My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Tidak Akan Melepaskanmu



Zen memarkirkan mobil murah yang dibelinya secara second. Hari ini sang pengasuh tegah ijin untuk menjenguk putranya yang sakit. Zen sendirilah yang menjemput putrinya kali ini. Hendak membawanya ke kantor, Aqila sejatinya bukanlah anak yang rewel hanya saja kekurangan kasih sayang sang ibulah yang membuatnya menjadi sering menangis mencari perhatian Fransisca.


Namun tanpa diduga, semenjak berpisah putrinya tidak pernah merengek dan bersikap manja lagi. Dirinya mulai melangkah, sudah terlambat hampir 30 menit untuk menjemput putrinya. Hingga langkahnya terhenti, menemukan alasan mengapa Aqila menjadi lebih penurut.


Seorang wanita duduk di sebuah pohon rindang memangku putrinya, bernyanyi bersama. Bahkan sesekali mengelap bibir Aqila yang belepotan dengan ice cream.


Wajahnya tersenyum, tidak pernah rasannya menatap senyuman setulus ini dari putrinya. Anak yang tidak mendapatkan kasih sayang ibunya. Perlahan air matanya mengalir, wajah teduh mantan kekasihnya ada disana, wanita yang menjadi sahabat masa SMU-nya, menemaninya hingga mendirikan sebuah perusahaan. Perlahan perasaan itu berkembang, menjadi perasaan cinta antara pria dan wanita.


Kini dua orang yang paling dikasihinya ada disana tersenyum bersama. "Papa," teriak Aqila melambaikan tangannya, kemudian bangkit, berlari ke arahnya.


Sedangkan wanita itu berbalik, seolah tidak melihatnya. Berjalan beberapa langkah,"Yessi..." panggilnya.


Yessi menghentikan langkahnya,"Maaf, lain kali jangan terlambat untuk menjemput Aqila," ucapnya tanpa berbalik.


Namun tanpa diduga Aqila berlari kembali ke arah Yessi, jemari kecilnya memegang tangan sang guru,"Bu guru sudah membelikan Aqila ice cream. Mau ya makan di rumah Aqila? Aqila tidak mau ikut papa ke kantor. Nek Wi sedang pergi, temani Aqila di rumah ya?" pintanya.


"Bisa tolong temani Aqila?" suara bariton itu terdengar, orang yang dirindukannya selama ini.


"Bu guru harus pulang, maaf," ucapnya mensejajarkan tingginya dengan Aqila.


Bentuk bibir anak itu mulai berubah bagaikan akan mengeluarkan tangisannya. Dan benar saja suara melengking membengkakkan telinga itu terdengar. Tidak menyangka sama sekali, tidak menduganya, bahkan Yessi sampai harus menutup kedua telinganya mendengarkan suara tangisan sang anak.


Sedangkan, bukannya menghentikan tangisan putrinya, Zen malah hanya berdiri menipiskan bibir menahan tawanya. Sengaja? Tentu saja.


"Aqila diam ya?" pinta Yessi, namun anak itu malah menangis semakin kencang.


"Zen!! Bagaimana menghentikan tangisannya!?" ucapnya mengaku kalah untuk tidak berbicara dengan sang mantan.


"Mudah, peluk dan turuti keinginannya, maka dia akan berhenti menangis," jawaban dari mulut Zen dengan raut wajah datarnya, sebisa mungkin agar tidak tertawa.


Yessi menghela napas kasar, kemudian memeluknya,"Jangan menangis ya? Nanti bu guru akan makan siang, lalu menjagamu selama ayahmu bekerja..."


Anak itu terdengar bagaikan cegukan dengan mata dan hidung memerah. Air matanya mengalir, bahkan ingus cair keluar dari hidungnya.


"Jangan menangis," Yessi mengeluarkan tissue basah dari sakunya, menghapus air mata serta ingus sang anak. Dan akhirnya tangisannya berhenti, menemukan wanita yang mencintainya dengan tulus.


Tidak ada yang terjadi setelahnya, bahkan hampir tidak ada pembicaraan dengan Zen dalam perjalanannya menuju apartemen. Hanya ada suara nyanyian dan tawa dari kursi penumpang bagian belakang. Perlahan Zen ikut bernyanyi, menyanyikan lagu anak-anak. Kehangatan keluarga itulah yang terasa.


Zen tersenyum masih terus mengemudi, dari awal dirinya sudah mengetahui Yessi adalah calon ibu dan istri yang baik.


Hingga pada akhirnya dua orang yang paling dicintainya itu bermain bersama. Meninggalkan mereka hendak bekerja, mencari uang sedikit demi sedikit. Semakin bersemangat rasanya, itulah perasaan Zen saat menutup pintu pintu apartemen meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke kantor.


Hingga sore menjelang, tidak sabar rasanya untuk segera pulang ke rumahnya. Menatap istri dan anaknya, maaf salah sang mantan dan anaknya.


Namun, Zen hanya dapat menghela napas kasar kala pintu apartemen terbuka. Hanya sebuah pesan yang ada di atas meja.


'Aku sudah memasak makan malam, Aqila tadi makan malam lebih awal, sudah mandi dan baru saja tidur,' itulah isi pesan dalam secarik kertas.


Yessi menghindarinya, pulang tepat sebelum Zen sampai rumah. Perlahan pintu kamar putrinya dibuka olehnya, anak dengan rambut disisir rapi, memakai baju bersih. Tertidur dengan nyenyak memeluk boneka beruangnya. Wajah tenang dalam senyuman.


Hingga dirinya menatap kertas dengan coretan krayon. Itulah gambar putrinya, gambar yang tidak jelas, namun dapat dikenali dari ciri fisiknya.


Seorang pria, menggandeng tangan anak yang memiliki rambut pendek sebahu, sedangkan tangan sang anak di sisi lainnya, digenggam wanita dengan kacamatanya. Tersenyum berdiri di atas rumput dengan pelangi dan matahari.


Itulah adalah dirinya, Aqila dan Yessi.


Perlahan Zen memasuki kamarnya, melempar dasinya asal. Tanpa memandang curiga sedikitpun, hingga kemeja miliknya dibuka, menampakkan otot-ototnya yang tercetak sempurna, pria tinggi tegap terlihat maskulin.


Dan pada akhirnya, tangan itu membuka lemari juga, hendak mengambil kaos dan celana pendek. Pintu lemari dibukanya, hanya memakai celana panjang hitam, sedangkan bagian atasnya bertelanjang dada.


Bagaikan seekor tikus yang berjongkok meringkuk di lemari, wajah itu memaksakan dirinya untuk tersenyum. Di hadapan otot perut dan dada yang tercetak indah di pandang mata.


"Maaf!!" ucap Yesi, keluar dengan cepat, memendam rasa malunya. Dengan segera meninggalkan apartemen milik sang mantan.


"Bodoh!! Bodoh!! Bodoh!!" umpat gadis berkacamata, berteriak sambil berlari menuruni tangga darurat melupakan teknologi yang bernama lift.


Hal yang sebenarnya terjadi? Yessi menangis sambil menulis pesan. Menghela napas kasar, hendak pergi, menatap jam dinding, sudah hampir waktunya Zen untuk pulang.


Tapi hal yang terjadi, suara kode akses apartemen ada yang menekankan pertanda Zen telah pulang. Terlalu canggung bicara dengannya, dengan kekuatan super secepat kilat dirinya bersembunyi di salah satu kamar.


Menunggu kondisi aman untuk menyelinap meninggalkan apartemen diam-diam. Namun sialnya, kamar tempatnya bersembunyi adalah kamar Zen. Hingga akhirnya demi gengsi dan rasa malunya yang telah meninggalkan surat, Yessi bersembunyi di lemari pakaian.


Hal yang dilakukan Zen saat ini? Malu? Canggung? Tidak, dirinya tertawa sekencang-kencangnya. Menemukan kebahagiaannya pada akhirnya, tidak akan melepaskan Yessi lagi. Sebagai pemberi kebahagiaan baginya dan putrinya.


***


Hari ini merupakan hari yang baru, dirinya mulai memakai pakaian rapi, mengantar putrinya ke sekolah. Berjanji akan menjemputnya, setelah ijin keluar sebentar dari kantor. Wajah wanita itu terlihat sekilas, tengah berbicara dengan sesama guru. Zen hanya dapat tersenyum, tugas mengantar jemput tidak lagi diserahkannya pada sang pengasuh.


Hanya agar dapat melihat wajah Yessi setiap pagi....


Perlahan akhirnya Zen memarkirkan mobilnya, di area parkir bawah tanah kantornya. Matanya menelisik, menatap bos-nya yang baru turun dari mobil. Terdiam dengan wajah pucatnya.


Zen segera turun dari mobilnya, berjalan menghampiri, hendak menyapa. Namun tanpa diduga tubuh Steven yang berpegangan pada pintu mobilnya tiba-tiba rubuh.


Bersambung


...Jika aku dapat menghentikan waktu, ingin aku hentikan. Agar kebahagiaan dapat menyapaku lebih lama......


...Menutup mataku, saat rambutmu telah memutih, pipimu telah keriput... ...


...Namun, itu seperti hanya angan bagiku, yang kesulitan untuk melihat hari esok, penuh harapan akan dapat membuka mata lagi......


...Jika Tuhan mengijinkan, aku ingin hidup......


Steven...