
Ragu? Erlang benar-benar ragu, sempat menanyakan pada pemilik warung kopi depan gang rumahnya. Orang itu benar-benar melihat mobil Ferrell berhenti di depan gang rumahnya.
Apa Grisella tidak berbohong? Namun, dirinya tetap harus berhati-hati dalam hal ini, tidak ingin salah bertindak. Hingga menyetir mobilnya sepulang bekerja tanpa membawa Ratna atau Grisella tidak ingin ada kegaduhan sebelum semuanya benar-benar jelas.
Pintu gerbang rumah besar itu dibukakan seorang security, halaman yang luas terlihat, dengan deretan mobil berharga fantastis berjejer rapi di garasinya. Inilah rumah Damian, yang memiliki beberapa orang cucu. Mengelola cabang perusahaan milik anak angkatnya.
Mobil mewah yang berderet? Semuanya fasilitas yang disediakan olehnya, kala ke 7 orang cucu, anak angkat dan menantunya berkumpul bersama.
Besarnya cabang W&G Company di negara ini mungkin setara dengan perusahaan miliknya. Namun perusahaan induk di luar negeri, beserta anak cabang lainnya di beberapa negara? Jika menghadapi Damian saja dirinya mungkin masih memiliki keberanian. Namun, jika anak, menantu dan cucu-cucunya kembali, dirinya hanya dapat menunduk.
Tangannya mengepal, mulai membuka pintu mobilnya. Tujuannya mencari kebenaran dari kedua belah pihak, barulah meminta pertanggungjawaban.
Pintu dibukakan seorang pelayan, Erlang melangkah dibimbing seorang pria yang mungkin berstatus kepala pelayan di kediaman ini. Inilah mungkin kediaman utama keluaga tersebut.
Damian yang telah dihubungi sebelumnya, hanya untuk bertemu, mulai duduk di hadapannya. Beberapa menit kemudian seorang pelayan menghidangkan minuman dingin.
"Erlang, minumlah dulu baru mulai bicara, kamu baru pulang kerja bukan...?" Damian yang memang mengenalnya dengan baik tersenyum. Mengira-ngira pria ini hanya ingin membicarakan masalah kerjasama bisnis mereka yang dua tahun ini berjalan.
Erlang meraihnya, mulai minuman dengan ragu, menghela napas memulai pembicaraan."Pak Damian, aku..."
"Walaupun kamu seumuran dengan putra angkatku. Sudah aku bilang, tidak usah panggil pak, panggil Damian. Agar aku terkesan lebih muda," candaannya.
Pria itu mengepalkan tangannya, memberanikan diri."Damian, apa Ferrell memiliki hubungan dengan anak SMU?" tanyanya.
Damian terdiam sejenak mencerna segalanya. Dirinya memang tengah mencari informasi tentang Glory. Namun, informasi yang didapatkannya Glory berasal dari keluarga kalangan menengah kebawah. Kenapa Erlang bisa mengenalnya?
"Iya, belakangan ini Ferrell memang menjalin hubungan dengan anak SMU, dia pernah membawanya pulang larut malam," jawaban Damian, yang sejatinya juga baru pulang kerja. Tidak menyadari cucunya tengah menyekap Nyai-nya (Glory) di dalam kamar.
Erlang menghela napas kasar, setidaknya walaupun hamil di luar nikah, Grisella memiliki kemungkinan tidak berbohong tentang siapa ayah dari anaknya. Dan sekarang saat tersulit baginya, meminta pertanggungjawaban.
"Begini, putriku yang baru saja lulus SMU mengatakan dirinya mengandung dan itu adalah perbuatan cucumu. Awalnya aku juga masih memikirkan kemungkinan putriku berbohong, tapi ada salah seorang tetanggaku yang melihat mobil Ferrell berhenti di gang rumahku pukul 3 pagi..." jelasnya, mencoba untuk lebih berhati-hati. Benar-benar tidak ingin menyinggung Damian.
Menyayangi putrinya? Tentu saja, namun Grisella yang kerapkali membohongi Ratna, membual tentang perjodohan yang belum pasti. Membuatnya, tidak begitu yakin, salah bertindak atau menuduh sedikit saja entah apa yang akan terjadi.
Jika saja ini fakta ada bukti nyata, serta putrinya tidak kerap berbohong, mungkin dirinya akan percaya. Dengan tegas meminta pertanggungjawaban, namun tidak ada bukti nyata sama sekali.
Damian mengenyitkan keningnya kesal."Dia berkata belum kawin, tapi malah sudah menghamilinya duluan!?" gumamnya. Mungkin informasi yang didapatkannya tentang keluarga Glory yang berasal dari kalangan menengah ke bawah adalah kesalahan. Ternyata Glory adanya putri Erlang?
"Pelayan," panggilnya.
"Ya tuan..." seorang pelayan menunduk memberi hormat.
"Panggil Ferrell, katakan ayah mertuanya ada disini," ucapnya memijit pelipisnya sendiri. Apa yang harus dikatakannya nanti pada Kenzo dan Amel? Apa Ferrell benar-benar nekat melakukannya, sebelum pernikahan?
Vanya yang baru datang dari taman belakang menghela napas, berjalan mendekati sang pelayan."Biar aku saja yang memanggil Ferrell," ucapnya, berjalan menuju lantai dua.
Wanita tua nan stylish itu menatap ke arah cucunya yang berdiri di depan pintu berteriak, bertengkar dengan wanita yang sebelumnya dibawanya ke dalam.
"Tolong buka pintunya, ibuku akan kemari untuk menyelamatkanku! Melemparkan pancinya ke kepalamu," suara Glory masih terdengar lagi.
"Berani mengikuti pesugihan, berarti juga berani menanggung resikonya! Aku akan melamarmu, jangan khawatir! Nanti aku akan membawakan makanan enak ke kamar!" Ferrell ikut-ikutan berteriak, berbatasan pintu yang tertutup berdebat dengan Glory.
Vanya menatap cucunya yang masih bertengkar, mempertahankan gadis itu agar tidak kabur lagi darinya. Entah dimana cucunya yang keren, dingin dan tidak tersentuh. Kali ini benar-benar terlihat seperti anak kecil.
Hingga Vanya berjalan mendekatinya."Ferrell ada orang yang ingin bertemu denganmu. Dia sedang bicara dengan kakekmu saat ini. Katanya kamu mengencani putrinya..."
Wajahnya seketika pucat pasi."Paman Hasan?" gumamnya mengingat sang pemilik mobil pickup tahu bulat digoreng hangat-hangat 500-an.
"Nenek, tolong bantu aku bicara baik-baik dengan Glory. Aku harus mandi dulu, agar bisa tampil maksimal di depan calon mertua," ucapnya memberikan kunci kamar, mengingat riasan wajahnya yang belum terhapus sempurna.
"Tapi..." Vanya mengenyitkan keningnya, menatap cucunya yang memasuki kamar Scott, hendak membersihkan diri dalam kamar sang kakak, yang kini tinggal di Singapura.
Mata Vanya melirik pintu yang tertutup, mendengar gadis itu tengah mengumpat."Ferrell sialan!! Pesugihan apanya!? Aku akan mengembalikan semuanya, aku ingin pulang,"
Sang wanita tua menghela napas kasar mendekati pintu."Aku neneknya Ferrell, kamu tenang ya? Ferrell jika dihadapi dengan keras, dia akan semakin keras kepala juga. Jadi coba tenang dan sedikit melunak padanya..."
Namun, Glory memang tetap saja hanya seorang remaja labil."Ibu, aku ingin pulang. Ibu benar dan aku salah, Ken memang bukan orang baik..."
Vanya yang masih berdiri di depan pintu hanya dapat memijit pelipisnya sendiri.
***
Beberapa belas menit berlalu, Ferrell keluar dari kamar Scott dengan penampilan berbeda. Mengenakan tuxedo hitam milik sang kakak, berjalan keluar dari kamar, merapikan sedikit penampilannya."Nenek tolong jaga dia sebentar ya? Setelah ini aku akan kembali..." pintanya pada Vanya yang hanya dapat berdiri di depan pintu mendengarkan sang remaja labil, mengacak-acak kamar cucunya mencari keberadaan phoncellnya.
"Ferrell dimana handphoneku!?" teriakannya dari dalam sana.
Sedangkan Ferrell sendiri, menata rambutnya dengan cara berbeda. Terlihat lebih dewasa dan berkharisma. Menuruni tangga dengan jantung yang berdegup cepat, takut akan ayah mertuanya yang mungkin akan marah besar. Setelah dirinya melarikan Glory.
Hingga matanya menelisik, tidak terlihat sosok Hasan disana...
Melangkah lebih dekat, namun Damian yang pertama berdiri."Ferrell! Kakek fikir kamu hanya bercanda saat mengatakan akan menghamili pacarmu yang masih belia! Tapi, kamu benar-benar menghamilinya! Apa yang akan kakek katakan pada ayah dan ibumu nanti!!" ucapnya.
Tapi, jikapun benar, Glory tetap adalah miliknya, gadis lucunya yang pintar namun lugu. Dirinya tetap akan menikahinya, walaupun telah dihamili sang calon perawat, benar-benar bucin tingkat tinggi.
Erlang menghela napas kasar."Jadi memang benar, ayah dari anak yang dikandung putriku adalah kamu?"
"Apa Glory mempunyai dua ayah?" tanya Ferrell yang juga tidak mengerti, menatap ke arah Erlang.
"Glory? Kenapa Glory? Aku Erlang ayahnya Grisella," jawabnya bertambah tidak mengerti lagi. Ada apa dengan anak tetangganya?
Damian menghela napasnya."Kamu duduk dulu..."
Ferrell menurut mulai duduk. Tidak semua rekan bisnis sang kakek dikenalnya. Dirinya hanya membantu di perusahaan apabila ada waktu senggang. Lalu siapa orang ini? Ayahnya Grisella? Kenapa kemari?
Seorang pelayan kembali menyajikan satu gelas minuman dingin untuk Ferrell. Kemudian mundur kembali melakukan pekerjaan lainnya.
"Kita luruskan dulu, kamu kemari karena putrimu yang bernama Grisella hamil dan mengatakan yang menghamilinya adalah Ferrell?" tanya Damian, bertindak lebih tenang. Sedangkan, Erlang mengangguk membenarkan.
"Ferrell, kamu mengenal anak Erlang yang bernama Grisella?" kali ini Damian bertanya pada cucunya.
"Dia ketua OSIS sekaligus peringkat satu umum. Jika yang dimaksud Grisella yang satu kelas denganku dan Glory..." jawabnya ragu.
"Bukannya kamu sudah lulus kuliah, kenapa..." kata-kata Erlang disela.
"Aku menghukumnya menjadi anak SMU selama beberapa bulan. Dengan identitas lain," Damian mulai meminum minuman dingin di hadapannya.
"Ferrell, apa kamu menjalin hubungan dengan Grisella?" lanjutnya.
Dengan cepat Ferrell menggeleng."Bahkan di sekolah, dia hanya pernah menyapaku sekali. Jika kakek tidak percaya, bisa tanya sendiri pada Ira dan Budi."
"Grisella mengatakan, kalian menjalani hubungan diam-diam hingga kamu pernah mengantarnya pulang pukul 3 pagi. Ada tetangga yang tidak sengaja melihatmu disana," ucap Erlang penuh harap bahwa putrinya tidak berbohong.
Ferrell terdiam berfikir sejenak."Mengantar Grisella pulang? Tidak pernah, yang aku antar pulang adalah Glory. Jika tidak salah saat itu adik Lily berulang tahun, dirayakan tepat pukul 12 malam. Ada Lily dan Caca sebagai saksinya."
Tangan Erlang gemetar, kembali mulai bertanya pada Ferrell."Jadi kamu tidak pernah menjalin hubungan dengan Grisella?"
Pemuda itu kembali menggeleng, menunjukkan foto profil handphonenya, dirinya dan Glory yang saat itu masih menggunakan identitas Ken."Aku menjalin hubungan dengan Glory, menggunakan identitas Ken beberapa minggu ini. Selain itu aku selalu ada di rumah, studio rekaman pribadi untuk menciptakan lagu. Di rumah ini ada CCTV-nya, jadi jika paman tidak percaya bisa periksa sendiri."
"Jikapun aku keluar rumah, hanya untuk ke sekolah, rumah sakit, dan menemui Glory yang berjualan tahu di pinggir jalan. Semua alibi ada bukti dan saksinya... kecuali malam itu, tidak ada bukti rekaman CCTV dan saksi..." Ferrell tertunduk.
Kedua orang itu mulai antusias mendengarkan. Inilah kemungkinan terakhir membuktikan kata-kata Grisella.
Ferrell tersenyum, tidak malu menunjukkan betapa bucinnya dirinya."Aku melompati pagar rumah Glory dan bertemu dengannya tepat tengah malam. Membawa bunga kamboja..."
Kata-kata darinya membuat kedua pria itu tertegun diam. Menghela napas kasar.
"Jadi bukan kamu yang menghamili Grisella?" Erlang kembali bertanya menyakinkan.
"Bukan aku, jika di tes DNA saat usia kandungan sudah cukup pun hasilnya akan sama. Paman akan berakhir mempermalukan nama baik paman sendiri..." tegasnya mulai bangkit.
Erlang tertunduk."Maaf, aku akan menyelidikinya lagi..." hanya itu kata-kata yang terucap dari bibirnya. Ferrell memiliki alibi, bukti dan saksi. Selain itu kepercayaan diri yang terlihat kuat, tidak terdengar gentar atau ketakutan sedikitpun.
"Tidak apa-apa," Ferrell berjalan mendekati pelayan yang bertugas di dapur, memberi instruksi untuk membuat beberapa jenis hidangan laut untuk Glory yang masih terkurung di kamarnya.
Erlang terdiam sesaat, inilah sebab dirinya harus bersikap tenang sebelum mengambil tindakan. Namun, benar-benar mengejutkan baginya, pemuda itu menyukai anak tetangganya yang bukan dari kalangan atas?
Tapi diluar dari itu anak Hasan memang cukup cantik dan baik. Andai saja Ratna tidak terlalu memanjakan dan mengagungkan Grisella.
Beberapa menit berlalu, beberapa pelayan yang terlihat melirik ke arah Ferrell sambil sesekali menatap layar phoncellnya.
"Tuan..." kepala pelayan berjalan mendekat, menunjukkan layar phoncellnya pada Damian. Rekaman wawancara eksklusif terlihat, dengan Ratna dan Grisella yang ada di sana.
"Erlang!?" bentak Damian, menatap tajam padanya.
Erlang segera merebut phoncell dari tangan sang pelayan, rekaman dimana tangisan palsu putrinya terdengar. Wajahnya seketika pucat pasi, melirik ke arah Ferrell. Yang berbalik, mendengar samar-samar isi rekaman wawancara eksklusif suara Grisella memintanya untuk bertanggung jawab.
***
Di negara lain...
Wajah seorang wanita seketika pucat pasi, memanggil suaminya yang tengah mengerjakan beberapa berkas."Steven kita harus pulang! Hubungi kakak-kakak kita yang lain..."
"Ada apa?" Steven mendekati istrinya, menarik dalam dekapannya.
"Ini bukan saatnya bercanda. Ferrell menghamili anak SMU!!" jawaban darinya, melepaskan pelukan suaminya. Mulai menghubungi kakak-kakak mereka yang lain.
Sedangkan Steven menghela napas kasar."Liar (pembohong)!" cibirnya tersenyum kesal, menatap gerak gerik wanita dalam video wawancara eksklusif yang tersebar di Internet.
Benar-benar bukan tipe dari Ferrell. Namun, akan menjadi sangat menarik, ketika anggota keluarga mereka berkumpul kali ini."Saatnya mengolok-olok Ferrell yang tidak pernah pacaran..." suara tawa Steven terdengar.
Bersambung