
Cindy menyetir mobilnya perlahan memasuki area sanatorium. Terlihat seorang pria berdiri di sana berbicara dengan dokter lainnya.
"Roy!! Tangkap!!" teriaknya pada teman satu fakultas namun beda jurusan, seorang pemuda yang kini telah menjadi dokter spesialis, melemparkan kunci mobil milik sang dokter muda.
"Bensinnya sudah aku isi penuh!!" lanjut Cindy mulai tersenyum, menggengam jemari tangan Agler. Hendak berjalan ke ruang rawat putranya.
Roy hanya membalas senyumannya, meraba bekas luka bakar pada wajahnya. Menatap senyuman Cindy dari jauh sudah cukup untuknya, tidak menginginkan lebih.
"Roy kamu yang mengajukan menjadi donor cangkok sumsum tulang belakang?" seorang petugas lab datang menghampirinya.
Pemuda itu mengangguk, "Bagaimana hasilnya?" tanyanya.
"Hasil yang tidak diduga, satu diantara jutaan orang, hasilnya cocok. Anak ini memiliki peluang untuk hidup..." jawab sang petugas lab tersenyum.
"Cocok?" tanyanya, air matanya mengalir. Sama seperti dirinya yang dahulu menyelamatkan Cindy, kali ini dirinya akan menyelamatkan Agam, anak yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Anak yang menganggapnya sebagai dokter menakutkan karena bekas luka bakar di pipi dan lehernya.
10 tahun yang lalu...
Roy, seorang pemuda rupawan, mengikuti pendidikan mencari gelar dokter spesialis Onkolog. Muda? Rupawan? Itulah sosoknya, beberapa wanita jatuh hati padanya. Namun, tidak ada yang pernah mengalihkan perhatiannya dari berbagai materi kampus, kecuali...
Cindy, primadona kampus tersebut, mengenal? Mereka memang saling mengenal, namun Roy yang sedikit tertutup. Entah kenapa bibirnya selalu kelu setiap berada di hadapan Cindy. Hanya dapat mengaguminya dari jauh.
Sama-sama tidak pernah memiliki kekasih, itulah mereka. Magnet kutub utara dan selatan yang duduk berjauhan saling memunggungi, hanya fokus dengan pelajaran di jurusan mereka masing-masing.
Cindy menempuh pendidikannya, sembari bergabung di perusahaan ayahnya disela waktu kuliahnya. Wanita mandiri yang dikagumi banyak pria, dari keluarga konglomerat, membuat Roy hanya dapat menatapnya dari jauh.
Berharap suatu saat nanti akan menjadi sepadan untuk mendekatinya. Melamar tuan putri dengan tangan kosong? Dirinya tidak ingin menjadi pria tanpa modal. Setidaknya, memiliki rumah sendiri serta kendaraan pribadi, barulah berani mendekati Cindy apapun hasilnya.
Sedangkan dirinya saat ini, hanya anak yatim-piatu yang mengandalkan uang kuliah dari beasiswa. Bekerja paruh waktu di beberapa tempat. Harapan satu-satunya? Dirinya segera menjadi dokter spesialis, hingga dapat mengumpulkan uang sedikit demi sedikit.
Namun, sesuatu merubah kehidupannya, meruntuhkan keinginannya untuk mendekati Cindy. Saat itu dirinya tengah mengantarkan pesanan makanan ketering ke dalam salah satu pabrik FIG Group.
Wanita itu terlihat disana mengumpat seorang karyawan yang membuat kesalahan besar. Kesalahan besar? Sang karyawan salah mencatat order melalui telfon, sehingga beberapa bahan produksi yang tidak tahan lama menjadi rusak. Barang produksi lain kekurangan stok, menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.
Dipecat? Itulah yang dilakukan Cindy sebagai konsekwensinya.
Roy menghela napas kasar, masih menunggu makanan siang dari ketering restauran kecil tempatnya bekerja sambilan, habis. Guna, membawa pulang kembali beberapa box besar yang digunakan membawanya.
Hingga pukul satu siang, karyawan pabrik telah kembali bekerja. Kotak-kotak besar tengah dirapikan Roy dimasukkannya dalam mobil operasional restauran.
Wajah pemuda rupawan itu berseri, mengingat Cindy yang begitu berkharisma di matanya. Merupakan pasangan serasi dalam khayalan tingkat tingginya. Dokter spesialis muda, dengan CEO wanita yang keren.
"Kapan aku akan wisuda..." gumamnya menghela napas kasar.
Beberapa karyawan pabrik berlarian,"Kebakaran!!" teriak mereka mengambil alat seadanya untuk memadamkan api.
Cindy? Apa dia sudah keluar... hanya itu yang ada dalam fikirannya saat ini, primadona kampus, gadis yang dicintainya dari jauh. Tanpa berani dirinya mendekat.
Tidak ada karyawan yang berani masuk, semua panik berhamburan keluar, mengingat banyaknya bahan yang mudah terbakar.
Roy menyiram dirinya dengan air, berlari ke dalam. Setelah tidak melihat keberadaan Cindy di area luar pabrik. "Cindy!! Cindy!! Cindy!!" panggilnya, tidak mendapatkan jawaban.
Bug...
Sebuah kotak kayu besar terbakar jatuh di hadapannya. Takut? Tentu, Roy takut akan kematian, namun Cindy harus keluar bersamanya. Hanya itu fikirannya saat ini, berjalan dengan kaki gemetar, memanggil nama gadis yang hatinya tidak pernah diluluhkan pria manapun itu berkali-kali.
"Tolong..." suara rintihan kecil terdengar dari seorang wanita yang hampir tidak sadarkan diri.
Dengan penuh harap, Roy segera berlari mendekati arah suara. Tubuh gadis itu terlihat juga pada akhirnya dengan luka benturan di kepala.
Luka benturan di kepala? Pelaku pembakaran adalah penyebabnya. Karyawan yang dipecat secara tidak hormat oleh Cindy, menyimpan dendamnya. Mungkin dalam fikiran sang karyawan membuat Cindy tidak sadarkan diri dengan memukul kepalanya, kemudian membakar pabrik, akan menuntaskan rasa sakit hatinya.
Cindy sedikit membuka matanya, menatap sepasang kaki seorang pria yang terus memanggil namanya berjalan menghampirinya."Tolong..." ucapnya lirih, sebelum akhirnya kehabisan tenaga, tidak sadarkan diri, akibat terlalu banyak mengeluarkan darah dari bagian kepalanya.
"Cindy bangun!" Roy mengguncang tubuhnya dalam keputusasaan, berusaha mengangkat tubuh yang tidak sadarkan diri itu.
Brug ...
Kayu terbakar yang tidak begitu besar, hampir menimpa tubuh Cindy. Pemuda itu menggunakan punggungnya sebagai perisai, dengan cepat menyingkirkan kayu itu. Menyebabkan luka bakar di bagian pipi, leher, serta punggungnya.
"Tetaplah cantik, dan tersenyum, tunjukkan egomu..." gumamnya meringis. Mulai mengangkat tubuh Cindy dengan sisa tenaganya.
Aku mohon bertahanlah, CEO wanita yang sombong... aku mencintaimu...
Sakit, punggung, leher dan pipinya terasa masih perih. Namun memaksakan kakinya terus bergerak, tangannya menahan berat wanita arogan yang dikasihinya.
Hingga ujung pintu gudang, beberapa orang karyawan yang berusaha memadamkan api berada disana. Kita selamat... gumamnya dalam hati.
"Tolong selamatkan dia ..." Roy menyerahkan tubuh Cindy pada orang pertama yang ditemuinya di area pintu belakang gudang. Orang yang tidak begitu jelas dilihat wajahnya.
***
Putri yang cantik akan menikah dengan kesatria yang menyelamatkannya bukan? Tapi itu tidak terjadi, Cindy membuka matanya dengan pergelangan tangan yang telah dipasangi jarum infus. Alat bantu pernapasan masih terpasang padanya.
Wajah pertama yang dilihatnya adalah ayahnya, serta seorang pemuda, salah seorang pegawai pabrik, jabatannya saat itu mungkin wakil kepala pabrik.
"Ayah aku..." kata-kata Cindy terhenti, sang ayah memeluknya erat.
"Syukurlah kamu selamat, aku tidak tau apa yang harus aku katakan pada almarhum Ibumu, jika terjadi sesuatu padamu..." ucapnya.
Benar, Cindy selamat, namun siapa yang sudah menembus kobaran api untuk menyelamatkannya? Gadis itu hanya terdiam, masih trauma dengan hal yang menimpanya.
"Cindy, perkenalkan, dia ini George, orang yang membawamu keluar dari gudang. Dialah yang menyelamatkan nyawamu..." sang ayah memperkenalkan pemuda di sampingnya.
Cindy hanya terdiam pada awalnya, nyawanya diselamatkan oleh orang ini? Bagaimana cara membalas budinya?
"Terimakasih..." hanya itulah yang dapat dikatakannya.
Sudah tiga hari berlalu, George datang setiap harinya. Memberikan bunga padanya, menunjukkan perhatian yang begitu besar. Hingga, hati Cindy luluh mulai menerima pemberiannya. Belajar mencintainya? Itu yang dilakukannya, mengingat karena pertolongan George-lah dirinya selamat. Pria yang dengan beraninya mempertaruhkan nyawanya untuknya.
Langkah seorang pemuda masih lemas berjalan di lorong rumah sakit, perban melilit di area pipi leher serta punggungnya. Bukan luka bakar berat, karena saat itu kayu terjatuh dari rak, dengan cepat disingkirkannya. Tidak menyebabkan nyawanya terancam, namun kulit pipi sebelah kanan, leher, serta punggungnya, akan meninggalkan luka bakar yang membekas, sedikit rambutnya terbakar, dapat tumbuh kembali perlahan.
Namun wajah rupawannya, sudah terlihat mengerikan, luka bakar di bagian pipi dan leher-lah penyebabnya. Roy menatap pantulan dirinya di cermin, meneteskan air matanya, terisak seorang diri. Menatap rupanya saat ini.
Hari-harinya berjalan sama seperti semula, hanya saja sekarang para wanita yang sering memujinya diam-diam, kini mencibirnya. Namun, itu tidak masalah baginya, hanya saja...
Cindy kini bersama orang lain, telah memiliki kekasih, bahkan bertunangan secara resmi. Wanita itu hanya sesekali meliriknya di kampus tanpa menyapa.
Tidak mengatakan tentang menyelamatkan nyawa Cindy? Benar itu enggan dilakukannya. Terlalu canggung untuk menuntut kata terimakasih saja. Lagipula cinta adalah memberi bukan menerima, begitulah pandangannya.
Pada akhirnya, Roy memberanikan diri mendekatinya saat acara wisuda, berharap dapat mendapatkan hatinya dengan usaha terakhir, walaupun kini wajahnya buruk rupa,"Cindy aku..."
"Maaf, lain kali kita mengobrol pacarku sudah menjemput," ucapnya berlari memeluk George meninggalkan Roy terdiam seorang diri.
Kini dirinya resmi menjadi dokter spesialis, dapat mengumpulkan uang untuk membeli rumah serta kendaraan. Namun, wanita yang dicintainya telah pergi bersama pria lain, pria yang mungkin akan dapat membahagiakannya...
CEO wanita yang bersanding dengan dokter spesialis tampan dalam imajinasi Roy? Semuanya tidak terjadi, dirinya menjadi dokter buruk rupa bekerja di beberapa rumah sakit, ingin menyibukkan dirinya.
Rumah, mobil, semua telah dimilikinya. Persiapan untuk melamar tuan putri-nya. Persiapan yang sia-sia, Cindy menikah dengan George.
Beberapa tahun berlalu...
Akhirnya wajah itu terlihat lagi. Wanita arogan yang membuatnya rela mengorbankan kulitnya dilalap api. Wanita arogan yang selalu meluluhkan hatinya.
Cindy tetap cantik seperti dulu, aura dominan yang disukainya. Namun, wajah itu nampak murung, di sanatorium salah satu tempat tugas praktek Roy.
Seorang anak penderita leukimia berbaring disana, sedangkan anak lainnya yang memiliki wajah serupa menangis menatap saudaranya mendapatkan penanganan.
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya, dengan berurai air mata.
"Beberapa obat sudah diberikan, saat ini mungkin sudah stabil..." jawab Roy menghela napas kasar, sembari tersenyum.
"Kamu Roy? Kita dulu sekampus, kamu ingat padaku?" Cindy terlihat antusias.
Tidak hanya mengingatmu, aku orang yang mencintaimu... batinnya
"Aku masih ingat..." jawabnya.
"Ini putraku Agam dan Agler. Agam menderita leukimia, tapi aku percaya suatu hari nanti dia akan kembali sehat..." mata Cindy terlihat berkaca-kaca, menahan tangisnya.
"Dia akan sehat..." Roy hanya tersenyum.
Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhannya, jangan bersedih lagi...
"Maaf, sebagai kenalan lama yang tidak bertemu, tidak seharusnya aku emosional," Cindy menghapus air matanya menatap ke arah Roy.
"Maaf..." ucap Cindy kala menyentuh bekas luka bakar pada pipi Roy. "Aku selalu penasaran, kenapa wajahmu bisa tiba-tiba rusak dahulu..."
Karena aku mencintaimu... ingin melihat wajahmu yang cantik...
"Aku tidak ingin membicarakannya," Roy kembali tersenyum.
Perasaan itu masih ada hingga kini, Roy hanya dapat melihat punggung wanita cantik itu dari jauh. Sebagai dokter yang merawat putranya.
Tapi, apa benar hanya dokter? Potongan kedua kue ulang tahun Agam dan Agler diberikan kedua anak itu pada Roy. Potongan yang seharusnya diterima George, pria yang tidak pernah menjenguk mereka.
Tentunya potongan kue pertama akan diberikan mereka pada sang ibu. Anak yang mungkin mengetahui orang-orang yang selalu mengasihi dan menemaninya. Merayakan ulang tahun ke lima mereka, bersama sang dokter yang wajahnya telah rusak.
Bersambung