My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Pesugihan



Kiki duduk semakin mendekatinya yang menjauh, bahkan mencoba menggapai jemari tangan pemuda yang acuh padanya, hingga pada akhirnya Dava, menghela napas kasar. Pemuda itu memutuskan menenangkan fikirannya di tempat lain, bangkit meninggalkan pos ronda.


"Kamu mau kemana!?" Kiki meninggikan intonasi suaranya, menatap Dava yang berjalan menjauh.


"Menenangkan fikiran!!" teriaknya.


"Benar-benar acuh, aku menyukai sifatnya yang cuek ..." wanita itu tersenyum, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri.


***


Banyak yang ada di fikirannya kini, berjalan seorang diri menuju warung kopi. Tempat seorang tetangganya sering menghabiskan waktu. Bagus, itulah nama seorang pria yang kini tengah menyeruput kopi susu ABC.


Dava meraih sekaleng soda bening, kemudian membukanya, duduk di samping Bagus tanpa banyak bicara.


"Tumben ke warung?" Bagus yang berprofesi sebagai security di sebuah club'malam mengenyitkan keningnya.


"Biasanya aku hemat, tapi hari ini percuma rasanya, berhemat selama 7 tahun. Uang tabunganku kandas, di tambah hutang 80 juta... ayahku benar-benar memberi masalah besar..." keluhnya.


"Pak Damian punya hutang? Bagaimana bisa?" tanya Bagus penasaran.


"Teman ayahku meminjam uang pada rentenir, menggunakan nama ayahku sebagai jaminan. Lalu kabur..." Dava meminum seteguk dari kaleng sodanya."Satu lagi, ibuku sakit perlu uang untuk cuci darah secara rutin...kamu punya uang? Aku ingin pinjam..."


Dava menadahkan tangannya penuh harap, Bagus tersenyum merogoh sakunya,"Ini, aku ikhlas tidak usah dikembalikan..." ucapnya.


5.000 rupiah? Itulah nominal yang dilekatkan Bagus pada tangan sahabatnya.


"Aku minta bantuan pada orang yang salah..." Dava menghela napas kasar, merenungi nasibnya.


"Coba kamu fikirkan, apa ada orang atau kenalanmu yang punya banyak uang hingga menganggap 80 juta sama dengan 5.000 rupiah baginya tidak?" tanya Bagus, menyeruput kopi susu ABC miliknya, membuat matanya yang mengantuk kembali terbuka.


Dava lagi-lagi menghela napasnya,"Ada, aku sempat terfikirkan, tapi dia orang kaya aneh pelit, tidak mungkin mau meminjamkan uang..."


"Coba saja dulu..." Bagus tersenyum, membuka plastik kripik singkong buatan rumahan, sebagai cemilannya meminum kopi.


Jemari tangan Dava gemetar mencoba menghubungi istri orang.


Seorang wanita yang tidak mengenakkan sehelai benangpun, berendam dalam bak mandi yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Masker wajah berbentuk tissue masih melekat di wajahnya. Lampu layar phonecellnya menyala, menampakkan nama 'Kenzo' orang yang menghubunginya.


Dengan cepat Amel membuka masker wajahnya, "Eekkkhmmmm..." berusaha mengatur suaranya tidak ingin membuat suaminya kecewa sedikitpun, semua harus sempurna.


"Halo, ini siapa?" tanyanya terdengar elegan dan acuh.


"A...aku Dava, kamu masih mengingatku? Aku cosplayer yang memecahkan guci. Se... sebelumnya aku minta maaf untuk kejadian di taman, a...aku tidak bermaksud menciummu kembali..." jawab pemuda di seberang sana.


Kenzo, kamu terdengar manis kalau begini. Boleh bersikap seperti biasanya tidak? Kalau seperti biasanya, lebih parah...aku tidak mampu mengimbangi... batin Amel tersenyum-senyum sendiri, memukul-mukul air, memainkan kelopak bunga mawar yang mengambang di sekitar tubuh indahnya, terlihat salah tingkah.


"Tidak apa-apa..." wanita itu berusaha terdengar setenang mungkin.


"Sebenarnya cukup memalukan, tapi aku ingin meminjam uang..." Dava yang menelfon dari warung kopi pinggir jalan, memejamkan matanya, ketakutan dengan jawaban wanita itu nanti.


Siapa yang melarang menggunakan uang-mu sendiri? Aku merindukanmu yang memojokkanku di sudut ruangan, memakai seragam office boy. Tidak peduli aku gemuk dan jelek, berusaha menciumku... mendominasi, mengendalikan hidupku agar hanya tertuju padamu... gumamnya dalam hati, bahkan suara suaminya membuatnya benar-benar merindukan pemuda itu.


"Berapa?" tanya Amel dengan nada suara datar, namun bibirnya tersenyum.


"80 juta, jika tidak bisa... tidak apa-apa..." gumam Dava tertunduk.


"Baik, tapi jika kamu bersedia menjadi penghangat ranjangku..." seorang istri yang benar-benar usil pada suaminya. Menipiskan bibir, berusaha untuk tidak tertawa.


Amel menjauhkan phoncellnya dari telinganya, mendengar omelan suaminya, menghela napas kasar... Telingaku sakit, sejak kapan Kenzo yang dewasa, menjadi super cerewet begini... batinnya.


"Jika ingin uang harus bersedia menjadi simpananku, ranjangku selalu menunggumu..." godanya.


"Aku juga laki-laki!! Suamimu juga laki-laki, aku tidak akan menyakiti hati orang lain hanya untuk 80 juta!!" ucapnya penuh penekanan, mematikan panggilan phonecellnya.


Amel mengenyitkan keningnya,"Oh...my Kenzo..." gumamnya sembari menertawakan suaminya. Kembali memakai masker merawat dirinya untuk esok hari.


***


Sedangkan di warung kopi pinggir jalan...


Dava mematikan panggilannya, bersungut-sungut kesal,"Lebih baik aku merampok bank, ngepet, atau sekalian pesugihan daripada menjadi pria simpanan istri orang..." komat-kamit mulut itu bergumam sendiri.


Bagus menyemburkan sedikit kopinya terbatuk-batuk, "Pria simpanan?" tanyanya memastikan pendengarannya. Dijawab dengan anggukan oleh Dava.


"Seharusnya jangan menolak sejelek apapun wanitanya. Coba kamu fikirkan baik-baik merampok bank akan ditangkap polisi, lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu? Ngepet? Pelihara tuyul? Itu jalan sesat, lagipula jika berhasil pun, belum tentu bisa mendapatkan 80 juta. Pesugihan memerlukan banyak tumbal, jika gagal mendapatkannya, maka seluruh keluargamu dimakan siluman,"


"Lebih baik menjadi pria simpanan istri orang, kamu hanya perlu menghindari suaminya. Rebahkan dirimu di tempat tidur dan nikmati saja, uang akan memenuhi sakumu. Bahkan berceceran di tempat tidur..." usulan sesat dari mulut Bagus, yang hampir menghabiskan sebungkus kripik singkongnya.


Dava berusaha tersenyum, mengenyitkan keningnya kesal,"Kenapa aku merasa seperti adegan pesugihan di film-film? Meniduri nyai siluman cantik, kemudian tempat tidur dipenuhi sisik emas dan lembaran uang..."


"Anggaplah kamu ikut pesugihan tanpa memerlukan tumbal..." ucap Bagus tertawa dengan mulut dipenuhi keripik singkong yang belum sepenuhnya habis dikunyah.


***


Malam semakin larut, Dava terdiam menatap langit-langit kamarnya. Hal yang ada difikirkannya? 80 juta... hanya itu...


Hingga matanya kembali terpejam, tertidur lelap dalam alam bawah sadarnya.


Mimpi yang begitu aneh lagi, banyak bunga indah di sekitarnya. Pandangan matanya beralih menatap pasangan yang baru sampai turun dari mobilnya. Wajah mereka tidak jelas terlihat, sang pria berlari mengambilkan bunga berwarna putih.


Bibir mereka mulai bertaut di tengah matahari yang mulai terbit.


Dava tersenyum menatap segalanya, namun air matanya mengalir entah kenapa. Merindukan sesuatu? Entah itu apa...


Pasangan yang wajahnya tidak terlihat jelas. Siapa? Siapa mereka?


Hingga pada akhirnya Dava kembali terbangun dengan napas terengah-engah. Dadanya terasa sesak, menginginkan sesuatu, air matanya mengalir tidak terkendali.


"A ...aku kenapa?" gumamnya, tidak mengerti dengan perasaan anehnya sendiri.


Bersambung


...Aku masih berada disini, terkunci diam di balik pintu untuk merindukanmu. Tertidur di sudut hati berusaha menyembuhkan diri......


...Tidak mencintaiku? Hanya rasa terimakasih? Apa itu perasaanmu... ...


...Aku mencintaimu, masih saja mencintaimu, logika ini tidak pernah ada di hadapanmu... ingin bahagia bersamamu......


...Hingga ketika aku membuka mata kembali, tolong cintai aku......


Kenzo...