
ππππArea 21+, Bocil skip, yang puasa mundur sejenak, menunggu buka. Tidak begitu fulgar, masih dalam batas wajar,ππππ
Suara notifikasi pesan dan panggilan masuk berkali-kali ke handphonenya. Praba menghela napas kasar, pada akhirnya mengangkatnya juga.
Suara seorang wanita terdengar dari seberang sana. Wanita yang terdengar gugup,"Praba aku ingin..." namun tiba-tiba kata-katanya disela.
"Aku ingin memutuskan pertunangan kita," ucap Praba, telah memikirkannya dengan matang. Jujur saja Suwardi terlalu pintar baginya. Akan sulit suatu hari nanti untuk mengambil alih kampus yang tanah serta yayasannya dimiliki sang rektor.
Terdengar suara helaan napas kembali,"Baik, kita akhiri saja..."
"Kamu tidak sedih?" tanyanya.
Selly lagi-lagi menghela napasnya,"Tidak, mungkin kita memang tidak memiliki kecocokan. Belakangan ini aku berfikir, apa ibumu akan menghargaiku sebagai menantunya nanti? Tapi sekarang tidak, aku tau kita dari awal memang hanya sama-sama mengambil keputusan berdasarkan fikirkan bukan hati..."
"Sudah cukup cerdas juga," ucapnya mematikan panggilannya sepihak.
Praba mulai berjalan, mengikuti langkah seorang wanita paruh baya. Apa benar semua kata-kata ayahnya? Dirinya juga ingin mengetahui kebenaran tentang ibunya.
Hanya makan malam biasa di private room sebuah restauran terutama pada awalnya. Namun semua berubah, kala dirinya mengikuti sang ibu hingga ke sebuah club'malam.
Tidak ada Amel disana dari awal, hanya para sosialita serta istri pengusaha. Praba ikut melangkah, hingga mendekati sebuah ruangan VVIP dengan penjagaan ketat.
Tidak dapat masuk, dirinya hanya dapat menunggu diluar. Tidak mengetahui hal yang terjadi di dalam. Kala para sosialita itu mulai berbuat aneh. Meminum minuman keras, ditemani para pria yang memiliki bentuk lekuk tubuh bagaikan aktor film action India.
Benar-benar sempurna, bahkan ada diantara mereka yang memesan dua pria sekaligus. Berbeda dengan Diah yang hanya memilih satu. Arisan? Memang, tapi hanya di restauran, selanjutnya terserah mereka...
Amel tidak ada di sana jadi dirinya dapat menjaga imagenya sebagai calon mertua yang baik. Sekali mencoba membuatnya ketagihan, merasakan sentuhan dari pria-pria yang seusia putranya.
Hingga tiba saatnya, kala dirinya mencumbui wajah rupawan yang memangku tubuhnya. Menyentuh memanjakannya, bahkan membiarkan jemarinya naik ke pangkal pahanya.
"Akh..." Diah tidak dapat menahannya lagi. "Kita bermain?"
Sang pemuda mengangguk, masih mengelus tubuhnya yang berbalut pakaian lengkap.
"Aku duluan," ucapnya pada teman arisannya yang lain. Meninggalkan ruangan saling merangkul.
Praba telah menunggu sedari tadi mengalihkan pandangannya sejenak, berjalan ke dekat balkon lantai dua yang berhadapan langsung dengan lantai satu dimana banyak orang-orang menari dalam kondisi mabuk.
Tidak menyadari sang ibu melintas, meninggalkan ruangan tersebut menuju kamar hotel, yang menjadi satu dengan club'malam.
***
Membersihkan diri? Hal itu yang pertama mereka lakukan, berciuman bersama dibawah derasnya shower.
Memakai jubah mandi, memulai semuanya dengan dua botol minuman keras mahal. Entah sejak kapan, setiap minggunya orang-orang yang dikenalkan Amel mengajaknya minum. Membuat Diah terbiasa terbuai, menikmati segalanya kala tengah mabuk.
Pintu kamar hotel di tutup, pasangan itu mulai kembali melakukan dosa besar. Diah yang demi mendapatkan kesenangan dan kepuasan, sedangkan sang pria yang melakukannya demi uang.
"Tante cantik, tubuh tante baunya harum, bentuknya sangat indah..." ucapnya kala, menanggalkan jubah mandi yang dipakai Diah.
Kata-kata rayuan omong-kosong, membuat pelanggannya melayang. Itulah andalan para pria pemberi kesenangan demi uang tersebut.
***
Beberapa jam berlalu, Praba kembali, namun penjaga di depan salah satu ruangan VVIP telah menghilang.
Pintu itu dibukanya, yang terlihat? Ruangan kosong, hanya seorang petugas pembersih yang terlihat. Mengambil botol minuman, serta tissue yang berceceran.
"Pak ibu-ibu arisan yang ada disini pergi kemana?" tanyanya pada sang petugas.
"Arisan? Mereka paling booking kamar, setelah pesan pria penghibur..." jawabnya tersenyum.
Booking kamar... Praba mengepalkan tangannya, tidak mungkin ibunya yang tidak pernah berselingkuh memesan pria penghibur.
Melangkah dengan cepat, menuju area resepsionis hotel."Maaf, saya ingin membawa dompet ibu saya yang ketinggalan. Namanya Diah, bisa check di kamar nomor berapa dia menginap?" tanyanya.
"Terimakasih," Praba berusaha tersenyum, namun hatinya benar-benar gelisah. Melangkah lebih cepat, menaiki lift, hingga tempat itu terlihat juga pada akhirnya
Kamar dengan nomor 457 kini ada di hadapannya. Berharap pintu itu terkunci, tidak menyaksikan segalanya. Tapi itu tidak terjadi, pintu yang mungkin lupa di kunci oleh pasangan yang kini tengah mabuk.
Tangan Praba gemetar, membuka pintu di hadapannya.
Kriet...
Ruangan gelap dengan penerapan yang minim. Suara-suara laknat itu terdengar memenuhi ruangan.
"I...iya di ... di sana, teruskan... akh..." suara ibunya terdengar nyaring.
"Disini? Tante menyukainya...ugh... tan... ini luar biasa..." pujinya yang ingin sang klien benar-benar puas dan merasa didamba.
Suara itu terdengar jelas, Praba mulai melangkah. Menatap sendiri tubuh ibunya dimanjakan oleh pria yang mungkin seumuran dengannya.
Bahkan dalam posisi yang ekstrim. Sang pria menarik pelan rambut Diah, mencumbui punggungnya dengan tubuh yang menyatu. Menggerakkannya mencari puncak kepuasan.
"Ibu?" ucapnya lirih.
Diah dan sang pria yang tengah dalam pengaruh alkohol, menatap padanya. Aneh? Benar-benar aneh, sang ibu seakan tidak peduli. Membaringkan tubuh sang pemuda, beranda di atasnya menggerakkan tubuhnya.
"Ada seorang pria berdiri di sana ...ugh..." racau sang pemuda yang berada dalam tingkat kesadaran yang rendah, menatap keberadaan Praba.
"Itu...itu hanya anakku!! Kalau ingin dia dapat bergabung..." Diah mempercepat temponya, tidak peduli lagi, menikmati segalanya."Akh..." racaunya dalam keadaan mabuk berat.
Praba mengepalkan tangannya, sekeji itukah ibunya? Tidak heran sang ayah meninggalkannya lebih memilih seorang pembantu.
Air matanya mengalir, kecewa tentu saja. Sang ibu yang mengajari segalanya, mengatakan dirinya yang mendapatkan peringkat pertama di kelas, bodoh. Hanya karena Dava memenangkan lomba melukis, menyuruhnya tertunduk pada keluarga Damian.
Mengajari bagaimana menusuk dari belakang. Bagaimana menghancurkan Dava, Praba mundur selangkah. Sugesti keluarga bahagia yang dikatakan ibunya dari kecil terbayang. Dirinya menjadi keluarga terpandang, memiliki kedua orang tua yang harmonis, memiliki kekasih dan banyak teman kalangan atas.
Tapi ini apa? Seseorang yang memberinya petuah mengantarkan dirinya sendiri pada kehancuran.
Kaki pemuda itu mundur selangkah lagi, tidak meyakini mimpi indah yang dikatakan Diah lagi.
Dengan menginjak dan menyingkirkan Dava dirinya akan bahagia? Tidak, Diah mengantar dirinya dan keluarganya pada kehancuran.
Berjalan penuh kekecewaan, keluar dari kamar tersebut.
Brak...
Pintu dibantingnya dengan kencang, duduk di lantai menyenderkan punggungnya pada dinding lorong hotel. Rambutnya dijambak olehnya. Keluarga bahagia bak sinetron? Itulah keinginan yang dikatakan oleh ibunya.
Tapi ini apa!? Ibunya yang bagaikan guru untuknya. Kini menghancurkan segalanya, apa hukum karma itu benar-benar ada!? Entahlah, tapi semuanya terasa menyakitkan...
***
Diah membuka matanya, dirinya tidak memakai sehelai benangpun. Dengan seorang pemuda yang masih tertidur disampingnya. Dua tubuh yang hanya tertutup selimut, kepalanya sedikit sakit akibat pengaruh alkohol yang diminumnya semalam.
Tinggal service di kamar mandi setelah bangun tidur. Mungkin itulah yang ada di fikirannya, menunggu pemuda yang disampingnya terbangun.
"Apa menyenangkan!?" suara seseorang yang dikenalnya terdengar. Diah menoleh ke arah asal suara.
Pemuda yang kini duduk di sofa singgel berhadapan langsung dengan tempat tidur.
"Praba, ini tidak seperti yang kamu duga. Ibu..." kata-kata Diah terhenti, kala Praba bangkit dari tempat duduknya.
"Salah paham macam apa!?" bentaknya, menarik selimut, memperlihatkan tubuh ibunya yang dipenuhi bekas keunguan. Dengan seorang pria muda yang juga tidak mengenakan sehelai benangpun.
Bersambung