
"Pesugihan? Kenapa tidak sekalian pelihara tuyul saja sana!! Tapi kamu tidak mencuri kan?" tanya Kamila, spontan putrinya langsung menggeleng.
"Lalu dapat uang dari mana?" sang ibu semakin penasaran saja, walaupun hanya handphone murah namun tetap saja android ditambah dengan belanjaan putrinya saat ini.
"Akan aku ceritakan, tapi ibu tidak boleh katakan pada orang lain, apapun yang terjadi," permintaannya, dijawab dengan anggukan kepala oleh sang ibu yang memasang telinganya baik-baik.
Glory menatap penuh keseriusan,"Ferrell yang membelikanku sebagai uang jajan. Karena melayaninya untuk berciuman..."
Kamila memijit pelipisnya sendiri,"Jika mimpi jangan terlalu tinggi!! Saat jatuh nanti supaya tidak sakit!!,"
"Benarkan mulai lagi, ibu tidak percaya..." kesalnya, masih merapikan belanjaannya.
"Ibu lebih percaya kamu ikut pesugihan, ditiduri manusia setengah buaya!!" Kamila mulai bangkit, "Asalkan kamu tidak mencuri tidak apa-apa, maaf ibu tidak bisa membelikanmu apapun ..." lanjutnya tertunduk, berlalu pergi penuh rasa bersalah.
Glory menghela napas kasar, karena inilah dirinya tetap menyayangi Kamila. Walaupun cerewet dan suka membanding-bandingkan, tapi ibunya masih tetap sayang padanya.
Jika nasi habis sang ibu akan berpura-pura sudah makan, agar Glory tidak sungkan untuk makan nasi yang hanya tersisa satu piring. Terkadang tangan terampil Kamila, menjahit seragam sekolahnya yang tidak sengaja sobek.
Dirinya terkadang terharu dengan sikap ibunya, hingga...
"Glory!! Cuci piringnya!! Setelah itu bantu ayahmu berjualan, pickup-nya ada dekat pasar!! Dasar anak jaman sekarang, kerjanya cuma main Handphone!!" suara omelan yang benar-benar merusak suasana. Tapi itulah ibunya, memiliki kelebihan dan kekurangan.
Sebagai ibu-ibu bisik-bisik tetangga yang suka bergosip. Menyombongkan anaknya, bersaing dalam segala hal. Mungkin jika ini sinetron, drama, novel atau komik, ibunya adalah tetangga yang senang bergosip.
Sedangkan dirinya, figuran bukan antagonis atau protagonis, hanyalah pemeran sampingan yang berdiri di podium juara dua. Pemeran tidak penting yang bahkan wajahnya pun tidak diingat dalam sinetron. Dalam komik, terkadang digambar sebagai manusia tanpa wajah yang berdiri di panggung juara dua, dimana pemeran utama wanita adalah juara satunya.
Tapi ini hidupnya, jadi dirinyalah pemeran utamanya. Pemeran utama pria? Mungkin akan datang seorang polisi muda di masa depannya yang tidak sengaja menilangnya. Atau tiba-tiba ada pemilik toko kecil yang berpegangan tangan dengannya saat memberi kembalian.
Ferrell? Seperti kata ibunya jangan bermimpi terlalu tinggi. Mungkin pemuda itu memang hanya iseng menciumnya saja. Jadi sudah Glory putuskan untuk mengambil uang jajan sebanyak-banyaknya sebelum selebriti idola itu bosan padanya.
***
Bosan? Jangan bercanda, dokter muda itu baru saja keluar dari ruang operasi.
"Kenapa hampir terlambat? Biasanya kamu tepat waktu? Bahkan datang lebih awal," tanya seorang dokter senior.
"Maaf, aku ada urusan mendesak di kamar mandi," jawabnya ambigu penuh keseriusan.
Bukankah seharusnya Ferrell bisa datang tepat waktu atau datang lebih awal? Tapi kenapa hampir terlambat? Dokter muda itu tersenyum sendiri menahan rasa malunya di balik masker yang dipakainya.
Hal yang dilakukannya? Mengeluarkan sesuatu yang ditahannya kala memangku sang bocah SMU. Syukurlah, pasien yang akan dioperasikannya juga mengalami keterlambatan dalam pemeriksaan total sebelum operasi.
Membuatnya memiliki kesempatan membersihkan diri sambil berimajinasi sesuka hati. Imajinasinya? Jangan ditanyakan lagi, pastinya ingin membuat gadis muda itu menjerit.
Entah dari kapan otaknya menjadi mesum seperti ini. Hanya karena sebuah ciuman otak serius yang hanya berisikan tangga nada dan meja operasi, kini berubah.
Namun ini harus berakhir sementara, beberapa hari ini Ferrell disibukkan dengan promo singgel terbarunya. Juga kewajibannya di rumah sakit. Entah kapan dirinya dapat merasakan lagi, satu-satunya hiburan dalam hidupnya. Satu yang pasti, jadwalnya akan diperpadat olehnya, agar dapat menghabiskan setidaknya beberapa jam lebih banyak dengan Glory nantinya.
Seakan pemuda yang kasmaran untuk pertama kalinya itu, tidak memikirkan waktu istirahatnya sebagai manusia biasa.
***
Beberapa hari berlalu...
Setiap melewati jalanan sepi tersebut, Glory akan melambatkan langkahnya. Mencari uang jajan tambahan, atau merindukan pemuda itu? Entahlah...
Hingga menghela napas kasar kembali melanjutkan harinya, berjalan menuju sekolahnya. Hari ini lebih heboh lagi, beberapa orang terlihat mengenakan earphonenya, mendengar singgel terbaru yang dirilis sang idola remaja.
Dan yang paling heboh tentunya Grisella, mengatakan tunangannya menciptakan lagu ini untuknya.
Hingga Glory mulai duduk disampingnya, dengan cepat Budi dan Ira ikut merubah posisi duduk mereka ke arah belakang.
"Apa!?" tanyanya meletakkan tasnya, tidak mengerti dengan tatapan ketiga temannya.
"Awalnya aku mengira ayah dan ibumu mungkin meminjam uang atau menang togel hingga membelikanmu baju, tas dan sepatu baru. Bahkan paketan internet, tapi ternyata..." Budi menggeleng-gelengkan kepalanya tidak menyangka.
"Kali ini apa kamu sudah sikat gigi?" Caca mengenyitkan keningnya.
"Diberi uang jajan berapa?" Ira bertambah antusias.
"A...apa maksudnya?" ucapnya berusaha tersenyum.
Caca mulai memutar singgel terbaru Ferrell,"Judulnya,'True Angel,' video klipnya tentang malaikat bersayap hitam, yang akhirnya dapat tersenyum, karena seorang gadis manusia biasa. Hingga sayapnya kembali menjadi putih, didalam lagunya ada hal yang aneh,"
"Kata kemuliaanmu, entah berapa kali diucapkan. Dengan kata lain Glory (Kemuliaan)..." kata-kata serius dari sang fans fanatik.
"Hanya kebetulan, hanya teori konspirasi," ucap Glory seolah tidak peduli, padahal matanya sedikit melirik wajah rupawan Ferrell dalam MV tersebut.
"Jelaskan tentang tas, seragam dan sepatumu..." Ira mengenyitkan keningnya menatap curiga.
"Tapi janji jangan katakan pada siapapun," ucapnya tidak ingin Ferrell membuktikan ancamannya. Untuk menunjukkan bagaimana caranya manusia berkembang biak. Ketiga orang itu mengangguk, menyetujui, tidak akan mengatakan pada siapapun.
"Dia menemuiku beberapa hari yang lalu, menciumku didalam mobilnya. Kemudian memberikan uang jajan. Tapi MV ini hanya kebetulan, lagipula Grisella sudah mengatakan dirinya yang membuat Ferrell menciptakan lagu ini," ucapnya menunduk, merasa seperti wanita murahan.
"Berapa uang jajan yang diberikannya!?" tanya Budi antusias.
"2 juta..." jawabnya.
Mereka saling melirik, menghela napas kasar...
Caca mulai kembali bertanya,"Benar hanya ciuman? Dia tidak memintamu, membuka pakaian dan sejenisnya kan?"
"Tidak!!" jawaban tegas dari Glory.
"Apa tujuan Ferrell sebenarnya? Apa menjadikanmu inspirasinya membuat lagu? Kemudian setelah lagunya selesai, maka dia akan mencari wanita lain?" deduksi dari Ira, mengingat status Ferrell yang jauh lebih tinggi.
Dan benar saja, Glory menggangguk,"Mungkin saja, dia tidak pernah menemuiku lagi. Tapi sudah dapat uang jajan tiga juta, termasuk lumayan kan..." gumamnya tersenyum.
Merindukan Ferrell tentu saja, namun pemuda itu bagaikan bintang yang jauh berada disana tidak terjangkau. Tidak menyadari bintang itu akan semakin mendekat padanya, nanti.
***
Seorang pemuda berjalan ke mobilnya yang terparkir di stasiun televisi. Hanya tidur beberapa jam dalam sehari membuatnya terlihat pucat. Ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya, hingga dapat kembali memberi uang jajan pada sang remaja.
Kembali menikmati sensasi berbeda kala bibirnya bersentuhan lagi. Namun, sebagai seorang dokter, pemuda itu mengabaikan kesehatannya sendiri.
Berjalan beberapa langkah, memaksakan diri di tengah matanya yang tiba-tiba berkunang-kunang.
Brug...
Tubuhnya ambruk pada akhirnya.
"Ferrell!!" teriak beberapa kru kebetulan ada disana, berusaha menolongnya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Bersambung