
"Ibu?" Air mata wanita itu mengalir, kala menatap Wina yang tengah bermain bersama Sany tertegun, mendengar semua kata-katanya.
"Jadi kamu akan mengembalikan pada keluarganya?" tanyanya memastikan.
Amel mengangguk, jemari tangannya mengepal, sudah terlanjur menyayangi Sany. Namun, ini harus dilakukannya, jika tidak mungkin saat suaminya kembali, Marina akan kembali mengusiknya.
"Kenzo...pergi karena kata-kata dari Marina. Karena itu... karena itu..." kata-kata Amel terhenti, Wina menatap matanya. Memegang jemari tangannya erat.
"Anak walaupun terlahir dari rahimmu atau tidak adalah malaikat yang dititipkan Tuhan. Kamu boleh mengembalikannya pada keluarga Marina. Tapi jika mereka terlihat sedikit saja tidak menerima kehadirannya, bawalah pulang kembali. Ibu akan tetap membantumu merawatnya..." ucapnya tersenyum.
"Ibu..." Amel menangis terisak, ingat tentang dirinya yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Wina. Ibu tiri yang memutuskan merawatnya, tidak menitipkannya ke panti asuhan, setelah kematian Fero, ayah kandungnya.
Namun, kali ini dirinya mengembalikan Sany ke keluarganya. Mungkin merupakan keputusan yang sulit. Teringat dengan posisinya dan Sany yang nyaris sama. Andai Wina meninggalkan dirinya, entah apa yang akan terjadi.
"Jika mereka tidak menerima kehadiran Sany. Aku akan membawanya, pulang kembali..." Amel menghapus air matanya. Mulai meraih anak yang berusia 2 tahun itu mengecup wajahnya tanpa henti,"Mama menyayangimu, maaf..." gumamnya.
Sang anak hanya terdiam sejenak,"Mama..." lirihnya, ikut menangis sembari menghapus air mata ibu asuhnya.
***
Tas besar dibawanya, mendekap sang anak yang tengah tertidur lelap. Hingga mobil taksi online yang ditumpanginya sampai di depan sebuah rumah, yang bisa dibilang cukup besar. Walaupun, tidak sebesar villa milik suaminya.
Bel depan rumah mulai ditekannya, hingga seorang ART yang tengah memegang sapu, memakai daster motif bunga membukakan pintu."Cari siapa ya?" tanyanya.
"Apa bapak Subroto ada di rumah? Saya teman putrinya Marina," tanya Amel penuh senyuman.
"Tuan ada di dalam, silahkan masuk," sang ART, membukakan pintu gerbang.
Mata Amel menelisik, bukan dari kalangan bawah sepertinya yang dahulu tinggal di rumah kecil. Keluarga Marina cukup mapan, kehidupan Sany mungkin akan terjamin jika tinggal di tempat ini. Dipenuhi kasih sayang orang-orang yang memiliki hubungan darah dengannya.
Hingga dirinya duduk di ruang tamu, teh hangat disuguhkan sang ART, bersamaan dengan keluarnya seorang pria dan wanita paruh baya.
"Om....Tante... perkenalkan saya Amel temannya Marina," ucapnya penuh senyuman.
"Amel? Teman Marina yang hamil di luar nikah? Marina sempat bercerita tentangmu, memiliki pacar seorang penipu. Hingga ditinggalkan dalam keadaan hamil, beruntung putri kami berbaik hati menjagamu ketika hamil," Subroto menatap penuh mengintimidasi. Bagaikan Amel akan memberi pengaruh buruk untuk putrinya yang baik hati, memiliki karier cemerlang. Berbanding terbalik dengan sahabatnya Amel.
Sialan... umpat Amel dalam hatinya. Ternyata selama ini, Marina membicarakan hal buruk tentangnya. Memutar balikkan fakta, semenjak 2 tahun yang lalu.
"Kenapa kemari? Karena untuk membiayai kehamilan dan persalinanmu dulu, putri kami yang tidak pernah bekerja harus cuti kuliah. Bekerja untuk menolongmu, apa kamu kemari ingin membalas budi?" sindir Pipit (ibu Marina).
Aku bekerja, makan nasi putih dengan lauk seadanya selama berbulan-bulan. Menahan hinaan dari mulut Keyla, hanya untuk gaji dari Gilang. Demi cucu dan anak kalian... lalu sekarang apa? Aku yang hamil di luar nikah? Kenzo bahkan tidak ingin menyentuhku sebelum pernikahan... Marina sialan... kekesalan Amel benar-benar diubun-ubun saat ini. Namun wajah itu tetap tersenyum.
"Om, tante mungkin kalian salah sangka. Ini bukan anak saya, tapi anak Marina. Dia yang hamil di luar nikah..." ucap Amel menampakkan gigi putih ala iklan Pepsodentnya.
"Wanita sepertimu bagaikan barang murah pinggir jalan. Hanya mengandalkan wajah yang cantik, tubuh yang bagus, menggait pria kaya, tapi karena tertipu, tidak sanggup menghidupinya ingin menyerahkan anakmu pada kami!? Bahkan merusak nama baik Marina yang sudah menolongmu!! Dasar wanita murahan tidak punya hati..." komat-kamit mulut Pipit bicara bagaikan burung murai yang berkicau tiada henti.
"Sudah selesai menghina?" Amel tersenyum dingin menatap tajam. Mengeluarkan phoncellnya, menunjukkan foto lama dirinya dua tahun yang lalu.
"Menurut Om dan Tante gadis dengan wajah dan body seperti ini, ada pria yang bernapsu menyentuhnya? Ada yang mau jadi pacarnya? Apalagi dia adalah mahasiswi miskin..." komat-kamit mulut Amel menjelekkan dirinya sendiri. Tapi memang benar, kang parkir, kang ojek, bahkan kang siomay, akan memandang jenuh padanya.
Mungkin hanya suami penindasnya yang kurang waras akan menyukai semua penampilannya. Bahkan mencium wanita gemuk sepertinya. Amel menghela napas benar-benar merindukan Kenzo.
"Tidak akan ada yang menyukainya, wajah dan bodynya jelek begitu..." cibir Pipit."Tapi apa hubungannya dengan kebohonganmu?"
"Ini fotoku dua tahun yang lalu, dan ini perubahanku kurus sedikit demi sedikit, agar kalian yakin. Seperti kata Tante, aku tidak mungkin punya pacar dua tahun yang lalu. Tidak mungkin ada pria yang mau menyentuh wanita miskin yang bulat, berkulit kusam bagaikan Dugong... kecuali orang itu sedikit tidak waras," Amel masih tersenyum, memangku Sany yang tengah tertidur lelap.
Pipit meraih handphone Amel, tanggal dan waktu pengambilan tertera disana. Mengenyitkan keningnya menatap perubahan wanita itu kini yang bagaikan model majalah dewasa, wajah rupawan menyaingi Miss Indonesia.
"Jadi Sany, anak ini bukan putriku. Namun, cucu kalian..." lanjutnya.
"Tidak mungkin!! Marina yang membiayai kehamilan dan persalinanmu!! Hingga dia cuti..." kata-kata Subroto terhenti.
Amel menyodorkan berkas-berkas persalinan. Perjanjian adopsi, serta surat-surat penting lainnya. "Marina hamil di luar nikah, ditipu oleh kekasihnya yang berhasil melarikan diri dengan dalih investasi bodong. Dia ingin bunuh diri, tapi aku mencegahnya, berjanji untuk merawat anaknya setelah anak itu dilahirkan,"
"Semua berjalan baik, hingga dia mulai ikut campur urusan rumah tanggaku. Aku baru menikah sekitar satu bulan yang lalu. Suamiku menghilang, karena cibiran dan kata-katanya yang tidak ingin suamiku menjadi ayah asuh dari anaknya. Karena itu, aku ingin mengembalikan Sany, agar Marina berhenti campur tangan dengan pilihan hidupku..." lanjutnya.
"Jadi anak ini cucu kami?" wajah Pipit seketika pucat pasi,"Pak, apa yang akan dikatakan calon besan kita..." tanyanya sembari terisak dalam tangisannya, pada sang suami. Tidak ingin nama baik keluarganya rusak.
Tangan Subroto mengepal, tidak dapat menerima nama baik keluarganya yang memiliki darah keturunan ningrat, tercoreng. "Bukannya kamu sudah mengadopsinya? Kenapa membawa kembali anak Marina kemari!?"
Belum ada yang menyadari wajah seorang pemuda yang memakai pakaian PNS pucat pasi, terdiam diambang pintu mendengar segalanya.
"Sayang, kenapa tidak langsung masuk?" tanya Marina yang berada di belakang tunangannya.
Hingga pada akhirnya menyadari keberadaan Amel dan Sany disana."Amel?"
"Bukan hanya tidak perawan, bahkan kamu juga sudah punya anak..." tangan sang pemuda berpakaian PNS mengepal, air matanya mengalir. Pernikahan yang sudah akan direncanakan bagaikan hanya impian.
Seorang ibu yang menitipkan anaknya pada orang lain? Pemuda itu tidak dapat merima, wanita yang dianggapnya baik-baik tidak tersentuh pria maupun. Ternyata bahkan tidak sudi, mengasuh anak kandungnya sendiri.
"A...aku bisa jelaskan..." ucap Marina gelagapan.
Bersambung