My Kenzo

My Kenzo
Menciptakan Iblis



Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, pintu kamar hotel dibukanya. Perlahan memasukkan dirinya ke dalam selimut, memeluk dari belakang tubuh seorang gadis yang masih memejamkan matanya.


Masih memejamkan mata? Sejatinya tidak. Istri mana, salah maksudnya pelayan mana yang bisa tidur ketika suami, salah lagi, majikannya menemui wanita lain di malam hari. Bahkan pulang saat hari hampir pagi.


Amel benar-benar tidak cemburu, hanya saja imajinasi anehnya melayang kemana-mana mengingat yang ditemui Kenzo adalah Aika. Mereka menari cukup dekat, tubuh yang merapat, benar-benar pasangan yang indah. Membuatnya benar-benar kesal hingga tidak bisa tidur sedetik pun.


"Kenzo, kenapa baru datang?" tanyanya.


"Belum tidur?" Kenzo mengenyitkan keningnya, masih memeluk Amel dari belakang.


"Apa kalian berkencan?" nada posesif kembali keluar dari bibirnya.


"Kenapa peduli?" bukannya menjawab Kenzo malah balik bertanya. Menahan tawa dan senyumnya.


"A...aku tidak peduli, hanya penasaran saja," jawabnya.


"Kami melakukannya..." kata-kata ambigu keluar dari mulut Kenzo. Dimatanya sangat menggemaskan ketika Amel mengira dirinya mendekati wanita lain.


"Me... melakukan apa?" tanya Amel gugup tangannya mengepal, dapat membayangkan suara-suara aneh dari bibir dua orang tersebut. Mungkin kegiatan botani (bercocok tanam) di tengah malam.


"Hal yang biasa dilakukan pria dan wanita..." jawab Kenzo masih memeluk Amel dari belakang di atas ranjang berukuran king size. Namun dengan cepat gadis itu berbalik, melepaskan pelukan Kenzo.


"Kamu menyukainya!? Karena sudah punya pacar dan kalian juga sudah melakukannya, kenapa kemari!? Lebih baik tidur dengannya saja!! Aku ingin pulang!!" bentak Amel dengan nada tinggi mulai bangkit duduk di tepi tempat tidur hendak pergi. Dengan air mata yang hampir menetes.


Kenzo tersenyum, meraih pergelangan tangannya, menariknya untuk kembali jatuh dalam pelukannya."Aku hanya menolongnya, membawanya ke rumah sakit. Dia mengalami keracunan, hingga harus menjalani bilas lambung. Jika, terlambat sedikit saja, nyawanya tidak akan dapat diselamatkan,"


"Apa kamu mengira aku melakukan hal tidak senonoh dengan wanita yang sekarat?" lanjutnya, mengecup kening Amel.


"A... aku, aku..." kata-kata Amel terhenti.


"Sudah cemburu?" Kenzo melonggarkan pelukannya.


Sepasang mata itu saling menatap beberapa saat, hati Amel berdebar cepat,"Aku tidak pernah cemburu..."


Aku tidak ingin melihat atau membayangkan mu dengan wanita lain...apa ini cemburu... gumamnya dalam hati.


"Apa kamu sudah mencintaiku?" tanya Kenzo menatap matanya lekat.


"Tidak pernah... karena kamu sering menindas dan mempermainkanku..." jawabnya lagi.


Apa ini cinta? Aku serakah ingin memilikimu... Bagaimana pun kamu membuatku kesal, bagaimana pun kamu mempermainkanku...Aku semakin lama semakin merindukanmu...


Jika ini cinta, rasanya lebih dalam bahkan terlalu dalam. Aku terlalu takut menjadi wanita yang akan ditinggalkan olehmu tertunduk dengan rasa sakit seorang diri... fikirnya menahan perasaannya.


"Aku mencintaimu," Kenzo bagaikan tidak mempedulikan jawaban Amel, memeluknya erat.


Nyaman, begitulah perasaan Amel mulutnya dapat berbohong, namun tubuh dan hatinya tidak. Tangannya membalas pelukan Kenzo, bahkan memeluknya lebih erat lagi, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang yang masih berbalut sweater tebal.


"Aku tidak memiliki alasan untuk menghukummu, jadi anggaplah aku sedang menindasmu," ucapnya melonggarkan pelukannya, mengecup bibir Amel sekilas hanya kecupan singkat.


"Ayo tidur..." lanjutnya tersenyum, kembali memeluk tubuh Amel.


Cemas? Kenzo cemas saat ini, kurang dari 6 bulan kontrak kerja Amel akan berakhir. Tidak dapat melihat wajahnya saat hendak tertidur, tidak dapat melihat wajahnya kala membuka mata di pagi hari. Hanya menunggu perasaannya berbalas, di tengah kerinduan yang akan dirasakannya.


***


Dirinya belum lelah juga, pakaian putih yang cantik dikenakannya. Melajukan mobil miliknya menuju tempat Amel bekerja. Riasan yang terkesan natural.


Hal yang akan dilakukannya? Tentu saja menyingkirkan Amel. Sepucuk senjata api berada di jok belakang mobilnya. Melaju dengan tenang, tersenyum memutar musik yang tidak begitu kencang.


Apa yang membuatnya seperti ini? Semua orang memuji Aika dari kecil, lebih mengagungkan daripada dirinya? Tidak, bukan itu alasan sepenuhnya...


Aiko pernah tinggal terpisah dengan Hiasi dan Aika, pasca perceraian Hiasi dengan mantan istrinya.


Ibu? Sosok yang dahulu tidak peduli padanya dan Aika, ketika masih berstatus istri dah Hiasi, berubah menjadi serakah dan keji. Memperebutkan hak asuh Aiko? Bukan karena memperhatikan putrinya lebih karena rasa gengsinya. Tidak ingin kalah dari sang mantan suami.


Hingga, setelah berhasil mendapatkan hak asuh Aiko, anak itu tidak dipedulikan. Menikah dengan seorang pria yang mendidik Aiko terlalu keras, seorang putri yang dimanjakan oleh Hiasi berubah wataknya perlahan.


Harus bersaing dengan dua saudara sambung yang sempurna dalam segala sisi, hanya untuk mendapatkan kasih sayang sang ibu. Serta lolos dari hukuman sang ayah sambung.


Dipukuli? Dihukum berlutut selama dua jam dibawah guyuran hujan salju? Bahkan ketika sakit pun hanya dirinya sendiri yang mengurus, meminum obat, berbaring tanpa penghangat ruangan.


Apa kesalahannya? Ibunya selalu mengatakan dirinya terlalu dimanjakan Hiasi. Apakah terlalu manja jika anak berusia 8 tahun ingin tidur sekali saja dengan ibunya? Apakah terlalu manja jika anak berusia 8 tahun ingin merayakan ulang tahun?


Apakah terlalu manja anak berusia 8 tahun ingin dibuatkan bubur ketika sakit? Terlalu manja, dirinya memang terlalu manja, hingga ayah sambungnya selalu menghukum dan memukulinya setiap keluhan keluar dari mulutnya.


Dirinya memang terlalu manja jika dibandingkan dengan kedua orang saudara tirinya yang telah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Lalu kenapa?


Hingga hari itu tiba, dirinya tidak diberikan makanan karena pulang terlambat dengan pakaian kotor, akibat menyelamatkan anak anj*ng dari selokan. Hati baik yang tulus seorang anak saat itu.


Bukan hanya hukuman itu, dirinya harus berlutut sekitar satu jam hingga kakinya kebas, dipukuli menggunakan rotan. Kesal!! Membenci semuanya!! Itulah sosok Aiko yang perlahan terbentuk, di balik rupa anggunnya.


Dirinya sudah jenuh, menunduk sembari menangis. Manja? Prilaku anak berusia 14 dan 15 tahun dibandingkan dengan dirinya yang berusia 8 tahun tentu berbeda. Dua orang saudara tirinya yang diagung-angungkan ibu kandung serta ayah sambungnya.


Dua orang itu telah mati, bersama dua orang lainnya yang berlaku tidak adil, ibu kandung dan ayah tirinya. Serta seekor anak anj*ng yang diselamatkan Aiko. Terkurung dalam rumah yang terbakar, pelakunya? Seorang anak yang menjatuhkan lilin dengan sengaja, membiarkan semuanya terbakar habis.


Ibu yang tidak rela menyerahkan hak asuhnya pada Hiasi karena ego yang terlalu tinggi. Membiarkannya menderita seorang diri selama setahun ini. Mungkin dengan kematian sang ibu, dirinya dapat kembali pada Hiasi, sang ayah yang memanjakannya. Mencintainya bagaikan putri.


Suatu keajaiban, seluruh penghuni rumah meninggal dalam kebakaran. Terkecuali Aiko yang gemetar bagaikan mengalami trauma mendalam, diam-diam tersenyum dalam pelukan ayahnya.


Ayah...aku telah kembali, bagaimana pun caranya, cintai aku. Jangan melihat pada yang lain... tangisan penuh harunya, memeluk Hiasi setelah satu tahun tidak bertemu.


Tidak ada yang menyadari, kasih sayang Aiko telah berubah menjadi sosok posesif yang menginginkan segalanya. Menginginkan orang yang dicintainya hanya untuk dirinya. Mereka yang ingin merebut, hanya sampah busuk tidak tau diri, pantas untuk mati.


Begitu pula saat ini...


Seina, Aika, Amel.... Mereka pantas mati, Seina merebut kasih sayang Tatewaki. Aika? Saudara kembar yang selalu ditatap Hiasi penuh kebanggaan. Amel? Wajah wanita itulah yang salah, kekasihnya yang bermulut sinis juga salah.


Mobil berhenti di tempat pemetikan Anggur tempat Amel bekerja, gadis cantik itu tersenyum. Membawa dua buah tiket serta beberapa oleh-oleh kue kering, menghabiskan waktu bersama sahabat. Itulah maksud dari senyuman dan pemberian yang dibawanya...


Sedangkan sepucuk senjata api dalam mobil, memiliki arti...Kamu harus mati, karena mengusik hidupku...


Bersambung