My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Menjerumuskan



Satu jam berlalu, tepat pada jam 00.00. Kenzo mulai melangkah turun, berjalan menuju area depan villanya.


"Tuan..." security menunduk memberi hormat.


"Sttt..." Kenzo mengacungkan jari telunjuknya, seolah meminta sang security memelankan suaranya.


Gerbang kembali terbuka, terlihat Amel tertidur pulas di kursi pengemudi. Pintu dibukanya, kunci mobil diraihnya, diberikan pada sang security."Parkiran mobilnya..." perintahnya, sembari mengangkat tubuh Amel.


Pemuda itu tersenyum, cantik? Benar-benar cantik, dengan rambut hitam sedikit bergelombang, kecantikan tanpa celah. Apa ini benar-benar istrinya? Wanita yang mencintainya dengan kecemburuan yang manis, selalu mengharapkan hukuman darinya, menunggunya selama 7 tahun dengan tulus.


Apa yang membuat dirinya begitu mencintai Amel dahulu? Giok langka yang tertutup lumpur, diukir dan dibentuk olehnya. Bagaimana dirinya dapat mencintai Amel? Wanita yang dihindari semua pria?


Entahlah, Kenzo tidak ingat apapun. Namun yang dirinya ingat wajah gemuk yang terlihat tidur dengan tenang, wanita gemuk yang membuat hatinya berdebar. Pria dingin yang diluluhkan oleh Dugong, hingga mampu berciuman di tengah dinginnya air kolam renang.


Bukan karena rupanya yang menawan, tapi satu-satunya miliknya dari awal, keajaiban yang didapatkannya di kehidupannya yang dahulu begitu sepi. Mencintai seorang wanita berhati baik dengan senyuman hangat.


Tubuh Amel di baringkannya, baterai jam dinding dan jam tangan ada di atas meja. Bahkan handphonenya diatur dalam kondisi waktu yang janggal.


Kenzo mulai berbaring di sampingnya, tersenyum menatap wajahnya. Hingga perlahan Amel menggeliat membuka matanya. Wajah suaminya terlihat juga. "Kenapa aku disini? Ini jam berapa?" tanyanya, mengamati keadaan yang masih gelap.


"Pukul 12 siang..." bisiknya, mulai mencium bibir Amel, tersenyum menatap matanya.


"Jangan berbohong, ini..." kata-kata Amel disela.


"Jam dinding, jam tangan, bahkan waktu di phoncellku pukul 12 siang..." napas Kenzo dengan bau mint menyengat, menerpa lehernya. Menjalarkan bibirnya, bagaikan menari disana.


Amel tertawa kecil,"Kamu yang mengatur semua jam?" tanyanya.


"Iya... semua jam yang ada di rumah ini. Jika ingin dihukum, ayo kita lakukan..." ucapnya dengan wajah tepat berada diatas wajah Amel hanya berjarak beberapa sentimeter saja.


"Kita melakukan hal lain, kali ini. Ini hukuman karena sudah curang mengatur waktu..." gumam Amel tersenyum, membalik posisi mereka.


Kenzo, berbaring menatap wajah istrinya. Bibirnya mulai dijelajahi, tangan nakal istrinya membuka kancing piama satu-persatu, menyentuh otot-otot perut dan dadanya.


"Aku tidak dapat menginginkan orang lain, hanya dapat menginginkanmu..." ucap Kenzo dengan deru napas tidak teratur. Napas yang sama-sama saling beradu kala, ciuman panjang mereka terlepas.


"Aku juga...hanya menginginkanmu..." ucapnya.


Pakaian itu mulai tanggal satu persatu, menuntun mereka untuk mencari kehangatan. Terburu-buru? Tidak mereka melakukannya perlahan, lagipula walaupun langit gelap bintang masih berada disana. Walaupun semua jam di villa menunjukkan pukul 12 siang.


Hingga waktu berlalu, pasangan yang saling berpelukan tanpa sehelai benangpun yang melekat ditubuhnya. Dinginnya udara di sekitar villa tertutup selimut tebal yang menghangatkan mereka. Tubuh halus yang masih saling mendekap, kala mereka telah benar-benar lelah.


"Sudah lelah? Yakin tidak ingin mengambil semua hukumanmu?" tanyanya tersenyum, memeluk istrinya erat.


"Aku tidak mau mengambil semua hukumanku sekarang. Kamu bekerja, aku juga harus menjemput berang-berang di hotel. Kalau aku kesulitan berjalan..." kata-kata Amel terpotong.


Kenzo mengecup keningnya,"Terimakasih, terimakasih masih menungguku..."


"Tidak ada pria yang dapat menggantikan Kenzo-ku..." ucapnya. Hingga bibirnya tiba-tiba dibungkam, ciuman hangat yang memabukkan, membuat matanya terpejam sesaat. Tangan pemuda itu begitu lihai memanjakannya.


Tanpa disadarinya, tubuh mereka telah kembali menyatu."Uggh... Kenzo?"


"Hanya sekali lagi, masih tersisa 10 hukuman untuk besok, dan lusa... setelah ini kita tidur ... aku janji" bisiknya.


Amel tersenyum, kemudian mengangguk mengalungkan tangannya. Hingga tubuhnya mereka mulai bergerak beriringan. Suara racauan kembali terdengar. Hingga getaran terakhir terasa. Terdiam dalam napas beradu beberapa saat.


"Aku mencintaimu..." kata itu terulang lagi, mengantar pasangan itu dalam tidur penuh senyuman.


***


Adegan romantis di pagi hari? Tidak ada...


"Kenzo dimana phoncellku?" Amel terlihat panik.


"Di atas meja dalam tas..." Kenzo bahkan lebih parah lagi, baru selesai membersihkan dirinya, tengah mengenakan seragam pegawai bagaian pemeliharaan gedung.


"Aku berangkat..." Amel yang telah rapi, mengambil tas dan kunci mobilnya. Padahal jam di phoncell Amel masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi.


"Hirup napasmu dalam-dalam, jangan terburu-buru, tenanglah... Aku tidak ingin ditinggalkan olehmu karena kecelakaan lalu lintas..." gumamnya, mengecup bibir istrinya. Hanya kecupan singkat.


"A...aku berangkat..." hati Amel berdebar cepat, walaupun telah memiliki 2 orang anak rasa gugup itu masih ada.


"Hati-hatilah... dan tenang, karena sore nanti kita harus bertemu di rumah," ucapnya tersenyum.


Amel mengangguk, pergi dengan hati berbunga-bunga, bagaikan kakinya tidak menapaki bumi lagi.


Sedangkan Kenzo, mulai mengganti pakaiannya. Tersenyum menatap wajahnya di cermin. Dirinya memang tidak mengenal Dava, tidak mengetahui banyak tentangnya.


Tapi menaruh narkotika dalam minuman orang yang baik padamu? Benar-benar hal gila, phoncell diraihnya, menghubungi seseorang, memasang mode load speaker.


"Tuan..." jawab seseorang diseberang sana.


"Frans sedang pergi mengurus kerjasama bisnis di Jepang. Katanya aku dapat mengandalkanmu untuk melakukan apapun. Cari informasi tentang seseorang bernama Dava dan Kiki. Riwayat kesehatan, musuh, masa lalu... jangan sampai ada yang terlewat. Lusa bawa hasil penyelidikanmu ke villa..." ucapnya, mulai mengenakan sepatunya.


"Baik, tuan..." seseorang di seberang sana, mematikan panggilannya, tanpa mengeluh.


"Lumayan kompeten," Kenzo tersenyum, meraih tas ranselnya.


Beberapa kali pemuda itu menguap akibat menunggu kepulangan istrinya. Mereka hanya tidur beberapa jam saja, mengingat aktivitas pagi yang lumayan padat.


Bau harum masakan tercium, nasi goreng seafood disajikan Vanya dan seorang koki. Seperti perintah Amel pada koki villa, untuk membuat makanan seusai keinginan Vanya. Hingga Kenzo mulai duduk, meminum secangkir kopi, melihat berita internasional melalui tab-nya.


Sosoknya bagaikan hampir kembali seperti dahulu.


"Jaga kesehatanmu..." Vanya menyendokan nasi goreng ke piringnya.


"Terimakasih," Kenzo kembali tersenyum, mulai memakan masakan buatan ibunya.


"Amel berpesan padamu, pulang kerja langsunglah istirahat. Saat berangkat biar supir yang mengantarmu agar bisa tidur di mobil..." ucapnya mulai ikut duduk.


Kenzo tiba-tiba menoleh pada Vanya, ingin rasanya tertawa, tersenyum, bahkan melompat hanya mendengar kata-kata perhatian dari istrinya. Beginikah rasanya jatuh cinta? Tapi dirinya tiba-tiba merindukan Amel. Bagaimana dia bisa berpisah dengan Amel selama 7 tahun? Sedangkan belum ada 40 menit dirinya sudah seperti ini... menderita...


Hingga satu benda lagi keluar,"Ini kotak bekalmu. Dia menyiapkannya dalam waktu 30 menit. Hebat kan?" puji Vanya.


Dengan perasaan berdebar Kenzo kembali membukanya. Dan benar saja, nasi putih yang sebelumnya telah dimasak koki, lagi-lagi dibentuk hati oleh istrinya.


Udang yang dimasak dengan saus dan beberapa bumbu ala masakan cina yang tidak begitu banyak menggunakan rempah, di tata berhadapan dengan bentuk hati serupa, dengan sedikit irisan beberapa sayuran. Bahkan salad yang berada dalam kotak terpisah, diberi mayonaise berbentuk hati.


"Ibu, menantumu membuat putramu jadi bertambah gila setiap harinya..." gumamnya, bingung dengan kemanisan tingkat tinggi yang ditunjukkan istrinya.


Agenda Amel pagi ini? Tentu saja meninjau beberapa aset, serta menyenangkan hidup Diah. Membuatnya terbiasa, terbuai dengan kehidupan glamor sosialita dalam artian negatif.


***


Diah mulai membuka matanya, mendapati pemuda itu tersenyum meletakkan dua cangkir kopi diatas meja.


"Tan...aku menyukaimu, tante sangat cantik," kata-kata maut dari sang pemuda, membuatnya tersenyum.


Tidak menghiraukan, panggilan di phonecellnya. Suara bising yang tidak dipedulikannya, kala sang pemuda membawanya ke kamar mandi hotel. Saling membersihkan dan saling memuaskan.


Virgo, itulah nama yang tertera menunggu sang istri mengangkat panggilannya. Istri yang tengah dipuaskan oleh pria lain.


Hingga pukul 10 siang barulah Diah check out, malam yang tidak dapat dilupakan olehnya. Dirinya merasa lebih muda dengan berbagai pujian ketika tumbuhnya dipuaskan.


Tidak menyadari perbuatan yang perlahan akan menjadi sebuah kebiasaan. Ketagihan mencicipi tubuh pria selain suaminya.


Tin...tin...


Amel menjemputnya, menatap Diah yang melangkah dengan ragu, menutupi lehernya dengan syal."Orang-orang menyalahkan iblis yang menggoda mereka untuk berbuat dosa. Tidak menyadari kesalahan terbesar, ada pada diri mereka sendiri, tidak memiliki iman dan prinsip yang kuat..." cibirnya, tersenyum sinis.


Amel mulai keluar dari mobil menghampiri Diah,"Tante..." ucapnya tersenyum seperti biasanya seolah tidak mengetahui apapun.


Bersambung