
Iri dan dengki, menyenangkan merebut pasangan orang lain. Itulah yang ada dalam fikiran seorang Sera, mengaggap dirinya telah menang jika berhasil merebut pasangan orang lain, sebuah gangguan kepribadian yang memang dimilikinya. Wanita itu mengepalkan tangannya, sangat tidak menyukai pemandangan saat ini.
"Aku tidak bermaksud melukainya. Amel dengan sengaja menyiramku. George yang menyiram air kotor padanya..." dustanya, bergerak mendekat ingin merubah pendapat Kenzo tentang dirinya.
George tertunduk dengan gerakannya yang masih dikunci pengawal pribadi Kenzo. Inikah wanita karier mandiri yang dibanggakannya? Cindy tidak akan berbuat seperti ini, bahkan mengorbankan kariernya untuk keluarga. Tapi Sera? Begitu menemukan yang lebih baik dengan cepat berpaling.
Amel memilih tertunduk diam, apapun yang dikatakannya tidak akan ada yang percaya, Gilang, George, bahkan semua orang akan menganggap kata-kata dari wanita cantik itu akan lebih masuk akal. Daripada kata-katanya.
"Aku memberinya perintah untuk tidak membuat masalah selama aku pergi. Amel, aku mengenal sifatnya, dia tidak akan mengecewakanku..." kata-kata yang keluar dari mulut Kenzo.
Wanita gemuk itu membulatkan matanya, menatap ke arah pemuda rupawan disampingnya. Orang gila ini, benar-benar satu-satunya orang yang percaya padanya. Bahkan dirinya belum memberi penjelasan satu katapun.
"Tapi aku benar-benar..." kata-kata Sera terhenti. Kenzo bangkit mendekatinya, menyiram sekujur tubuhnya dengan sekaleng soda.
"Semenjak usia lima tahun, aku selalu berhadapan dengan wanita sepertimu. Bahkan wanita cantik yang lebih keji lagi. Siluman betina sepertimu ingin mengelabuiku?" tanyanya tertawa kecil menghina.
Lima tahun, kepahitan hidupnya dimulai pada usia itu. Kala Kinan benar-benar menghilang dari hidupnya, Nila yang selalu baik di depan Suki, memperlakukannya dengan buruk saat tidak ada orang yang melihat dengan dalih mendidik. Mengetahui rupa buruk sebenarnya dari seorang manusia, bukan hal yang sulit untuk Kenzo saat ini.
"Kamu tidak mengerti Amel hanya pura-pura baik. Kamu tidak melihat wajah munafiknya..." bentak Sera meninggikan intonasi suaranya, berusaha meyakinkan Kenzo.
Plak...
Suara tamparan yang cukup kencang terdengar."Aku ingin merobek mulutmu..."
Namun, tanpa diduga Amel ikut bangkit,"Jangan lakukan apapun padanya. Bagaimana jika polisi menangkap mu..." ucapnya mendekati Kenzo, terlihat cemas.
Kenzo menghela napas kasar, berusaha mentralkan emosinya. Menahan senyuman kebahagiaan dibibirnya. Amel takut dirinya terjerat hukum? Wanita itu peduli padanya. Entah kenapa Amel dapat mengendalikan perasaannya dengan mudah.
"Amel kamu peduli padanya? Dia yang menghancurkan rumah tangga Cindy..." tanya Kenzo memastikan.
Amel menggelengkan kepalanya,"Aku tidak peduli. Lakukan apapun, pada wanita sialan ini!! Asalkan kamu tidak terkena jeratan hukum..."
"Itu baru anak pintar..." Kenzo mengacak-acak rambutnya, melatih agar Amel tidak bersikap pasrah, memang cukup sulit. Namun, inilah langkah pertama, membimbingnya agar dapat melindungi diri sendiri.
"Ke... Kenzo, kita memang baru bertemu tapi...ta...tapi aku..." Sera gelagapan, memegang jemari tangannya, namun Kenzo menepisnya.
"Pesan narkotika atas nama Sera. Pastikan dia mengkonsumsinya, lepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian bebaskan dia di pasar atau mall," perintahnya.
Pengawal yang semula menahan pergerakan George mulai mendekati Sera. Menarik paksa wanita itu keluar ruangan, guna mengikuti perintah Kenzo.
Perintah yang benar-benar tidak manusiawi, melepaskan seorang wanita tanpa sehelai benangpun dalam keadaan sakau (terpengaruh zat adiktif) di tengah keramaian.
Keji bukan? Namun itu mungkin cukup pantas, entah berapa hubungan kekasih atau pernikahan yang pernah dirusak Sera. Mungkin George bukan yang pertama. Dengan begini, pria mana yang akan menganggapnya wanita baik-baik lagi? Tidak akan ada pria yang tertipu olehnya.
Jika tidak ada siaran TV setidaknya, pengunjung pasar atau mall akan merekam menyebarkan melalui media sosial.
Kenzo tidak semudah yang difikirkan Sera, hingga harapan satu-satunya untuk menolongnya adalah George.
"George tolong aku..." ucapnya kala ditarik paksa.
"Pavilion mall, jika tidak sesuai, akan aku kirimkan rekomendasi tempat lainnya dengan google map..." ucapnya tertunduk, air matanya mengalir. Derajat hidupnya diangkat oleh seorang wanita, dijatuhkan karena wanita juga.
"George!!" Sera berteriak dalam kekesalannya sebelum pintu tertutup sempurna.
"Bagaimana, kita jadi makan malam berdua?" tanya Kenzo, mendekati posisi Amel.
Namun respon aneh didapatkannya dari Amel,"Terimakasih sudah membelaku!! Terimakasih sudah pura-pura menyukaiku!!" ucapnya terharu, pada makhluk penindas dihadapannya.
Menyukainya? Panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume. Tentu saja Amel tidak akan percaya dengan wajah dan ukuran tubuhnya, Kenzo akan bersungguh-sungguh menyukainya, hanya dipermaikan atau iba. Penyebabnya, Amel tidak ingin terlalu percaya diri lagi, terlalu percaya diri merupakan hal yang menyakitkan. Membuat terpuruk ketika hanya mencintai di sebelah pihak.
"Bagaimana jika aku bersungguh-sungguh?" tanya Kenzo sedikit berbisik di telinga Amel, menggoda.
Jantung wanita gemuk itu hampir copot rasanya, berdebar cepat tidak karuan. Tidak ingin terpengaruh dengan rayuan yang dianggapnya hanya dari playboy. Dengan cepat Amel menghindar,"A...aku harus membersihkan pakaian dan rambutku!!" ucapnya gelagapan berjalan keluar ruangan.
***
Kenzo menghela napas kasar kembali duduk di kursi komisaris. Menatap tidak suka pada makhluk di hadapannya,"Kenapa diam saja?" tanyanya.
"Tolong segera beli saham perusahaan ini, aku..." George masih tertunduk, namun sejenak membulatkan matanya. Mengingat kata-kata Cindy yang ingin berinvestasi di W&G Company, dengan dalih memiliki koneksi orang dalam. Mengenal calon istri pemiliknya, seorang wanita gemuk dan kata-kata itu, terbukti.
"Aku adalah suami Cindy, dia kenal baik dengan..." kata-kata George terpotong.
"Amel memang mengenal Cindy, lalu kenapa? Dalam bisnis kita harus bertindak secara profesional bukan?" senyuman menyungging di bibir Kenzo.
"Tolong perusahaan ini, Cindy tidak akan senang jika perusahaan yang didirikan oleh ayahnya hancur," tercetus satu-satunya kalimat yang menjadi harapan George.
"Tidak tau malu, aku yang membawa Agam kembali ke sanatorium, saat putra kecilmu melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ayahnya yang sibuk bekerja, sejatinya sibuk melampiaskan hasratnya dengan wanita lain..." Kenzo tertawa kecil mencibir.
"Satu lagi, Cindy sendiri yang ingin aku menghancurkan FIG Group hingga ke akar-akarnya..." lanjutnya, hendak berjalan pergi meninggalkan ruangan.
George hanya dapat tertunduk diam, tidak satupun kata-kata yang keluar dari mulutnya. Menyadari semua akan segera hancur, semua miliknya akan lenyap.
Saham perusahaan yang akan terus turun? Siapa yang akan membelinya. Ditambah dengan tuntutan karyawan pabrik, meminta pertanggungjawaban perusahaan. Serta nilai kerugian besar akibat tuduhan plagiat. Laptop yang telah diproduksi massal tidak dapat dipasarkan. Semuanya runtuh dalam sekejap.
Jika diambil alih W&G Company, mereka dapat mengatasinya dengan mudah. Namun sekarang, Kenzo memalingkan wajahnya, menunggu FIG benar-benar pailit, baru mengambil alih.
George menghentikan langkah Kenzo,"Tunggu, aku tidak mengerti, sebagai pebisnis dimana kesalahanku!?"
Pria yang jauh muda darinya itu menghentikan langkahnya,"Kesalahan? Karyawan terbawah adalah kulit kaki yang kalian pijak. Memaksanya berlari tanpa henti, memaksanya melewati jalanan berkerikil. Lama kelamaan kulit telapak kaki tidak akan bertahan, membuat seluruh tubuh tidak berjalan lagi. Begitu juga perusahaan. Ayahku yang karyawan bawahan dengan bodohnya mati karena pemimpin-pemimpin perusahaan seperti kalian..."
***
Mobil mulai melaju, Kenzo menatap ke arah jendela mengingat Amel yang kembali ke villa tanpa menunggunya. Dirinya ke hotel terlebih dahulu, menyewa ruangan konferensi disana guna memberi instruksi pada beberapa orang yang akan memegang FIG Group. Sebagai anak cabang W&G Company nantinya.
Hujan deras turun disertai petir, Kenzo menghela napas berkali-kali. Sedangkan Frans meliriknya dari kursi penumpang disamping supir.
Di jidatnya tertulis, aku ditinggalkan pacarku seorang diri. Satu kata...galau... fikir Frans, menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Imposter kejam seperti Kenzo akhirnya menyukai seorang Amel.
"Tuan, soal Amel...apa anda bersungguh-sungguh?" tanyanya masih sulit percaya.
"Iya, tapi dia selalu menghindar. Bahkan selalu aku yang mulai menciumnya. Dia tidak pernah berinisiatif, apa aku jelek?" gumam Kenzo kembali menghela napasnya.
Berciuman? Makhluk yang anti wanita ini berciuman? Aku tidak salah dengar kan... Frans menggunakan jarinya memeriksa lubang telinganya sendiri kotor atau tidak.
"Menurutmu, apa aku harus memakai kacamata dan pome? Kawat gigi kelihatannya lumayan bagus..." gumamnya kembali masih berniat menggati penampilannya sesuai saran Nindy.
"Kenapa harus ganti penampilan? Anda sudah seperti trend fashion. Jika menjadi ambasador produk atau model profesional pun, pasti akan laku..." Frans mengenyitkan keningnya heran.
"Amel menyukai makhluk sejenis kutu buku..." satu jawaban dari Kenzo membuat Frans kehabisan kata-kata. Berkomentar pun rasanya tidak ada gunanya. Orang gila ini mencium wanita saja merupakan suatu keajaiban. Apalagi mengendalikan emosinya dengan mudah.
Satu kalimat... Amel merupakan anugerah yang diturunkan Tuhan untuk makhluk malang seperti Kenzo, walaupun berwujud Dugong. Seperti setiap racun, ada penawarnya.
Hingga mobil mulai terparkir di area depan villa, wajah pemuda itu masih suram. Membuka pintu besar utama di hadapannya.
Amel berdiri di area dapur yang terbuka, menyajikan beberapa makanan. Masih memakai celemeknya, wanita gemuk itu tersenyum.
"Terimakasih untuk hari ini, sudah membelaku..."
Raut wajah suram dari Kenzo berubah, pemuda itu seketika tersenyum dengan wajah cerah.
"Frans, tolong batalkan reservasi di restauran Itali..." ucapnya, berjalan mendekati Amel.
Setidaknya dia dapat bahagia... Frans menghela napas kasar, mengetahui dengan benar seberapa sulitnya hidup Kenzo.
Bersambung