My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Ala



Beberapa hari kemudian...


Hari ini beberapa kerabat dan tetangga mereka undang untuk acara lamaran putri mereka. Menyetujuinya? Tentu saja, semua sudah dibicarakan. Janji suci yang akan diadakan esok harinya, usai lamaran, dengan pesta sederhana, sesuai keinginan Kamila.


Sederhana? Amel hanya tersenyum, dirinya akan mengadakan pesta sesederhana mungkin. Mengadakan pesta di dalam salah satu hotel tempat dirinya memiliki saham. Pastinya hotel berbintang lima, tidak perlu ada wartawan, tidak perlu ada artis bertaraf internasional, hanya cukup beberapa artis ibukota.


Katering dari koki yang didatangkan khusus dari luar negeri? Juga tidak perlu, cukup koki pribadi mereka, serta beberapa chief ternama. Gaun seharga jutaan dolar? Juga tidak perlu, cukup gaun yang didesign Nindy dan Brandon. Sebenarnya sama saja, harga aslinya sudah pasti fantastis. Resepsi yang cukup sederhana bukan?


Tapi dalam bayangan Kamila kata sederhana berarti gaun pengantin sewaan, tidak perlu katering, hanya menyewa seorang tukang masak dan beberapa saudara. Gedung? Diadakan di rumah saja, mengundang beberapa tetangga dan keluarga sudah cukup mewah. Resepsi yang sederhana bukan?


Kamila mengenakan make-up tebal dari penata rias salon dekat rumahnya, mengenakan kebaya. Sama dengan putrinya, sedangkan Hasan mengenakan kemeja batik.


Keluarga dari pihak pria masih dalam perjalanan, beberapa kue basah, teh dan kopi dihidangkan untuk keluarga dan tetangga yang menyaksikan acara lamaran.


"Pacarnya Glory orang mana? Bukannya yang sering naik motor bebek?" tanya salah seorang tetangga menyeruput kopi hitam.


"Itu keponakannya Samun, kata Samun keponakannya tiba-tiba membatalkan perjodohan karena sudah punya pacar General Manager hotel," jawab warga lainnya.


"Glory menikah dengan siapa? Siapa pacarnya? Gin mengatakan Glory juga sudah punya pacar, karena itu Glory juga menolak perjodohan," Samun yang baru datang, menyela pembicaraan mereka, terlihat antusias.


Mereka terdiam, tidak ada yang pernah datang ke rumah itu, kecuali teman Glory yang tatanan rambutnya mirip Superman, itupun sudah lama terjadi.


***


Kali ini terjadi kegaduhan, beberapa mobil mewah terparkir di bawah pohon kamboja. Satu-satunya lapangan luas terdekat untuk parkir di daerah itu. Tentu saja, lahan parkir tempat pemakaman.


"Ferrell, rumahnya dekat sini? Yakin dia manusia?" Steven mengenyitkan keningnya, menatap tempat mereka memarkirkan mobil. Lahan pemakaman nan luas.


"Rumahnya benar-benar dekat sini," Ferrell turun dari mobilnya, menata penampilannya.


"Apa kita perlu berkeliling makam mencari batu nisan dengan nama Glory? Mungkin kamu dijerat kuntilanak cantik..." ucap Steven, ikut turun mengenyitkan keningnya.


"Sesama makhluk halus jangan saling menyela, dasar siluman ular putih," cibir Ferrell.


Beberapa mobil mengikuti mereka, hanya kelurga saja dan beberapa pelayan yang membawa seserahan.


Mobil yang ikut terparkir di sana, Scott mengenyitkan keningnya menurunkan beberapa kotak kaca dengan berbagai macam hadiah dan perhiasan, memberikannya pada para pelayan untuk membawanya."Mama, apa kita harus membawa ini?" tanyanya tidak mengerti.


"Iya, ini yang biasanya mereka lakukan jika ingin menikah..." jawaban dari Amel.


"Sudah, ayo kita berangkat..." Kenzo tersenyum, menutup pintu mobil.


Rombongan wisatawan? Pejabat yang ingin menggusur tanah, tengah meninjau lokasi? Mungkin itulah yang ada di fikiran warga sekitar, hanya beberapa kotak kaca yang bertumpuk-tumpuk dibawa oleh empat orang pelayan pria profesional sebagai penanda mereka memiliki tujuan yang aneh.


Berasal dari beberapa ras, negara yang berbeda, berjalan beriringan. Mungkin hanya wajah Ferrell yang tidak asing bagi warga sekitar, sang selebriti idola yang sering tampil di TV.


Apa tujuan orang-orang ini kemari? Bahkan di bagian paling belakang beberapa pengawal Steven berjaga-jaga lengkap membawa senjatanya.


"Masuk ke gang?" Joe menghela napasnya, menggandeng tangan istrinya.


"Hanya masuk ke gang! Saat pernikahanmu, aku bahkan menempuh perjalanan Inggris- California..." cibir Ferrell yang sudah tidak sabar lagi menatap wajah gadis genitnya.


***


Tidak ada acara seperti biasanya, rangkaian music dengan beberapa orang memakai pakaian warna-warni, membawa seserahan.


Apa saja isi kotak kaca tersebut? Semua hadiah dari saudara-saudaranya. Set perhiasan berlian, tas bernilai ratusan ribu dolar, guci antik bersejarah bernilai tinggi yang dibeli dari pelelangan, tiket bulan madu ke beberapa negara, serta sertifikat sebuah villa.


Tapi kedatangan mereka bagaikan rombongan orang-orang tidak beres. Beberapa pengawal bersenjata laras panjang, memakai earphone. Menjaga keamanan Steven menjadi tujuan mereka. Sedangkan pengawal pribadi Kenzo, hanya beberapa orang yang menyamar.


Mengapa harus membawa pengawal? Agar terlihat lebih keren... maaf salah, maksudnya Steven dan Eden memang dijaga ketat oleh kelompoknya walaupun semua anggotanya telah menjadi pegawai perusahaan.


Namun, keamanan Steven dan Eden, sama dengan keamanan hidup mereka. Jika Steven dan Eden tidak ada, maka mereka akan dengan mudah dihabisi oleh kelompok lain yang ingin membalas dendam. Mengingat Dark Wild, sudah tidak ada.


Sedangkan Kenzo, memang sejak awal mengirim pengawal untuk mengawasi diam-diam istri dan anak-anaknya. Kemana mereka pergi maka pengawal profesional milik Kenzo juga akan ada di sana.


"Wilayah rumah kita mau digusur ya?" tanya salah seorang warga, menatap orang-orang yang datang, termasuk pengawal ber-jas dengan badan tegap. Mulai berdiri memasang posisi mengamankan lokasi. Berbicara menggunakan bahasa asing menggunakan earphonenya.


Entahlah... sulit untuk berkata-kata, selalu heboh di setiap kedatangannya. Tidak bisakah mereka membuat acara lamaran yang biasa? Tentu saja tidak...


Kegaduhan yang terdengar membuat Glory dan keluarganya keluar dari ruang tamu. Menyambut kedatangan keluarga calon mempelai pria.


Kenzo yang berada paling depan mulai berucap,"Aku tidak tau cara meminta seorang anak gadis dari kedua orang tuanya. Karena itu, aku ingin meminta putri kalian untuk putraku, kami akan menganggapnya seperti putri kami sendiri..." ucapnya menunduk, kemudian kembali mengangkat wajahnya.


"Ganteng..." salah seorang gadis tetangga sebelah berucap, menatap ke arah Kenzo.


Plak...


Wanita paruh baya yang berdiri di sampingnya memukul kepalanya."Dari caranya bicara, dia ayah dari calon suami Glory!!"


"Om-om tapi wajahnya masih muda? Om cintai aku om...!!" gumamnya, dengan cepat ibunya menarik telinganya, agar meninggalkan tempat acara sebelum mempermalukan dirinya sendiri.


"Sebenarnya acara lamaran, bukan..." kata-kata Kamila yang ingin menjelaskan, disela oleh Hasan.


"Silahkan masuk, kita bicarakan di dalam," ucap Hasan.


Kenzo mengangguk, melangkah diikuti anak-anak dan menantunya. Sedangkan para pelayan profesional masih memakai jas hitam mereka, membawa beberapa kotak berisikan seserahan bernilai tinggi.


Ruang tamu yang cukup sempit membuat beberapa tetangga hanya diam di halaman rumah tidak mendengar pembicaraan ke dua keluarga.


"Jadi mobil Ferrell berhenti di depan gang karena menurunkan Glory?" pemilik warung kopi depan gang yang juga hadir, mengenyitkan keningnya.


"Sepertinya begitu, padahal aku ingin Glory menjadi anggota keluarga besarku..." Samun menghela napas kasar.


"Apa kelebihan Glory? Bukannya Glory selalu kalah bersaing dengan Grisella?" tanya pemilik warung kopi.


Samun menggeleng,"Glory tidak pernah kalah dari Grisella. Hanya saja, pihak sekolah yang terlalu sungkan pada Erlang. Sekarang kamu lihat sendiri kan? Keluarga kalangan atas bahkan bersedia melamar Glory untuk putra mereka. Memasuki keluarga konglomerat, sudah pasti sulit, mereka juga pasti akan lebih selektif memilih anggota keluarga baru mereka..."


"Lalu?" Pemilik warung kopi terlihat tidak mengerti.


"Glory masuk ke dalam kriteria mereka, entah karena kecerdasan, prilaku baik ... atau..." kata-kata Samun terhenti sejenak.


"Atau apa?" tanya sang pemilik warung kopi penasaran.


"Atau Glory adalah putri yang tertukar dari keluarga kaya, yang dari kecil dijodohkan dengan Ferrell..." pada akhirnya itulah jawaban Samun, korban dari sinetron stripping dengan episode ribuan. Dan ajaibnya sang pemilik warung kopi ikut mengangguk, menatap ke arah wajah Glory yang terlihat kontras dengan ayahnya, Hasan.


Bersambung