
Ini benar-benar nyata, bocah ini memang benar-benar aneh. Gin menghela napas kasar, memungut kembali helm yang sebelumnya dijatuhkan olehnya.
"Glory, ibumu dan bibiku ingin kita pergi bersama. Setelah itu terserah kita akan melanjutkan perjodohan ini atau tidak. Kamu tau kan? Semakin menolak semakin mereka penasaran. Begini saja, terserah kamu akan pergi kemana hingga sore ini. Aku tidak akan melakukan apapun, kita hanya pergi bersama, kemudian menolak untuk dijodohkan karena tidak ada kecocokan," usulnya kembali menyodorkan helm.
Glory melirik pada Ken, baru saja mendapatkan pengakuan kenapa ada kejadian seperti ini? Kesal? Tentu saja, tapi yang dikatakan Gin kebenaran, jika dirinya menolak tanpa pernah mencoba keluar bersama, ibunya akan semakin penasaran. Mungkin berikutnya Ken tidak akan diijinkan untuk kembali ke rumahnya lagi.
Ferrell menghela napas kasar, mengacak-acak rambut Glory tersenyum,"Tolak perjodohan yang diminta ibumu. Dan saat pergi nanti jangan nakal, jangan genit," ucapnya mencubit hidung Glory.
"Ja... jadi kita pacaran?" tanya Glory gugup.
Ingin rasanya Ferrell tersenyum tertawa, kemudian melompat-lompat, gemas pada gadis genitnya. Sebagai Ferrell, Glory tidak pernah bersikap selugu penuh harap seperti saat ini, tapi Ken? Gadis ini bahkan menatap penuh harap untuk memastikan status sebagai pacar.
"Tentu," jawabnya tersenyum.
Tiba-tiba tubuhnya dipeluk refleks oleh Glory, namun sejenak gadis itu menjauh,"Maaf, aku pergi dulu," ucapnya malu-malu, menyelipkan rambut di telinganya.
Astaga Ferrell benar-benar gemas ingin menyambar bibirnya. Gadis lucu, manis dan lugu, itulah Glory gadis yang menolak seorang Ferrell.
"Kalian ingin membuatku menunggu pasangan yang pacaran disini?" Gin mengenyitkan keningnya kesal.
"Pergilah, dan jangan nakal! Katakan pada ibumu kamu tidak mau dijodohkan," Ferrell tersenyum dengan tidak tahu malunya mengambil helm dari tangan Gin, memakaikannya pada Glory. Sejenak mata mereka saling menatap, kala hendak memasang tali pengaman pada helm. Tersenyum penuh perasaan berdebar.
Tiba-tiba Rahwana berwajah Arjuna, menarik Sitha dari hadapan Rama. Maaf salah, tiba-tiba Gin menarik Glory dari hadapan Ferrell."Naik!! Dasar alay!! Jangan main drama disini!!" ucapnya menarik Glory naik ke atas motornya.
Hingga motor itu melaju, pasangan yang baru saja menyatakan perasaannya, melambaikan tangan dengan hati yang berbunga-bunga.
"Romantis..." gumam Ira kagum.
"Dia pakai dukun mana?" Budi menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
Sedangkan Caca menghela napas kasar,"Glory sudah benar-benar buta, penglihatannya terganggu,"
Lily terdiam sejenak menatap ke arah Ira,"Romantis? Kamu tidak tau saja, betapa brutal dan berbahayanya ciumannya dengan Ferrell. Dengan Ferrell terlihat bagaikan pasangan berbahaya saling mencintai, gadis polos dengan pria yang sulit ditebak. Sedangkan dengan Ken? Aku seperti melihat drama percintaan remaja lawas tahun 90-an,"
Empat sahabat yang sama-sama menghela napasnya, menatap sahabat mereka yang pada akhirnya saling jujur dengan perasaannya.
Hingga, Grisella mulai tersenyum menghina, melewati Ken,"Ternyata selera Glory serendah ini?" cibirnya.
Namun bukan sebagai pria sederhana pemuda itu bicara,"Lalu seleramu seperti apa? Menyebarkan kebohongan akan bertunangan dengan Ferrell? Apa kamu tau orang yang katanya tunanganmu ada dimana semalam?"
"Di...dia sibuk membuat lagu baru dan mengikuti operasi," jawab Grisella gugup.
"Salah, semalam dia bertukar ludah beberapa kali dengan wanita yang dicintainya, bahkan membawanya ke kamar pribadinya," bisiknya, mendekatkan wajahnya pada telinga Grisella."Apa yang akan terjadi jika Ferrell berakhir menikahi wanita lain? Pasti sangat memalukan..."
Wajah Grisella seketika pucat pasi, apa yang dikatakan orang ini adalah kebenaran? Tidak, tidak mungkin bahkan dirinya tidak mendapatkan informasi dimana keberadaan Ferrell yang tiba-tiba tidak pernah muncul di stasiun TV dari managernya.
"Jangan berbohong! Aku lebih tau tentang Ferrell!" ucapnya kesal.
"Terserah, aku cuma memperingatkan, agar kamu tidak malu sendiri nantinya." Ferrell berjalan mendekati teman-temannya yang menunggunya di depan gerbang.
Mengulangi masa SMU? Mungkin keputusan yang tepat diambil oleh kakeknya. Menjadi orang yang dicintai gadis centilnya.
Motor mulai melaju, namun Glory enggan berpegangan. Hingga Gin tersenyum, berbuat usil, memasukan gigi motornya, menambah kecepatan. Dan benar saja, gadis ini berpegangan di pinggangnya, barulah Gin menurunkan kecepatannya.
"Tadi itu pacarmu?" tanyanya.
"Kamu lihat sendiri kan? Kami baru saja pacaran!" jawab Glory ketus.
"Kenapa tidak menolaknya, walaupun tidak kaya aku punya motor, sedang dia tidak. Dari segi wajah pacarmu kalah jauh," cibirnya tersenyum, ingin menggoda remaja yang mungkin memiliki sifat yang sama dengan Grisella.
"Lalu? Ken itu baik, tidak pernah macam-macam, pintar, tidak begitu agresif. Setiap orang punya tipenya masing-masing, kebetulan tipeku adalah Ken," jawabnya penuh kebanggaan.
"Yakin?" Gin mengenyitkan keningnya.
"100%, tujuan pertama untuk berkeliling adalah bank!!" ucap Glory menentukan rute tanpa canggung sedikitpun.
"Siap kapten!!" entah kenapa Gin cukup terhibur, rasa yang berbeda bukan perasaan menggairahkan seperti dengan Grisella. Namun, perasaan yang polos dan tulus bagaikan cinta pertama.
Dirinya menunggu duduk di depan bank, beberapa saat kemudian Glory keluar usai membuat rekening tabungan dan deposito. Seperti kata-katanya Ferrell, itu untuk biaya kuliahnya, mungkin setelah bekerja nanti ingin dikembalikan diganti oleh Glory pada Ferrell.
"Ayo kita makan, aku lapar di depan ada cafe," ucap Gin bangkit dari tempatnya duduk, menunjuk sebuah cafe yang cukup ramai dipenuhi anak muda.
Glory tersenyum,"Kita makan di depan cafe saja," ucapnya yang memiliki kantong tipis.
Tempat mereka makan saat ini? Penjual bakso keliling, dengan air minum yang diambil Glory dari tasnya."Kenapa kita makan disini?" tanya Gin dengan mulut penuh.
"Jatah uang jajanku cuma 5000, ini juga sudah menghabiskan jatah dua hari uang jajanku. Aku tidak bisa mengikuti pesugihan lagi, jadi harus berhemat," jawabnya.
"Pesugihan? Memang bocah sepertimu mengikuti pesugihan seperti apa?" tanya Gin penasaran.
"Aku selalu diintai pangeran siluman aneh. Terkadang membawaku pergi menebarkan gambar presiden pertama Indonesia. Kamu percaya?" tanya Glory meminum airnya.
"Percaya, dasar anak kecil!!" ucapnya tertawa, mengacak-acak rambut Glory.
"Hentikan! Hanya Ken yang boleh melakukan ini!" tegasnya, merapikan kembali rambutnya.
"Iya!! Iya!! Pelit..." ucap Gin tersenyum, menatap wajah yang sejatinya cantik tanpa riasan.
Grisella hanya menyukai trend remaja saat ini tanpa ragu memasuki cafe atau restauran mahal, membuat kantongnya yang tipis menjerit. Tapi bocah ini berbeda, dia tidak malu untuk menjadi apa adanya. Bahkan tidak ingin tergantung oleh pria, jujur saja Gin tidak pernah memiliki kekasih sebelumnya selain Grisella yang hanya dipacarinya selama 6 bulan.
Cinta yang menyakitkan menurutnya, hidupnya tidak pernah tenang, setiap keluar dirinya tidak pernah makan, membiarkan hanya Grisella yang makan di cafe atau restauran mahal agar uangnya cukup. Awal mereka menjalin hubungan? Ini karena dirinya yang meminum minuman keras untuk pertama kalinya, berkenalan dengan Grisella di club'malam. Entah kenapa berakhir tidur dengannya.
Bermaksud bertanggung jawab dengan menjadi kekasihnya, menunggunya cukup umur untuk dinikahi, walaupun dirinya bukan yang pertama untuk Grisella. Namun hasilnya? Grisella diam-diam memiliki kekasih lain. Hubungan yang berakhir dalam 6 bulan.
Sedangkan Glory? Tidak buruk menurutnya. Gadis yang menyenangkan pilihan ibunya dan bibi Samun, seseorang yang dapat membuatnya tidak perlu menjaga image. Tidak punya uang? Ya sudah makan di pinggir jalan, tetap menyenangkan bukan? Pertemuan pertama yang tidak menjemukan.
Mungkin terkadang mata kaum ibu-ibu itu lebih jeli dari pada anaknya.
Bersambung