My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Kembang 7 Rupa



Tubuh yang terlihat terbaring lemah, semua pemeriksaan telah dilakukan. Untuk operasi esok hari, hari ini dirinya ditemani lagi oleh Ferrell. Pemuda yang tengah duduk di samping Fia yang berbaring, bergurau dengan remaja berwajah pucat.


Sedangkan Lily hanya melihatnya dari luar, wajahnya nampak tersenyum. Mungkin suatu keajaiban bagi adiknya dapat mengenal dan bertemu secara langsung dengan Ferrell. Hingga ibunya mendekatinya.


"Lily, sudah lama ibu ingin bertanya, apa hubunganmu dengan Ferrell?" ucapnya memulai pembicaraan.


"Tidak ada, hanya teman. Dia bukan tipeku, selain itu dia menyukai sahabatku," jawaban dari bibir Lily.


"Grisella? Jadi benar dia calon tunangan Grisella?" tanya sang ibu.


Lily menggeleng."Ibu lupa? Temanku yang datang bersamanya saat ulang tahun Fia. Namanya Glory, dia cukup baik..."


Wanita paruh baya itu menghela napas kasar."Apa Glory tau Ferrell sering menemanimu kemari? Bagaimana jika dia salah paham karena ini?"


"Glory bukan tipikal otoriter seperti Grisella. Lagipula sebentar lagi Ferrell akan melamarnya, jika aku menjelaskan pacarnya pergi bersamaku ke rumah sakit. Rahasia Ferrell akan terbongkar lebih awal..." jawabannya, tidak ingin Glory mengetahui identitas Ken sebelum Ferrell sendiri yang mengatakannya. Sebuah cinta yang romantis menurutnya.


***


Pagi kembali menjelang, Ferrell hampir sama sekali tidak tidur. Mengingat dirinya yang sudah lama tidak ke rumah sakit. Beberapa alat medis baru dipesannya, serta memeriksa laporan yang ditunjukkan direktur rumah sakit.


Masih dalam suasana ujian, hari ini gadis genitnya datang lebih pagi. Duduk diam disana, perlahan menoleh padanya."Ken..." panggilnya.


Ingin melangkah menghampirinya, tapi Lily menyela langkahnya. Memulai pembicaraan tentang operasi adiknya. Banyak hal yang tidak dimengerti Lily, kakak yang tiba-tiba menjadi protektif, bahkan menanyakan bolehkah adiknya memakan nasi setelah operasi? Mengingat sang adik yang tidak kenyang jika hanya memakan bubur. Satu lagi yang ditanyakannya bagaimana jika Fia mengalami koma, berapa lama akan sadar.


Ferrell hanya dapat menghela napas kasar, menatap ke arah Glory yang kembali duduk, masih tersenyum padanya. Hanya membalas senyuman Glory, itulah yang dilakukan Ferrell mulai berjalan bersama Lily ke tempatnya duduk menjelaskan semuanya tentang operasi yang akan diadakan nanti siang.


Ujian dimulai, bersamaan dengan dilihatnya punggung itu yang jauh duduk di depannya. Dirinya merindukan Glory, sangat...


Dalam 15 menit dirinya telah usai mengerjakan soal ujian. Kembali tidur, menghapus lelahnya akan kesibukannya. Mengembangkan rumah sakit yang beberapa minggu ini tidak sempat diurusnya.


Namun ketika dirinya terbangun, hendak menemuinya, tempat duduk di sekitarnya telah kosong. Dirinya yang baru terbangun, menyadari kertas ujian miliknya dan pengawas telah menghilang."Gagal bertemu lagi..." gumamnya.


***


Siang ini operasi diadakan, dirinya mulai memakai pakaian operasi, mengenakan masker dan sarung tangan di bagian akhir."Mohon bimbingannya..." ucapnya pada dokter senior yang diundangnya.


Sang dokter senior hanya tersenyum padanya. Hingga akhirnya tim dokter itu memasuki ruangan operasi.


Cemas? Itulah yang dirasakan Lily saat ini, menunggu di luar bersama kedua orang tuanya. Operasi besar yang memerlukan waktu cukup lama. Hingga pada akhirnya lampu merah di depan ruangan operasi telah berubah hijau, beberapa dokter mulai keluar termasuk Ferrell.


"Bagaimana?" tanya Lily mulai bangkit.


Dengan sarung tangan karet yang masih berlumuran darah, Ferrell menurunkan maskernya."Tinggal menunggu anastesi berhenti bekerja, jika dia dapat terbangun dalam 24 jam, nyawanya tidak ada dalam bahaya. Tapi jika belum sadarkan diri, Fia memiliki memungkinkan mengalami koma."


"Terimakasih..." Lily menangis membungkuk padanya.


Ferrell hanya tersenyum."Jangan menangis lagi," ucapnya.


***


Hari sudah mulai larut, dirinya kembali menyetir pulang. Merebahkan tubuhnya di tempat tidur."Kapan aku bisa membawanya pulang!?" gumamnya, benar-benar merindukan Glory. Ingin gadis itu ada di kamarnya saat ini, menemaninya menghapus lelahnya.


Mungkin besok atau lusa, usai ujian, hari terakhir dirinya akan menemui Glory di tempat Hasan biasa memarkirkan mobil pickup-nya.


Namun apa benar demikian? Seperti hari sebelumnya. Dirinya selesai lebih awal, kemudian tertidur.


Hingga seseorang membangunkannya kala ujian berakhir."Ken! Bangun!" matanya terbuka, menatap ke arah Lily. Juga Glory yang baru berjalan mendekatinya.


Dia bertambah cantik saja... gumamnya dalam hati, menatap ke arah Glory.


Glory hanya terdiam di sana, ditatapnya, perlahan pergi mengikuti langkah Lily.


Seperti kata ibunya, Lily tidak boleh membuat gadis yang disukai Ferrell salah paham atau membongkar identitas Ferrell sebagai Ken. Karena itu, area belakang sekolah yang sepi menjadi tempatnya bicara. Tidak ingin Glory mendengar pembicaraan mereka sebagai dokter dan keluarga pasiennya.


"Ada apa?" Ferrell menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Perlahan Lily mulai menangis namun wajahnya tersenyum, menonggakkan kepalanya."Adikku sudah sadar, ibuku baru saja mengirimkan pesan. Terimakasih..." ucapnya tiba-tiba memeluk tubuh Ferrell orang yang telah menyelamatkan adiknya."Aku dan Fia akan berterimakasih seumur hidupku. Aku mempunyai kesempatan untuk menyayanginya,"


Ferrell perlahan tersenyum, mengusap punggungnya."Jangan menangis, aku hanya seorang dokter. Jika bukan karena semangat hidup adikmu ini tidak akan terjadi..."


Pemuda itu melonggarkan pelukannya, mengacak-acak rambutnya."Setelah ini sayangi adikmu. Dan bantu aku agar disetujui ibu mertuaku,"


"Siap!!" ucapnya tersenyum.


***


Hari ini terasa berbeda, phoncellnya masih rusak. Besok mungkin baru selesai diperbaiki, karena suku cadang yang cukup sulit dicari, mengingat handphonenya merupakan hadiah dari Joe. Menggunakan identitas Ken, kali ini dirinya membawa buket bunga mawar kwalitas terbaik, dengan jumlah mencapai 100 tangkai benar-benar buket bunga yang besar.


Kembali memarkirkan mobilnya di depan rumah tua. Kali ini bukan martabak lagi, namun jam bermerek terkenal yang berharga puluhan juta rupiah sebagai oleh-oleh untuk calon mertuanya.


Merindukannya? Sangat, entah bagaimana kabar gadis genitnya beberapa hari ini. Berjalan perlahan hingga mobil pickup itu terlihat. Namun anehnya hanya wajah sang calon mertua yang ada.


"Paman, Glory ada?" tanyanya tersenyum.


"Tidak ada..." raut wajah Hasan berbeda kali ini, terlihat acuh membungkus tahu untuk beberapa pembeli.


"Paman aku...ini oleh-oleh untuk paman," ucapnya memberikan tas berlabel merek jam, berisikan jam tangan yang terbungkus rapi didalamnya.


"Bawalah pulang! Kalau ada uang lebih baik tabung untuk biaya kuliahmu. Jangan kemari lagi." Hasan, mengalihkan pandangannya mengangkat tahu yang baru matang.


"Pa... paman?" tanyanya gugup.


Hasan menghela napas kasar."Paman berbeda dengan istri paman yang memaksakan kehendaknya. Karena Glory mengatakan hubungan kalian sudah berakhir, entah apa alasannya. Paman hanya bisa mendukung keputusannya."


Ferrell tertegun diam, dirinya tidak salah mendengar bukan? Glory memutuskan hubungan dengannya? Kapan? Kenapa? Apa karena beberapa hari ini dirinya tidak pernah bertemu dengannya?


"Pulanglah, jika tidak ingin membeli tahu," itulah kata-kata yang keluar dari mulut Hasan tanpa menoleh sedikitpun.


"Paman, Glory ada dimana sekarang?" tanyanya, mengepalkan tangannya, menahan air matanya yang hendak mengalir.


"Dia bekerja di tempat lain. Gin mencarikannya pekerjaan sementara. Sebelum pendaftaran mahasiswa baru, dia tidak akan pernah kemari lagi..." jawaban dari Hasan.


Tidak, tidak boleh, Glory ingin meninggalkannya, menerima perjodohan dengan pria lain? Mengapa? Kenapa Glory tiba-tiba berubah.


Ken berbalik masih memegang buket bunganya."Paman aku pamit..." ucapnya.


"Kamu akan kemana? Mencari Glory di rumah? Dia tidak ada di rumah. Gin dan Kamila mencarikan tempat tinggal yang baru untuknya. Agar dekat dengan kampus, jangan tanya paman, karena paman juga tidak di beri tau alamatnya..." kata-kata yang keluar dari mulut Hasan, sembari menghela napas kasar.


Ferrell tetap berjalan pergi, dua orang yang tidak menyetujuinya benar-benar sengaja. Sedikit saja lengah Glory sudah dibawa menjauh darinya.


Tidak, ini tidak boleh terjadi, waktu dirinya menemukan Glory, hanya sampai ulang tahun ke 19 gadis itu. Maka calon perawat itu akan segera menikahinya.


Mendekati rumah tua, kembali memundurkan mobilnya. Pergi meninggalkan tempat tersebut...


Apa mungkin salah sesajen? Mungkin seharusnya Ferrell membawa nampan berisikan kembang 7 rupa. Bukan seratus tangkai bunga mawar kwalitas terbaik.


Bersambung