
🍀🍀🍀🍀 Bocil menyingkir! Yang puasa baca nanti malam saja, area dewasa, walaupun tidak fulgar 🍀🍀🍀🍀
Villa yang berada di pinggiran kota menjadi tempatnya berada saat ini. Dua gelas minuman dingin mulai terhidang Fransisca kini tengah duduk berhadapan dengan sang pria.
"Membunuh Steven? Kenapa harus? Bagaimana jika aku ditangkap oleh kepolisian?" tanyanya, meraih minumannya.
"Biar kami yang mengaturnya, agar kamu tidak tertangkap. Kamu hanya tinggal memberinya minuman, tembak jantungnya ketika tubuhnya sudah tidak dapat bergerak..." ucap Doom memberikan obat bius padanya.
"Apa yang akan aku dapat? Steven memperlakukanku cukup baik. Lagipula..." kata-katanya terhenti, menatap isi cek yang diberikan Doom.
Bahkan black card yang diberikan Steven batas limitnya jauh dibawah uang yang diberikan Doom. Tangan Fransisca gemetar, wajahnya tersenyum, orang ini tidak main-main.
"Kenapa aku? Kenapa tidak kamu sendiri saja!?" Fransisca kembali bertanya, tidak mengerti.
"Kemari!" perintahnya menepuk pahanya sendiri. Fransisca bergerak dengan ragu, duduk di paha pria yang baru dikenalnya itu.
"Cantik, kamu tidak mengerti akan lebih menyakitkan dibunuh orang yang dicintainya olehnya..." pipi hingga bibir Fransisca dibelai jemari tangan Doom.
"Aku..." kata-kata Fransisca disela.
"Uang, ketenaran, kekuasaan, semua akan kamu dapatkan jika mengkhianatinya. Bunuh saat Steven tidak sadarkan diri," bisiknya menggigit pelan leher wanita yang jauh lebih muda darinya.
Fransisca mengepalkan tangannya. Tidak akan sulit jika hanya perlu membunuhnya saja. Lagipula Steven bagaikan membangun tembok diantara mereka. Bagaimana jika wanita lain muncul dan Steven tidak menikahinya.
Villa tempatnya berada ditatapnya, villa yang benar-benar terlihat mewah. Design interior berkelas dengan lampu gantung kristal besar di tengah ruang tamu. Ini akan menjadi miliknya hanya dengan membunuh Steven.
"Aku setuju..." jawabnya pada Doom.
"Kalau begitu tunjukkan ketulusanmu," bisiknya.
"Bagaimana?" tanya Fransisca merasa bagian pahanya diraba. Hingga jemari tangan pria ini menyingkap kain kecil, mempermainkan area sensitif Fransisca.
"Aggh..." pekiknya merasa sensasi dipermainkan, kenikmatan sesaat, mencengkram erat bahu Doom.
"Aku ingin merasakan tubuh wanita yang dicintai bocah itu. Kamu bersedia!? Kamu bisa menjadi istriku setelah ini selesai..." ucapnya masih menggerakkan jemari tangannya membuat tubuh wanita itu lunglai.
Fransisca mengangguk, tidak tahan lagi rasanya. Pria yang jauh lebih dewasa darinya, tidak dikenalnya, dapat memberikan segalanya padanya. Mengkhianati Steven? Untuk apa tampan dan kaya namun tidak bisa disentuh.
"Keluar!!" perintahnya.
"Baik tuan..." semua pengawal dan pelayan keluar menutup pintu menunggu di depan villa. Meninggalkan tuannya dengan seorang wanita bertubuh indah, berwajah cantik yang diyakini sebagai kekasih Steven.
"Apa Steven bisa memuaskanmu!?" tanyanya menurunkan mini dress Fransisca yang memperlihatkan belahan dadanya.
Fransisca hanya dapat mengigit bibirnya sendiri merasakan area sensitif bagian atasnya mulai dipermainkan sang pria yang terlihat sangat lihai. Menjilat, mengecup, bahkan memainkan lidahnya. Rambut pria itu di jambaknya pelan dengan deru napas tidak teratur.
"Panggil aku Doom..." perintahnya.
"Do...Doom..." panggilnya merasa tidak tahan lagi. Jemarinya memegang area sensitif pria itu.
"Kamu menginginkannya!? Maka harus berjuang untuk mendapatkannya," ucapnya membuka celananya sendiri. Memejamkan matanya sejenak menikmati sensasi kala wanita yang dicintai bocah itu berusaha memberinya kepuasan.
Sungguh tidak diduga inilah selera Steven. Seseorang yang bahkan melebihi wanita penghibur dengan bayaran mahal. Dapat memberinya kenikmatan.
Tidak dapat menahannya lagi, hingga menarik Fransisca duduk di pangkuannya. Melakukan penyatuan, "Katakan siapa yang lebih hebat dalam permainan ranjang, aku atau bocah itu!?" tanyanya, mempermainkan tubuh Fransisca di tengah penyatuan.
"A...anda..." jawabnya lirih, tentu saja Doom, dirinya bahkan tidak pernah berciuman dengan Steven.
"Benarkah!?" Doom bagaikan gemas, membalik posisi. Tubuh yang benar-benar indah, pernah dimiliki Steven, wanita yang kini dimilikinya, hanya akan setia padanya untuk membunuh bocah itu. Andai Steven tidak ada, maka hanya tinggal Eden yang mudah untuk disingkirkan.
Ingin rasanya Doom tertawa senang, sudah mengguncang tubuh kekasih Steven. Sama seperti yang dilakukan Victor dulu, menikahi wanita yang diam-diam dicintai oleh Doom.
Melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita itu melahirkan belasan anak untuknya. Hingga akhirnya meninggal karena kanker otak pun hanya mencintai Victor.
Kini dirinya yang merebut kasih sayang wanita yang dicintai putra Victor. Ini sepadan? Tidak, setelah membunuh seluruh anggota keluarganya dan menjadi ketua Dark Wild maka akan sepadan.
Tidak terasa sudah tengah malam, entah berapa kali tubuhnya dimanjakan. Tidak dengan durasi yang singkat. Fransisca membuka matanya, usai tertidur tidur selama 30 menit.
Matanya terbuka sempurna, menutupi tubuhnya dengan selimut. Pria itu ditatapnya, wajahnya tersenyum. Menjadi pacar Steven berdasarkan cinta? Sejatinya tidak, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja. Mungkin memihak orang ini akan lebih baik. Orang yang sudah pasti dapat memberikan kebahagiaan untuknya.
Pria dewasa, tidak setampan Steven, namun benar-benar membuatnya bertekuk lutut. Dapat memberikannya materi yang lebih banyak.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya.
"Steven orang yang waspada aku sudah mengatur agar kamu terlihat bagaikan mengalami penculikan. Kembalilah padanya, bunuh lalu kamu bisa mendapatkan segalanya..." ucap Doom tersenyum.
Untuk pertama kalinya akan membunuh orang. Namun, ini kesempatan sekali seumur hidupnya. Tidak mungkin disia-siakan olehnya.
"Bersihkan dirimu! Ganti pakaian... orang-orangku akan mengantarmu," lanjutnya.
Fransisca tersenyum,"Kamu benar-benar akan menikahiku kan?"
Doom mengangguk, kembali menghisap cerutunya.
***
Satu jam telah berlalu, mobil yang ditumpangi Fransisca bergerak meninggalkan villa tersebut. Senyuman di wajah Doom menghilang, ternyata selera Steven hanya berpaku pada kecantikan saja.
Menikah dengan Fransisca? Tidak, hanya akan dijadikan gundik saja mungkin sudah cukup. Betapa bodohnya Steven dalam memilih wanita, ini hanya untuk membalas rasa sakitnya. Kala Victor merebut wanita yang dicintainya.
***
Mobil melaju, kembali menuju area gudang dengan Fransisca berada di kursi penumpang. Sedangkan seorang supir menyetir mobilnya, matanya sedikit melirik ke arah spion mobil bagian dalam.
Wanita cantik, terlihat murahan, bahkan ditiduri oleh Doom mau-mau saja? Apa Steven sudah menjadi seorang idiot? Inikah selera Steven, pria yang dipilihnya untuk putrinya.
Jemari tangannya memegang stir erat, tidak terima jika putrinya yang pandai bermain harpa harus bersaing dengan wanita yang bahkan jauh dibawah levelnya.
Aku harus berdiskusi ulang dengan Victor... keluhnya dalam hati yang tengah menyelidiki sumber dana Doom.
"Kamu hanya seorang supir?" tanya Fransisca.
Pria itu terdiam tidak menjawab, masih konsentrasi mengemudikan mobilnya.
"Berapa usiamu! Apa kita seumuran?" Fransisca mengenyitkan keningnya.
Bocah mesum, kamu bahkan seumuran dengan putra angkatku... batinnya masih bersabar.
"Kamu tampan, wajahmu jika masuk ke dunia hiburan..." kata-katanya terhenti.
Kenzo menyaut tapi berusaha berpura-pura bagaikan gagu. Jika kelakuan wanita ini diketahui Amel mungkin istrinya sudah murka.
"Sayang ganteng-ganteng gagu..." cibirnya, meraih phonecellnya, mulai membuka media sosial.
Bersambung