
"Terimakasih," kata-kata dari mulut Steven tersenyum, mengacak-acak rambut Febria.
"Mesum..." Febria meraba bibirnya sendiri dengan jemari tangannya.
Tangannya tiba-tiba mengepal, Ultraman? Apa pemuda di hadapannya ini mengenal Steven? Mungkin itulah yang ada dibenaknya.
"Hudson, aku ingin bertanya. Ayahku memiliki anak angkat yang sedikit mirip denganmu, tapi rambutnya putih, memiliki mata biru. Namanya Steven, dia mungkin seusia denganmu. Menghilang 14 tahun yang lalu. Apa kamu mengenalnya?" tanyanya penuh harap, memiliki hubungan kerabat. Mungkin saja terjadi, mengingat wajah Steven remaja, mirip dengan Hudson.
"Anak angkat ayahmu? Apa dia kakakmu atau cinta pertamamu?" tanyanya menunggu jawaban, penuh harap.
Febria berfikir sejenak, pemuda disampingnya ini anggota mafia sering menciumnya tiba-tiba. Apa Hudson menyukainya? Jika terus terang mengatakan Steven adalah cinta pertamanya, mungkin dirinya tidak akan diberikan informasi.
Hingga sebuah keputusan diambilnya,"Dia kakak yang paling aku sayangi dan paling menyayangiku..."
"Ka...kakak," Steven menghela napas kasar, berusaha tersenyum. Tenyata setelah semua perjuangannya untuk bertemu dengan Febria dirinya masih hanya seorang kakak.
"Iya, apa kamu mengenalnya? Atau mungkin kamu saudaranya?" tanya Febria antusias.
"Aku tidak mengenalnya," jawaban dari mulutnya, tidak ingin Febria terlibat dalam masalah keluarganya. Jika masalah ini sudah tuntas, dirinya baru akan kembali padanya sebagai Steven, melamarnya walau akan ditolak sekalipun."Sebaiknya kita tidur, sudah hampir malam, nanti malam aku akan membangunkanmu, kita mulai bergerak meninggalkan gudang ini, atau mungkin bantuan sudah akan datang..."
Febria akhirnya menurut, memejamkan matanya, meringkuk ditengah cuaca yang dingin, terlelap perlahan.
"Aku mencintaimu..." Steven tersenyum, mulai melucuti pakaian Febria dan pakaiannya sendiri memeluk tubuh gadis itu erat. Sentuhan kulit yang meredakan hawa dingin dari pakaian mereka yang basah.
Pelukan yang benar-benar terasa hangat, hingga dua pasang mata itu terpejam sempurna.
***
Tok ...tok...tok... tok tok...tok
Suara ketukan jari dan telapak tangan berpadu di seng pintu belakang gudang. Bagaikan sebuah kode isyarat, kode yang artinya hanya diketahui keluarga Hudson. "Aku didalam!! Tidak ada musuh disini!!" ucap Steven dengan nada malas, masih hanya mengenakan boxernya saja. Sedangkan Febria memakai mini dress tipis, pakaian gadis itu kering terlebih dahulu, telah dipakaikan dari pagi-pagi buta oleh Steven.
Pergi dari gudang? Sejatinya tidak, disinilah tempat janji temunya dengan Eden. Bukan hanya memancing bawahan yang mengkhianatinya bersama Doom. Tapi juga, untuk menguji Alex, akan benar-benar menghubungi Eden atau tidak.
Rencana yang disusun Steven hanyalah memancing mereka untuk membunuhnya. Kemudian melarikan diri ke danau, bersembunyi di gudang kayu hingga Eden dan bawahan mereka yang setia mengeksekusi pembelot. Berakhir selamat tanpa mengalami cidera.
Tapi rencana, hanya tinggal rencana, kemunculan Febria membuatnya harus menjadi pengalih perhatian, agar wanita yang dicintainya dapat selamat. Berguling dari jurang yang cukup tinggi, bahkan mengalami luka tembakan.
Namun ini sepadan, tubuh gadis yang masih mendengkur berbalut mini dress mengeluarkan air liur dari mulut itu, didekap tubuh polos Steven yang hanya mengenakan boxer.
Sinar lampu senter mulai memasuki gudang pada dini hari. Kursi roda milik Eden didorong salah satu pengawal. "Steven!! Steven!! Siluman ular putih!!" panggilnya berteriak, setelah memberi kode ketukan di seng belakang gudang.
"Berisik!!" gumamnya, masih juga memeluk tubuh Febria, merasakan dua benda kenyal lengkap dengan penutup yang menyentuh dada bidangnya.
Andai saja dirinya sudah menikahi Febria, tidak perlu basa-basi lagi. Gadis itu tidak akan dibiarkannya tidur nyenyak setiap malam.
Hingga sorotan lampu senter tiba-tiba tertuju padanya. Sorotan lampu senter dari pemuda yang duduk di kursi rodanya.
Senjata laras panjang diraihnya, menggunakan ujungnya mengguncang tubuh sang adik,"Aku menyuruhmu berbulan madu di hotel mewah, mencetak bayi yang banyak. Tapi kamu malah tidak melakukannya,"
"Dan sekarang, membawanya ke misi yang sulit, hanya untuk menikmati sensasi bercinta di gudang kayu!?" ucapnya kesal.
"Sttt...dia sedang tidur, aku tidak melakukannya," jawaban dari mulut Steven mulai bangkit menguap beberapa kali.
"Kalau mau melakukan, lakukan saja!!" Eden memukul adiknya menggunakan senjata laras panjang."Lagi pula kamu menahan diri kan!? Lihat boxermu sudah penuh!! Keluarkan isinya di dalam tubuhnya!! Kemudian buatlah bayi yang banyak,"
"Sakit! Aku tidak mau!! Lebih baik menahan diri dulu. Nanti jika sudah waktunya, akan aku buat yang banyak!" ucapnya mengelus pundaknya yang dipukuli sang kakak.
Eden menghela napas kasar, memulai drama menyedihkannya,"Aku duduk di kursi roda, entah masih dapat memiliki keturunan atau tidak. Sedangkan ayah belum sadarkan diri sampai saat ini. Kamu satu-satunya harapan untuk melanjutkan garis keturunan keluarga kita,"
"Sedangkan, jika kamu mati muda tanpa memiliki keturunan, maka keluarga Hudson, habislah sudah..." ucap Eden memijit pelipisnya sendiri.
"Kakak, aku percaya, sang pangeran kursi roda, walaupun bujang lapuk, emosional, jarang keramas sepertimu akan menemukan cinta sejati. Hingga bersedia mengandung keturunan keluarga Hudson..." Steven bangkit, menepuk bahu kakaknya.
"Siluman ular putih!! Aku hanya memintamu menghamili seorang gadis, apa begitu sulit?" geram Eden, berusaha tersenyum.
"Kakak aku hanya memintamu untuk menikah, kemudian ke dokter berkonsultasi, pelan-pelan mengobati pisangmu. Membuat penerus keluarga Hudson sebanyak-banyaknya, apa begitu sulit!?" cibirnya tersenyum, mulai mengenakan celana jeans dan sweaternya yang basah.
"Tugasmu lebih mudah, lebih cepat dan praktis. Tinggal masukkan saja!!" Eden terdiam sejenak, sedikit berfikir,"Jika aku nekat, aku akan memasukkan obat ke dalam minumanmu. Mengurungmu di dalam kamar dengan belasan wanita penghibur di dalamnya,"
"Tidak boleh, aku masih perjaka sampai sekarang karenanya," ucapnya tersenyum, menggedong Febria ala bridal style.
"Karena gadis yang kamu sukai sudah ketemu, tinggal masukkan saja apa susahnya..." kesal Eden dengan kursi roda dibimbing pengawal mengikuti langkah adiknya.
"Sudahlah, kakak tidak akan mengerti. Ini karena aku mencintainya..." jawaban dari mulut Steven, menatap wajah Febria yang masih tertidur sambil mendengkur, mengeluarkan air liur dari mulutnya dalam dekapan Steven, berjalan perlahan menuju mobil.
"Aku memang tidak mengerti sama sekali!! Bagaimana gadis itu bisa tidur saat kita bicara sekeras ini!? Dia seperti batu..." ucap Eden, yang kini tengah dibantu Alex untuk menaiki mobil.
"Memang, dia keras seperti batu. Karena itu aku mencintainya..."
Keras seperti batu hingga nekat berenang di danau, memberikan separuh napasnya padaku...
"Benar-benar wanita keras kepala..." gumamnya.
***
Matahari semakin meninggi, pada akhirnya Febria terbangun, membuka matanya, di dalam bathtub yang dipenuhi busa."Sudah bangun?" tanya Steven yang tengah memandikannya.
"Kenapa aku di bak mandi? Dasar mesum!?" teriak Febria, ketakutan. Apa yang sudah terjadi semalam? Kenapa dirinya ada dalam bathtub? Satu hal yang paling terpenting, apa dirinya masih perawan?
Bersambung