
Angin malam menembus jendela sebuah taksi yang tengah melaju. Tidak banyak pembicaraan diantara dua orang yang masih membisu. Untuk pertama kalinya Kenzo tidak banyak bicara dan mengganggunya. Pemuda itu hanya terdiam menatap kearah jendela.
Hingga rumah kecil di tempat terpencil itu terlihat. Belum satu katapun keluar dari mulutnya.
Amel mengenyitkan keningnya,"Apa dia marah?" gumamnya, berjalan ke arah dapur guna membuat makan malam.
Harum aroma masakan tercium, makanan telah tertata di atas meja. Pemuda itu belum juga terlihat samasekali. Amel makan seorang diri, melirik ke arah meja kosong disampingnya. Sejenak menghentikan aktivitas makannya.
Aneh? Begitulah yang ada dalam fikirannya, berjalan menelusuri lorong sampai ke area belakang rumah. Sosok itu akhirnya terlihat, namun hal yang tidak biasa. Pecahan beling entah dari mana didapatkannya, digenggam nya erat. Darah menetes dari jemari tangannya, air matanya mengalir tidak terkendali. Terpuruk, menangis seorang diri.
"Kenzo..." Amel berjalan cepat penuh kecemasan, hingga tidak sengaja menginjak lap yang biasanya digunakan membersihkan lantai kayu.
Gadis yang masih mengenakan yukata-nya itu terpeleset. Jatuh meluncur dengan menggunakan perut bagaikan pinguin di atas lapisan es, tersungkur di hadapan Kenzo yang masih duduk di ujung lorong, halaman belakang.
"Awww..." pekik Amel memegangi pinggangnya.
Menangis? Pemuda itu mulai sedikit tersenyum menahan tawanya. Melepaskan pecahan kaca yang digenggam nya, guna membantu Amel berdiri.
"Tanganmu kenapa? Kenapa memegang pecahan kaca?" Amel terlihat cemas, memegang jemari tangan Kenzo.
Kenzo tidak menjawab, tertegun diam membiarkan Amel berlari pergi mengambil kotak P3K, luka perlahan dibersihkan, diobati oleh gadis yang terlihat peduli padanya. Membalut lukanya menggunakan perban.
"Sudah, jangan melukai dirimu sendiri. Ini hadiah untukmu..." ucapnya tersenyum usai membalut luka di jemari tangan Kenzo. Meletakkan gantungan handphone sepasang kupu-kupu putih ditangannya.
Kenzo tersenyum lembut,"Ini hari ulang tahunku..." menggenggam gantungan handphone yang diberikan Amel.
"Ulang tahun? Syukurlah aku membelinya..." ucap Amel membalas senyuman Kenzo.
"Juga, hari peringatan kematian kedua orang tuaku..."
"Mereka mati, dengan bodohnya meninggalkan putra mereka. Putra yang baru dilahirkan, tidak diberikan kesempatan menyentuh wajah mereka," gumamnya tertunduk, menitikan air matanya. Memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Sakit? Tentu saja, dirinya jatuh dalam lubang keputusasaan. Mencintai kedua orang tua, yang tidak pernah ditemuinya. Hidup seorang diri tanpa keluarga.
Satu-persatu orang memasuki kehidupannya, kemudian pergi menghilang. Kinan, pada akhirnya meninggalkannya. Begitu pula dengan Dewi dan Agam, Tuhan mungkin terlalu mencintai mereka. Hingga tidak ingin seorang Kenzo merepotkan hidup mereka.
Hidup dalam bayangan dendam dan kesendirian selama bertahun-tahun. Ingin mati rasanya, semuanya menyakitkan di dunia yang munafik ini. Dunia yang merubah seorang anak lugu baik hati menjadi sosok keji, seorang pria Antagonis yang bagaikan tidak memiliki hati.
Untuk pertama kalinya Amel berinisiatif sendiri, memeluk tubuh yang terlihat putus asa dengan hidupnya. Jangan menangis? Bukan itu yang diucapkannya,"Menangislah, aku ada disini..." ucapnya menepuk punggung Kenzo.
"Aaangggg...." jeritan tangisannya bagaikan seorang anak kecil yang polos. Menunjukkan sisi terlemah dalam dirinya. Bipolar? Mungkin itulah yang menyebabkan Kenzo melukai dirinya sendiri, jika bisa ingin menyusul orang-orang yang dicintainya, melepaskan semua yang ada di dunia ini.
Namun, kini gadis ini ada, bayi kecil yang dahulu diberinya nama. Tubuh dewasa, membimbingnya kembali menjadi anak polos berusia lima tahun. Anak yang tidak memiliki luka di hidupnya.
Aku tidak ingin menyusul kalian lagi, karena dia ada. Satu-satunya hal yang tidak munafik di dunia ini. Apa kalian iri? Aku ingin bahagia...
"Aku ingin bahagia..." untuk pertama kalinya kata-kata itu terucap dari bibirnya. Memeluk tubuh Amel yang kini lebih kecil dari tubuhnya dengan erat.
Aku mencintaimu, aku membutuhkanmu bagaikan udara, sesuatu yang dapat membuatku mati. Jika kehilanganmu walaupun hanya beberapa menit...
Jangan pernah pergi atau mati... karena saat itu juga aku akan meninggalkan dunia ini...
***
Sebotol sake sebagai penghangat di udara dingin menusuk, terlihat. Kenzo tersenyum, jauh lebih tenang. Dengan mudah Amel menekan penyakit mentalnya tanpa obat-obatan.
Sinar kembang api kecil menampakkan wajah tenang gadis yang masih memakai yukata-nya. Gadis yang tersenyum, bermain kembang api berukuran kecil. Kembang api yang dibelikan Kenzo, untuk dimainkan usai menonton festival. Kini mereka mainkan berdua di belakang rumah. Namun, semua terasa hangat, keluarga? Mungkin itulah Amel baginya.
Setiap tahun, Kenzo akan meningkatkan dosis obat-obatan yang diresepkan psikiater. Khusus pada hari ulang tahunnya. Ingin segera tertidur, melupakan rasa sakitnya, namun tetap sulit.
Terjerat akan rasa kesepiannya, ingin marah, tapi pada siapa? Tidak ada hal yang dapat dilakukannya, mungkin kematian lebih baik, hal itu sering terfikir dibenaknya.
Kali ini tidak, dirinya kini memiliki rumah. Tempatnya pulang, berlindung dari dari rasa kesepian yang seakan menghujam hatinya...
Teguk demi teguk cawan sake diminumnya. Tubuhnya mulai terasa hangat,"Kenzo ayo main kembang api..." Amel berjalan mendekatinya.
"Apa tidak akan mabuk? Aku tidak pernah meminum minuman berakohol..." Amel meraih dengan ragu.
"Jika sedikit tidak akan apa-apa..." jawabnya meyakinkan.
Dengan cepat Amel meminum sekali tegukan. Terasa sedikit keras di tenggorokannya. Namun, rasa hangat pada tubuhnya menjalar.
"Ayo kita bermain kembang api..." Kenzo bangkit, menyalakan dua buah kembang api kecil sekaligus. Cahaya yang perlahan akan redup, satu-persatu mulai dinyalakannya. Tidak menyadari Amel menggantikannya duduk. Meminum beberapa cawan lagi, wajahnya mulai memerah.
Tersenyum sendiri tidak jelas, sempoyongan mendekati pemuda yang berdiri seorang diri memainkan kembang api yang berputar-putar diatas tanah.
Tangannya terulur, memeluk Kenzo dari belakang,"Hangat..." gumamnya tertawa, bagaikan kucing kecil yang ingin bermanja-manja pada serigala.
Kenzo melepaskan jemari tangan Amel, melihat ke arah belakang. Amel malah memeluknya lebih erat, menggesek-gesekkan paha dan kepalanya. Desiran terasa, di tengah pelukan mereka.
"Amel? Kamu mabuk?" tanyanya.
"Tidak, aku tidak mabuk..." jawab Amel masih menggesek-gesekkan. Kepalanya pada dada Kenzo serta pahanya yang tidak mau diam.
Mungkin Amel tidak mengerti tindakannya membangunkan sesuatu yang tidak pernah tersentuh wanita sebelumnya.
"A... Amel lepas..." Kenzo berusaha mendorongnya.
"Kamu tampan, sungguh keajaiban dunia, ada yang setampan dirimu..." Amel masih tertawa, berjinjit mengecup pipi Kenzo.
"Aku akan mengantarmu ke kamar. Sebaiknya malam ini a...aku ti... tidur di ruang tamu," ucapnya gelagapan menarik tangan Amel, menelusuri lorong menuju kamar.
Tidak ingin terjadi hal yang akan disesali gadis itu nantinya. Bagaimanapun Kenzo adalah pria normal bukan?
Hingga ambang pintu kamar, Kenzo bermaksud mengunci Amel di dalam, malam ini. Sedangkan dirinya tidur di ruang tamu.
Namun gadis itu menariknya berjinjit, kemudian berbisik,"Aku mencintaimu..." kejujuran dari mulut Amel sembari tertawa kecil.
Mengecup bibir Kenzo berkali-kali, dua kata yang melumpuhkan akal, fikiran pemuda itu. Untuk mengikuti kemauan hati dan tubuhnya.
Ciuman Amel dibalasnya, dua lapisan mantel hangat pemuda itu teronggok di lantai. Menangkup bibir penuh napsu.
Amel? Mungkin bagaikan Roy. Melepaskan segala perasaannya ketika mabuk, tidak dapat membedakan yang salah dan benar. Hanya mengikuti kehendak hatinya.
Nakal, benar-benar nakal keringat dingin mengucur di pelipis Kenzo. Kala jemari tangan kecil itu merayap di dadanya, melepaskan kancing kemejanya.
Cukup sulit, namun kedua tubuh yang mulai saling menggiring memasuki kamar itu semakin bertaut erat. Debaran hebat terasa di hatinya, gemas? Ini lebih dari itu, menelusuri lekuk leher Amel.
Semakin terdengar suara racauan gadis itu, semakin banyak pula tanda yang diciptakannya. Entah jemari tangan siapa yang berhasil melepaskan Yukata biru, lapisan pakaian tebal yang rumit itu telah teronggok di lantai kayu.
Futon belum sempat dibukanya, tubuh Amel kini berada di atas lantai kamar yang dingin, hanya dengan dua kain kecil sebagai penghalang tubuh polosnya. Sedangkan Kenzo kembali menaut bibirnya, bertelanjang dada hanya mengenakan celana panjang.
"Aku mencintaimu Nindy, aku mencintaimu Glen, aku mencintaimu ibu..." racau Amel sembari tertawa.
Kenzo menghentikan tindakannya kesadarannya kembali, akibat pernyataan cinta Amel yang tengah mabuk ternyata bukan untuk dirinya.
"Apa yang sudah aku lakukan?" ucapnya bangkit, mengambil selimut tebal, yukata wanita tipis biasa digunakan untuk tidur, serta futon dari lemari.
Menyiapkan tempat mereka tidur, Amel tiada hentinya memeluknya dari belakang. Membuat Kenzo mati-matian menahan dirinya.
Yukata tipis untuk tidur dikenakan pada tubuh Amel,"Dia adalah bayi polos, anak mama yang sering aku bantu mandikan..." gumamnya berkali-kali mengsugeseti dirinya. Agar tidak melakukan sesuatu pada Amel, sebelum gadis itu mencintainya, serta menikah dengannya.
"Tunggu disini!!" bentak Kenzo berjalan ke luar kamar mencari mesin penghangat ruangan.
Pintu tertutup, bersamaan terucapnya kata-kata dari mulut Amel, yang tidak didengar Kenzo.
"Aku mencintai... Kenzo..." gumamnya tertidur dengan senyuman damai yang mengembang.
Bersambung