
Tetesan hujan turun dengan deras tidak ada satu orangpun yang berlalu disana. Penerangan yang benar-benar minim, hanya sekitar 15 meter dari tempat mereka, terdapat lampu remang menerangi jalan kecil. Sedangkan di depan emperan toko terbengkalai tidak ada penerangan apapun.
Wajah rupawan pemuda itu ditatapnya samar, kali ini benar-benar menggunakan hatinya. Mencintai Ferrell dan Ken, bagaimana bisa? Dirinya memang wanita yang buruk, namun hatinya tetap berdebar cepat.
Mata yang sedikit menunduk menatap dirinya dengan rambut yang basah. Jemari tangan dingin sang pemuda menyentuh pipinya, mengusap dengan jemarinya. Glory menonggakkan kepalanya, dengan hati yang bertambah gelisah.
"Aku mencintai, bocah centil-ku," bisiknya, memejamkan mata tajamnya yang terlihat sayu takluk akan perasaan kasihnya, mendekatkan bibirnya.
Mata Glory ikut terpejam, seiiring mendekatnya bibir mereka. Indah, ini benar-benar terasa indah, seakan tidak rela mengakhirinya, Ferrell melakukannya perlahan. Sepasang bibir yang saling mengecup beberapa kali, seiring sepasang mulut yang terbuka. Mengecup, melilit lidahnya kemudian kembali memisahkan diri, berulang-ulang.
Tidak rela mengakhiri ini, sulit untuk merelakannya."Glory..." panggil Ferrell dengan napas memburu tepat di hadapan wajahnya.
Napas gadis itu juga terlihat tidak teratur, bukan karena kehabisan napas akibat ciuman. Namun aliran darahnya terasa benar-benar cepat, dua orang yang sudah mengetahui apa keinginan tubuh mereka. Namun, semua perasaan itu tertahan.
Hanya pangutan bibir, tidak lebih, tepatnya tidak boleh lebih. Kedua mulut itu sedikit terbuka, menampakan lidah mereka yang saling menyapa di luar mulutnya. Saling membelit, kembali menerobos masuk. Hangat ini benar-benar hangat.
Pasangan yang baru mengenal betapa hangatnya perasaan yang membuatnya gelisah tidak terkendali ini. Namun, ini benar-benar memabukkan, tangan Ferrell berada di pinggangnya. Perlahan mendekap tubuhnya, membantunya untuk mensejajarkan tinggi tubuh mereka, bibir yang menyatu sulit untuk dijelaskan.
Perasaan aneh ini, benar-benar terasa sulit. Tangan Glory mengalung dengan ragu, limbung seakan tidak memiliki pijakan. Inilah jarak nol antara pria dan wanita. Tubuh yang sama-sama basah, kulit dingin yang berpenghalang pakaian.
Dirinya menginginkan gadis ini, tapi tetap tidak bisa. Melamarnya? Ferrell ingin melakukannya, membayangkan gadis ini akan menemani hidupnya yang dahulu hanya diisi dengan pekerjaan.
Membawanya ke belakang panggung, mengecup bibirnya. Bahkan jika bisa membawanya ke rumah sakit, gadis ini benar-benar membuatnya takluk.
Mulai serakah? Itulah yang terjadi, menginginkannya untuk menjadi miliknya seorang. Batas usia untuk resmi menikah 19 tahun bukan? Sebentar lagi... hanya sebentar lagi. Gadis ini akan mengandung benihnya.
"Glory..." bisiknya lagi, dengan deru napas menyapu leher gadis dalam dekapannya.
Tanpa diduga, Glory menurut dari awal, hanya menggunakan hatinya saja. Bagaikan kehausan, dengan serakah bibir Ferrell kembali diraupnya. Ini untuk yang terakhir kalinya, keserakahan yang mendominasi lembut.
Dua orang yang tidak pernah puas. Bagaimana cara menghentikan kegelisahan ini? Mungkin menyatukan tubuh mereka secara sempurna tanpa penghalang. Memekik, meracau, merasakan kenikmatan duniawi hingga kelelahan untuk menciptakan janin kecil.
Namun, itu tidak terjadi sama sekali, perlahan dua pasang mata itu terbuka. Menginginkan lebih tetapi tidak bisa.
Sang pemuda yang tidak ingin merusak gadis centil, sesuatu yang berharga di hidupnya. Sedangkan sang remaja putri tertunduk, takut akan ditinggalkan jika menyerahkan diri dan hatinya. Karena itulah Glory lebih memilih Ken, sesuatu yang dapat dijangkau olehnya.
"Apa nyaman?" tanyanya memeluk tubuh Glory.
"Ini terakhir kalinya, kamu sudah berjanji..." ucapnya dengan hati yang terasa menyakitkan untuk mengakhirinya.
"Apa jika pemuda bernama Ken menciummu, kamu juga akan membalasnya seperti tadi?" Ferrell kembali bertanya, meyakinkan akan stok asupan nutrisinya di masa depan.
"Tidak tau!! Jangan apa-apakan Ken!!" Glory tiba-tiba kesal, bersungut-sungut, mengira Ferrell mengancam akan melukai atau membuat Ken pindah sekolah. Tubuh pemuda itu didorongnya berjalan di tengah derasnya air hujan, menuju tempat parkir mobil.
Sementara Ferrell menghela napas kasar, memegang dada kirinya,"Aku dikalahkan oleh bocah, bahkan menurut untuk menjadi pria yang diinginkannya. Aku sudah gila," gumamnya tertawa sendiri, tersenyum-senyum tidak jelas. Untuk pertama kalinya merasakan indahnya jatuh cinta. Pemuda jenius yang melewati masa kecil hingga dewasanya, tanpa memiliki sahabat atau mengalami indahnya perasaan mencintai seorang wanita.
***
Mobil mulai melaju, menembus jalanan perkotaan. Tidak banyak pembicaraan diantara mereka hingga tiba saat mobil memasuki gerbang sebuah rumah yang cukup besar.
"A...aku ingin pulang!! Kamu membawaku kemana!?" bentaknya, ketakutan.
"Rumah?" Glory tertegun sesaat.
Apa dia akan memberikanku minuman keras, dicampur dengan obat? Kemudian mengambil keperawananku, saat aku tuntut karena sudah menghamiliku dia mengelak. Membuatku menjadi orang tua tunggal di usia muda... prasangka buruknya dalam hati.
"Aku ingin pulang!!" teriak Glory tiba-tiba.
"Jangan takut, aku tidak akan berbuat seperti yang otak kotormu fikirkan ..." ucapnya tersenyum gemas.
Percaya? Tidak sepenuhnya, tangannya gemetar ketakutan. Turun dari mobil mengamati rumah luas berlantai 3, pekarangan yang terlihat asri dengan beberapa ayunan di halaman sampingnya. Serta Gazebo yang luas dapat menampung banyak orang.
Semakin masuk, Glory semakin menunduk, rumah seperti ini mungkin hanya pernah dilihatnya di film-film dengan budget tinggi.
Lampu kristal besar yang menggantung, guci pajangan bernilai tinggi. Beberapa pelayan yang bahkan mengenakan seragam bagaikan karyawan hotel.
Inilah yang membuatnya lebih menyukai Ken...
Membayangkan kehidupan bak sinetron dimana mertua akan memandang rendah dirinya, tidak membiarkan kuliah, memperlakukannya seperti pembantu. Berakhir dengan Ferrell yang menceraikannya karena sudah bosan dianggap tidak menarik lagi.
Karena itulah kehidupan di tempat sederhana bersama Ken yang diidamkannya. Kuliah sambil bekerja dengannya, berakhir menjadi seorang pengacara, wanita mandiri memiliki suami dan anak yang baik di rumah sederhana.
Seorang pria paruh baya tiba-tiba menghampiri mereka, menatap kedua orang yang setengah kering itu dari atas hingga bawah."Dia siapa?" pertanyaan yang keluar dari mulut Damian.
"Namanya Glory..." ucap Ferrell tersenyum.
"Pacarmu? Kamu punya pacar?" tanya Damian antusias.
Ferrell berjalan mendekati kakeknya sedikit berbisik dengan suara kecil,"Dia anak SMU yang akan aku hamili. Membuatnya menjerit antara sakit dan nikmat, membobol gawangnya, membuat dia mengandung cicit kakek..."
Wajah Damian seketika pucat pasi, tidak tau harus berkata apa, bagaimana nanti menjelaskan pada anak dan menantunya.
Menatap sang gadis yang terlihat polos, menunduk canggung,"Malam, kek,"
Gadis yang ditarik Ferrell menaiki tangga lantai dua rumah tersebut. Seorang remaja yang benar-benar malang dimata Damian.
"Sudah memakai, jangan lupa menikahinya," gumamnya menghela napas kasar, bingung harus bagaimana menghadapi Ferrell. Tidak ingin cucunya marah kemudian meninggalkannya, tinggal di rumah yang terpisah.
***
Glory masih ketakutan sampai saat ini, kamar yang sangat besar menurutnya. Tempat tidur luas berukuran king size. Apa ditempat tidur ini dirinya akan dijerat untuk menyerahkan mahkotanya? Tidak! Tidak boleh, dirinya harus pulang. Menggenggam erat phonecellnya, akan mengancam menghubungi kepolisian.
Mengingat dirinya akan bertekuk lutut jika Ferrell sudah memulai tautan bibirnya."Ferrell aku ingin pulang!! Jika tidak membiarkanku pulang aku akan menelfon..."
Ferrell yang baru masuk setelah meninggalkan Glory beberapa menit menghela nafasnya tersenyum,"Menelfon cacatan sipil, untuk mendaftarkan pernikahan? Kamu masih terlalu kecil..." candaannya, menyodorkan pakaian kering yang diambilnya dari kamar Febria.
"Mandilah! Bersihkan diri! Berdandan yang cantik! Sudah hampir tengah malam, kita akan merayakan ulang tahun adik temanmu di rumah sakit..." lanjutnya.
Bersambung