiruk-pikuk pesta pernikahan Scott yang diadakan di Singapura. Sudah hampir semua sudut dicarinya, namun Steven tetap tidak ditemukannya.
Amel dan Kenzo tidak terlihat disana, sejatinya mereka tengah mencari informasi tentang keberadaan Steven. Masa lalu? Sekeras apapun Kenzo berusaha mengingat, dirinya tidak mengetahui jaringan mafia mana dirinya membeli, atau dari mana Steven sebenarnya berasal.
Semua orang berpura-pura tersenyum di hadapan Febria. Membohonginya agar tidak ikut untuk mencari Steven, pesta pernikahan Scott, semua tetap diadakan dalam perasaan cemas yang melanda.
Hingga malam menjelang pesta resepsi pernikahan telah usai, Ferrell menghela napas kasar, tengah dipojokkan oleh adiknya sendiri. "Dimana Steven!?" bentaknya.
Ferrell mengepalkan tangannya, iba pada saudarinya yang memang hampir setiap waktunya di habisan dengan Steven,"Aku akan jujur... tapi tenangkan dirimu,"
"Iya... Steven dimana!?" tanya gadis kecil itu dengan mata berkaca-kaca.
"Dia harus pergi," Ferrell menunduk.
"Pergi kemana!?" teriak Febria yang mulai meneteskan air mata, tidak dapat menerima remaja yang paling menyayanginya tiba-tiba menghilang.
Ferrell berusaha agar tidak menangis, menatap wajah saudara kembarnya penuh keseriusan
"Sebenarnya Steven..."
"Steven sudah pergi terbang ke luar angkasa, dia adalah Ultraman. Jadi setelah monsternya mati, dia langsung terbang pergi. Agar tidak ditagih ganti rugi, karena menghancurkan beberapa gedung..." jawaban konyol dari Ferrell, bingung bagaimana harus mengatakan Steven pergi entah kemana.
Febria mengenyitkan keningnya kesal, menarik kerah kemeja kakaknya,"Jangan membohongiku!!"
Namun tiba-tiba, telinganya tiba-tiba ditarik oleh Amel. "Sakit!!" pekiknya.
"Mama memindahkan Steven ke negara lain! Diusia 7 tahun kamu sudah kehilangan ciuman pertamamu. Usia 18 tahun kamu sudah akan melahirkan banyak anak!! Jika mama tidak memisahkan kalian," komat-kamit mulut Amel menarik putrinya pergi.
Sedangkan kini Joe berdiri di dekat Ferrell, menghela napas kasar. Menatap kebohongan mamanya.
"Jadi Steven sudah ditemukan!?" tanya Ferrell.
Joe menggeleng, "Mama hanya membohongi Febria, agar dia tidak ikut mencari Steven. Atau tidak mau makan karena mencemaskannya. Aku bingung, apa pesona si brother complex..."
"Dia berkata dirinya adalah Ultraman, mungkin di suatu tempat Steven sedang melewan monster..." gumamannya, melangkah pergi bersama Joe.
***
Amel tetap menarik putrinya, menatap gedung acara resepsi yang telah sepi. Hingga langkahnya terhenti menatap seorang anak berkacamata, memakai jas serta dasi kupu-kupu, mungkin lebih tua satu tahun dari Ferrell dan Febria.
"Berikan salam! Dia teman bibimu, sekaligus istri dari bos papa. Namanya Amel..." ucap Frans tersenyum.
Sang anak sedikit menunduk,"Perkenalkan, namaku Hitoshi, anak papa Frans,"
Amel tertegun,"Frans, kamu punya anak?" tanyanya dengan wajah pucat.
"Iya, aku tidur dengan Aika saat kejadian dulu. Kami sama-sama terbawa suasana, setelah itu aku mencoba bertanggung jawab padanya. Selalu berakhir ditolak, ternyata anak inilah alasannya..." kesalnya berusaha tersenyum.
"Maksudnya?" tanya Amel tidak mengerti.
"Aika hamil, dia selaku pimpinan baru perusahaan, ayahnya takut jika menikah denganku, aku akan memanfaatkan situasi untuk mengambil alih perusahaannya. Karena itu, Aika menyembunyikan dirinya yang sedang hamil..." jawaban dari mulut Frans.
Amel menipiskan bibir menahan tawanya,"Jadi bagaimana kamu bisa bertemu dengan anakmu?"
***
Kenzo yang belum dapat mengingat banyak hal dan Amel yang masih saja harus tetap tinggal bersamanya. Membuat Frans mengambil alih lumayan banyak pekerjaan.
Hingga dirinya berangkat seorang diri ke Jepang setelah lebih dari 8 tahun lalu tidak pernah bertemu Aika. Jemari tangannya mengepal, kejadian malam itu masih saja terlintas dalam benak sang perjaka tua, maaf salah maksudnya bujangan tua. Mengingat usianya yang memang sudah diatas 40 tahun.
Benar-benar kejadian yang tidak disangkanya, kala pelukan untuk menghibur berubah menjadi sebuah ciuman memabukkan. Kala darahnya berdesir menyentuh tubuh wanita untuk pertama kalinya. Menjadi yang pertama untuk Aika? Sejatinya tidak, namun Aika-lah yang pertama untuknya.
Hingga tanpa sadar melakukannya berkali-kali, dalam satu malam. Seakan dirinya benar-benar mendambanya, tidak pernah puas. Dalam bimbingan wanita muda yang lebih berpengalaman darinya.
Benar-benar melakukan, sekaligus benar-benar indah. Ingin menjadikan seorang istri? Namun, usai kejadian malam itu, Aika menghindarinya entah kenapa. Tuan Hiasi juga, menutup diri untuk bertemu dengannya, lebih memilih bertemu dengan petinggi W&G Company yang lain.
Apa kesalahannya sebenarnya? Frans juga tidak mengerti, dirinya hanya ingin melamar Aika.
Namun, untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di negeri ini setelah kenyataan pahit lamarannya ditolak dahulu.
Frans menyeret kopernya, untuk pertama kalinya mewakili W&G Company, menggatikan CEO yang terlalu sibuk di kantor pusat. Sebuah mobil datang menjemputnya.
Frans menghela napas kasar, apa Aika merindukannya? Entahlah, tingkah Frans kali ini bagaikan anak SMU yang hendak menemui teman sekelas yang disukainya.
Wajah? Diusianya yang sekarang, bentuk tubuh ideal itu masih terlihat. Dengan wajah pria dewasanya yang menawan. Siapa yang menyangka Frans adalah produk tidak laku.
Hingga mobilnya terhenti di depan sebuah hotel tempat pertemuan bisnisnya nanti dengan perwakilan perusahaan milik Hiasi.
Bukan pertemuan resmi, hanya membicarakan beberapa proyek dalam kamar hotel.
Bukan Aika yang akan datang, setidaknya itulah isi fikirannya kala itu. Tidak menyadari, dirinya yang memang hampir tidak pernah menjadi perwakilan W&G Company, jika ada pertemuan bisnis di Jepang, membuat Aika leluasa bertemu dengan perwalian W&G Company lainnya. Hingga wanita itu tidak mengetahui yang kali ini datang adalah Frans.
Tanpa ragu, Aika memasuki kamar hotel membawa beberapa berkas kerjasama, duduk dengan tenang di sofa kamar tersebut. Menunggu gemericik suara air shower di kamar mandi terhenti, pertanda sang perwakilan W&G Company akan keluar.
Namun harum aroma maskulin tercium, seorang pria keluar menggunakan jubah mandinya.
Bentuk tubuh yang benar-benar membuat Aika kehilangan logikanya 8 tahun lalu, hingga melakukannya berkali-kali tanpa pengaman. Bergerak menuntunnya, tanpa kata-kata hanya dengan decapan bibir yang tiada henti.
Kini tubuh itu terlihat lagi, sama-sama saling menatap dalam keterkejutan dan hati yang bahagia entah kenapa. Namun fokus mereka hanya satu, cincin di jari manis.
Tidak ada di jemari Aika maupun Frans, dua orang yang memulai pembicaraan penuh perasaan canggung.
Frans berusaha seprofesional mungkin, menetralkan dirinya, duduk di hadapan Aika membaca beberapa berkas.
"Kerjasama proyek harus segera dilakukan, beberapa staf, apa kamu sudah membentuknya..." tapi tetap saja gagal fokus, menatap Aika yang diam tanpa berkedip.
"Kenapa diam!?" tanyanya dengan perasaan yang berdebar sama seperti dulu kala pengalaman pertama sekaligus satu-satunya pengalamannya terjadi.
"Bukan apa-apa..." ucap Aika tertunduk.
Namun, dengan cepat Frans mendekatinya, hendak membuktikan sesuatu. Apa Aika memiliki perasaan yang sama dengannya? Bibir itu diraihnya. Suatu keajaiban Aika merespon, saling mencicipi bibir dengan deru napas memburu.
"Aku mencintaimu ... untuk kesekian kalinya menikahlah denganku..." kata-kata dari mulut Frans dengan deru napas tidak teratur.
Aika tidak menjawab, namun mulai kembali membungkam bibir Frans, seolah sebuah kerinduan tersembunyi ada di sana.
Bersambung