
Pelayan pribadi? Tidak ada yang menyangka, tugasnya adalah membantu Kenzo melarikan diri dari rumah sakit setiap malam. Pemuda itu mengalami gangguan tidur, akibat gejala gangguan kepribadian yang dideritanya.
Frans, merupakan asistennya saat ini, tentunya menginginkan perawatan yang terbaik untuk Kenzo, yang mengalami insiden penembakan beberapa bulan lalu. Namun, entah kenapa, pemuda itu hanya dapat tidur lebih nyenyak di jalanan, bangku taman, emperan toko, atau tempat sejenisnya bagaikan gelandangan.
Jadi tidak heran, pilihan menjadi pelayan jatuh pada Amel yang tidak akan membantah perintahnya.
Di dalam rumah sakit, kepanikan lagi-lagi terjadi...
"Geledah semua tempat!!" bentak Frans, mencari keberadaan tuannya.
Seisi rumah sakit benar-benar digeledah tidak menyisakan satu tempat pun.
Tidak ada yang menyadari, seorang pemuda tidur dengan baju pasien beralaskan koran, wajah dan tubuhnya juga berselimutkan koran. Di area dekat rumah sakit, tepatnya di atas trotoar. Bagaikan korban tabrak lari. Angin menyingkapkan koran yang menutupi wajahnya. Pemuda rupawan terlihat, tersenyum berusaha kembali tertidur, sembari menutup wajahnya dengan koran yang sempat tersingkap.
Sementara Amel duduk di bangku taman dekat sana, menungguinya. Berjaga-jaga jika ada satpol PP yang datang.
Salah seorang pejalan kaki yang penasaran, mengira itu adalah korban tabrak lari, hendak menyingkap koran.
Namun suara Amel menghentikannya,"Itu teman saya, dia sedang mabuk..." ucapnya menatap tidur Kenzo yang hampir terganggu.
"Owh, saya kira mayat korban pembunuhan, atau gelandangan yang mati mendadak. Bawa pulang temennya neng, nanti mati kedinginan..." ucap pejalan kaki tersebut menatap aneh, pada tubuh berbalut koran sepenuhnya.
Amel menghela napas berkali-kali, mengenyitkan keningnya, tidak mengerti dengan sosok majikannya.
Hingga tiba-tiba Kenzo terbangun, "Sial suara orang tadi membuatku bagun..." geramnya.
Makanya kalau mau tidur nyenyak tanpa ada orang lewat. Tidurlah di kutub utara, paling cuma beruang yang lewat, cari makan... gumamnya dalam hati setelah satu minggu lebih menjadi pelayan pribadi seorang Kenzo.
"Kita kembali ke rumah sakit..." ucapnya, berjalan diikuti Amel yang masih sibuk meminum teh pucuk harum dan memakan sari rotinya.
Seperti biasannya dirinya akan menurut pada orang yang memberinya gaji. Walaupun pemuda itu selalu bertindak di luar nalar.
Lift rumah sakit mereka naiki, hingga tiba di lantai kamar VVIP yang dijaga ketat. Para pengawal menunduk memberi hormat. Termasuk Frans, selaku asisten pribadi Kenzo.
"Tuan...?" ucapnya.
"Aku tidak bisa tidur, belikan aku soda berwarna merah, orange, dan bening..." perintahnya.
"Baik tuan..." Frans menunduk memberi hormat.
Pintu kamar rawat dibukanya, kembali berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit ruangan.
"Saya permisi..." ucap Amel dengan mulut penuh mengunyah sari roti yang tersisa setengah.
"Tunggu!! Kamu tidur di sofa!!" perintah yang tidak dapat dibantah seorang Amel.
Wanita itu meminum teh pucuknya, kemudian membaringkan dirinya di sofa. Bagaikan, beruang gemuk, setelah makan langsung tidur panjang di sofa dengan wajah damai.
"Amel!! Apa sebaiknya aku mencoba tidur di halte?" tanyanya, namun suara dengkuran halus yang terdengar.
Pemuda itu mengenyitkan keningnya, iri? Benar, begitulah perasaannya saat ini. Amel tertidur bagaikan tokoh animasi Garfield si kucing gemuk.
"Keterlaluan dia tidur mendahuluiku..." gumamnya kesal, hingga Kenzo berjalan mendekatinya. Memperhatikan wajah Amel, seperti putri tidur? Tidak, lebih tepatnya bagaikan beruang Grizzly.
Kenzo berfikir sejenak, merubah posisi sandaran sofa, yang memang jika difungsikan dapat menjadi tempat tidur yang cukup untuk dua orang. Entah, dari mana jalan fikiran gilanya, pemuda itu mulai berbaring di samping Amel.
Memeluknya bagaikan boneka beruang yang besar. Perlahan matanya terpejam, mendapatkan perasaan nyaman. Perasaan nyaman? Lebih tepatnya pemuda itu hanya haus dengan kasih sayang.
Untuk pertama kalinya Kenzo dapat tertidur nyenyak tanpa pengaruh obat tidur, di tempat selain jalanan atau emperan toko. Mengeratkan pelukannya pada tubuh Amel yang gemuk, tubuh dimana kang ojek saja, antara ogah dan tidak memboncengnya.
Entah kenapa, hatinya terasa hangat, mungkin karena banyak luka dalam hati pemuda itu. Kenzo dapat tertidur, dengan lebih baik kali ini.
Tok...tok... tok...
"Tuan?" suara Frans terdengar, namun tidak mendapatkan jawaban.
Apa dia mencoba melarikan diri lagi... gumamnya dalam hati, membuka pintu dengan cepat.
Perlahan pintu kembali ditutupnya, setelah meletakkan beberapa kaleng soda diatas meja, mengendap-endap tidak ingin menimbulkan suara sedikitpun. Mengingat amarah majikannya jika tidak dapat tidur dengan cukup.
Frans, menghela napasnya berkali-kali. Aneh? Benar-benar pemandangan teraneh yang baru pertama kali dilihatnya.
"Apa aku bermimpi..." gumamannya, menepuk-nepuk pipinya sendiri. Berjalan dengan langkah gontai mengira dirinya hanya berimajinasi.
***
Hangat dari sinar matahari terasa di wajahnya. Perlahan gadis itu membuka matanya. Mimpi yang indah? Mungkin itulah yang disangkanya.
Hidung mancung, kulit putih bersih diterpa sinar matahari, alisnya terlihat tegas, benar-benar keajaiban Tuhan. Namun sedikit bekas luka memanjang terlihat di dahinya, yang biasanya tertutup model rambutnya.
Perlahan, tangan Amel terangkat, meraba bekas luka di dahi Kenzo.
"Tampan..." gumamnya.
Sedetik...dua detik...tiga detik... kemudian...
Otak Amel yang tengah di restart mencerna, wajah siapa di hadapannya saat ini. Matanya membulat sempurna,"Orang gila!!" ucapnya, refleks menutup mulutnya mengetahui dirinya salah bicara.
Perlahan Amel menyingkirkan kaki dan tangan Kenzo, dari tubuhnya, berharap pemuda yang memiliki gangguan tidur itu tidak terbangun. Kemudian meraih tasnya, berjalan mengendap-endap, pergi dari ruangan dengan cepat.
Ojek online dipesannya, pergi secepatnya dari area rumah sakit, adrenalinnya benar-benar terpacu tidur di samping seorang pemuda yang sebenarnya terkadang tempramental. "Mampus!! Mampus!! Mampus!!" teriaknya ketakutan, masih diatas ojek onlinenya yang melaju.
Hingga akhirnya tiba di rumah kontrakan yang sudah di tempatnya tiga minggu ini dengan wajah pucat.
"Amel, mandikan Sany dulu ya? Ibu mau goreng ikan..." ucap Wina, menyerahkan bayi putih mungil itu.
Amel menghela napasnya berkali-kali, melepaskan pakaian sang bayi putih mungil. "Aku ingin curhat," ucapnya pada bayi yang tidak mengerti apapun.
Bayi itu hanya berkedip sesekali tersenyum pada ibu asuhnya.
"Begini, hidupku terlalu sulit. Setelah ini tidak tau harus kembali bekerja atau tidak. Jika bekerja memilliki kemungkinan untuk dibunuh, karena tidur di samping orang tidak waras yang benar-benar kaya. Jika tidak bekerja, bagaimana caranya makan. Apa kamu punya solusi untuk ibu?" tanyanya sembari menyabuni tubuh putrinya.
Bayi kecil itu hanya tersenyum dan tertawa, tidak dapat menjawab sama sekali...
"Aku tau!! Kamu juga butuh uang untuk susu dan popok..." gumamnya, tertunduk menemukan solusi mutlak dari sang bayi mungil.
Dalam bayangan Amel Kenzo mungkin sedang mengamuk penuh rasa jijik.
Mengamuk? Sejatinya pemuda itu terbangun dengan wajah cerah, terlihat lebih menyegarkan.
Duduk memakan sarapannya, serta segelas orange juice terhidang disana. Sesekali menatap berita internasional dari tab di hadapannya.
"Pelayan anda selama di negara ini bernama Amel Anggraini. Lulusan S1 keuangan," ucap Frans, memberikan informasi singkat.
"Kelemahan? Latar belakang?" ucapnya sembari memakan potongan poch egg.
"Keluarga kalangan menengah ke bawah. Kakaknya dipenjara karena tuduhan pembunuhan. Adiknya, baru lulus SMU, selain itu dia masih dalam usaha mengadopsi bayi tanpa latar belakang yang jelas..." jawab Frans.
Dia bertanya seperti akan mendekatinya, apa dia menyukainya... Frans mengenyitkan keningnya memandang curiga.
"Buat kontrak kerja selama dua tahun untuk menemaniku di tempat tidur setiap malam, mengikuti semua aturanku. Dengan imbalan, menyelesaikan masalah keluarganya..." Kenzo tersenyum, meminum segelas orange juicenya.
"Dua tahun!? Tapi kita di negara ini hanya kurang dari sebulan lagi!?" Frans menghela napas kasar tidak mengerti.
"Dia akan mengikuti ku kemanapun aku pergi mulai sekarang. Terlalu sering mengkonsumsi obat tidur juga tidak baik untuk kesehatan bukan? Jadi, anggaplah dia dari sekarang adalah obat tidur mahal tanpa efek samping..." gumamnya, mulai mengiris daging.
"Baik tuan..." Frans menghela napas kasar.
Kenzo tidak akan menyukai wanita gemuk, ini murni karena gangguan tidurnya. Tidak mungkin orang sepertinya menyukai Hulk versi wanita kan? Kenzo menyukai Amel? tidak mungkin...Tapi jika terus menerus ketergantungan tidur dengannya, bagaimana Kenzo menikah nanti... Frans mengenyitkan keningnya, mencemaskan kehidupan pemuda di hadapannya. Jangankan pacar, teman saja tidak punya.
Apakah akan ada istri yang bersedia berbagi ranjang dengan pelayan? Apakah Amel dapat menutup matanya, pura-pura tidur jika Kenzo menikah dan melewati malam pertamanya nanti? Fikirkan aneh dari Frans yang membayangkan... Jika Kenzo menikah nanti, dan masih membutuhkan Amel untuk tidur dengan nyenyak...
Bersambung