
Zen segera berlari memanggil security yang ada disana. Membawa tubuh Steven yang telah tidak sadarkan diri ke dalam mobilnya. Keringat dingin keluar dari pelipisnya dengan wajah yang semakin pucat saja. Bagaikan mayat yang darahnya berhenti mengalir di dalam tubuh yang dingin.
Apa ini akhir hidupnya? Entahlah, tapi dirinya masih ingin tetap hidup menghibur wanita yang dicintainya, agar berhenti untuk menangis.
Jika saja...jika saja bisa sepuluh tahun lagi, tidak satu tahun lagi, satu bulan lagi, atau satu minggu lagi. Satu hari juga tidak apa-apa, dirinya ingin menghabiskan waktu yang berharga dengan keluarga dan istrinya. Tidak ingin pergi dengan cara seperti ini...
Letak rumah sakit yang cukup dekat dari kantor perusahaan miliknya. Tubuhnya yang bagaikan tidak memiliki nyawa dipindahkan ke atas tempat tidur yang memiliki roda di bagian bawahnya, dinaiki seorang perawat, menekan dada kirinya melakukan RJP, sementara dua orang perawat lainnya berlari tergesa-gesa menarik tempat tidur itu menunju UGD.
Berusaha dengan keras agar detak jantung yang melemah itu dapat mengalirkan darah ke seluruh tubuhnya. Gagal jantung kongestif? Terkadang tidak terasa sakit sama sekali, memejamkan mata sejenak mungkin menjadi akhir hidupnya.
Alat pacu jantung disiapkan, membuka kancing kemeja sang pemuda.
Aku ingin hidup...
Setetes air mata mengalir dari matanya yang terpejam.
***
Seorang wanita baru saja tiba di kantor, setelah semalaman menginap di rumah mertuanya. Tidur dengan Elina, membicarakan banyak hal.
Wajahnya tersenyum membawa kotak bekal untuk dimakan olehnya dan Steven nanti. Tidak menyadari ada hal aneh yang terjadi. Pintu ruangannya dibuka olehnya. Suaminya tidak ada di sana.
Febria menghela napas kasar, mengubungi Steven yang berangkat lebih pagi darinya. Hingga beberapa saat panggilannya diangkat.
"Bodoh!! Kamu dimana? Aku membawa sarapan..." kata-katanya terhenti, bukan suara Steven yang ada diseberang sana.
"Febria, ini aku Zen... Steven sedang ada di UGD rumah sakit dekat kantor, mendapatkan penanganan. Dokter mengatakan Steven mengalami gagal jantung, detak jantungnya melemah," ucap Zen terisak, tangannya yang memegang phoncell gemetar.
Febria terdiam, sesaat matanya memerah, menahan air mata yang hendak mengalir. "Ste... Steven..." gumamnya, berjalan meninggalkan kotak bekal yang sudah dibukanya.
***
Febria menginjak pedal gas-nya dalam-dalam, tidak dapat memikirkan apapun lagi. Pandangan matanya kabur, berembun akibat air mata yang mengalir tiada henti.
"Steven br*ngsek ..." teriaknya lirih, terisak dalam tangisannya. "Jangan mati! Jangan mati! Aku tidak mengijinkanmu untuk mati! Aaa...aa..." jeritnya, berusaha melajukan mobilnya.
Semua kenangan kembali teringat, brother complex yang memiliki rambut putih selalu mengatakan akan bertunangan dan menikahinya. Selalu menyuapinya, mengetahui apapun yang tidak disukainya.
'Febria, aku akan pergi ke Singapura. Tapi hanya sebentar. Bisa kamu tinggal dengan mama dan papa? Jaga dan sayangi mereka menggatikanku...' ucap Steven ketika berumur 14 tahun, sebelum meninggalkan rumah. Kala Kenzo melepaskan telinganya dan Febria yang ketahuan berciuman.
Benar-benar kakak yang buruk, itulah Steven. Mendudukan adik angkatnya di atas sofa kamarnya. Berlutut menatapnya, Febria menggeleng. Dari kecil dirinya selalu bergantung dan dapat tersenyum hanya karena tingkah aneh kakaknya. Air mata sang gadis kecil mengalir.
Steven mengangkat tangannya, menghapus air mata Febria. 'Jika kita ditakdirkan untuk bertemu, maka akan bertemu. Aku akan berusaha menemuimu, walaupun mempertaruhkan nyawaku,'
Sang remaja laki-laki memakai setelan kemeja putih tersenyum mata birunya begitu indah, rambut putihnya terkena terpaan cahaya matahari yang menembus jendela. Perlahan matanya terpejam, meraih tengkuk sang anak.
Dirinya memang buruk, pedofil, brother complex. Tapi sungguh dirinya tidak ingin kehilangan Febria. Gadis kecil yang dinantikannya, memegang jemari tangannya, bahkan diajari berjalan olehnya. Dirinya tidak peduli apapun lagi. 'Aku bukan kakakmu, tumbuhlah dewasa, saat itu aku akan menikahimu. Menghabiskan masa tua kita bersama,' ucapnya saat itu kembali mencium bibir Febria kecil.
***
Belum sadarkan diri, kini tubuh itu masih dipasangi alat bantu pernapasan. Detak jantungnya di pantau monitor, jarinya terhubung dengan alat pengukur kadar oksigen dalam darah.
Hingga akhirnya wanita itu tiba juga, hampir bersamaan dengan Eden.
"Jangan masuk! Dokter yang tadi keluar sudah mengatakan Steven masih tetap bisa bertahan. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat inap..." ucapnya mencegah Febria memasuki UGD.
"Sebenarnya apa yang terjadi!? Steven sehat-sehat saja, dia rajin berolahraga mengikuti latihan tembak, dan beladiri. Tidak begitu suka pada alkohol dan rokok, gagal jantung? Jangan bercanda..." ucap Eden, tangannya mengepal, matanya memerah. Satu-satunya saudaranya yang masih hidup dapat mati kapan saja.
"Aku tidak tau..." Zen menggeleng.
Hingga tempat tidur dengan Steven yang kini telah menggunakan baju pasien melintas. Infus, selang oksigen, semua masih ada di tubuhnya. Yang akan dipindahkan ke ruang inap.
***
Matanya mulai terbuka, tubuhnya benar-benar terasa lemah. Samar-samar isakan tangis istrinya terdengar, memegang tangannya erat.
Sedangkan suara Eden menghubungi seseorang juga terdengar,"Beli di pasar gelap! Cari yang sesuai, jika tidak menemukannya tes orang-orang kita satu persatu!!" bentaknya dengan berurai air mata duduk di kursi rodanya.
"Kakak, jangan..." ucapnya lemah menggeleng pelan.
"Eden menoleh ke asal suara, menghapus air matanya. Segera menggerakkan kursi rodanya. Kamu siluman ular putih, kamu akan hidup, akan selamat, tenang dan istirahat saja ya..." pintanya pada sang adik berusaha tersenyum.
Steven menggeleng, samar-samar senyuman terlihat di bibirnya,"Aku adalah Ultraman tidak pernah membunuh orang kecuali monster jahat. Karena... karena itu aku tidak apa-apa, aku akan menunggu donor dari pasien mati otak atau orang yang menandatangani surat perjanjian pendonoran organ setelah kematiannya," lemah benar-benar lemah suaranya saat ini.
"Kamu bisa mati kapan saja! Dua tahun! Dua tahun kamu merahasiakan dariku! Berpura-pura baik-baik saja, mengikuti pelatihan dan tugas yang menguras tenaga!! Apa kamu sudah bosan hidup!?" bentak Eden, pada sang adik benar-benar tidak dapat menahan air matanya.
Steven kembali menggeleng,"Aku ingin hidup, tapi tidak dengan mengorbankan orang lain. Aku ingin menjalani kehidupan yang lebih baik, memperbaiki semua kesalahanku. Memiliki istri dan anak..."
"Karena... karena itu... untuk menjadi ayah yang baik, aku tidak ingin mengorbankan orang lain," pintanya.
"Steven!!" bentak Eden kembali.
"Tolong hargai keputusanku, jika masih diberi kesempatan memperbaiki segalanya. Tuhan akan membiarkan aku hidup sedikit lebih lama,"
"Aku adalah Ultraman pembela kebenaran, dan siluman ular putih yang dapat hidup ratusan tahun. Aku akan hidup..." ucapnya tersenyum.
Akan hidup? Steven hanya dapat melirik ke arah jendela yang terbuka menampakkan langit cerah, hanya sedikit awan disana. Febria masih terisak menggenggam erat tangannya tidak dapat berkata-kata.
Aku bahagia, karena itu aku menjadi serakah. Tolong berikan aku kesempatan menghapus air mata istriku setiap saat. Itu sudah cukup...
"Jangan menangis, aku mencintaimu..."
Bersambung