
"Paman ini oleh-oleh untuk paman, saya Ken pacarnya Glory," ucapnya terus terang, memberikan juice buah dan martabak pada calon mertuanya.
Gadis itu mengepalkan tangannya membayangkan reaksi ibu dan ayahnya akan sama menentang hubungannya dengan Ken."Ayah aku..."
"Kamu mau?" tanya Hasan pada putrinya menyodorkan sebungkus martabak yang telah dibukanya. Glory terdiam sejenak, meraih sepotong martabak coklat keju, dengan coklat yang meleleh sempurna, serta parutan keju yang setengah leleh. Ditemani juice semangka yang terasa segar dan dingin di tenggorokan.
"Lain kali bawakan coklat pisang, paman suka yang coklat pisang," lanjutnya menoleh pada Ken.
"Ayah tidak menentangnya?" tanya Glory dengan mulut penuh.
Hasan menghela napas kasar."Kamu menyukainya?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Glory.
"Yang terpenting sifat dan perilakunya. Dia terus terang mengatakan pacarmu, setidaknya ada keseriusan darinya..." jawab Hasan masih menggoreng tahunya di atas mobil pickup.
"Tapi ibu..." Glory tertunduk ragu.
"Ibumu hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Kamu tau saat ayah melamar ibumu dulu bermodalkan sepasang cincin emas, ayah dilempar menggunakan sandal jepit oleh nenekmu. Setidaknya ayah harus punya rumah jika ingin melamar anaknya," jelasnya.
"Lalu apa yang terjadi paman? Paman berusaha keras untuk membeli rumah?" tanya Ken antusias.
Hasan tertawa, kemudian menggeleng."Setiap malam paman bertamu ke rumahnya hingga tengah malam tanpa menyerah. Diusir menggunakan sapu pun, paman berdiri di depan pagar rumah..."
"Hingga nenek dan kakek luluh?" tanya Glory penasaran.
"Hingga keluarga ibumu malu pada tetangga..." jawaban dari mulut Hasan membuat pasangan muda itu kehabisan kata-kata.
Memang tidak dipungkiri ibu dan anak itu memiliki selera yang aneh dalam memilih pasangan. Kamila yang cantiknya bagaikan selebriti tahun 90 an mencintai Hasan pria kurus kerempeng yang tidak memiliki penghasilan tetap.
Menolak seorang tentara berbadan tegap, berwajah tegas berwibawa. Pelet apa yang digunakan? Entahlah, sejatinya tidak ada, Kamila hanya tidak ingin bermimpi terlalu tinggi. Untuk apa memanjat pohon mencari bunga yang lebih besar, jika bunga kecil yang tumbuh diatas tanah saja sudah membuatnya bahagia.
Sifat dan kecantikan yang menurun pada putrinya Glory. Gadis genit yang lebih menyukai Ken siswa biasa dibandingkan dengan Ferrell yang terlihat sempurna di segala sisi, padahal perasaan berdebar yang dirasakannya sama. Alasannya, memerlukan banyak usaha dan latihan mental untuk menjadi istri seorang Ferrell. Bertarung dengan pelakor yang jumlahnya entah ada berapa. Sedangkan Ken, tidak perlu tampan, hanya bergandengan tangan, berusaha keras bersama-sama dari nol, dirinya sudah cukup bahagia.
"Paman, boleh aku pergi dengan..." kata-kata Ferrell terhenti, Hasan menghela napas kasar.
"Jaga kepercayaan paman, jangan berhubungan di luar nikah. Jaga dan sayangi Glory..." pesannya.
Ferrell tersenyum mendapatkan lampu hijau dari calon mertuanya,"Baik paman! Tidak akan sampai hamil! Kecuali sudah menikah, jika aku sampai menghamili Glory di luar nikah, papaku (Kenzo) akan mengirimku ke wilayah konflik bersenjata sebagai tim medis sukarela. Berakhir pulang tinggal nama... meninggalkan istri yang manis dengan perut membuncit,"
"Tidak akan sampai hamil!? Walaupun memakai pengaman hubungan di luar nikah tidak boleh dilakukan!" tegasnya pada pemuda yang mengaku bernama Ken.
"Baik paman!! Putri paman akan pulang utuh dengan selamat!!" ucap Ferrell tidak kalah tegasnya.
Kecuali bibirnya yang cerewet... batinnya.
"Pergilah! Tapi jangan lama-lama dan jangan macam-macam..." Hasan mulai mengakat tahu yang telah matang.
Ferrell tersenyum, menarik tangan Glory berjalan menjauhi mobil pick up. Hingga beberapa langkah mereka bergandengan."Ini untukmu, kepribadianmu mirip seperti wangi bunga ini. Sederhana tapi lembut dan membuatmu memiliki satu-satunya tempat di hatiku..." ungkapannya malu-malu.
"Kita akan kemana?" ucapnya memulai pembicaraan.
"Melihat bintang di taman kota," Ferrell tersenyum, membimbingnya menuju area taman kota, yang terdapat tidak jauh disana.
Tempat dengan penerangan yang tidak begitu memadai. Tempat yang cukup gelap tanpa seorang pun melintas, sepasang muda-mudi yang duduk berdampingan. Di kursi taman yang terletak jauh dari pinggir jalan raya. Bintang terlihat dari sana, mengingat minimnya penerangan.
Sepasang tangan yang bersinggungan, perlahan saling menggenggam penuh rasa canggung dan malu."Kamu kemana saja tadi siang dengannya?" tanya Ferrell memulai pembicaraan
"Dia? Gin? Dia ingin makan siang bersama, tapi aku menolak..." kata-kata Glory terhenti sejenak menghela napas kasar."Ken, aku mencintaimu,"
Itulah kalimat yang terucap, setiap bibirnya kelu tidak tahu harus berkata apa. Bahagia? Tentu saja, perasaan yang benar-benar hangat kala ada bersama dengannya.
Ferrell menoleh padanya, bingung harus bagaimana. Glory tidak mencintainya, namun karakter Ken yang tidak sengaja diciptakannya. Apa yang akan terjadi jika bocah ini mengetahui Ken adalah sebuah kebohongan?
Apa akan masih tetap mencintainya? Entahlah, namun dirinya tidak ingin melepaskan tangannya menikmati saat-saat ini lebih lama. Bukan hanya karena membuatnya tertarik dari segi kebutuhan biologis. Namun, gadis ini benar-benar berbeda, tingkah konyolnya, keluhannya, hidupnya yang sederhana, celotehan dan gerutuannya membuat Ferrell selalu tersenyum saat memikirkannya.
Perasaan berdebar yang nyaman, tidak pernah didapatkannya dari gadis manapun. Lebih tepatnya dirinya selalu membangun dinding pembatas. Tapi dengan Glory tidak, dirinya selalu takluk untuk merindukannya.
"Aku juga mencintaimu. Apa kamu akan menyukai semua yang ada padaku?" tanyanya penuh harap, Ferrell menyadari tidak akan dapat mempertahankan sosok Ken terlalu lama.
Gadis itu mengangguk, tanpa mengetahui segalanya, mungkin yang ada dalam fikirannya, menerima semua kekurangan kekasihnya. Tidak menyadari perasaan sakit kala hanya akan menjadi mainan boneka tali akan terasa. Perasaan menusuk, dikhianati olehnya, dibohongi. Semakin Ferrell tidak jujur, semakin banyak orang yang tahu kecuali Glory, maka akan semakin menyakitkan bagi sang remaja nantinya.
Sebuah mainan hanya untuk bahan tertawaan seorang Ferrell mungkin itulah yang akan terasa nantinya. Kala rasa percaya dirinya runtuh, mengembalikan semua pemberiannya, untuk pergi meninggalkannya.
"Aku akan menerima segalanya, aku akan menentang perjodohanku untukmu. Setelah lulus SMU nanti aku akan mencari pekerjaan, kita menikah agar ibu tidak berani macam-macam. Kita berusaha dari bawah bersama-sama..." ucapnya, mengeratkan pegangan tangannya.
Mendapatkan pria jujur, baik hati, bertanggung jawab seperti ayahnya adalah impiannya. Tidak perlu kaya atau tampan, tidak memiliki rumah sendiri juga tidaklah mengapa, karena pemuda itu jujur akan apa yang dimilikinya, hanya itu, Glory tidak menginginkan hal lainnya.
"Boleh aku mencium bibirmu?" tanya Ferrell, mengelus pipi dan bibir gadis itu dengan jarinya.
Glory mengangguk, pemuda sederhana yang dicintainya...
Pemuda itu memiringkan sedikit kepalanya, matanya perlahan terpejam, begitu juga dengan Glory. Sepasang jantung yang berdegup cepat bersamaan.
Ini benar-benar indah bagi Ferrell, gadis ini hanya miliknya saja, hanya boleh mencintainya.
Mungkin perasaan yang sama bagi Glory, gadis yang mulai memainkan lidahnya. Bagaikan kehausan, merasakan dahaga akan sentuhan setiap gerakan bibir itu.
Berciuman di tempat umum? Walaupun tempat gelap yang sepi, namun terasa begitu membuai tubuhnya. Sejenak pangutan itu terlepas namun terasa lebih menggila lagi, mengecup singkat beberapa kali, kemudian kembali bertaut, belum menemukan kepuasannya.
Ada saatnya aku akan membuatmu, bahagia dan terkejut akan statusmu nantinya... sebagai istri calon seorang Ferrell... batinnya, tidak menyadari gadis ini tidak mengejar status yang tinggi. Hanya tidak ingin dipermainkan bagaikan boneka tali, gadis yang mungkin akan merasa muak padanya...
Bersambung