My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Malam Pertama



"Kamu yang selingkuh!! Tapi kenapa jadi aku yang salah!!" ucapnya menitikkan air mata, melempar sebuah buku design ke lantai.


"Selingkuh?" tanyanya tidak mengerti.


"Iya!! Wanita yang berciuman denganmu di tempat parkir apartemen!! Kamu fikir aku tidak tau!? Dua tahun!! Dua tahun, kita berciuman juga bisa dihitung dengan jari!!" bentaknya dengan air mata mengalir tiada henti. Menumpahkan emosinya yang terpendam selama ini.


Jemari tangan Brandon gemetar, perlahan tersenyum. Jadi Nindy tidak menyerah untuk menunggunya?


Brandon mendekatkan tubuhnya, jemari tangannya bergerak menyentuh pipi mantan kekasihnya yang basah. Air mata itu mengalir tidak tertahankan.


"Maaf..." Brandon mendekap tubuhnya erat,"Aku tidak pernah mencium wanita maupun kecuali menciumu. Wanita itu, aku hanya memegang pipinya, mengira dirinya adalah dirimu. Tentang kepergianku, ayahku mengalami kecelakaan kakinya patah, tidak ada yang mengurus butikku di Singapura. A...aku juga berusaha berobat pada psikiater.."


"Jangan menangis..." lanjutnya mendekap lebih erat.


Salah paham? Tapi jika difikir-fikir memang benar, Brandon terkadang masih mual ketika berciuman dengannya. Dari pagi hingga menjelang malam bersamanya di butik. Hampir tidak memiliki waktu sendiri, jadi hubungan mereka berakhir hanya karena salah paham? Betapa bodohnya...


"Aku mencintaimu... masih mencintaimu," Brandon tersenyum, melonggarkan pelukannya, mata itu ditatapnya dalam-dalam. Hingga entah siapa yang memulai dua pasang mata yang mulai terpejam.


Bibir dingin itu mulai bersentuhan, saling mengecup pelan. Menjelajahi sedikit demi sedikit, kadang dua pasang mata saling terbuka, melanjutkan perlahan. Tangannya mengalung pada leher pemuda yang lebih tinggi darinya. Begitu pula Brandon, tangannya melingkar di pinggang gadis itu.


Kecupan-kecupan yang perlahan berubah menjadi ciuman dalam. Lidah yang saling membelit,"Aku akan menikahimu..." ucapnya dalam sapuan napas tidak teratur.


"Em..." jawab Nindy mengiyakan. Dengan bibirnya yang kembali di bungkam. Tangan gadis nakal, yang merayap melepaskan kancing kemeja sang pemuda satu-persatu. Menjalarkan tangannya menyentuh dada bidang di hadapannya.


"Kamu menginginkannya?" bisik Brandon dengan deru napas tidak teratur.


"Apa kamu bisa?" tanyanya mengecup leher Brandon.


"Tidak tau..." jawaban dari mulutnya, memijit pelan benda yang ada di hadapannya. Yang masih berbalut pakaian lengkap.


"Aku ingin tau, sampai sejauh mana. Kita dapat melakukannya..." ucap Nindy, dengan deru napas tidak teratur. Memejamkan matanya sejenak, menikmati pijatan pelan dari kekasihnya. Hingga dua kancing dibukanya, memasukkan tangannya lebih dalam membuat Nindy semakin menggila.


***


Sementara itu di tempat lain, tepatnya apartemen yang ditempati Glen. Seorang pria paruh baya, duduk di hadapannya saat ini, menatap tidak suka.


"Anda siapa?" Glen mengenyitkan keningnya.


"Namaku Wilson, ayah Brandon..." jawabnya, dengan mata menelisik, menatap halangan utama putranya untuk memproduksi cucu.


"Owh... ayah si puding warna-warni..." ucap Glen menatap lebih tajam lagi. Mengingat bagaimana Nindy menangis karena patah hati.


"Kenapa kamu menghalangi hubungan adikmu dan putraku," Wilson terdiam sejenak, mengenyitkan keningnya,"Apa kamu menderita brother complex (menyukai adik sediri)?"


Glen yang baru mulai meminum air dingin, mendinginkan otaknya yang panas, terbatuk-batuk akibat terkejut."Brother complex!? Aku mempunyai dua orang adik perempuan!! Aku yang menjaga mereka dari kecil!! Tentu saja aku tidak rela jika mereka mendapatkan pria yang buruk!!"


"Apa yang kurang dari Brandon? Memiliki usaha sendiri, wajahnya tampan, pemegang sabuk hitam bela diri!!" kesal Wilson.


"Dia dibawah standarku, standar tertinggiku adalah almarhum adik iparku yang meninggal 3 tahun lalu!! Tampan, mapan, pintar, dapat membahagiakan dan melindungi adikku Amel. Aku hanya akan mengijinkan Nindy menikah jika menemukan pria seperti almarhum adik iparku, yang rela melakukan apapun untuk membahagiakannya..." ucap Glen tegas.


"Jadi karena itu, kamu mengikuti mereka di setiap kencannya?" Wilson mengenyitkan keningnya. Dijawab dengan anggukan oleh Glen."Pantas saja, almarhum adik iparmu mati. Mungkin dia terlalu jengkel memiliki kakak ipar sepertimu..."


"Apa?" Wilson mengenyitkan keningnya.


"Jika mereka hanya berdua tanpa ada orang di dekat mereka. Nindy akan menjadi agresif dan Brandon yang memiliki gangguan psikologis, akan dengan mudah mengikuti. Bahkan bersikap liar..." jawaban aneh dari mulut Glen.


"A... apa maksudnya?" pria paruh baya itu, semakin tertarik, bagaimana pisang lembek dapat menjadi agresif.


"Mereka mulai pacaran, sambil berbuat mesum di toilet rumah ini. Jika cuma sekali masih bisa dimaklumi, beberapa hari kemudian setelah resmi pacaran, mobil pink putramu bergerak di tempat parkir. Ketika aku mengintipnya, Nindy sedang melepaskan kaos yang dipakai Brandon..." jelasnya, berbicara hal yang sebenarnya terjadi.


"Ta ...tapi Brandon bilang dia terkadang masih muntah," ucap Wilson gelagapan.


"Iya kalau Nindy tidak berhasil melumpuhkan kesadarannya. Tapi jika kesadaran Brandon sudah dilumpuhkan, mereka sama saja... dasar pasangan mesum..." cibir Glen.


"Mereka sedang berdua, apa mereka sedang melakukannya?" gumam Wilson, tidak menyangka tentang bagaimana sebenarnya kedua insan aneh itu.


"Brandon disini!?" ucapnya meraih kunci mobil.


***


Brak...


Pintu ruangan Brandon yang terkunci di dobrak, dan benar saja pasangan mesum itu seketika melepaskan tautan bibir mereka. Dengan pakaian yang tidak rapi. Dengan cepat mengancingkan kemeja mereka gelagapan.


"Kakak..." Nindy tersenyum, memperhatikan deretan gigi putih ala Pepsodentnya.


Tapi seperti sudah diduga kakak yang posesif itu marah besar. Menarik telinga adiknya sendiri,"Dimana harga dirimu sebagai seorang wanita!? Baru bertemu sudah menggodanya untuk berbuat mesum!?" ucapnya komat-kamit mengomel."Apa tidak bisa jaga sikap sedikit saja!? Tumbukan harga diri dalam hatimu. Dia pergi ke Singapura meninggalkanmu tanpa sebab,"


"Sakit..." pekiknya, dengan telinga masih di tarik.


"Tunggu!! Aku akan menikahinya..." Brandon berjalan mendekat mengepalkan tangannya, mengambil keputusan penuh tekad.


"Kamu? Memang kamu puding warna-warni punya apa? Bagaimana kamu bisa membuktikan suatu hari nanti tidak akan meninggalkan adikku?" tanya Glen menghentikan langkahnya.


"Kita buat perjanjian pra nikah, jika aku membuat Nindy menangis sekali saja. Maka seluruh sahamku di butik ini akan menjadi miliknya. Aku juga akan berpisah darinya, tidak akan bertemu dengannya lagi..." ucapnya penuh kesungguhan.


"Brandon..." terharu? Tentu saja, Nindy menepis tangan Glen yang menarik telinganya. Berjalan hendak memeluk kekasihnya, namun dengan cepat leher pakaian bagian belakangnya ditarik oleh Glen. Menghentikan langkah adiknya.


"Benar tidak akan membuatnya menangis?" tanya Glen memastikan. Dijawab dengan anggukan oleh Brandon.


"Baik, tapi malam pertama Nindy tidak mungkin, tidak menangis mengeluarkan air mata karena kesakitan. Jadi setelah malam pertama kalian harus berpisah..." Glen menipiskan bibir menahan tawanya.


"Kakak!!"


Bersambung


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€Promosi!! Sudah rilis novel baru judulnya "Ketika Istriku Menyerah"... semoga suka, alur time travel ( perjalanan/pengulangan waktu)