
Tidak menyadari segala tindakannya? Mungkin itulah yang terjadi pada Praba. Dirinya tidak tersentuh sama sekali, tidak dihancurkan sama sekali.
Namun tidak kali ini, suasana aneh terjadi di rumahnya beberapa hari ini.
"Ini juga untukmu!! Untuk keluarga kita!! Mereka teman-teman arisanku, bisa mengenalkanmu pada suami mereka! Atau suatu saat kamu dapat bekerja sama jika memiliki perusahaan sendiri, akan lebih mudah!!" bentak Diah yang menguras sepertiga deposit suaminya di Bank.
"Arisan!? Kamu fikir aku tidak tau!? Kalian bersenang-senang dengan pria muda kan!? Lagipula arisan menghabiskan ratusan juta? Untuk apa!?" Virgo meninggikan intonasi suaranya.
Prang ...
Sebuah pajangan guci besar dibantingnya. Dengan cepat Praba menghampiri arah datangnya suara pertengkaran. Menatap pecahan guci yang berserakan di lantai.
"Kenapa ayah dan ibu bertengkar?" kesalnya.
"Ibu cuma pakai uang beberapa ratus juta, untuk mencari teman sosialita kelas atas!! Ini juga untukmu dan ayahmu! Tapi lihat ayahmu tidak tau terimakasih," Diah yang tersulut emosi mulai menunjuk-nunjuk.
"Ibumu menggunakannya untuk berselingkuh!! Wanita sial!!" ucapnya hendak menampar istrinya, namun dengan cepat Praba menjadikan dirinya sebagai perisai menghadang sang ayah.
"Kamu lebih memihak ibumu? Baik..." Virgo melangkah mundur, berjalan ke dalam kamarnya, menurunkan koper besar dari atas lemari. Pakaian dimasukkannya asal, perasaan cinta dan benci yang berperang menjadi satu.
Merasa tidak dihargai sebagai seorang ayah sekaligus kepala keluarga. Tidak dirinya tidak dapat menerima semua ini.
"Ayah mau kemana?" tanya Praba mencoba menghentikannya.
"Imah!!" panggil Virgo menyebut nama sang ART yang masih seusia Praba. Dengan cepat sang ART segera keluar dari dapur.
"Kita pergi dari sini, saya akan menikahimu! Jadilah istri yang tidak akan berselingkuh," ucapnya mengambil keputusan terburu-buru, hatinya benar-benar terbakar emosi.
Imah tersenyum, berjalan dengan cepat, mengambil koper di kamarnya.
"Virgo!! Kamu yang berselingkuh tapi menuduhku!!" bentak Diah, memegang lengan suaminya.
"Aku? Bukannya kamu yang berselingkuh dengan pria muda!? Aku tau semuanya, tunggu surat dari pengadilan!! Kita akan bercerai!!" tegasnya.
"Baik!! Seberapa bergunanya pembantu sialan itu menjadi istrimu!? Aku membungkuk sekian tahun pada Vanya hanya untukmu. Setelah kamu berjaya, malah meninggalkanku!" teriak Diah, pada suami yang puluhan tahun dinikahinya.
"Lalu apa yang kamu inginkan!?" tanya Virgo menatap tajam.
"Kita bercerai, tapi setengah harta menjadi milikku!!" kata-kata dari mulut Diah yang masih ingin menikmati hidupnya.
"Akan aku kabulkan, tapi camkan ini, jangan pernah mengemis untuk kembali padaku..." ucapnya.
"Siapa yang akan sudi bersama pria tukang selingkuh sepertimu," Diah tersenyum, meraih tasnya, memilih meninggalkan rumah. Pergi bersama teman-temannya yang merupakan kalangan atas, menghilangkan penat. Mungkin mencari hiburan menyewa pria muda seperti teman-temannya yang lain.
"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Jangan pergi dulu, aku ingin penjelasan," Praba menghentikan langkah ayahnya.
"Yang terjadi?" Air mata Virgo mengalir, diseka dengan cepat olehnya,"Ibumu berselingkuh, dan ayah membalas perselingkuhannya, dengan melakukan hal yang sama dengan Imah,"
Jawaban dari sang ayah yang sejatinya, walaupun keras, namun tetap mencintai istrinya. Berselingkuh dengan pria muda? Virgo tidak dapat menerimanya. Memilih pergi menikah dengan ART yang terlanjur ditidurinya.
Praba tertegun diam, jemari tangannya mengepal, air matanya mengalir. Bahkan sang ayah tidak menoleh padanya, kala pergi dengan Imah, ART yang telah bekerja selama 2 tahun di rumah mereka.
"Kenapa jadi begini..." gumamnya tertunduk, tidak mengerti. Keluarga yang sempurna, tiba-tiba hancur tanpa sebab. Sesuatu yang tidak dimengertinya, kala orang mati tidak dapat membalas segalanya. Maka tangan-tangan orang yang masih hidup akan bergerak, mencengkramnya sedikit demi sedikit.
***
Sementara itu di tempat lain...
Seorang wanita tertawa duduk berhadapan dengan seorang pria botak. Suwardi dialah orangnya, ayah dari Selly, tunangan Praba.
"Gajah besar sepertimu bisa kempes juga ya..." sang rektor tertawa nyaring.
"Iya, kepala bapak juga tetap saja masih licin. Terkena pantulan sinar matahari, mata saya jadi silau,"Amel ikut mencemooh tanpa sungkan sedikitpun.
"Seharusnya kamu ikut mencukur rambut saja, lumayan hemat shampoo, tidak memerlukan sisir," Suwardi kembali tertawa.
"Benar juga ya!?" Amel juga kembali tertawa.
Sementara dua orang berbeda umur menatap jenuh, di area warung lesehan dekat kampus."Kabel mereka terkoneksi sempurna," Scott menghela napas kasar, menggelengkan kepalanya heran.
"Ternyata ada orang di dunia ini yang tidak naik darah ketika bicara dengan ayahku," Selly ikut menghela napas.
"Mau jalan-jalan?" tanyanya Scott menghilangkan penat.
"Boleh..." jawab Selly mulai bangkit, mengikuti langkah Scott. Meninggalkan area warung lesehan, tempat Amel bercengkrama.
***
Daun-daun kecil beterbangan, angin menerpa rambutnya. Wanita yang kini tengah duduk dengan tenang di kursi taman dekat kampus.
"Kamu menyukai Praba?" tanya Scott pada gadis yang duduk di sampingnya.
Selly mengangguk, kemudian tersenyum,"Aku mencintainya, walaupun mengetahui sifat buruk yang disembunyikannya,"
"Aku mencintainya, melihat wajah seriusnya, begitu tampan..." jawaban dari mulut Selly.
"Wajah serius!?" Scott menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, tidak mengerti sama sekali.
"Iya, aku masih ingat, rasanya berbunga-bunga. Ingin melayang ketika dia mengatakan aku cantik, mengatakan dirinya mencintaiku, matanya saat memojokkanku membuatku gelagapan, lalu saat berciuman..." wanita dewasa itu terlihat tersipu-sipu sendiri.
"Kamu baru pertama kali di dekati pria? Baru pertama kali pacaran?" tanya Scott curiga.
Selly yang 7 tahun lebih dewasa darinya, mengangguk polos, membenarkan.
"Begini, secara logika, jika dia hanya menginginkan kampus milik ayahmu saja. Jika ada wanita yang lebih cantik dan sempurna, maka kamu akan ditinggalkan olehnya. Apa kamu masih mencintainya?" Scott kembali berusaha meyakinkannya.
"Cinta adalah pengorbanan, aku akan masih mencintainya..." jawaban polos dari wanita dewasa.
"Astaga, berapa lama sebenarnya kalian sudah saling mengenal?" tanya Scott, menepuk jidatnya sendiri.
"Satu bulan sebelum bertunangan, saat merasakan sentuhannya membuatku melayang..." Selly kembali menjawab dengan wajah berseri-seri.
"Kalian sudah pernah tidur bersama?" Scott mengenyitkan keningnya.
Selly menggeleng,"Hanya saja, dia pernah memelukku, menciumku...aaa..." gumamnya malu sendiri.
Scott menghela napas kasar, sang rektor aneh memiliki putri dosen yang benar-benar polos.
"Ikut aku!! Ingat!! Aku tidak melecehkanmu!! Hanya sebuah perbandingan..." ucapnya menarik tangan Selly.
Gudang belakang kampus tempat paling sepi yang ditemukan Scott. Berjalan masuk masih menarik sang wanita dewasa.
Perbedaan kebudayaan dan pergaulan? Scott tidak pernah melakukan hubungan layaknya suami-istri. Namun setidaknya pernah memiliki kekasih, walaupun berakhir putus, karena Amel yang tidak pernah tinggal menetap di satu negara.
Brug...
Pintu gudang di tutupnya...
"Kenapa kita kemari?" tanya Selly tidak mengerti.
"Semua pria dapat berkata manis, membuat wanita melayang. Akan aku tunjukkan, kamu sebenarnya tidak mencintainya, hanya karena dia pria pertama yang menggodamu saja," ucap pemuda berdarah Jepang yang baru berusia 24 tahun tersebut.
Menimbulkan perasaan yang sama dengan Praba, menjadi tujuannya. Mengajari gadis itu, perbedaan jatuh cinta, atau hanya perasaan karena pertama kali disentuh dan didamba.
Scott menghirup napas dalam-dalam, menutup matanya sejenak, memulai permainan sandiwaranya, seolah-olah gadis di hadapannya ada dalam kondisi berbeda.
Matanya tiba-tiba terbuka,"Selly, aku mencintaimu..." ucapnya.
Jantung wanita dewasa itu bergemuruh entah kenapa. Hingga pujian yang sama dilontarkan Scott, yang berjalan mendekatinya...
"Kamu cantik..." nada suara yang berbeda, aroma parfum yang membuat debaran di hatinya semakin cepat. Perbedaan mendasar saat dengan Praba, yang hanya dapat membuatnya berbunga-bunga saja.
Namun ini? Adrenalin nya bagaikan terpacu...
"Aku merindukanmu..." jemari tangan gadis itu diciumnya. Selly bagaikan membeku, merasa jemari, lalu berpindah pada telapak tangannya, dibelai pelan bibir seorang pemuda. Sengatan yang terasa benar-benar dalam.
"Apa dia (Praba) pernah mencium bibirmu?" tanya Scott, padanya. Selly hanya mengangguk, merasa pemuda yang baru dikenalkan ayahnya membelai bibirnya menggunakan jari.
"Tutup matamu dan rasakan, hal yang sama dengan dengan dia (Praba)..." bisiknya, mulai menutup matanya, mencium bibir wanita di hadapannya.
Ini benar-benar membuat Selly gila, jantungnya berdegup cepat tiada henti. Jemari tangannya memegang sweater hijau yang dikenakan Scott seakan tidak ingin ini segera berakhir. Menginginkan lebih? Lebih? Apa yang dapat terjadi lebih dari ini? Entahlah...
Bibir pemuda itu benar-benar membelai bibir dan lidahnya. Tanpa Scott sadari tangannya melingkar di pinggang Selly.
Ciuman yang hanya beberapa saat... Bibirnya menyenangkan untuk dimainkan, tunggu!! Aku hanya mengajari wanita polos ini saja!! Kalau semua pria dapat memberikan perasaan serupa pada wanita. Kenapa aku jadi merasa nyaman... gumamnya dalam hati, melepaskan ciumannya dengan cepat.
Berusaha menetralkan dirinya, lalu tersenyum. "Bagaimana rasanya? Sama dengan pacarmu Praba kan? Kamu tidak mencintainya, itu hanya tipu daya perasaan tubuhmu, karena dia yang pertama kali menyentuhmu..."
Selly tertunduk, kemudian menatap pada Scott,"Rasanya berbeda, aku menginginkan lagi, perasaan tadi darimu..." ucapnya menarik Scott, menciumnya paksa.
Gagal? Mungkin Scott mengira dirinya akan berhasil mengajari gadis polos itu, bagaimana perasaan sesungguhnya, dirinya pada Praba. Berharap mendapatkan jawaban 'Sama saja,' tapi kenapa malah Selly berkata 'Berbeda,'?
Tidak menyadari gadis yang sesungguhnya, memiliki perasaan berbeda pada Scott, pemuda yang baru sekali ditemuinya.
Bug...
Pintu gudang terbuka...
"Scott!!" suara bentakan dari ibunya, yang benar-benar murka.
"Mama!!" dengan cepat, dirinya memisahkan bibir mereka yang bertaut.
"Sabarlah, anak muda memang begitu, perasaan mereka terlalu menggebu-gebu..."sang rektor tertawa kencang, memegangi perutnya, menepuk bahu Amel.
Bersambung