My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Pasukan Putih Abu-abu



Perlahan keempat orang sahabat itu menoleh ke bangku paling belakang.


"Ka...kamu siapa?" tanya Glory gelagapan, kata-kata yang sama membuatnya tertegun. Namun sekali lagi, dilihat sekilas wajah yang benar-benar berbeda. Tidak mungkin tiba-tiba Ferrell muncul disini kan.


"Dia Ken, siswa pindahan dari luar pulau, kalian terlalu antusias menceritakan si pangeran pesugihan, jadi tidak konsen mendengarkan wali kelas kan!?" Budi menghela napas kasar.


Aku? Pangeran pesugihan? Ini lelucon kan ... gumam Ferrell dalam hatinya, berusaha tersenyum, setenang mungkin.


"Kamu dari keluarga biasa atau kaya!? Pintar atau tidak!?" pertanyaan dari Caca, mengenyitkan keningnya.


"Aku dari keluarga biasa," jawab Ferrell tidak mengerti arah pertanyaan mereka.


"Bagus, berarti bisa berteman dengan kami. Ini Budi, Ira dan Glory, sedangkan aku Caca. Kami siswa tersisihkan disini. Tapi jangan cemas, kami tipikal orang yang setia kawan," jelas Caca, memperkenalkan teman-temannya.


"Tersisihkan?" Ferrell masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.


"Iya, di depan sana ada anak-anak populer, anggota OSIS dan anak dari pengusaha. Yang lainnya pengikut mereka, sementara kami orang-orang tersisihkan di kelas unggulan," ucap Budi mulai mengeluarkan buku pelajarannya.


"Kenapa?" pria yang menyelesaikan pendidikan Senior High School (SMU)nya dalam waktu cepat masih tidak begitu paham. Tersisihkan? Secara teori pendidikan bukankah harus setara, bahkan dirinya menyelesaikan pendidikan Senior High School di usia 10 tahun, tanpa mendapatkan pembullyan.


"Budi dan Ira, dari keluarga biasa, dengan kapasitas otak yang biasa-biasa saja. Seiring dicibir mirip cumi-cumi. Caca ayahnya terlibat kasus korupsi dan prostitusi sehingga di pandang rendah. Sedangkan aku..." Glory menghela napas kasar.


"Sudah miskin, memiliki sifat iri hati tingkat tinggi. Calon tunangan Ferrell saja ingin disaingi..." cibir Ira tertawa.


"Tunangan? Ferrell mem... mempunyai calon tunangan!?" tanya Ferrell bertambah antusias, mendengar gosip para anak SMU tentang dirinya.


Apa Glory membuat gosip lagi!? Calon tunangan!? Tapi terdengar bagus juga, tunggu usiamu menginjak 19 tahun. Aku akan benar-benar memberi pelajaran bagaimana cara manusia bereproduksi... batinnya. Memiliki pemikiran sendiri tentang bocah SMU yang duduk didepannya ini.


Namun tanpa diduga bukan Glory yang menyebarkan isu,"Iya calon tunangannya, wanita tercantik sekaligus ketua OSIS, sekaligus juara umum satu, Grisella," ucap Ira menunjuk gadis tercantik di kelas tersebut.


Ferrell tertegun, mencoba mengingat,"Dia siapa?" gumamnya, mengenal saja tidak. Terpesona? Jangan bergurau, tidak sama sekali. Terlihat dengan jelas, masih SMU namun merupakan barang bekas pakai.


Bentuk pinggul dan dada, terlihat jelas dimatanya. Ferrell sang dokter bedah yang tidak dapat dibohongi, dirinya juga pernah ikut serta melakukan operasi plastik, mengetahui dengan jelas dari candaan dokter-dokter berpengalaman tentang perbedaan tubuh wanita yang sering dipermainkan di ranjang oleh pria dengan yang belum tersentuh.


"Grisella, tetanggaku, kami lahir di hari yang sama, hanya saja bedanya aku terlahir di bidan dan dia terlahir di rumah sakit. Dibesarkan di lingkungan yang sama, tapi entah makan apa wanita itu dia selalu lebih berada di peringkat pertama," keluh Glory menghela napas kasar, mengeluarkan tahu bulat sisa jualan ayahnya membagikan pada teman-temannya, selagi guru mereka belum datang.


"Kamu tau kan!? Dia lewat jalur belakang. Secerdas apapun, tidak mungkin ada orang yang hanya pergi ke club'malam, berbelanja di mall dari siang hingga sore, tetap mempertahankan gelar juaranya," Caca meraih tahu bulat yang telah dingin, menghela napas kasar, kemudian memakannya.


"Kamu iri!?" Ferrell mengenyitkan keningnya.


"Sangat..." jawaban jujur dari bibir Glory.


"Glory bahkan memecahkan salah satu celengannya, untuk menyuap security club'malam agar bisa masuk. Meminjam handphoneku untuk belajar menari dan tutorial makeup. Berharap dapat menyaingi Grisella dalam satu hal saja," Ira makan dengan mulut penuh, masih berusaha mengoceh.


"Masuk ke club'malam!? Apa yang kamu lakukan disana!! Apa kamu mencium orang lain!? Apa kamu mabuk!?" tanyanya posesif. Dapat dibayangkan olehnya, saat gadis berusia 18 tahun ini dirias akan seperti apa, ditambah memakai pakaian kurang bahan. Imajinasi liar yang benar-benar membuatnya geram, tidak ingin sedikit saja kecantikan asli dari Glory dilihat orang lain.


Ferrell menipiskan bibir menahan tawanya, ini mungkin lebih baik, memakai dress berbentuk aneh, ditambah riasan yang membuatnya mengelus dada. Benar-benar lebih baik, daripada menyaksikan tubuh dan kecantikan sebenarnya gadis ini menjadi tontonan umum.


Sejenak kemudian layar handphone itu kembali terkunci, dirinya segera kembali menyentuhnya. Dan wallpaper itu terlihat juga pada akhirnya, foto Ferrell dijadikan wallpaper oleh gadis itu.


Astaga, ingin rasanya Ferrell tertawa kencang kemudian menggodanya. Gadis ini benar-benar membuatnya gila, hanya berawal dari sebuah tantangan yang membuatnya ketagihan. Apa bibir gadis itu mengandung narkotika? Entahlah...


Hingga jam pelajaran dimulai, semua kembali ke posisi masing-masing.


***


Bel istirahat berbunyi...


Mengulangi pelajaran bukan tujuan utamanya bersekolah. Pemuda itu hanya menjalani hukumannya dengan bahagia. Melewati masa SMU yang indah tanpa darah pasien.


Kita anggap saja makhluk dingin ini telah berubah. Perlahan Glory bangkit, membawa kotak bekal dan air mineralnya.


Namun tangannya ditahan,"Mau makan bersamaku!?" tanya Ferrell ragu.


Perasaan yang tidak asing bagi Glory, mirip saat dekat dengan Ferrell. Tapi sekali lagi, Ferrell adalah bintang yang jauh di sana. Sedangkan makhluk bernama Ken, adalah peran tidak penting, seperti siswa tanpa wajah dalam komik, sama seperti dirinya.


Dengan cepat Glory mengangguk, perasaan masa remaja yang membuat hatinya hangat. Makan siang bersama di bawah pohon beringin besar, tangan Ferrell merayap memegang jemari tangannya. Gadis ini membalas, berpegangan tangan penuh senyuman, ada perasaan malu namun nyaman disana.


Mengulangi masa SMU? Tidak seburuk yang difikirkannya kecuali tentang satu hal.


Beberapa jam berlalu, Ferrell tidak melepaskan kesempatan, ingin berkunjung ke rumah Glory. Dengan modus belajar bersama, karena banyak materi yang tidak dimengerti olehnya.


Banyak materi? Seorang pemuda yang berhasil meraih gelar Doctorate di usia 19 tahun ingin diajari bocah SMU? Tapi sekali lagi, ini hanya modus.


Dirinya melangkah bersama Glory, mendekati rumah kecil, dengan rumah besar yang ada disebelahnya.


Entah kenapa gadis itu berjalan mengendap-endap, menatap seorang wanita memegang sapu tengah bergosip dengan tetangganya.


Ibu tidak melihatku, ibu tidak melihatku... mantra Glory dalam hati.


"Kamila, itu pacar anakmu ya? Kenapa jalan kaki? Kalau boleh jujur Ferrell yang akan dijodohkan dengan Grisella jauh lebih tampan dan mapan..." ucap Ratna, membuat Kamila berbalik, matanya menelisik mengamati pemuda yang datang bersama putrinya.


"Glory, dia siapa?" tanya Kamila penuh selidik.


"Teman baruku, kami hanya belajar kelompok. Ibu tidak perlu cemas!! Kami bahkan baru saling mengenal!!" jawab Glory cengengesan.


"Kalian hanya belajar kan!? Jangan berbuat macam-macam..." ancaman tegas dari sang ibu dengan wajah sangarnya, masih memegang sapu bagaikan siap untuk menghajar mereka. Pasangan muda-mudi yang mengangguk bersamaan, ketakutan.


Bersambung