My Kenzo

My Kenzo
Bonus Chapter Musim Kedua 3



Benar-benar sebuah kebodohan yang dilakukannya kini. Mulai bermain dengan wanita penghibur, masalah perusahaan masih diatasinya. Gilang benar-benar pendendam, pada ayah mertuanya, perusahaan itu bagaikan tidak dapat bergerak. Namun, Antoni yang merintis usahanya dari nol dapat bertahan dan mengatasi segalanya.


Hingga tiba hari dimana dirinya benar-benar tidak bernapsu pada wanita. Penyebabnya? Entahlah, penat dirinya benar-benar penat. Merindukan almarhum Mika yang semenjak hubungannya dengan Elvira dan Keyla merenggang, selalu terlintas dalam benaknya.


Mungkin karena itulah Antoni memilih menyewa wanita penghibur, tidak memiliki napsu pada kedua istrinya. Tapi rasa penat itu malah semakin terasa, perasaan bersalah dan kehilangan yang bercampur menjadi satu.


Tindakan terbodoh yang dilakukannya untuk bersenang-senang. Ingin melayang sejenak melupakan masalah dan rasa bersalahnya. Hingga wanita penghibur termahal hari ini disewanya.


Alat pengaman telah ada di atas meja, samping tempat tidur hotel. Setelah disentuh pun dirinya tidak kunjung merasakan sensasi apapun, tidak bernapsu sedikitpun. Hingga langkah terakhir, beberapa butir obat kuat dikonsumsinya.


Bukannya berhasil menyenangkan dirinya, namun napasnya tiba-tiba terasa sesak. Tidak memakai pakaian sama sekali, wanita yang disewanya terlihat panik, berlari meraih jubah mandi, mencari bantuan.


Selama itu dirinya diam terpaku terbaring di atas tempat tidur menatap fatamorgana istri pertamanya, menahan sesak di dadanya. Tangan Antoni terulur ingin menyentuhnya namun...


'Aku bukan istrimu lagi, melangkahlah bersama wanita cantik yang kamu banggakan...' rupa istrinya yang sama, dengan saat mengikat janji suci dengannya, gadis cantik hasil perjodohan orang tuanya. Sama-sama berasal dari perekonomian yang kurang baik.


Fatamorgana itu tidak datang untuk menjemputnya, hanya menghilang lenyap bagaikan udara. Antoni diam tertegun air matanya mengalir. Rasa sesak sakit yang menghujam semakin buruk saja. Hingga wanita penghibur datang bersama beberapa orang. Membawanya ke rumah sakit, menggunakan mobil.


***


Tubuh polosnya nya ditutupi selimut, dengan segera tempat tidur beroda dikeluarkan petugas medis. Mendorong menuju UGD dalam kepanikan, mata pria itu menatap ke arah lampu-lampu lorong rumah sakit.


Apa menyenangkan? Apakah bahagia? Diujung usianya ini, dirinya menyadari 'Tidak'. Tidak ada kebahagiaan disana. Manusia terlahir tanpa mengenakan sehelai benangpun, mati terkubur dalam tanah juga sama, tidak akan ada kain yang dapat membalutnya. Tanah akan menembus tubuhnya.


Apa itu kebahagiaan duniawi? Sejatinya kala orang-orang yang tulus peduli padanya ada disampingnya. Membuatnya tersenyum, saling peduli dan menjaga, kebahagiaan duniawi yang mungkin akan tetap kekal hingga ajal menjemput.


Dirinya baru menyadari di menit, detik terakhir hidupnya. Kenikmatan ketika menyentuh tubuh wanita, kenikmatan kala menghabiskan uang berlibur, bukanlah sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang dirinya campakkan.


Sang pedagang kopi keliling, pergi seorang diri...


Tangan itu terjatuh menggantung lemas, matanya terpejam. Ikhlas akan segalanya, meninggalkan sesuatu yang indah namun menyakinkan.


Andai harta ini tidak datang, dirinya mungkin akan bahagia hidup sederhana bersama Mika dan Kristin. Atau andai dirinya tidak terbuai dengan kenikmatan yang terlanjur didapatkannya, mungkin dirinya dapat tersenyum di akhir hidupnya.


Namun, sang pedagang kopi keliling, berakhir tidak bahagia. Pergi seorang diri tanpa istri pertama dan tangisan duka dari putrinya...


Tubuh itu telah sampai di UGD, bersamaan dengan dokter yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Memeriksa tanda-tanda organ vital,"Catat waktu kematiannya, beri keterangan penyebab kematian sementara over dosis obat, yang menyebabkan serangan jantung..."


Seorang perawat mencatat, sedangkan satu lagi, menutupi jazad itu dengan kain putih. Didorong perlahan menuju kamar mayat.


***


Suasana berkabung terlihat, kala semua orang telah pergi. Barulah sebuah mobil hitam terhenti. Kristin berjalan membawa seikat bunga, mengelus batu nisan dengan nama ayahnya. Air matanya mengalir.


Kristin menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Darah lebih kental dari pada air? Mungkin memang benar. Hingga dapat memaafkan ayah yang memalingkan wajahnya.


"Kita pulang?" Gilang tiba-tiba telah berdiri di belakangnya.


Kristin mengangguk, berjalan mengikuti suaminya. Meninggalkan Antoni yang kini terkubur dalam raga tanpa nyawa. Telah tenang, dimanapun dirinya berada saat ini. Sebuah sesal yang tidak berguna... hanya dapat menjalani semua takdir, dalam satu kata ... keikhlasan...


***


Antoni sudah tidak ada, separuh saham perusahaannya diwariskan pada Keyla dan calon anaknya, separuhnya lagi diwariskan untuk Elvira sang istri kedua serta Airin putrinya.


Semua awalnya baik-baik saja. Hingga Elvira menyadari satu harta yang belum dibagi. Rumah yang ditempati almarhum Mika. Entah berada dimana sertifikat rumah itu.


Hingga dirinya menghubungi Kristin untuk datang ke rumahnya. Satu lagi yang dihubungi untuk datang, Keyla yang baru saja melahirkan beberapa bulan lalu.


Kristin datang seorang diri tanpa kehadiran Gilang yang masih bekerja. Tidak meminum apapun, bahkan membawa minumannya sendiri. Cukup waspada pada kedua ibu sambungnya yang memang membenci kehadirannya.


Elvira menghela napas kasar memulai pembicaraan,"Kita adalah satu keluarga, tidak boleh saling melupakan, hanya dengan kematian Antoni. Karena itu, jika ada yang memerlukan pertolongan harus saling membantu,"


Keyla yang duduk disamping baby sitter yang mengurus putranya mengangguk, sembari tersenyum,"Benar, sudah tanggungjawab bagi seorang kakak untuk menyayangi dan menjaga adiknya,"


Kristin hanya terdiam, mengetahui arah pembicaraan mereka. Tidak menggubris, tujuannya datang hanya untuk meluruskan kesalahpahaman tentang sertifikat rumah yang dulu ditempati almarhum ibunya.


"Eekkkhmmmm... Kristin, kamu dengar yang ibu katakan?" Elvira tersenyum, berprilaku layaknya seorang ibu sambung yang membesarkan dan memanjakannya. Memanjakannya? Sejatinya tidak, tidak peduli dengan Mika maupun Kristin, ketika Antoni masih hidup. Bahkan menjauhkannya dari sang ayah.


Diam? Itulah yang kembali dilakukan Kristin, tidak menjawab, mendengar semuanya apa yang mereka inginkan sebenarnya, hingga kembali mengusiknya.


"Airin akan menggantikan posisi Antoni untuk memimpin perusahaan, kerjasama dengan Bold Company akan menguntungkan untuk perusahaan keluarga kita. Jadi sebagai sesama keluarga, bisa kamu berbicara dengan suamimu?" ucap Elvira tersenyum tanpa dosa.


Sudah diduga olehnya, ini hanya untuk keuntungan mereka saja. Membicarakan sertifikat rumah? Apanya yang membicarakan sertifikat rumah...


Sedangkan Keyla, memegang jemari tangan Kristin tanpa canggung. Seolah melupakan tangannya lah yang menampar almarhum Mika dahulu.


"Ini anakku, juga adikmu. Aku tinggal seorang diri di rumah yang besar, harus mengurus bayi yang masih kecil. Bagaimana jika kamu dan Gilang pindah ke rumahku, bantu aku menjaganya. Sebagai pancingan, agar kamu cepat hamil..." kata-kata manis dari mulutnya yang penuh tipu daya.


Memanfaatkan situasi? Setelah hampir setahun menikah, Kristin belum juga hamil. Hal yang ingin dilakukannya? Mengambil alih posisi Kristin. Seorang suami juga pasti menginginkan keturunan, jika Kristin tidak dapat memberikannya. Akan ada kesempatan dirinya dapat memberikan keturunan untuk Gilang.


Sampai saat itu tidak perlu berpura-pura baik di hadapan wanita yang bahkan tidak dapat menyaingi kecantikannya. Itulah yang ada di balik senyumannya.


"Sudah selesai!?" tanyanya, menarik tangannya yang digenggam Keyla.


Bersambung