My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Memalukan



Seorang ibu yang menginginkan yang terbaik untuk putri tunggalnya? Itulah Kamila, menghela napas kasar, berusaha bersabar berbicara baik-baik.


"Pergi berkenalan dengannya, anggap saja berkenalan dengan teman baru," ucapnya tersenyum.


"Tidak," jawaban Glory tetap menggeleng.


"Pergi dengannya, atau kamu tidak boleh belajar dengan Ken di kamar lagi..." ancaman dari mulut Kamila yang masih tersenyum.


"I...iya! Tapi janji, jika aku tetap menolak maka ibu tidak boleh memaksa," pintanya.


Kamila mengangguk, sembari tersenyum cerah,"Hati-hati di jalan ya?"


"Aku berangkat!!" pada akhirnya Glory melangkah pergi, tidak meraih uang jajan dari ibunya pertanda dirinya masih memberontak.


Tapi dengan cepat, Kamila kembali menariknya, menempelkan uang jajan 5000 rupiah di kening putrinya. 300.000 rupiah uang sebelumnya? Semua kembali dimasukan ke dalam dompetnya sendiri.


"Pakai yang hemat!!" ucapnya.


"Iya!! Iya!!" Glory kembali merentangkan kedua tangannya ke depan melompat-lompat seperti vampir Cina.


Kamila menghela napasnya, putrinya masih lucu, lugu dan kekanak-kanakan, walaupun sejatinya cerdas. Perlahan dirinya tersenyum cerah, walaupun tanpa ada paksaan darinya, selalu ada jalan untuk menikahkan makhluk itu.


Jika Gin, menantu idamannya, benar-benar pria yang baik, mungkin setelah putrinya lulus SMU. Tinggal membuat pemuda itu bertamu lewat tengah malam, tanpa kehadiran dirinya dan suaminya. Menghubungi Pak RT, membuat pasangan itu dinikahkan, maka dirinya resmi memiliki menantu seorang perawat.


Kamila tersenyum-senyum sendiri, memegangi pinggangnya yang sakit,"Menantu seorang perawat..." gumamnya, tidak menyadari yang dicintai putrinya seorang dokter bedah.


***


Hari ini ada yang aneh, benar-benar aneh, Ferrell mengenyitkan keningnya, menatap Lily yang tiba-tiba duduk di bangku belakang sebelah dirinya."A...apa yang terjadi?" gumamnya tidak mengerti.


Pemuda itu tetap membawa ranselnya, duduk di belakang Glory, bersebelahan dengan Lily.


"Kenapa kamu disini!? Pindah sana!!" bentak Ferrell, masih dengan wujud Superman dekilnya.


"Jangan begitu, kalau sedang marah, kamu bertambah tampan saja," ucap Lily, mengedipkan sebelah matanya genit.


Aku ingin muntah mengatakan makhluk standar ini tampan. Sebenarnya, apa Glory terkena rabun di usia muda? Sampai-sampai menolak Ferrell dan menyukai Ken... batinnya, berusaha tetap tersenyum.


Rencana Lily, membuat Ken menyukai dirinya. Hingga menjauh dari Glory. Kemudian mata Glory akan terbuka lebar-lebar untuk memilih Ferrell.


"Kalian pacaran?" Caca menengok ke bangku belakangnya terlihat antusias. Akhirnya ada makhluk hidup selain Glory yang menyukai Ken. Itu artinya jalan untuk memiliki teman seorang istri selebriti semakin terbuka lebar.


"Akan..." Lily, memegang tangan Ken, dengan cepat Ken menarik tangannya.


"Baguslah kalau begitu, kalian memang serasi," suara tawa Caca terdengar nyaring.


Kesal? Tentu saja, dua orang bocah ini malah tidak membantunya untuk mendekati Glory. Kenapa mereka menggoda Ken?


Dasar dua bocah... batin Ferrell geram.


Sementara Glory tertunduk diam, menahan luka di hatinya setiap mendengarkan tawa Caca dan Lily. Lily lebih kaya dan populer darinya, lebih berani menyatakan perasaan, jadi wajar saja jika Lily dan Ken akan segera menjadi sepasang kekasih. Meninggalkan dirinya yang akan menangis seorang diri.


"Glory?" panggil Ken padanya.


Sedangkan Ferrell, melakukan hal yang sama terlihat malu-malu,"Mau permen..." ucapnya menyodorkan dua bungkus, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Glory.


Tapi dengan cepat kedua makhluk fans fanatik itu merebut dari tangan Ken. Memakannya dengan cepat tanpa ada rasa malu sedikitpun. Memusuhi Ken? Begitulah diri mereka saat ini. Tidak tahan rasanya idolanya dikalahkan hanya oleh Superman dekil.


Glory menghela napas kasar, mengeluarkan satu bungkus permen miliknya, sejenis permen dengan tekstur yang lembut dapat dibagi dua dengan digit."Ini untukmu..." ucapnya mengigit setengah untuk dirinya dan setengah lagi untuk Ken.


Bagaikan ciuman tidak langsung, melalui permen yang terbagi. Dua orang itu kembali mengalihkan pandangannya tersenyum malu-malu.


"A...aku kalah, sangat menjijikkan," ucap Lily tidak tahan lagi merasakan aura bucin yang menyengat.


"Kamu baru hanya melihatnya hari ini kan? Tunggu saja nanti, akan lebih parah," bisik Caca dengan suara kecil.


Dan benar saja baru beberapa menit jam pelajaran dimulai. Ferrell berbicara dengan suara kecil."Glory coba tebak, aku menulis apa di punggungmu,"


Perlahan jari telunjuk tangan kanan Ferrell bergerak, menulis I Love You di punggung Glory."Apa ya? Aku menyerah apa yang kamu tulis,"


"Kamu cantik," jawaban dari Ferrell.


Kedua orang itu kembali tersipu salah tingkah. Sedangkan Lily yang duduk di samping Ferrell yang masih berwujud Ken, mengenyitkan keningnya, aura bucin yang semakin parah saja dari dua orang ini.


Lily menghela napas kasar, jika di lihat baik-baik olehnya. Ken dan Glory memang cocok dari segi kepribadian. Namun, kepribadian Glory dengan Ferrell yang bertolak belakang terasa lebih menantang. Bagaikan pria berbahaya menggoda seorang gadis baik-baik.


Bagaikan adegan film modern dimana cinta tumbuh dari dua orang yang memiliki kepribadian bertolak belakang. Sedangkan alur percintaan Ken dan Glory seperti menonton film lawas, dimana dua orang anak SMU yang mencintai diam-diam, penuh perasaan sungkan dan malu-malu.


Jika boleh memilih yang mana lebih disukai oleh Lily. Tentu saja alur cerita modern yang lebih menantang bukan model lawas. Tapi sekali lagi, perbedaan selera.


"Ken, bagaimana jika kita makan siang bersama nanti, biar aku yang menyuapimu," ucap Lily, tersenyum semenarik mungkin.


Ferrell mengenyitkan keningnya, orang ini bukannya mencari cara agar seharian ini Glory bersedia berkencan dengannya malah mengganggu dirinya yang sedang...


Sudahlah, tapi cukup menyenangkan bagi Ferrell, dirinya merasa berbunga-bunga. Hanya dengan senyuman malu-malu Glory. Gemas menatap Glory ingin memangut bibir itu. Inikah rasanya jatuh cinta? Tidak buruk sama sekali, hanya dengan melihat wajahnya, hatinya berdebar tiada henti, debaran yang semakin cepat kala menyentuhnya.


Bagaimana rasanya jika tidur bersama, seperti Steven dan Febria? Mungkin lebih memabukkan daripada imajinasi liarnya yang terkadang dilampiaskan, di kamar mandi di bawah derasnya air shower.


Membayangkan Glory memekik tanpa sehelai benangpun di tubuhnya kesakitan di bawah kungkungannya, namun menginginkan tubuhnya dihujam lagi dan lagi. Benar-benar imajinasi yang membuatnya gila.


Ferrell malu sendiri, mengingat dirinya yang memiliki citra dokter dingin, selebriti dengan senyuman yang hangat, membuat banyak lagu-lagu tentang perasaan yang dalam. Melakukan hal yang benar-benar memalukan.


Tapi semenjak mengenal Glory, entah sudah berapa lagu cinta yang diciptakannya, direkamnya sendiri menggunakan handycam tanpa mempublikasikannya. Mengingat masa hukumannya belum berakhir.


Inikah rasanya jatuh cinta pada gadis centil?


"Ken, mau makan siang bersamaku?" Lily kembali bertanya.


"Tidak, aku akan makan siang dengan Glory," jawaban darinya, ingin mengawasi aktivitas gadis centil. Ingin mengetahui pria mana yang akan menjadi penghalang untuk memiliki Glory sepenuhnya nanti.


Dasar Superman dekil!! Kenapa harus saling menyukai dengan Glory!! Tidak sadar diri!! Dia itu jatah Ferrell. Bagaimana ini... batin Lily memikirkan cara, agar seharian ini Glory bersedia menghabiskan waktu dengan Ferrell.


Bersambung