My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Aku Mencintaimu



🍀🍀🍀🍀 Bocil skip!! Yang puasa bacanya nanti malam saja!! Seperti biasa tidak fulgar!!🍀🍀🍀🍀


Suara hair dryer terdengar, Amel tersenyum mengeringkan rambut putrinya. Hari masih malam saat ini, Steven pergi untuk menyelesaikan beberapa masalah. Pernikahan yang akan digelar di pagi hari nanti.


Jantung Febria berdegup cepat, gelisah rasanya, membayangkan pemuda itu akan ada di bangun dan tidurnya. Namun, sekali lagi dirinya tidak ingin Steven disentuh oleh Fransisca yang akan selalu mengambil kesempatan untuk menjadi istrinya. Mengandung benih darinya. Dengan status istri sah walaupun tidak dipublikasikan dirinya memiliki kekuasaan untuk menendang makhluk bernama Fransisca suatu hari nanti.


"Anak mama, sudah besar..." Amel tersenyum, menitikkan air matanya. Seketika langsung diseka olehnya.


"Mama, kenapa mama selalu menangis setiap malam sebelum salah satu dari kami menikah?" tanyanya mengamati sang ibu yang juga menangis satu hari sebelum pernikahan Scott, Joe dan Elisha.


"Kalian tidak akan membutuhkan mama lagi, membangun keluarga kecil milik kalian sendiri. Seperti burung kecil yang meninggalkan sarang induknya, tapi melihat kalian terbang dalam kebahagiaan mama juga akan bahagia..." jawabnya berusaha tersenyum.


"Maaf..." Febria tiba-tiba terisak, memeluk tubuh ibunya. Hidup mandiri? Itulah keinginannya tanpa disadari meninggalkan sang ibu yang kesepian.


Air mata Febria dihapus jemari tangannya,"Jangan menangis, besok kamu akan menikah. Perlahan menjadi seorang istri, hingga seorang ibu. Sayangi cucu-cucu mama nanti, cintai suamimu, ajukan gugatan cerai jika dia berani tidur dengan wanita lain, rebut 50% harta gono-gini nya," saran aneh dari seorang Amel yang masih menangis terisak.


"Mama!!" Febria memeluknya lebih erat, mengingat masa kecil yang selalu dihabiskannya dengan sang ibu.


Hangat pelukan ibu dirasakannya malam itu, malam sebelum pernikahannya. Wanita cantik yang memeluknya erat walau dalam tidurnya sekalipun. Membenamkan dirinya pada tubuh sang ibu, bagaikan dirinya kembali ke masa kecilnya.


***


Pagi menjelang, tepat pada saat matahari terbit, gaun pengantin telah dikenakannya. Bersiap mengucapkan sumpah setia, hanya maut yang akan memisahkan mereka. Pengantin pria dengan wajah rupawan. Remaja yang selalu mengatakan akan menikahinya, akhirnya menepati kata-katanya.


Hanya dengan satu kata 'Bersedia,' senyuman merekah di wajah mereka. Kain putih tipis yang menutupi wajahnya disingkap. Menatapnya penuh senyuman, pinggangnya direngkuh bibirnya ditaut di hadapan beberapa orang yang hadir. Hanya Eden, Amel dan beberapa orang pengawal yang menyaksikan segalanya.


Buku pernikahan telah menjadi milik mereka, melempar buket bunga. Hingga berakhir mengangkat tubuh Febria, ke dalam mobil.


Sepasang pengantin yang tersenyum, dalam mobil yang melaju membelah jalanan perkotaan. Jari manis Steven telah terselip cincin sebagai pengikat dirinya dan Febria. Begitu juga dengan wanita itu, menggenggam salah satu tangan suaminya. Hari paling bahagia baginya.


Rumah peristirahatan pinggir pantai terlihat, dijaga ketat orang-orang menyamar, bersenjata, di luar rumah. Tidak ingin ada orang yang mengetahui tentang pernikahan Steven sebelum situasi sudah cukup aman untuk mengungkapkan.


Hingga pada akhirnya pintu rumah dibukanya. Rumah minimalis terlihat dengan pemandangan kolam renang yang langsung menghadap jurang, dibawahnya pinggir pantai tempat yang belum terjamah orang-orang.


"Aku akan membuat sarapan, bersihkan dirimu dulu..." ucapnya mengenakan appron-nya. Tidak ingin hari mereka diganggu pelayan atau koki sekalipun.


Febria berlari menghampirinya masih mengenakan gaun pengantin. "Aku mencintaimu," ucapnya mencium pipi Steven. Pergi dengan cepat ke kamar utama.


Ruangan yang cukup besar, memiliki sekat kaca yang dapat dibuka. Terhubung langsung dengan kolam renang. Tempat tidur besar yang indah, terdapat tirai tipis di sekitarnya, rancangan ruangan tertata rapi. Bahkan fotonya dan Steven saat kecil ada di sana.


Febria segera meletakkan kopernya di sudut ruangan, menanggalkan gaunnya, melangkah menuju kamar mandi. Membersihkan sekujur tubuhnya yang lelah, hingga dirinya kini memakai jubah mandi berjalan keluar dari kamarnya mengamati sebuah kolam renang yang menganggur.


Wanita yang kini telah menyandang status seorang istri itu mulai memakai bikini. Memasukan tubuhnya ke dalam kolam, merasakan cahaya matahari yang hangat, serta air kolam yang dingin. Benar-benar indah, kediaman yang dipilih oleh suaminya.


Gelombang air dirasakannya, tidak begitu dipedulikan olehnya. Hingga tangan tangan seorang pemuda melingkar di perutnya.


"Steven?" ucapnya.


"Em..." hanya itu sahutan dari mulut pemuda itu.


"Aku mencintaimu!" Febria tersenyum, berbalik badan memeluk tubuhnya yang hanya berbalut celana renang pria. Bentuk tubuh yang terukir indah menurut Febria.


"Aku juga mencintaimu," jawabnya, dengan jari menyentuh dagu istrinya. Mata itu saling bertatap sesaat, mencari kebenaran perasaan mereka yang berbalas, keyakinan tidak akan ada yang lain setelahnya. Steven perlahan menunduk memejamkan matanya diikuti Febria dengan mata mulai sayu terpejam.


"Steven," ucapnya menatap mata biru tanpa softlens, deru napas yang sama-sama tidak teratur.


"Kamu tau, kenapa dulu aku berusaha mencintaimu? Itu karena ingin perlindungan dari Kenzo dengan menjadi menjadi menantunya. Tidak ingin kembali pada ayah kandungku," ucapnya tersenyum.


"Jadi pernikahan ini!?" Febria mengenyitkan keningnya kesal, berjalan menjauhi Steven.


Tapi tubuhnya kembali di tahan,"Tapi perlahan aku terjerat. Aku mulai mengasihimu, bahkan lebih baik aku mati dari pada melihatmu sakit ketika kita masih kecil. Tidak berusaha lagi, aku sudah mencintaimu terlalu dalam,"


"Karena itulah aku menyerahkan diri pada ayah kandungku 14 tahun yang lalu, tidak meminta pertolongan pada papa. Aku tidak ingin kamu terluka, tidak ingin Febria-ku menangis karena papa terluka... karena aku sudah mencintaimu terlalu dalam..." lanjutnya.


Tubuh Febria di baliknya, tersenyum kearahnya,"Kamu mempercayaiku?" tanyanya, wanita itu hanya mengangguk, mempercayai suaminya.


Mengalungkan tangannya, berjinjit mencium bibir itu kembali, kepala yang dimiringkan berlawanan arah. Menelusuri celah demi celah entah apa yang dicari kedua lidah itu.


Hati mereka berdebar tidak menentu penuh kegelisahan, entah apa yang diinginkan...


"Aku ingin menyimpan anak kita padamu," ucap Steven dengan deru napas tidak teratur, masih berusaha menahan segalanya.


Febria mengangguk, matannya kembali sayu, menikmati ciuman itu lagi. Seakan tidak ada titik kepuasan disana.


Tubuhnya diangkat ke tepi kolam, di dudukan disana. Di posisi yang lebih tinggi darinya, Steven mengangkat kepalanya, tersenyum,"Inilah gadis yang aku cintai..." ucapnya penuh kebanggaan.


***


Tirai tempat tidur tertutup sempurna, bayangan dua orang terlihat samar-samar dari tirai putih transparan. Bibir yang saling menaut, tangan pemuda itu melepaskan semua tali bikini yang menutupi tubuh wanita di bawahnya.


Tubuh mereka masih sama-sama setengah kering, namun tidak terasa dingin sama sekali kala dua tubuh itu saling bergesekan.


Jantung Febria berdegup cepat menatap mata biru yang bagaikan mendambanya. Hingga sang pemuda kembali menunduk, membuai lehernya perlahan, memberikan gigitan pelan disana.


Deru napas mereka semakin memburu, kala wajah rupawan berambut cokelat itu turun membuainya lebih dalam lagi. Tubuhnya menegang, menjambak rambutnya pelan, seiring gerakan bibir Steven, membuainya semakin gelisah.


"Steven...uh..." lirihnya, dengan napas tidak teratur.


Sungguh ini sulit dikendalikan, membiarkan pemuda ini bertindak semaunya. Namun tubuhnya seperti bukan miliknya lagi, hanya dapat menikmatinya saja, apapun yang dilakukan pemuda yang kini telah menjadi suaminya, Steven yang dicintainya.


Hingga pakaian Steven yang terakhir telah tanggal. Matanya kembali menatap Febria, seakan menatapnya penuh rasa iba, menginginkannya, tapi terlalu takut untuk menyakitinya.


Bibir itu kembali ditautnya penuh harap, akan meredakan semuanya. Namun kala rasa sakit itu tetap tiba, seiiring tubuh mereka yang menyatu sempurna.


Air mata mengalir juga pada akhirnya, dalam sapuan lidah yang membuainya. Mahkotanya telah direnggut, memeluk erat tubuh sang pria yang ada diatasnya. Mencakarnya seiring pergerakan mereka, sakit mungkin sakit. Namun pada akhirnya tidak, pemuda ini terlalu pandai membuainya.


"Steven..." jeritnya kembali, merasakan tubuhnya bagaikan diombang-ambing.


Hingga dua insan itu telah kelelahan, saling memeluk dalam sentuhan, seakan geram untuk melepaskan, seiiring mengalirnya benih-benih dalam rahimnya.


Tubuh itu terpisah pada akhirnya saling menatap, penuh senyuman...


"Aku mencintaimu..." ucap mereka bersamaan.


Bersambung