
"Kenapa menangis?" Kenzo menghapus sisa mata Amel yang terkena maskara, tersenyum padanya. Duduk di dalam mobil taksi dalam perjalanan pulang.
"Bukan apa-apa, hanya saja sangat menyebalkan!! Aku menderita dibatasi makan, sementara kamu menari dengan wanita..." Amel menutup mulutnya sendiri, menyadari dirinya keceplosan bicara.
"Cemburu?" Kenzo tersenyum simpul.
"Tidak!! Siapa yang akan cemburu pada bos penindas!! Playboy sepertimu..." kata-kata Amel terhenti, Kenzo menariknya, mencium keningnya.
"Itu kamu, kamu harus cemburu dan mencintaiku..." ucapnya tersenyum.
Mata nakal mereka saling menatap lagi, sepasang mata yang saling menyelami. Terasa nyaman dan mendamba, hingga satu kecupan singkat diberikan pada bibir Amel.
"Hukuman, karena berbohong..."
Merindukan pelukannya, Kenzo merasa nyaman bersamanya. Seakan nyawanya ada dalam setiap hembusan napas Amel.
Ingin selalu berada dengannya, menggengam erat jemari tangannya.
"Aika sangat cantik..." Amel mengalihkan pandangannya.
"Amel lebih cantik,"Kenzo tersenyum simpul,"Aku menari dengannya untuk membicarakan sesuatu, tanpa didengar atau diganggu orang lain,"
"Membicarakan apa?" Amel mengenyitkan keningnya.
"Betapa busuknya hati manusia..."
Betapa busuknya hati manusia? Sejatinya Aika saat ini cemas, berada dalam posisi ketakutan. Ketakutan? Tentu saja, beberapa kali dirinya hampir celaka, kabel hairdryer yang mengelupas, mobil yang seperti mengincar untuk menabraknya ketika berjalan kaki seorang diri, bahkan rem mobilnya sendiri pernah blong, hampir membuat dirinya mengalami kecelakaan fatal.
Penyebabnya? Tidak akan ada yang menyangka atau percaya saudari kembarnya yang terlihat baik bagaikan malaikat menginginkan kematiannya. Aika tidak memiliki bukti sedikit pun, sang ayah juga tidak percaya padanya, menganggap Aiko polos dan cenderung lugu.
Hanya mencurigai Aiko? Tidak, bukan sebuah kecurigaan tidak berdasar. Aiko pernah memasuki kamar Aika tanpa ijin, alhasil pada malam hari seekor ular derik yang seharusnya berada pada iklim padang pasir ditemukan dalam kamarnya. Ular yang dapat membunuh kurang dari satu jam.
Mendekati Kenzo? Aika memang tertarik pada pemuda itu, namun wajah Amel lebih menarik perhatiannya. Wajah yang mirip dengan almarhum sahabat mereka, Seina. Hanya Aika yang mencurigai Aiko terlibat di balik kematian Seina.
Peringatan, itulah yang dibisikkan Aika, agar Kenzo melindungi kekasihnya. Membicarakan banyak hal sembari menari, agar Hiasi atau Aiko tidak mencurigai mereka.
Jika bisa membuktikan kebusukan Aiko. Penyebabnya? Aika tidak ingin Aiko menyingkirkan nya. Berharap Kenzo dapat membantunya demi keselamatan Amel.
10 tahun yang lalu...
Tatewaki berdiri di depan gerbang sebuah SMU ternama, membawa dua buah payung mengenakan pakaian hangat yang tebal. Dirinya sudah menjadi mahasiswa saat itu di sebuah universitas ternama.
Menunggu dengan sabar, menjemput kekasihnya. Tangannya menadah pada hujan salju yang turun.
Tidak menyadari dua orang siswi SMU berjalan perlahan mendekatinya, mengendap-endap dari belakang.
Dor...
Mereka mengejutkannya,"Kalian masih saja nakal ya!?" bentak Tatewaki, menarik telinga Seina.
"Sakit!! Maaf!! Maaf!!" gadis itu berusaha melepaskan tangan Tatewaki. Tidak menyadari Aiko tersenyum dengan jemari tangan mengepal.
Tidak adil baginya, model rambut, aksesoris, bahkan sepatu murah yang dipakai Seina sama dengannya. Apa yang kurang? Hingga pemuda itu lebih menyukai Seina. Seorang nona muda, memakai sepatu murah? Aiko menurunkan egonya agar Tatewaki dapat sedikit saja melihatnya.
Namun, hanya Seina... lagi-lagi hanya Seina, betapa menyebalkan berada sebangku dengannya. Melihat senyumannya setiap hari.
"Lain kali jangan mengejutkanku lagi..." Tatewaki menunduk, mengecup kening kekasihnya. Sudah tiga tahun mereka menjalin hubungan, hubungan yang benar-benar hangat. Saling mengasihi...
Seina mengangguk sembari tersenyum...
"Kalian akan pulang? Supirku sepertinya akan terlambat menjemput. Tatewaki, rumah kita satu arah, boleh kita berjalan bersama..." tanya Aiko tertunduk ragu, melirik dua buah payung yang dibawa sang pemuda.
Salah satu payung sudah dipastikan untuk Seina, sedang satu lagi dapat dipakai oleh dirinya dan Tatewaki. Itulah yang diinginkannya.
Namun, kenyataannya berbeda, Tatewaki memberikan payungnya pada Aiko. Sedangkan dirinya satu payung berdua dengan Seina, kekasihnya.
Berjalan, bergandengan tangan, di hadapan Aiko. Mencintai pria yang sama, berusaha untuk menjadi seperti Seina. Tapi, Tatewaki bagaikan tidak menganggapnya samasekali. Dalam matanya hanya ada Seina.
Mirip Amel? Dari luar memang iya. Tapi sifat Seina sangat berbeda. Almarhum Seina wanita ceria, ceroboh, tidak terlalu pintar di bidang akademik, percaya diri, bertindak tanpa fikir panjang. Satu-satunya yang menyamai mereka mungkin hanya kebaikan hatinya.
"Kenapa diletakkan di sana?" Tatewaki mengenyitkan keningnya.
"Kita bisa pulang buru-buru sambil berpelukan. Mereka lebih memerlukan payung dibandingkan dengan kita," jawabnya tersenyum.
"Aku akan membelikan makanan kucing, atau susu untuk mereka. Kalian pulang duluan saja..." ucap Aiko.
Seina, berpura-pura baik di depan Tatewaki, dirinya juga bisa. Kenapa tidak? Masih berharap Tatewaki sedikit saja akan luluh padanya.
Namun...
Tatewaki menghela napas kasar, merangkul bahu Seina. Berjalan lebih cepat mengantar gadis itu pulang. Tidak membantah, atau mencegah perbuatan bodoh Seina, yang lebih memikirkan anak kucing dibandingkan dengan kesehatan mereka. Dirinya hanya tidak ingin mengecewakan kekasihnya.
Aiko tertegun, menggengam erat payungnya, dirinya kembali tidak dianggap ada. Bahkan kagum pun tidak.
Brak...
Kardus berisikan anak kucing ditendang, empat ekor anak kucing yang bahkan belum dapat membuka matanya dengan sempurna, jatuh diatas salju dingin.
"Membelikan makanan? Jangan bercanda, anak kucing sialan!!" wanita itu berjalan seorang diri membiarkan, kucing kecil yang menjerit mati perlahan karena kedinginan.
***
Beberapa jam berlalu, Seina yang memang super cerewet, menghubungi Aika. Gadis ambisius pintar yang memang memiliki hobi merawat kucing. Mengatakan tentang payung, dan kucing kecil yang dibelikan makanan oleh Aiko
Perlahan Aika berjalan di tempat Seina mengatakan tentang keberadaan anak kucing terbuang. Ingin merawatnya sendiri, menambah kucing peliharaannya.
Tapi hal aneh ditemukan Aika, anak kucing di kardus berceceran di atas lapisan salju dingin. Mati kedinginan, tidak ada satupun yang hidup.
Makanan kucing atau sisa susu? Tidak ada disana sama sekali. "Ada yang ganjil..." gumamnya.
Liburan musim dingin, lampu-lampu menghiasi jalanan. Pohon natal besar di hias cantik, dalam apartemen milik Tatewaki, memasang satu-persatu hiasan bersama.
Sudah dua tahun Tatewaki tinggal terpisah dengan orang tuanya yang harus bekerja di negara lain. Tidak masalah baginya, pemuda itu cukup mandiri, memasak bersama Seina yang ceroboh.
Satu-persatu makanan terhidang menyambut hari natal tahun itu. Kue yang tertata indah, "Kita berfoto!! Pegang kuenya!!" Seina tersenyum.
Pemuda itu menurut memegangi kue Natal dengan lilin-lilin kecil tertancap di atasnya. Seina memegangi kamera, tanpa diduga mengecup pipi Tatewaki.
Foto yang terlihat indah, kenangan hari natal terakhir yang mereka lalui bersama...
"Nakal," Tatewaki tersenyum, mengacak-acak rambutnya.
"Ayo tiup lilinnya!! Sebutkan harapan!!" Seina berucap penuh semangat.
Kedua orang itu mengucapkan permintaan dalam hatinya di hari natal yang hangat. Harapan yang mungkin saling terkait.
Aku ingin Seina menjadi satu-satunya orang yang aku cintai. Menemaniku suka, maupun duka... harapan yang diucapkan Tatewaki dalam hatinya.
Seina melirik pada kekasihnya, Aku ingin menemaninya, mengawasinya, mencintainya sepanjang usia kami ...
Wanita itu meniup kue lebih awal, mencabut sisa lilin dengan kasar.
Bug...
Kue diarahkan ke wajah kekasihnya, wajah rupawan dibalik kacamata minimalis modern. Belepotan krim.
"Seina!!" Tatewaki membentak, melepaskan kacamatanya, membersihkan wajahnya dengan tissue, mengejar kekasihnya yang melarikan diri.
Tertangkap, tertawa bersama, memeluk tubuhnya erat. Sejenak saling memandang lekat, tawa mereka terhenti. Entah siapa yang memulai, bibir itu mulai terpaut.
Kedua tubuh yang perlahan jatuh ke atas tempat tidur. Di malam yang dingin, hujan salju yang lebat, kedua tubuh perlahan saling menghangatkan untuk pertama kalinya.
"Aku mencintaimu..." kata-kata yang terucap.
"Aku juga..."
Bersambung