
Hugo yang kembali membawa dua paperbag penuh oleh-oleh untuk calon anak-anak tirinya, mengenyitkan keningnya kesal. Mengingat, banyaknya lintah yang melekat di kakinya, serta harus berenang dengan cepat mengindari anakan buaya yang hendak menggigitnya. Sungguh jika dirinya tidak tangguh, akan mengalami cidera akibat membersihkan kolam ikan luas yang dipenuhi predator.
Kolam ikan yang bagaikan sungai miniatur pedalaman hutan Amazon.
"Kamu pengasuh kedua anak Amel kan? Kebetulan aku calon majikanmu. Terimakasih sarannya untuk membersihkan kolam ikan ..." ucapnya tersenyum. Sangat lafal wajah Dava yang mengaku-ngaku sebagai kerabat jauh Amel sekaligus pengasuh Ferrell dan Febria.
"Setahuku suami Amel masih hidup. Jadi..." senyuman di wajah Kenzo pudar, kala Hugo menyela kata-katanya.
"Dia sudah meninggal, namamu Dava bukan? Sebagai kerabat Amel sekaligus pengasuh Ferrell dan Febria seharusnya kamu membantu ibu dan anak itu menerima kepergian ayah mereka..." ucap Hugo menatap tajam.
"Ayah mereka hanya terjatuh dari kapal cargo, belum tentu meninggal bukan?" jawab Kenzo tersenyum tenang.
"Sudah 7 tahun, Amel merahasiakan kematian suaminya dari media. Bersikap seolah-olah suaminya masih ada, syukurlah dia memiliki teman sekaligus asisten seperti Frans, yang ingin mendekatkan kami. Agar Amel dan anak-anaknya tidak terus terpuruk..." Hugo masih menatap dengan wajah arogan tidak sukanya.
Kenzo mengenyitkan keningnya, dalam ingatannya yang tidak lengkap, dirinya memang menghubungi seseorang bernama Frans. Sebelum menjatuhkan diri ke laut, tapi siapa Frans sebenarnya?
"Frans siapa?" Kenzo berusaha tersenyum.
"Kamu kerabat Amel tapi tidak mengenal Frans?" tanya Hugo penuh cemooh menatap sinis."Frans..." panggilnya.
Frans yang mengendap-endap hendak melarikan diri masuk ke dalam mobilnya, dengan terpaksa menghentikan langkahnya.
Sial!! Kenzo lebih mengerikan dari Hugo. Tapi Amel berkata dia tidak ingat apapun, berarti Hugo lebih mengerikan... tinggal pilih mati sekarang dengan berpihak pada Kenzo atau mati nanti dengan berpihak pada Hugo... gumamnya dalam hati mulai berfikir.
Masa bodoh! Yang penting hari ini selamat dulu, besok cari jalan lain untuk kabur... keputusan yang diambilnya, Frans mulai tersenyum.
"Jadi kamu Dava pengasuh Ferrell dan Febria?" Frans kembali berjalan mendekati mereka yang berada di teras.
Kenzo maaf... setelah ingatanmu kembali kamu boleh bebas menghajarku... aku akan bersimpuh minta maaf, saat itu... batin Frans.
Asisten? Asistenku tidak mengenali wajahku atau pura-pura tidak kenal... Kenzo menahan kekesalannya dengan senyuman.
"Iya," jawab Kenzo masih setia tersenyum.
"Minggir!! Aku calon majikanmu!! Jadi aku bebas untuk masuk..." Hugo menatap tajam padanya.
Kenzo menghela napas kasar, berusaha tersenyum, mengikuti langkah Hugo dan Frans.
"Paman Hugo!!" Febria yang masih kesal pada ayahnya, berlari memeluk Hugo dengan sengaja.
"Sayang, ini oleh-oleh untukmu, Ferrell, Scott, dan Steven..." ucapnya memberikan sogokan berupa dua buah paperbag dipenuhi barang-barang mahal.
Satu persatu dibagikan Febria, sebuah jam tangan bermerek untuk Scott, earphone yang terlihat di buat khusus untuk Steven, pakaian untuk Febria dan miniatur kapal pajangan lengkap dengan skalanya untuk Ferrell.
Royal? Pemuda itu benar-benar royal, Amel diliriknya, 36D itu tidak lepas dari penglihatannya. Kesal? Tentu saja, suami mana yang tidak kesal kala istrinya diinginkan oleh pria lain.
"Untuk Amel, oleh-olehnya adalah diriku sendiri," ucap Hugo penuh percaya diri. Amel yang tengah menikmati sarapannya, tiba-tiba terbatuk-batuk, tersedak.
Cukup!! Ini sudah cukup... Kenzo menghela napas kasar mulai duduk di samping Amel.
"Tidak perlu, karena Amel memilikiku sebagai pria simpanannya. Iya kan sayang..." ucapnya merangkul pinggang istrinya.
"I...iya..." Amel mulai tertawa gugup, gugup? Tentu saja, entah kenapa bukan nyaman namun aura kemarahan menyengat dalam senyuman Kenzo terasa.
"Amel!! Kenzo, suamimu sudah tenang disana! Kamu tidak ingin, aku mendekatimu, dengan berpura-pura mengandalkan saudara jauhmu kan?" prasangka Hugo.
"Suaminya memang sudah tenang disana. Lalu kenapa? Jika dia ingin meniduri saudara jauhnya..." ucap Kenzo penuh penekanan.
Hugo menghela napas kasar mulai duduk, mengangkat tubuh kecil Febria untuk ada dalam pangkuannya.
Menurut? Anak yang bisa dibilang mengerikan kini menurut pada aura ayahnya yang mendominasi. Turun dari pangkuan Hugo.
Orang dusun ini menyewa paranormal dimana hingga Amel dan anak-anaknya, takluk seperti ini... gumam Hugo dalam hatinya. Tampan, mapan, singgel tidak ada yang kurang darinya. Tapi saingannya hanya orang kelas bawah bernama Dava? Mistis? Itulah jawabannya, mengingat banyaknya video di media sosial tentang pekatnya dunia paranormal di negara ini. Mungkin dirinya juga harus menghubungi paranormal.
Beberapa jam kemudian...
Hari sudah mulai siang, Amel dan Scott yang telah memiliki janji dengan petinggi perusahaan lain, harus pergi. Bersamaan dengan Hugo yang mengemudi mengikuti mobil Amel entah kemana. Sementara Febria, Steven dan Ferrell tengah mengikuti home schooling. Menyisakan Frans yang hendak berjalan ke mobilnya.
"Tunggu!! Boleh aku menumpang di mobilmu?" suara seorang pemuda yang bagaikan sambaran petir baginya.
"A...aku..." Frans terdengar ragu. Namun dengan cepat Kenzo memasuki mobilnya.
"Kita bicara di tempat lain, tuan asisten..." senyuman menyungging di wajah Kenzo.
Wajah tengil itu, dia sudah ingat... wajah Frans seketika pucat pasi.
***
Room private sebuah restauran , Kenzo memesan teh dingin, menghela napas kasar menatap Frans yang tengah meminum segelas Americano. Menunggu pesanan makanan mereka sampai.
"Ceritakan semuanya..." Kenzo mengenyitkan keningnya kesal.
"Menceritakan apa Dava?" Frans gelagapan, bingung harus bagaimana saat ini. Hanya dapat berdoa dalam hati, semoga Kenzo belum mengingat segalanya.
"Hal yang terjadi 7 tahun ini dan sebelum 7 tahun ini..." ucapnya, menatap tajam, mengeluarkan aura mendominasi.
Mampus!! Dia sudah ingat... gumam Frans dalam hati.
Frans menghela napas kasar, pada akhirnya berusaha untuk jujur. "Maaf tuan...aku menginginkanmu untuk hidup...tapi..."
"Tapi apa?" Kenzo menatap tajam.
"Aku sudah menganggap Amel sebagai saudara iparku sendiri. Dia mengasuh anak-anak angkatnya, membantu mengurus perusahaan padahal dirinya tengah hamil..."
"Pada akhirnya, melahirkan secara prematur karena kelelahan..." ucap Frans berusaha tersenyum, sejenak kemudian air matanya mengalir,"Salah satu rahimnya terpaksa harus diangkat, karena komplikasi pasca melahirkan,"
"Dia tidak mau makan, karena mengalami baby blues syndrome. Ingin berada di dekatmu, aku sudah mengatakan kamu mungkin tidak akan kembali. Tapi dia tetap menunggumu pulang, hingga kesehatannya memburuk, ASI-nya juga tidak dapat keluar pada minggu-minggu pertama..."
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia menangisimu, sembari menggedong anaknya. Hingga, akhirnya memaksakan diri untuk makan,"
Jemari tangan Kenzo mengepal air matanya mengalir, tidak dapat mengingat keberadaan istrinya. Seseorang yang menunggu kepulangannya. Saat-saat terapuh wanita yang dicintainya, dirinya tidak dapat hadir kembali.
"7 tahun, selama 7 tahun orang yang menyandang status sebagai istrimu selama beberapa bulan tetap setia. Menganggapmu tidak pulang hanya karena marah kepadanya. Hidup kesepian, berpura-pura baik-baik saja, padahal tidak..."
"Setiap waktu dia sendiri, aku cemas. Rasa trauma itu masih ada. Aku cemas dia akan berfikiran pendek sepertimu, memutuskan mengakhiri nyawanya menyusulmu... karena itu... karena itu..." jemari tangan Frans gemetar, berucap dengan nada bergetar.
"Setiap malam, aku meminta salah satu anaknya. Melihat kamarnya, saat tengah malam, tidak ingin mayatnya terlambat ditemukan...aku bodoh bukan?" gumamnya.
"Hugo? Berkali-kali aku menyakinkannya untuk melanjutkan hidupnya, melupakan suaminya yang aku kira sudah mati. Bukan cuma Hugo, banyak pria mapan yang coba aku dekatkan dengannya tapi dia menolak... dia berkata, Kenzo akan pulang..."
"Aku bingung harus bagaimana..." jeritnya lirih dalam tangisannya.
Kenzo bangkit dari kursinya memeluk tubuh Frans,"Terimakasih, sudah menjaganya...aku sudah pulang..."
"Nyawa antagonis memang lebih dari satu!! Dasar bipolar!! Kamu membuatku menangis lagi kan!?" Frans membalas pelukan, pemuda yang sudah bagaikan adik baginya.
Bersambung