
Air matanya mengalir, Damian dan Vanya bukankah orang tuanya? Belum dapat menerima kenyataan begitulah dirinya yang kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Yatim-piatu dari sejak dilahirkan? Apa dirinya benar-benar Kenzo. Mimpi itu terbayang lagi, mimpi dimana seorang anak memegangi keningnya yang terluka mengeluarkan darah segar. Perlahan Dava meraba keningnya sendiri, terdapat bekas luka di sana.
"Aku anak itu? Apa aku Kenzo?" gumamnya.
Banyak fikiran dalam benaknya, perlahan wajah-wajah yang tidak terlihat jelas dalam mimpinya berganti dengan wajahnya. Dirinya lah yang menjatuhkan diri dari kapal cargo, dirinya juga yang menuruni tangga villa menatap Amel berbicara dengan pria lain.
Tidak semua, namun kepingan memori itu terbayang jelas kini. Pasangan yang berciuman di tengah kebun Hydragea adalah dirinya dan Amel.
Apa benar dirinya adalah Kenzo? Terlarut dalam fikirannya hingga tidak terasa melewati tengah malam. Perlahan pemuda yang tidak yakin dengan identitasnya itu, berjalan keluar kamarnya. Membuka pintu kamar Damian dan Vanya yang telah terlelap dalam tidurnya.
"Ayah...ibu..." lirihnya tertunduk dengan air mata yang mengalir tiada henti. Bukan ayah dan ibu biologisnya, namun dirinya merasa bahagia 7 tahun ini.
Kening Vanya dan Damian dikecupnya bergantian,"Aku akan kembali, karena kalian adalah orang tuaku. Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya... jika aku Kenzo sekalipun... kalian tetaplah kedua orang tuaku..."
Amplop berisi uang yang diberikan Romi diletakkannya di atas meja kamar kedua orang tuanya. Jemari tangannya mengetikan pesan pada Romi, ingin mengambil cuti tahunannya selama tiga hari ini.
Bingung dan lelah, dirinya tidak mengetahui dan tidak mengerti. Hingga pandangan dirinya melewati Kiki yang baru saja diantarkan pulang oleh kekasihnya.
Hambar? Dari dulu perasaannya pada Kiki memanglah hambar. Namun, semua orang mengatakan tidak, Dava mencintai Kiki, hingga rela melakukan apapun hanya agar kekasihnya bahagia.
Namun, memang aneh, dirinya mencintai Amel. Apa dirinya memang bukan Dava? Dirinya adalah Kenzo? Ayah dari dua orang anak.
"Dava..." jemari tangan Kiki, hendak menariknya pergelangan tangannya. Kala mobil kekasih Kiki telah melaju pergi.
Pemuda itu menepisnya menatap tajam padanya, Kiki dipojokkan pada dinding gang, dagu wanita itu disentuh jemari tangannya.
Jantung Kiki berdebar cepat, pemuda yang terasa berbahaya, dapat menaklukkan dirinya dengan mudah. Hingga Kiki memejamkan matanya bersiap ketika bibirnya akan ditaut.
Sang pemuda mengenyitkan keningnya, tidak ada perasaan apapun. Dirinya bodoh jika pernah mencintai Kiki bukan? Wanita dengan banyak pemikiran picik dan gilanya. Wanita yang entah menghancurkan kehidupan berapa pria.
"Sampah..." Kenzo berbisik, berjalan pergi meninggalkannya.
Kiki membuka matanya, tidak merasakan sentuhan bibir sama sekali, menatap punggung pemuda yang memakai kaos dan celana panjang murah berjalan pergi. Hatinya masih bergemuruh hingga kini. Pria yang sulit didapatkannya, jauh berbeda dengan Dava 7 tahun lalu. Seorang pemuda yang rela melakukan apapun untuknya.
Bibirnya tersenyum, dirinya kini mencintai Dava, jika ingatan Dava kembali maka akan kembali mencintai dirinya, itulah yang diyakininya. Berjalan kembali memasuki gerbang rumahnya. Tentang tidak sengaja mendorong Dava? Pemuda itu akan memakluminya, seperti Dava yang dulu, hanya mencintainya...
***
Ojek online yang dinaikinya mengantarkannya pada sebuah villa. Sang security yang sudah pernah melihat Dava datang bersama Amel dahulu, membukakan pintu gerbang tanpa ragu.
Pintu besar utama villa yang masih tertutup dibukanya. Melangkah menaiki tangga menuju lantai dua, pintu kamar utama terlihat.
Dengan ragu pemuda itu memegang hendel pintu. Hingga akhirnya Amel terlihat lagi, cantik? Benar-benar cantik? Apa ini istrinya?
Namun, apa benar? Foto adalah tujuan utamanya saat ini. Laptop milik Amel diraihnya, beberapa folder dibukanya.
Bibirnya tersenyum, air matanya mengalir, wanita gemuk dalam mimpinya, juga Amel. Satu persatu foto kebersamaan mereka di Jepang ditatapnya, hingga foto di pesawat saat wanita itu tengah tertidur.
Dirinya kembali menutup laptop, pandangan matanya beralih,"Aku harus bagaimana?" gumamnya, menghela napas kasar.
7 tahun sudah dirinya hidup sebagai Dava. Bahkan istrinya hamil dan melahirkan tanpa dirinya menemani di sampingnya. Wajar jika Amel akan membencinya, tapi apa yang sebenarnya terjadi? Entahlah...
Kenzo yang hanya mengingat sebagian kecil hidupnya, mulai membaringkan tubuhnya. Tepat disamping tubuh istrinya, wajah yang ditatapnya tidur dengan nyenyak.
"Aku mencintaimu... maaf..." Kenzo mengecup bibirnya perlahan.
Amel mulai menggeliat, membuka matanya,"Apa aku bermimpi?" gumamnya. Tersenyum, menatap wajah suaminya di hadapannya.
"Tidak..." Kenzo menarik pipi Amel kencang, membuktikan ini bukanlah mimpi.
"Sakit!! Dasar menyebalkan!! Kenapa kemari? Apa Kiki tidak bisa memuaskanmu di ranjang, jadi ..." kata-kata Amel disela, Kenzo tersenyum mengecup bibirnya.
"Hukuman untukmu..." ucapnya mulai menahan pergerakan Amel, berada naik di atas tubuhnya,"Aku masih simpananmu, kan?" tanyanya, mengusap bibir istrinya dengan ibu jari tangannya. Tatapan mata yang terlihat tajam, membuat Amel tidak berkutik.
"Tidak, kamu..." kalimat Amel lagi-lagi di potong, bibir itu dinikmati pemuda yang berada di atasnya.
Kata-kata mendominasi ini? Orang yang tidak bisa terbantahkan? Kenzo... gumamnya dalam hati.
"Kamu ingat semuanya?" tanya Amel mengenyitkan keningnya.
"Aku tidak ingat apa-apa, tidak ada yang perlu diingat dalam perselingkuhan. Benar kan?" tanyanya membuka pakaian tidur, berupa yukata sependek lutut yang dipakai Amel.
Sialan!! Dia ingat atau tidak!? Bagaimana bertanya sekarang... Amel mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, menjambak pelan rambut Kenzo, yang mulai memainkan lidah dan bibirnya pada dua benda yang meningkatkan keinginan untuk melakukan lebih.
Pemuda yang menanggalkan pakaiannya sendiri di sela kegiatannya. Pagi yang dingin, berpacu di bawah selimut yang terus bergerak. Melampiaskan segalanya, hingga Amel kelelahan usai kegiatan mereka, tertidur dalam dekapan suaminya.
Pemuda yang tidak mengingat apapun, memeluk istrinya erat. "Aku suaminya? Jadi siapa Hugo...apa yang terjadi 7 tahun ini? Apa ada yang menggantikan posisiku? Tidak boleh..." gumamnya, mengeratkan pelukannya dengan tubuh istrinya, posesif. Hanya berbalut selimut putih tebal, kedua tubuh yang tidak memakai sehelai benangpun.
***
Matahari mulai terbit, senyuman ganjil menyungging di wajahnya, kala membasuh tubuhnya di bawah derasnya kucuran air shower. Bercukur, benar-benar membersihkan tubuhnya. Istri yang cantik, anak-anak yang manis, semua telah dimilikinya. Ada yang ingin merebutnya? Berarti cari mati.
Mengenakan pakaian tanpa ragu. Bahkan menyemprotkan tubuhnya dengan parfum. Rambutnya, dikeringkan masih dengan model rambut yang menyembunyikan goresan luka di keningnya.
Pria simpanan? Ingin rasanya dirinya tertawa, menatap istrinya yang masih tertidur, mungkin karena kelelahan, akibat ulahnya. Si pria simpanan.
***
Satu jam berlalu, Amel melangkah menuruni tangga setelah membersihkan tubuhnya. Menatap beberapa hidangan di atas meja, dengan Dava yang tersenyum padanya.
Aura suram dari Febria dan Ferrell mendominasi. Mereka masih sedikit kecewa, dengan ayah mereka yang kemarin menolak untuk kembali datang. Lagi pula siapa itu Kiki? Apa calon ibu tiri mereka?
Sedangkan Scott dan Steven makan seperti biasanya.
"Febria...aa....aaa..." ucap Steven hendak menyuapi Febria yang enggan makan.
"Tidak mau, aku tidak mau makan masakan paman Dava," Febria memalingkan wajahnya, masih kesal pada ayahnya.
"Makan ya? Jika kamu terlalu kurus, pinggangmu akan kecil. Nanti saat besar nanti akan sulit melahirkan anak-anak kita..." ucap Steven, mendapat pukulan garpu di kepalanya oleh Febria.
"Siapa yang mau melahirkan anak-anakmu!?" bentak Febria.
"Kamu..." jawab Steven tersenyum tanpa dosa.
"Aku tidak mau melahirkan Ultraman!! Kak Steven menyebalkan..." gerutu Febria.
Steven menghela napas kasar,"Tolong panggil aku Steven, jangan kakak..." pintanya, tertunduk meninggalkan meja makan.
"Dia patah hati," Ferrell menahan tawanya.
"Steven..." akhirnya Febria menyerah.
Dengan cepat Steven berbalik, kembali duduk di samping Febria,"Calon istriku memang paling pengertian..."
"Brother Complex..." gerutu Ferrell, menatap ulah kakaknya, yang terus menggoda adiknya.
"Apa mereka selalu seperti ini?" tanya Kenzo pada putranya.
"Iya, hampir setiap saat..." jawab Ferrell, kemudian mengenyitkan keningnya menyadari ada hal yang salah,"Aku tidak seharusnya bicara padamu..."
"Anak nakal..." Kenzo tersenyum, mengacak-acak rambut putranya. Entah kenapa kemarahan Ferrell tiba-tiba menghilang tertunduk dengan wajah memerah. Memerah? Terlalu malu dan senang, merasakan kasih sayang ayah yang selama ini membuatnya iri.
Amel yang baru menuruni tangga hanya dapat tersenyum, merasakan kehangatan di meja makan.
Hingga suara ketukan pintu terdengar, Kenzo berjalan cepat membukanya.
Dua orang pria berdiri disana,"Hugo sudah aku bilang jangan kemari. Amel sebenarnya..." kata-kata Frans terhenti, menatap seorang pemuda yang tersenyum membukakan pintu.
Aku akan dipenggal karena berniat menikahkan istri iblis dengan pria lain...kata lainnya mampus... gumam Frans dalam hatinya, menatap senyuman dari bibir Kenzo. Pemuda yang sejatinya tidak memiliki ingatan yang lengkap, namun mengetahui dirinya bukan Dava, melainkan Kenzo.
Bersambung